Life After Married

Life After Married
Bab 104- Antara Maju atau Mundur


__ADS_3

Di rumah sakit Fras, terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang menempel pada tubuhnya. Danu setia menunggu dan merasa bersalah.


Karena terlalu memaksakan untuk mengungkap kebenaran.


"Papa!"


Suara Velove dan Rita mengalihkan pandangannya. Mereka terlihat panik saat melihat keadaan Fras seperti itu.


Namun Danu hanya menyunggingkan bibirnya, baginya kepanikan mereka bukan karena merasa cemas atau khawatir melainkan hanya sebuah sandiwara.


"Danu apa yang terjadi pada papa kenapa seperti ini?" Velove terlihat sedih. Namun Rita hanya menatapnya tajam.


"Aku ingin bicara denganmu." Ujar Rita yang berlalu pergi meninggalkan ICU.


Dengan tenang dan langkah santai Danu mengikuti kemana arah Rita pergi. Rita membawanya ke sebuah koridor yang cukup sepi. Hanya ada mereka berdua.


Tubuh keduanya saling berhadapan. Sorot mata Rita masih terlihat sama tajam. Berbeda dengan Danu yang terlihat santai.


"Apa kamu mengatakan kebenaran itu?"


Tanpa basa-basi Rita bertanya langsung pada intinya.


"Jika iya apa yang akan kamu lakukan." Tegas Danu.


Rita tersenyum sinis.


"Kamu lihat apa yang terjadi sekarang! Suamiku terbaring lemah di rumah sakit."


"Bukan kah ini yang anda inginkan? Jangan berpura-pura sedih atau khawatir itu tidak akan membuat ku kasihan. Tuan Fras sudah mengetahui semuanya bahwa anda membohonginya dan menjebaknya."


"Menjebak! Apa maksudmu?"


"Apa sekarang kamu pura-pura bodoh? Tuan Fras menceritakan masa lalunya. Kamu memanfaatkan kesempatan. Meminta Fras untuk bertanggungjawab yang bukan kesalahannya melainkan kesalahan orang lain. Anda telah menjebaknya agar tidur bersama dengannya dan melimpahkan kesalahan padanya."


Rita cukup terkejut mendengar semua penuturan kata dari Danu. Sekretaris itu tidak bisa di remehkan.


"Lalu apa yang akan dilakukan Fras? Apa dia akan menendang ku? Dan membiarkan ku pergi. Mungkin saja, jika dia kembali sehat, aku tidak yakin Fras akan terbangun dalam waktu yang singkat. Lebih baik kamu yang harus siap-siap karena sebentar lagi kamu akan kehilangan pekerjaanmu."


Dengan penuh percaya diri Rita mengatakan itu. Namun Danu, hanya menanggapi dengan senyuman.


"Anda terlalu yakin Nyonya. Saya ingatkan lebih baik turunkan keyakinan anda. Jangan terlalu tinggi untuk berkhayal karena jika anda jatuh itu akan sangat menyakitkan."


Rita mengepalkan kedua tangannya geram.


"Apa anda tahu jika tuan Fras sudah menuliskan hak warisnya sebelum beliau sakit dan terbaring saat ini. Apa anda yakin jika hak waris yang di pilih tuan Fras adalah putri anda?"


Mata Rita semakin terbelalak saat mendengar kata hak waris yang sudah tertulis. Kedua tangannya semakin mengepal kuat.

__ADS_1


Danu hanya tersenyum simpul, baginya melihat kecemasan Rita adalah hal yang menyenangkan.


Danu berlalu pergi meninggalkan Rita yang masih diam.


*****


Di malam yang dingin Dinda duduk termenung di atas balkon kamarnya. Melihat pemandangan langit yang hampa tanpa bintang atau bulan, seperti hatinya saat ini.


Dinda seperti jatuh dalam ketinggian. Di saat hatinya sedang berbunga, berbahagia. Seseorang mematahkan tangkainya hingga terjatuh.


Cobaan apa lagi yang Dinda hadapi, apa salah jika dirinya kembali jatuh cinta? Apa salah jika seorang ibu ingin merasakan kembali cinta dalam hidupnya.


Dinda tidak pernah meragukan cinta dan ketulusan dari Willy, tetapi hatinya menjadi ragu untuk memulai kembali sebuah hubungan.


Akan kah hubungannya tetap bertahan atau harus merelakan hubungan ini berakhir. Entah lah hatinya sangat bimbang saat ini.


"Dinda!," panggil Asih membuat Dinda menoleh. Asih melangkah mendekati putrinya uang duduk di kursi sambil menikmati angin malam.


"Apa yang mengganggu pikiran mu? Dari tadi melamun saja. Lihat lah Syena dia begitu senang karena pergi bersama Willy. Willy memang calon ayah yang baik. Sepertinya Syena akan senang jika Willy menjadi ayah ya."


Dinda tersenyum hambar mendengar ucapan Asih.


"Syena bilang bertemu dengan nenek. Nenek siapa? Apa kalian pergi ke suatu tempat?"


"Neneknya Willy Bu, tadi kami di ajak ke rumah neneknya."


"Willy mengajak kalian ke rumahnya. Memperkenalkan kalian pada neneknya? Bagaimana respon mereka? Tapi Syena terlihat sangat senang sepertinya mereka sangat baik."


"Syena bermain dengan neneknya. Dan beliau sangat menyukai Syena."


"Syukur lah itu artinya …"


"Tapi," ucap Dinda memotong perkataan Asih.


"Tapi apa?"


"Bu Mayang, sepertinya tidak terlalu menyukai kami."


"Siapa Mayang?"


"Ibunya Willy."


Senyuman Asih langsung memudar. Asih bisa, merasakan apa yang Dinda rasakan. Mungkin inilah yang menganggu pikiran Dinda yang terus melamun.


Asih mengangkat satu telapak tangan putrinya. Di letakkan nya di atas pahanya. Dengan lembut tangan Asih, mengusapnya.


"Memang sulit dan tidak mudah untuk mendapatkan hati seseorang. Terkadang cinta butuh pengorbanan dan hati harus tersakiti."

__ADS_1


Asih menghela nafasnya sejenak.


"Kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk harus menyukai kita. Pandangan orang kadang berbeda. Namun, ketahuilah jika pandangan mereka bisa berubah kapan pun setelah saling mengenal dan saling dekat. Mungkin Bu Mayang saat ini tidak menyukaimu anggap saja ini lah awal dari pertemuan kalian dan ujian dari awal hubungan kalian. Coba lah untuk bertemu kembali, rubah lah pandangan buruknya tentang dirimu yang di anggap buruk olehnya."


"Tapi apa tante Mayang akan berubah?"


"Tidak ada hati sekeras batu. Jika pun ada, hati itu akan melunak seiringnya waktu."


Dinda dan Asih sama membuang nafasnya kasar. Dinda mencoba memahami dan Asih mencoba untuk memberikan pengertian.


"Sekarang Ibu tanya, bagaimana pandangan mu terhadap Bu Mayang? Orang seperti apa dia? Apakah baik atau tidak?"


Dinda tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab.


"Saat pertama bertemu, beliau menyapaku dengan ramah dan senyuman. Namun, saat mengetahui statusku yang sudah pernah menikah dan memiliki anak tiba-tba sikapnya berubah. Tidak seramah pertama."


Dinda masih ingat bagaimana sikap Mayang saat mendengar bahwa Syena adalah anaknya. Senyuman yang mekar memudar seketika.


"Berarti ini hanya masalah waktu dan anak. Ubahlah pandangan Mayang terhadapmu yang berstatus sebagai janda. Buktikan lah jika seorang janda tidak seburuk yang dia kira."


"Jika kamu mencintai Willy dan yakin jika Willy adalah jodohmu, calon ayah dari anakmu dan bisa menjadi ayah yang baik, perjuangkan lah karena cinta butuh perjuangan. Dan terus lah berdoa tuhan pasti mengabulkan do'a mu."


"Terima kasih Bu."


Asih hanya menjawab dengan senyuman. Dinda benar-benar beruntung mendapatkan seorang ibu yang selalu mengerti dan mendukung setiap jalan yang dia pilih.


Hatinya selalu tenang saat mendapat pencerahan dari sang ibu.


Tiba-tiba suara dering ponsel mengejutkannya. Asih, merogoh ponselnya yang berada di simpan di atas meja.


Di ambilnya benda pipih itu membuat ekpresi wajahnya menegang seketika.


"Danu," batin nya saat melihat nama yang tertera pada layar.


"Siapa Bu?"


"Teman," jawab Asih gugup. "Ibu angkat telepon dulu sebentar."


"Iya Bu." Dinda mengangguk.


Asih beranjak dari kursi, sedikit melangkah lebih jauh dari Dinda.


"Ada apa Danu menelpon." Batinnya yang langsung mendekatkan benda pipih itu pada telinganya.


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap babnya. Komen, like, vote, hadiah dan bintang 5 nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2