Life After Married

Life After Married
Season 2


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Rey yang sudah duduk dihadapan Dika. "Apa ada hal penting?" tanya Rey lagi.


"Begini Bos," ucap Dika tertahan.


"Aku sudah menghapus rekaman CCTV itu, tapi …," ujar Dika terhenti.


"Tapi apa?" tanya Rey penasaran.


Dika terlihat gelisah, pria itu mengeluarkan sebuah benda kecil dan tipis dari dalam sakunya. Lalu menghubungkan pada laptop yang ada di depannya.


Entah, apa yang ada dalam fleshdisk itu. Sehingga Rey harus melihatnya.


Rey tercengang melihat rekaman CCTV, memperlihatkan Bian yang sengaja mendorong Reyhan. Mata Rey terpejam seketika saat sebuah motor menabrak Reyhan.


Rey tidak sanggup melihatnya, tetapi dirinya yang menyuruh seseorang untuk melakukan itu.


"Ini masalah besar jika ada yang melihat rekaman ini. Mereka tidak akan menyalahkan si pemotor tetapi Bian, yang akan jadi tersangka," ucap Dika.


Rey menggusar rambutnya.


"Mengapa harus Bian," ucap Rey merasa kecewa juga menyesal.


"Apa ada orang yang melihat?" Sebagai ayah, Rey juga mengkhawatirkan Bian.


"Sepertinya tidak," jawab Dika.


"Kamu yakin tidak ada yang melihat tentang rekaman CCTV ini?"


"Tidak," jawab Dika tegas.


"Oke. Usahakan jangan sampai ada yang melihat tentang rekaman itu. Cari juga kamera CCTV di sepanjang jalan yang menghadap sekolah. Aku tidak ingin Bian jadi terdakwa."


"Menurut hukum, walaupun Bian salah tidak mungkin dia penjara, tetapi ada Bu Velove yang menyaksikan semua itu dan bisa jadi Bu Velovelah yang akan menanggung kesalahan Bian. Namun, Bos tenang saja aku akan pastikan tidak ada rekaman CCTV yang lain. Bian akan baik-baik saja."


Rey terdiam, untuk pertama kalinya merasakan ketakutan. Lalu bagaimana dengan Bian yang masih kecil, sudah pasti akan merasa takut.


Rey pergi meninggalkan perusahaan menuju rumah Rita untuk menemui Bian.


Rita terkejut, ketika melihat Rey datang. Bian yang sedang duduk bersama Rita di depan teras sangat gembira menyambut kedatangan Rey hingga berlari ke arahnya.


"Papa!" teriak Bian.


Rey, tersenyum lalu memeluk Bian. Rita hanya diam melihat keharmonisan itu.


'Ada apa Rey datang,' batin Rita.


Rey yang tidak pernah datang ke rumah mertuanya kali ini dia datang sendiri tanpa diminta. Tentu, Rita akan merasa heran.


"Sedang apa? Di mana Mama?" tanya Rey mencari Velove.


"Mama tadi keluar Pa," jawab Bian.


"Rey," panggil Rita. Rey segera melangkah ke arah mertuanya itu, menyalami kedua tangannya.


"Tumben kamu datang, apa Velove yang menyuruhmu?"


"Aku datang karena ingin bertemu Bian. Sebelumnya Velove juga memberitahukan ku jika akan menginap di sini," jelas Rey.


"Masuklah. Velove sebentar lagi akan pulang, dia pergi ke sekolah Bian." Rita berkata seraya melangkah memasuki rumah.


Rey, kembali menatap Bian dan tersenyum.


"Bian, Papa ingin menanyakan sesuatu."

__ADS_1


"Tanya apa Pa?"


"Sebaiknya kita duduk di sini," ujar Rey membawa Bian duduk di atas kursi depan teras.


Bian hanya menurut yang duduk di samping Rey. "Bian, katakan pada Papa dengan jujur, apa terjadi sesuatu di sekolah?" tanya Rey membuat Bian terdiam.


'Apa papa sudah tahu," batin Bian.


"Bian, kamu dengar, kan apa yang papa katakan?" tanya Rey lagi, Bian semakin ketakutan.


'Tidak, kata Mama aku tidak boleh mengatakan pada siapa pun," batin Bian.


"Rey?" Panggilan Velove mengalihkan pandangan mereka. Bian segera berlari pada Velove lalu memeluknya.


"Mama!" Tatapan Velove sangat tajam melihat Rey.


Rey bangkit dari kursi, berdiri menghadap Velove.


"Apa yang kamu katakan pada Bian? Kamu sudah membuatnya takut." Velove bisa merasakan ketakutan Bian.


Rey hanya menghela nafas. Velove memanggil Bi Num, untuk membawa Bian ke dalam rumah.


"Ada apa kamu datang?" tanya Velove dingin.


"Ingin bertemu Bian," jawab Rey singkat.


"Hanya itu?" tanya Velove lagi. Rey kembali diam.


Mereka duduk bersama di depan teras, Rey mengatakan tentang rekaman CCTV itu.


"Apa yang terjadi pada Bian? Apa kamu sengaja menyembunyikan Bian di rumah Mama?"


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah tahu yang terjadi di sekolah beberapa hari lalu. Bian telah mendorong temannya hingga tertabrak."


Rey bingung, harus bersikap seperti apa. Putranya Bian bersalah, dan yang jadi korban juga putranya. Siapa yang harus Rey bela dan lindungi. Bian atau Reyhan.


"Jangan bilang kamu akan membela anak itu," ujar Velove. "Apa pun yang terjadi pada Bian sebagai ayah kamu harus melindunginya. Jangan lagi mendesak Bian untuk mengakui kesalahannya, Bian masih kecil aku tidak ingin batinnya terguncang karena masalah ini," ujar Velove.


Rey masih diam.


"Aku tidak akan membela siapa pun," ucap Rey. "Katakan pada Bian jangan khawatir, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kembalilah sekolah seperti biasa, jangan menghindar itu akan membuat mereka curiga."


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Velove, tetapi Rey tidak menjawab.


Rey pergi menuju kamar Bian, menemui Bian sebelum pulang. "Bian, Papa harus pulang," ujar Rey ketika tiba di dalam kamar.


"Kenapa Papa tidak menginap?" tanya Bian.


"Tidak bisa, Papa banyak kerjaan. Bian, dengarkan Papa … lupakan masalah kemarin, jangan ada yang kamu takutkan, dan kembalilah sekolah."


"Apa Papa sudah tahu?"


"Papa sudah mengetahuinya," jawab Rey dengan anggukan. "Jangan takut lagi, sekolahlah."


"Tapi …."


"Percaya pada Papa," ujar Rey. Bian pun mengangguk..


Velove dan Rita berdiam diri di depan pintu. Mereka merasa heran, bagaimana Rey bisa mengatakan semua baik-baik saja.


"Apa kamu yang menghapus rekaman CCTV itu?" Velove bertanya ketika Rey melewatinya.

__ADS_1


Namun, Rey hanya meliriknya sesaat lalu pergi.


'Apa memang Rey yang melakukannya?' batin Velove, karena Rey tidak menjawab perkataannya.


"Mama pikir, kalian lebih baik kembali ke rumah," ujar Rita membuat Velove menoleh. "Kamu tidak lihat sikap Rey tadi? Dia sudah melindungi Bian, bukankah yang tertabrak adalah Reyhan, kenapa Rey tidak membela anak itu. Itu artinya Rey belum tahu siapa Reyhan," sambung Rita.


Namun, bukan itu alasan Rey.


.


.


Angel duduk melamun di samping ranjang Reyhan. Tidak menyadari jika Reyhan sedang asyiknya memainkan mobil remot pemberian Joshua.


Reyhan turun dari ranjang, melangkah mendekati jendela, karena mobil mainannya tersangkut pada kaki meja. Hendak mengambil mobil itu tatapan Reyhan tertuju ke arah jalanan yang terlihat pada jendela.


Entah apa yang Reyhan perhatikan. Padatnya jalanan membuat bocah itu bingung. Tiba-tiba Reyhan menjerit mengejutkan Angel yang tengah melamun.


"Reyhan!" teriak Angel berlari ke arah Reyhan.


Reyhan meringis sambil memegang kepalanya, Angel yang panik langsung membawa Reyhan ke atas ranjang. Namun, Reyhan tidak berhenti meringis.


"Ah, sakit!"


"Kenapa Reyhan jadi begini," gumam Angel, lalu memanggil Dokter.


Angel semakin gelisah dan cemas ketika harus menunggu Reyhan di luar. Dika bersembunyi saat melihat Angel, sedikit kepalanya menyembul memperhatikan Angel yang sedang gelisah lalu memasuki kamar setelah seorang Dokter bicara dengannya.


Dika bisa menebak jika itu kamar Reyhan dan segera menghubungi Rey, untuk memberitahukan kamar Reyhan yang baru.


"Bagaimana Dok, keadaan Reyhan?" tanya Angel masih merasa was-was.


"Seperti yang saya katakan, butuh waktu dan perlahan untuk mengingat semuanya. Jangan memaksakan Reyhan untuk kejadian-kejadian yang dia lupakan," jawab Dokter.


"Tapi aku tidak mengatakan apa pun. Reyhan bermain sendiri tiba-tiba dia menjerit," ujar Angel menjelaskan.


"Mungkin saja Reyhan melihat bayangan yang membuatnya takut. Anda tenang saja, saya sudah memberikan obat penenang, agar Reyhan tertidur dan bisa istirahat dalam waktu yang cukup lama. Biarkan pikirannya tenang," ujar Dokter lalu pergi meninggalkan kamar.


Angel hanya bisa diam, menatap Reyhan dengan sedih.


Tok, tok, tok.


Angel menoleh pada pintu. Seseorang mengetuk pintu, entah siapa. Angel segera menghampiri dan membuka pintu itu.


Angel termangu, melihat Dika yang membungkuk hormat padanya. Awalnya Angel merasa heran tidak mengenal pria itu. Namun, dia teringat saat di ruang operasi pria itu datang bersama Rey.


"Apa kabar Bu Angel, boleh saya meminta waktunya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan," ujar Dika.


"Tentang apa?" tanya Angel. Dika pun menjawab, "Reyhan."


'Ada apa? Apa Rey ingin membawa Reyhan,' batin Angel.


"Kita bicara di sana saja." Tunjuk Angel pada kursi. Dika hanya mengangguk lalu melangkah mengikuti Angel.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Angel setelah duduk.


"Pak Rey menyarankan untuk memindahkan Reyhan ke rumah sakit yang lebih layak. Soal biaya akan pak Rey tanggung," ujar Dika, membuat Angel tersenyum sinis.


"Memangnya kenapa dengan rumah sakit ini? Katakan pada Rey, jangan mengatur hidup Reyhan. Dia memang ayah kandungnya tapi aku adalah ibunya. Aku bisa mengurus Reyhan sendiri. Reyhan tidak butuh rumah sakit yang besar dan mahal." Angel berkata dengan emosi.


"Pak Rey hanya ingin yang terbaik untuk putranya," ujar Dika membuat Angel semakin jengkel.


"Aku yang tahu, mana yang terbaik untuk Reyhan. Katakan pada bosmu, sekarang dia sudah tahu siapa Reyhan, aku harap Rey menjauh dan jangan ganggu Reyhan lagi. Katakan itu pada Rey," ucap Angel bangkit dari duduknya lalu melangkah ke kamar Reyhan.

__ADS_1


Dika membuang nafas kasar, tugasnya tidak terselesaikan. Angel menolak tawaran Rey, mungkin Rey akan memikirkan kembali cara untuk menjauhkan Reyhan dan Bian.


Jika Reyhan sadar, anak itu pasti mengingat bahwa Bian yang mendorongnya. Dan Rey tidak ingin Bian semakin ketakutan.


__ADS_2