Life After Married

Life After Married
Bab 119- Menjenguk Karin


__ADS_3

"Pak Rey, dipanggil pak Danu," ujar salah seorang staf pada Rey, sebagai direktur.


"Ada apa ya pak Danu memanggilku? Apa aku ikut ditendang juga dari perusahaan," batinnya. Lalu beranjak dari kursi berjalan menuju ruangan Danu.


Diketuknya pintu transfaran yang terbuat dari kaca. Terlihat Danu sedang sibuk dengan pekerjaannya merapikan meja kerja yang dulu menjadi ruangan Fras, yang kini entah siapa yang akan menempatinya.


"Masuk!" perintah Danu saat suara pintu diketuk.


Segera Rey, membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan.


"Bapak memanggil saya?" tanya Rey, saat sudah berada dihadapan Danu.


Sebelum menjawab pertanyaan Rey, Danu meminta petugas yang merapikan ruangan Fras, untuk segera pergi dari ruangan itu. Setelah ruangan sepi tanpa ada orang lain Danu mulai berkata tanpa menyuruh Rey, duduk terlebih dulu.


"Saya ingatkan padamu. Bekerjalah dengan benar, beruntung almarhum masih mengizinkanmu bekerja di sini. Begitu pun dengan Dinda. Jadi jangan kamu sia-siakan kesempatan itu. Jika berani berkhianat dan mengecewakan tidak akan ada lagi kesempatan untukmu bekerja di sini,'" jelas Danu panjang lebar.


Rey, hanya mengangguk. Setidaknya dirinya masih bisa bekerja dan mendapatkan uang. Mungkin karena kinerja kerjanya yang bagus membuat dirinya di pertahankan.


"Terima kasih pak. Saya janji tidak akan pernah mengecewakan anda."


"Kamu bisa kembali ke ruanganmu," titah Danu lalu melangkah pergi.


Rey, tertegun sejenak sebelum hendak melangkah netranya melirik sekilas pada papan nama yang terpampang diatas meja. Nama yang bertuliskan Presiden direktur NY. Dinda Kirana.


Nama yang tidak asing lagi baginya nama yang dulu singgah di hatinya, wanita yang pernah dia sakiti, kini menjadi bos di perusahaannya.


"Aku tidak pernah menyangka. Kamu akan berada di posisi ini Dinda," gumamnya. Setelah puas melihat nama itu sedetik tubuh Rey, berbalik. Melangkah pergi keluar dari ruangan itu.


****


Di tempat lain Asih, Dinda, dan Willy, sedang bersantai sambil berbincang. Seraya menikmati suasana di rumah baru.


Secangkir teh dan aneka cemilan menemani ngobrol mereka. Membuat obrolan mereka lebih santai apalagi di temani bocah lucu yang menggemaskan.


"Apa rencana kalian?" tanya Asih. "Bagaimana dengan keluargamu Wil, apa mereka sudah tahu jika kamu sudah menikah? Apa perlu saya yang datang untuk menjelaskan." sambungnya seraya menyimpan kembali cangkir tehnya.


Bagaimana pun Asih, merasa tidak enak. Takut jika keluarga Willy berpikir yang tidak-tidak pada keluarganya. Dan membuat Dinda semakin di benci sama Mayang karena pernikahan mendadak itu.


"Tidak perlu Bu, biar aku dan Dinda yang menjelaskan. Besok kita akan kembali ke surabaya. Untuk hari ini kita akan ke rumah sakit dulu untuk menjenguk Karin."


"Baiklah kalau begitu. Tetapi kamu tetap harus mengabarkan pada ibumu."


"Jangan khawatir Bu. Mereka pasti mengerti." Asih mencoba tersenyum walau sebenarnya ragu. Mengingat Dinda yang pernah bercerita bahwa sikap Mayang pada Dinda, tidak sebaik yang dikira.


"Ibu Dinda pergi dulu." Ujar Dinda yang bangun dari duduknya di ikuti Willy yang duduk di sampingnya.


"Apa Syena akan diajak?"

__ADS_1


"Biarkan saja Syena ikut. Sekalian kita akan ajak Syena bermain. Kasihan di rumah terus."


"Baiklah hati-hati di jalan sayang. Salamkan salam ibu pada Karin."


"Iya Bu."


Dinda dan Willy berlalu pergi. Tidak lupa Willy membawa Syena dalam gendongannya.


*****


Rumah sakit


"Pelan-pelan!"


"Ini juga pelan-pelan."


"Kamu ikhlas gak sih!"


"Ya sudah. Dorong saja sendiri."


Di lorong rumah sakit yang cukup ramai seorang pasien dan seorang pria sedang bersitegang. Hanya karena si wanita tidak merasa puas kursi rodanya didorong kasar oleh si pria.


Namun, si pria juga kesal karena si wanita tidak henti-hentinya ngedumel. Padahal tangannya dengan sangat pelan mendorong kursi roda yang di naiki pasien wanita.


Sama-sama keras kepala itulah mereka.


"Aunty!" teriak Syena, di ujung lorong membuat Karin dan Rio berbalik ke arah sumber suara.


"Syena." Entah kenapa Karin sangat bahagia melihat bocah kecil itu.


Karena yang terakhir dia lihat Syena dalam keadaan bahaya. Tanpa terasa bulir air mata turun membasahi pipinya.


Saking senangnya Karin ingin segera memeluk tubuh kecil itu. Hingga tidak sadar dirinya sedang duduk diatas kursi roda dan hendak melangkah.


Namun, tiba-tiba kursi rodanya goyang. Membuat Rio yang berada di depannya langsung berlari kearahnya hanya untuk memegang keseimbangan kursi roda itu.


"Karin!" teriak Dinda diujung sana. Hingga Langkah Syena pun terhenti.


"Aunty."


"Ah!" teriak Karin saat hendak terjatuh. Beruntung tangan kekar Rio, segera menggapai punggungnya, membuat tubuh mereka kini saling menempel bahkan, kedua netra indah saling bertemu.


"Yeay! Om pengacara pahlawan." Sorak Syena, dengan kedua tangan yang ditepuk-tepuk 'kan.


Sontak sorakan Syena membuat Dinda, tersadar dari lamunannya. Dan langsung menutup mata Syena dengan kedua tangannya.


"Mama!" rengek Syena, saat matanya tertutup.

__ADS_1


"Sebentar sayang," ucap Syena yang masih menutup mata putrinya.


Setelah cukup lama bertatapan Rio dan Karin pun tersadar. Wajah mereka seketika memerah karena malu. Semua orang yang lewat senyum-senyum melihat pemandangan romantis itu.


Rio segera membantu Karin, duduk kembali diatas kursi rodanya. Dinda segera melangkah kearah Karin bersama Syena.


"Aunty."


"Syena." Kini Karin bisa memeluk Syena dengan lama.


"Terima kasih ya Rio, kamu sudah menjaga Karin."


Rio, hanya menjawab dengan angguk 'kan. Memang Rio lah yang menjaga Karin semenjak kejadian itu. Entah kenapa rasa khawatirnya sangat dalam. Apalagi saat Karin harus menjalani operasi.


Bukan tidak ada orang lain atau keluarga yang menunggu. Namun, saat itu Rio, sama sekali tidak berpikir untuk menghubungi orangtuanya. Di tambah Dinda yang meminta agar tidak memberitahukan ibu Karin soal kejadian itu.


Dinda takut jika orangtua Karin akan khawatir dan merasa cemas. Sehingga Dinda meminta pada Rio untuk menjaga sahabatnya itu.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar Karin, begitu pun Karin yang sudah terbaring diatas ranjangnya. Karena bekas luka operasinya belum sembuh Karin tidak boleh banyak bergerak lebih dulu.


"Dinda aku sudah dapat kabar tentang ayahmu. Sabar ya, dan maaf aku tidak datang untuk melayad," ujar Karin.


"Tidak apa-apa. Justru aku merasa bersalah karena baru sempat menjengukmu."


"Seharusnya aku Dinda yang merasa bersalah. Syena hampir celaka karena Vikram."


"Jangan memikirkan dia lagi," ucap Dinda yang menyentuh tangan Karin. "Vikram sudah di penjara," lanjutnya.


"Papa!" teriak Syena, membuat Rio, Karin, dan Dinda, menoleh ke arah pintu.


Syena berlari ke arah Willy, yang baru saja datang. Bahkan Willy langsung memangku tubuh kecil itu.


Sontak Rio dan Karin tertegun. Setelah mendengar panggilan Syena pada Willy tadi.


"Papa!" gumam Karin, Rio, bersamaan. Sedetik tatapan mereka tertuju pada Dinda.


"Apa sudah sedekat itu Syena dan Willy? Bahkan memanggilnya papa."


"Ehm … sebenarnya …."


"Tidak apa-apa Dinda, kenapa harus malu. Lagian aku setuju kok kamu menikah dengannya," ucap Karin menggoda Dinda.


"Kami memang sudah menikah."


"Apa!" Rio, terkejut bahkan sampai tersedak saat tengah meminum air mineral.


Karin diam tak percaya. Matanya membelalak seketika.

__ADS_1


__ADS_2