
"Lho ngapain lo disini?" tanya Lea.
Betapa terkejutnya Fahri dan Renata melihat kedatangan Lea dari balik pintu rumah. Keduanya beranjak berdiri, saat itu juga Lea hendak berlari kembali ke dalam rumah. Seketika ditahan oleh Fahri dengan menarik tangan Lea. Berusaha ditepis oleh Lea, namun tenaganya tak mampu melawan Fahri.
"Nona Lea dengarin penjelasan gue," pinta Fahri.
"Nona stop!" imbuhnya.
"Gue pengen sendiri Fahri," tolak Lea.
"Beri waktu untuk gue berbicara dulu," pinta Fahri.
"Please nona sebentar saja."
Akhirnya Lea pun menuruti permintaan Fahri untuk menyampaikan apa yang ingin dia katakan. Ketiga orang itu duduk disofa ruang tamu. Membicarakan masalah yang terjadi antara Lea dengan Bian.
"Percayalah nona, ini semua hanya kesalahpahaman," ujar Fahri seusai bercerita.
__ADS_1
"Gue melihat dengan mata kepala gue sendiri Fahri. Gue melihat itu semua," ujar Lea.
"Lalu kenapa Bian menyetujui pernikahan itu Fahri? Kenapa?" tanya Lea dengan nada yang meninggi.
"Itu ... itu ... " Fahri ragu untuk menjawabnya.
"Kenapa? " tanya Lea lagi.
"Nanti nona akan tahu sendiri dari Tuan Bian. Saya tidakĀ berhak menjelaskannya sekarang," jawab Fahri.
"Nona harus mendengarkan dahulu penjelasan Tuan Bian."
"Jadi nona bukan pergi karena keinginan nona sendiri? Melainkan nona diusir dari rumah?"tanya Fahri terkejut mendengar kenyataan ini. Sedangkan Lea hanya mengiyakan dengan anggukan kepalanya.
"Benar-benar semua ini adalah kesalahpahaman nona," lanjutnya.
"Sebaiknya anda segera bertemu dengan Tuan Bian untuk membicarakan tentang masalah ini. Agar tidak berlarut-larut," usul Fahri.
__ADS_1
"Iya Lea, lo harus membicarakan semua ini dengan suami lo. Supaya dia menyampaikan apa yang sebenarnya yang terjadi dan sebaliknya lo juga menjelaskan apa yang lo alami. Biar semuanya clear tanpa salah paham seperti ini," sahut Renata.
Lea terdiam dan memikirkan nasihat dari dua orang yang ada dihadapannya saat ini. Nasihat mereka memanglah benar. Namun, disisi lain Lea takut jika apa yang tidak dia inginkan benar-benar terjadi. Yaitu pernikahan antara Bian dan Gigi terjadi. Sungguh sesuatu yang tidak dia inginkan dalam hidup ini.
Lea tampak frustrasi dengan perlahan memijit pangak hidungnya. "Gue takut apa yang tidak gue inginkan akan terjadi," katanya.
Renata langsung mengelus punggung sahabatnya untuk memberikan ketenangan. "Lo jangan menduga-duga sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Dan jangan terlalu berpikiran sesuatu yang tidak lo inginkan," ujar Renata.
"Benar nona, secepatnya nona harus bertemu dengan tuan terlebih dahulu," timpal Fahri membenarkan penuturan Renata.
"Jadi kapan nona bersedia bertemu dengan Tuan Bian?" tanya Fahri.
Lea menggelengkan kepalanya, "Beri gue waktu untuk berpikir dan juga menyiapkan diri gue."
"Tetapi saya minta nona jangan terlalu banyak berpikiran ya. Saya prihatin dengan keadaan nona," pesan Fahri.
Akhirnya obrolan mereka ditutup dengan kesepakatan keduanya untuk bertemu pada lain kesempatan. Dan Fahri berpamitan untuk meninggalkan rumah Renata. Akhirnya dia bisa bernapas lega bisa mengetahui keberadaan suami dari bosnya itu. Dengan sumringah dia langsung keluar dari rumah Renata.
__ADS_1
Singkat dulu ya guys, nanti lanjut lagi. Jangan lupa like komen dan vote ya. mumah heheh bye