
Sesampainya di rumah, Bian menyuruh Lea untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Sedangkan dirinya akan memarkirkan Lamborghini-nya ke garasi. Bian bisa saja menyuruh orang yang bekerja di rumahnya. Namun, dipikir-pikir manja sekali jika harus meminta tolong memarkirkan mobil.
"Eh ada yang baru datang nih," suara seseorang menyapanya.
Ternyata itu berasal dari suara Dwita yang sedang duduk bersama Gigi di ruang keluarga. Tentu saja mereka menatap Lea dengan tatapan sinis. Dan Lea pun menghentikan langkah kakinya sebentar. Dia tahu jika langsung menyelonong masuk akan membuat mami mertuanya itu marah besar dan menyebutnya tidak punya sopan santun.
"Ada yang happy habis belanja nih mi," sindir Gigi.
"Iya maklum kebetulan dapat suami kaya ya dimanfaatkan," balas Dwita sembari menunjukkan senyum sinisnya.
Padahal hanya ada satu paper bag dari butik ternama yang dibawa oleh Lea. Begitu saja sudah menyulut emosi dua perempuan di depannya. Apalagi jika Lea menuruti kata Bian untuk belanja sepuasnya tadi. Apa maunya sih? batin Lea.
"Bagaimana enak punya suami kaya terus belanja sesuka hati kamu?" tanya Dwita penuh penekanan.
"Ya jelas enak dong Mi," sambar Gigi.
"Sudah punya ATM berjalan kok," sambungnya.
"E ... e ini cuma kemeja dan rok untuk sidang skripsi kok," jawab Lea pelan.
__ADS_1
"Gak ada yang tanya!" seru Dwita yang membuat Lea langsung terdiam.
"Cuma kemeja dan rok kamu bilang? Kamu itu ya jangan berani-berani menghamburkan duit Bian hanya untuk beli kebutuhan yang tidak penting."
"Bian cari duit itu susah! Sejak muda dia sudah berjuang untuk mendirikan perusahaannya. Dan sekarang kau datang untuk menghamburkan uangnya?"
"Enak sekali hidup kau!"
Terdengarlah omelan panjang lebar yang dilontarkan Dwita kepada Lea. Hanya masalah sekecil ini saja dibuat jadi berkepanjangan. Sejujurnya Lea ingin menutup kupingnya agar tidak mendengar omelan sang mami mertua. Namun apa daya, dia harus tetap mendengarkan omelan itu dari awal sampai akhir.
"Ada apa ini ribut-ribut?" terdengar suara Bian memasuki rumah.
"Ada apa Mi?" tanya Bian.
"Itu lho mami lagi memberi nasihat kepada istri kamu. Supaya dia lebih berhemat dan tidak menghamburkan uang kamu untuk berbelanja," jawab Dwita.
"Ingat masa depan kalian masih panjang," imbuhnya.
"Oh cuma masalah ini?" ucap Bian enteng seraya memainkan alisnya.
__ADS_1
"Tadinya Bian menyuruh Lea berbelanja sepuasnya kok. Bahkan Bian berniat membelikan mall beserta isinya untuk Lea. Tapi Lea menolak dan meminta ini saja untuk persiapan sidang tugas akhir," jelas Bian sembari mengangkat paper bag yang ada di tangan Lea.
"Masalah simpel jangan dijadikan berkepanjangan," tutupnya sembari menarik tangan Lea untuk menuju kamarnya.
Dwita dan Gigi saling berpandangan satu sama lain. Geram dengan Bian yang selalu membela Lea. Kedua wanita itu tampak gusar karena kejadian barusan.
"Kayaknya kita harus membuat rencana untuk menghasut perempuan itu," usul Dwita.
"Boleh tu Mi, Gigi setuju," sahut Gigi.
"Tapi kayaknya Bian susah deh Mi dipisahkan dari Lea," imbuh Gigi dengan raut bersedih.
"Tenang kita kerjasama lebih keras lagi untuk memisahkan mereka," ucap Dwita.
"Mami masih menginginkan aku menjadi istri Bian?" tanya Lea.
"Tentu saja. Sampai kapanpun mami akan usahakan," jawab Dwita yang langsung mendapat sambutan baik dari Gigi.
Dua orang yang berambisi meretakkan hubungan Bian dan Lea itu saling berpelukan. Mencoba meyakinkan satu sama lain bahwa masih ada harapan untuk mendapatkan hati Bian. Ya, coba saja simak kelanjutan ceritanya ya.
__ADS_1