
Keesokan harinya.
Semalam tadi waktu istirahat Lea cukup dibandingkan malam sebelumnya. Sehingga pagi ini Lea bangun lebih pagi dari kemarin. Segera dia menyiapkan dirinya untuk menepati janji untuk berkunjung ke perusahaan milik Bian.
Sebenarnya janjinya jam sepuluh, namun sekarang jam tujuh pagi dia telah bersiap. Lea berencana ingin mampir ke kafe milik sahabatnya dulu. Dia ingin curhat dan melepaskan sedikit penat.
"Udah cantik," ucapnya seraya menyempurnakan penampilannya didepan cermin.
Hari ini Lea sengaja mengenakan pakaian formal untuk ke perusahaan. Tidak ada yang mengharuskan dirinya memakai pakaian formal. Hanya saja dia ingin memiliki kesan pertama yang baik kepada seluruh pegawainya.
Dengan mengunakan setelan kemeja putih berlapiskan blazer hitam dengan rok selutut yang berwarna senada dengan blazer-nya. Rambutnya diikat kuncir kuda dengan sepatu pantofel yang memiliki tinggi sekitar dua centimeter yang menambah kakinya terlihat jenjang.
Lea sekali memutar dirinya didepan cermin sembari menenteng tas jinjingnya. Dia tersenyum dan berkata, "Udah siap semua."
Kakinya melangkah ke ruang makan yang disana telah ada Pranoto dan Dwita. Beragam hidangan untuk sarapan pagi telah ada dimeja. Tampaknya kedua mertuanya itu sedang sibuk menikmati sarapan mereka. Dengan ragu Lea memberanikan menyapa mereka.
"Selamat pagi papi, mami," sapa Lea.
"Pi... Mi... Lea izin berangkat duluan ya. Mau ke perusahaan dulu," lanjutnya sebelum ada balasan dari Pranoto maupun Dwita.
"Lho kamu kamu tidak sarapan dulu Lea?" tanya Pranoto.
"Tidak usah Pi. Lea sarapan di kantor saja," jawabnya.
Sejenak Lea terdiam, menatap Pranoto dan Dwita secara bergantian. Tatapan sinis Dwita mulai kembali nampak. Segera Lea menundukkan kepalanya karena takut.
"Sini dulu lah nak," ajak Pranoto.
"Maaf sekali Pi. Lea sudah ada janji. Lea permisi ya Pi, Mi," pamitnya dengan sopan.
Perlahan langkah kaki Lea menjauh dari meja makan. Terdengar suara-suara dari mulut mama mertuanya itu. Lea semakin memelankan langkahnya untuk dapat mendengarkan apa yang dikatakan.
"Sudahlah Pi. Biarkan saja nggak usah ngajak sarapan. Perempuan payah itu palingan juga beli makanan diluar," ucap Dwita.
"Udah nggak mau bantu masak. Makan diluar terus, perempuan seperti itu apa bisa mengurus suami," lanjutnya.
"Mami jangan berbicara seperti itu!" seru Pranoto kepada istrinya.
__ADS_1
"Ya emang kenyataannya kok Pi," balas Dwita.
Lea memegang bagian dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan mama mertuanya itu. Kemudian kakinya melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah. Menaiki mobil yang sudah disiapkan didepan pintu utama. Berserta Hadi sopir pribadi Bian yang saat ini menjadi sopir pribadi Lea.
Sebisa mungkin Lea menahan air matanya agar tidak terjatuh. Beberapa kali dia kedipkan matanya agar tidak keluar. Sesekali mengusap beberapa tetesan air mata yang lolos keluar. Susah sekali memang rasanya jika hati sakit, namun menahan tangis pun terasa sulit. Diambilnya tisu untuk mengelap matanya agar tidak sampai merusak makeup-nya.
Sesampainya disebuah tempat, yang tak lain adalah Kafe Euforia. Lea merapikan penampilan sebelum akhirnya dia turun dari mobil. Masuk ke kafe yang belum buka tersebut. Sengaja dia datang sepagi ini, karena ingin bertemu dengan sang pemilik kafe.
"Renata!" Lea berlari kearah Renata dan memeluknya.
"Hai pengantin baru," sambut Renata.
"Ah kamu bisa saja," ucap Lea.
"Sorry ya gue gak bisa dateng dihari bahagia lo. Dadakan sih, kemarin aja gue baru balik dari luar negeri. Sini duduk dulu," ajak Renata sembari menarik salah satu kursi untuk sahabatnya itu.
Mereka berdua duduk berhadapan disalah satu meja yang ada di kafe itu. Kondisi kafe masih sepi karena memang belum buka. Dan mereka berdua telah janjian sebelumnya.
"Gimana rasanya jadi istri pengusaha kaya?" tanya Renata antusias.
"Iya kok loo nggak bahagia sih? Harusnya lo bahagia dong dapet suami seperti Bian."
"Iya gue bahagia kok Ren. Tapi gue belum bisa bersama Bian sekarang."
"Ups, sorry ya. Gue sempat lihat berita Bian di televisi," suara Renata melemah.
"Terus gimana ceritanya Bian?" tanya Renata.
Lea mulai menceritakan rentetan kejadian yang dialami Bian hingga dia dipenjara. Mengenai tuduhan korupsi yang dilayangkan kepada Bian. Panjang lebar Lea menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu. Ya, dia percaya Renata bisa menjada semua rahasianya. Karena memang Renata adalah sahabat baik Lea semenjak kecil. Meskipun Renata kini telah sibuk berbisnis kesana kemari. Meskipun jarak memisahkan mereka berdua. Namun, hubungan mereka masih terjalin baik melalu media sosial.
Renata tampak antusias mendengarkan cerita sahabatnya tersebut. Sesekali dia menganggukan kepalanya sebagai tanda memahami cerita yang disampaikan Lea. Keduanya larut dalam obrolan yang mendalam, karena Lea menceritakan semua keluh kesah hatinya saat itu juga.
"Yang sabar ya. Gue yakin kok lo bisa melewati semuanya," Renata menepuk pundak Lea untuk memberi semangat.
"Gue yakin setelah Bian keluar dari penjara. Lo dan dia pasti bahagia," tambahnya.
"Gue gak yakin Rem," lirih Lea sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Sepertinya air mata itu kembali berusaha menetes lagi. Lea pun juga sedang berusaha menahan air mata itu agar tidak menetes. Mungkin dengan cara menundukkan kepalanya.
"Hei... Kenapa lo nangis?" tanya Renata.
"Cerita lagi sama gue Lea," lanjutnya.
"Maminya Bian nggak suka sama gue Ren!" ucap Lea.
"Hah? Kok bisa?" Renata pun terkejut.
Setelah Lea merasa agak tenang dan menyeruput minuman didepannya. Lea mulai menceritakan hubungannya dengan sang mama mertua. Mulai dari cerita perjodohan Bian, restu pernikahan, hingga perlakukan Dwita kepada Lea.
"Apa lo dikatakan perempuan payah?" bentak Renata.
"Ini tidak bisa dibiarkan Lea. Lo harus melawan atau nggak lo harus mengadukan ini ke Bian. Biar mama mertua lo tidak semena-mena," ucap Renata dengan nada meninggi.
"Gak bisa Ren. Kalau gue cerita ke Bian dia tambah kepikiran. Saat ini dia banyak sekali beban," ucap Lea.
"Ya sudah lo harus berani lawan Lea."
"Gue nggak bisa lawan dia Ren. Yang ada dia tambah murka sama gue."
"Lalu lo mau gimana lagi Lea. Lo jangan buat diri lo sakit hati terus deh."
Sekali lagi Lea menyeruput minuman yang ada dihadapannya. Sebelum akhirnya Lea kembali berbicara, "Gue akan belajar menuruti apa yang dia mau."
"Baiklah kalau itu mau lo. Gue dukung apapun keputusan lo," ucap Renata.
Lea melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Waktu telah menunjukkan pukul 09.15 WIB. Artinya Lea harus segera berangkat ke perusahaan.
"Udah jam segini gue harus ke perusahaan nih. Ada janji soalnya," pamitnya.
"Ciye ibu bos baru nih. Oke deh bos. Hati-hati ya," balas Renata sembari mengantarkan Lea menuju parkiran.
"Kalau butuh apa-apa hubungi gue," teriak Renata yang hanya mendapat acungan jempol dari Lea.
Susah sekali memang rasanya jika hati sakit, namun menahan tangis pun terasa sulit.
__ADS_1