
'Sampai kapan aku tidak bisa menghindari Rey, cepat lambat dia akan tahu jika Reyhan adalah anaknya, tapi … bagaimana jika Rey membawa Reyhan pergi,' batin Angel yang sepanjang malam tidak bisa tidur dan terus memikirkan Reyhan.
Joshua mengintip di atas tangga.
"Disarankan tidur sebelum pukul 11 malam, jika lebih tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Joshua tiba-tiba duduk dihadapan Angel.
Angel melirik ke arah jam dinding, sudah lewat 12 malam dirinya belum juga tidur.
"Kenapa kamu mengikutiku, jika itu tidak baik untuk kesehatan?" Angel bertanya alasan Joshua yang ada di depannya.
"Karena aku memikirkanmu," jawab Joshua. "Aku tidak akan bisa tenang jika ada wanita di rumahku yang bangun sendirian, bagaimana jika perampok itu datang lagi?" sambung Joshua membuat Angel tersenyum.
"Apa kamu mau teh atau kopi?" tawar Joshua, Angel hanya mengangguk.
"Aku buatkan teh saja, jika kopi kita tidak akan tidur sampai pagi." Joshua berkata seraya melangkah ke arah dapur.
Hanya lima menit saja tehnya sudah jadi, Joshua membawa teh itu kehadapan Angel.
"Manis?" Angel bertanya tentang tehnya.
"Sedikit," jawab Joshua pelan.
"Enak," ucap Angel. "Jo, aku ingin berterima kasih padamu, selama lima tahun kamu selalu ada untukku dan Reyhan, tanpa kamu mungkin aku tidak akan ada hingga sampai saat ini." Angel bercerita.
Joshua masih diam mendengarkan.
"Dulu, aku sempat akan mengakhiri hidup karena putus asa. Namun, kamu selalu datang menyelamatkanku," ucap Angel mengingat masa lalu.
"Apa kamu masih mencintai Rey?" Pertanyaan Joshua membuat Angel tertegun.
"Tanpa kamu jawab, aku bisa menebak," sambung Rey lalu meneguk tehnya.
"Seharusnya aku sudah membencinya, karena dia sudah menipuku. Aku tidak tahu jika Rey sudah memiliki istri, dan Rey selalu perhatian padaku, aku dengannya menjalani hubungan lebih serius, hingga pada satu waktu seorang wanita dalam keadaan hamil datang ke rumahku, aku baru tahu jika Rey sudah memiliki istri. Awalnya aku marah dan kecewa, dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu, tapi … rasa cintaku padanya telah membutakan semuanya, aku datang menghampirinya dan mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya."
Bibir Angel tersungging.
"Bodoh bukan, waktu itu aku sangat bodoh rela menjadi yang kedua karena demi cinta. Justru itu lebih menyakitkan, aku pikir menjadi yang kedua itu mudah ternyata tidak, yang ada hanya saling menyakiti dan harus bersabar," ujar Angel.
"Dan akhirnya kamu memutuskan untuk berpisah," tebak Joshua.
Angel mengangguk sambil berkata, "Ya, dan aku tidak tahu jika aku sedang hamil saat itu."
"Jika kamu tahu apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu tidak akan pernah meminta cerai? Dan sekarang kamu menyesal," kata Joshua.
"Aku tidak menyesal, dan aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang, hanya ada Reyhan aku sudah senang."
Angel meneguk tehnya lagi, begitupun dengan Joshua.
.
.
Rey masih memikirkan bagaimana caranya bisa tahu jika Reyhan adalah anak kandungnya, semua cara sulit dilakukan, dan Angel semakin menjauhkan Reyhan darinya.
"Dika, hanya ada satu cara supaya Angel mengatakan sendiri, apa Reyhan anakku atau bukan," ujar Rey yang sedari tadi duduk di meja kerjanya hanya untuk memikirkan cara itu.
"Cara apa Bos? Jika membujuk Reyhan lagi itu sulit. Anak itu sangat cerdas tidak mudah di bohongi." Dika berkata demikian karena sudah mengalaminya.
__ADS_1
"Tapi cara ini sangat berbahaya," ucap Rey.
Dika terdiam menunggu Rey mengatakan rencananya itu. Dika mendekat, membiarkan Rey berbisik padanya.
"Bos, itu sangat bahaya dan beresiko." Dika kurang setuju dengan rencana Rey.
"Aku tahu, aku siap menanggung resikonya."
"Kamu yakin Bos?"
"Hem," jawab Rey dengan gumaman.
.
.
"Hei!" teriak Bian pada Reyhan yang hendak masuk.
Reyhan segera berbalik pada Bian yang baru saja datang bersama Velove.
"Bian apa dia teman sekelasmu?" tanya Velove.
"Bukan Ma, dia adik kelas. Anak lelaki yang aku ceritakan pada Mama semalam, dia yang sudah memfitnah Om Dika sebagai penculik," jelas Bian lalu melangkah ke arah Reyhan.
"Ada apa?" tanya Reyhan.
Tanpa ada alasan Bian mendorong tubuh Reyhan hingga tersungkur ke jalanan. Velove melotot melihatnya.
"Bian, apa yang kamu lakukan?" Velove bertanya sambil menarik tangan Bian.
"Aku tidak suka padanya," jawab Bian.
"Tapi dia akan merebut ayahku," ucap Bian membuat Velove heran.
"Ayah? Maksudmu?"
Semalam, Bian mendengar percakapan Rey dan Dika. Rey mengatakan jika dirinya akan mencari cara bahwa Reyhan anaknya, dan Bian juga mendengar jika Rey akan mengambil hak asuh Reyhan.
Merasa tersaingi Bian tidak ingin hal itu terjadi.
"Jadi, yang dimaksud ayah oleh Reyhan adalah ayahku, dan Om Dika memang menemui Reyhan karena papa," ucap Bian dengan penuh amarah.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain menjadi anak dari ayahku, hanya aku anak papa."
Velove terkejut mendengar hal itu. Velove berpikir jika Rey memiliki hubungan gelap selama ini tanpa Velove tahu wanita gelap itu adalah Angel, mantan madunya.
"Hei kenapa kamu mendorongku?" tanya Reyhan dengan emosi. Dia bangkit dari jalanan hendak melangkah tapi Bian mendorongnya lagi. Dan kali ini sangat fatal, Reyhan tertabrak sebuah motor yang melintas ke arahnya.
Bian tercengang, ketika Reyhan tersungkur di jalanan dengan darah yang mengalir di atas kepalanya.
"Bian!" Velove segera menarik Bian jauh dari jalanan itu. Membiarkan Reyhan tergeletak di jalanan sana.
Bian yang terkejut hanya bengong.
"Mama, bukan salah aku, kan l," ucap Bian penuh ketakutan.
"Itu adalah kecelakaan bukan kesalahanmu." Velove berkata seraya memeluk Bian.
__ADS_1
Sepasang matanya memindai sekeliling sekolah. Velove memastikan jika tidak ada yang melihat atau CCTV yang bisa merekam semua itu.
"Bian, dengarkan Mama." Tatap Velove pada Bian. "Lupakan kejadian hari ini, anggap kamu tidak melihatnya mengerti?" Bian mengangguk sambil menangis.
"Reyhan!" teriak seorang guru, Velove segera membawa Bian bersembunyi di dalam mobil. Tidak berselang lama para murid berhamburan melihat Bian.
"Mama aku takut," ujar Bian, menatap kerumunan itu.
"Kita pulag sekarang, kamu tidak usah sekolah." Velove membawa Bian kembali pulang.
Sesampainya di rumah Bian terus merengek, takut jika ada yang melihat Bian mendorong Reyhan. Namun, Velove malah memarahinya.
"Bian sudah jangan menangis. Jika seperti ini semua orang akan tahu. Mama sudah bilang, kan? Lupakan … anggap tidak melihat."
Bian langsung diam, Velove memberikannya obat penenang dan Bian pun tertidur.
'Aku berharap anak itu mati, agar tidak ada yang mengganggu kebahagiaanku dengan Bian. Tapi siapa wanita itu? Siapa wanita yang sudah melahirkan Reyhan,' batin Velove.
.
.
Angel berlari memasuki rumah sakit, wajahnya sangat panik hingga langkahnya terenti di depan UGD.
"Bu Sila bagaimana keadaan Reyhan?" tanya Angel pada seorang wanita, dialah wali kelas Reyhan.
"Bu Angel … Reyhan masih ditangani Dokter Bu."
"Kenapa bisa kecelakaan?"
"Saya juga tidak tahu awal mulanya seperti apa, Reyhan sudah tergeletak di tengah jalan. Orang-orang melihat vahwa Reyhan tertabrak sebuah motor."
Angel terduduk lemah, tangisannya semakin pecah. Angel tidak bisa tenang sebelum Dokter mengatakan bahwa Reyhan baik-baik saja.
Namun, kenyataannya Reyhan dakam keadaan kritis. Dia kehilangan banyak darah dan juga harus menjalani operasi pada kepalanya, tetapi pihak rumah sakit tidak bisa melakukan operasi sebelum mendapat transfusi darah.
"Dokter kenapa tidak bisa melakukan operasi?"
"Pasien kehilangan banyak darah. Dan pasien membutuhkan darah AB, apa diantara kalian ada yang memiliki darah AB?" tanya Dokter pada Angel dan seorang guru.
"Darah saya A, mungkin Bu Angel," tunjuk wanita itu pada Angel. Namun, darah mereka tidak sama.
"Aku yang akan mendonorkan darahnya," kata Rey yang tiba-tiba datang.
"Jangan, kamu tidak bisa mendonorkannya," tolak Angel.
"Kenapa? Bukankah anakmu sedang membutuhkannya?" tanya Rey pada Angel, lalu mengulurkan tangannya pada Dokter. "Periksalah, jika darahku cocok aku siap mendonorkan."
Angel semakin takut, tapi keselamatan Reyhan adalah yang utama. Seorang perawat keluar memberitahukan jika keadaan Reyhan semakin memburuk.
"Dokter, kita harus segera melakukan operasi jika tidak …," ucap perawat itu tertahan.
"Lakukan saja Dokter, dia ayah kandungnya darahnya pasti sangat cocok," ungkap Angel mengejutkan Rey dan Dika.
Rey sangat kecewa karena Velove merahasiakan hal sebesar itu, tetapi saay ini yang harus Rey lakukan adalah menyelamatkan Reyhan bukan marah pada Angel.
"Dokter lakukan sekarang juga," pinta Rey lalu melangkah mengikuti Dokter untuk mendonorkan darahnya pada Reyhan.
__ADS_1
Di ruangan yang sama, Rey berbaring. Reyhan menjalani operasi yang disaksikan langsung olehnya.
Angel masih menunggu di ruang operasi dengan gelisah, Joshua datang yang langsung memeluk Angel. Duka yang melihat itu hanya diam bisa diam.