
Pindah Rumah
Hari-hari berlalu. Tiba saatnya bagi Dinda dan Asih untuk pindah. Mereka mulai berkemas barang-barang mereka.
Di dalam kamar Dinda duduk di atas ranjangnya dengan kedua tangan yang sibuk melipat pakaian nya satu persatu memasuk 'kan nya ke dalam koper.
Di Luar pintu Asih diam mematung seraya menggenggam sebuah map di tangannya. Map yang berisi surat hak warisnya. Namun, Asih tidak tahu apa Dinda mau menandatanganinya atau tidak.
Jika tidak segera dilakukan. Asih takut ada seseorang yang menuntut mereka suatu hari nanti karena aset yang di berikan Fras tidak lah sedikit.
Dinda menghentikan gerak 'kan tangannya ketika melihat Asih yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ibu sedang apa di sana? Masuk lah," titah Dinda, lalu melipat kembali baju-bajunya.
Asih, yang sudah ketahuan langsung melangkah masuk ke dalam kamar. Berjalan gontai seraya menyelipkan map itu di belakang punggungnya.
"Apa Ibu sudah selesai mengemas barang?"
"Sudah," jawab Asih. Lalu duduk di bibir ranjang samping Dinda.
"Ibu yakin kita tidak perlu membawa barang-barang berat? Seperti tempat tidur, sofa dan lainnya."
"Tidak perlu, karena di sana sudah ada."
"Dinda jadi penasaran seperti apa rumah kakek." Ucap Dinda, seraya menutup kopernya.
Dua koper sudah siap di bawa. Beberapa dus pun sudah rapi berjajar memenuhi ruang tamu. Hanya tinggal pergi dan membawa semua barang-barangnya.
"Ibu ayo kita ke bawah. Semuanya sudah siap. Dinda mau temui Syena, dulu yang Dinda titipkan pada Willy."
Dinda hendak melangkah sambil membawa kopernya. Namun, Asih menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu Dinda."
Baru setengah langkah tubuh Dinda kembali berbalik. Menatap ibunya dengan tatapan bingung lalu duduk kembali di samping Asih.
"Ada apa Bu?"
Asih menghela nafas dalam. Sulit rasanya untuk berkata namun Asih, sudah memikirkan perkataan apa yang akan di ucap kan nya, agar Dinda mau menandatangani surat itu tanpa bertanya apa pun.
Tangan Asih, mulai bergerak menarik map yang berada di belakang punggung nya. Alis Dinda sedikit terangkat menatap heran pada map itu.
"Apa ini?"
"Ini surat rumah yang akan kita tinggali. Namun, sebelum pergi kamu harus menandatangani nya dulu."
"Untuk apa?"
"Untuk pemindahan kepemilikkan rumah yang akan kita tempati."
__ADS_1
"Kenapa tidak ibu saja 'kan Ibu yang berhak."
"Ibu ingin kamu menandatangani nya. Karena usia Ibu tidak tahu sampai kapan. Ibu sudah tua dan kamu masih muda. Kamu masih punya Syena, yang masa depan nya masih panjang. Dan itu akan menjadi rumah kalian. Satu lagi kakekmu juga menitipkan perusahaan, setelah kita pindah kamu bisa memimpin perusahaan itu."
"Perusahaan!"
Dinda merasa terkejut. Merasa aneh pada sang ibu. Mengapa baru sekarang mengatakan jika dirinya memiliki aset-aset berharga seperti rumah bahkan perusahaan. Kenapa baru sekarang Asih mengatakannya.
Jika mungkin dulu, kehidupan nya akan lebih baik dan tidak harus menderita karena hidup susah.
"Ini aneh. Kenapa ibu baru mengatakannya."
Asih, mulai gelagapan saat pertanyaan-pertanyaan yang di takut 'kan keluar dari mulut Dinda.
"Karena …." ucap Asih, tertahan karena suara bel rumah berbunyi. Membuat fokus Dinda teralih pada bunyi bel itu. Dinda hendak berdiri untuk membuka kan pintu, namun tangan Asih tiba-tiba menarik tangannya membuat langkahnya terhenti.
"Tidak ada waktu lagi kita akan segera pergi. Tolong tandatangani dulu."
Pertanyaan nya sedetik terlupakan karena suara bel itu. Tanpa mempermasalahkan lagi Dinda segera menandatanganinya. Lalu beranjak pergi menuju pintu.
Asih merasa lega akhirnya bebannya sudah terlepaskan. Map itu ia masuk kan ke dalam tasnya. Lalu pergi membawa koper yang Dinda tinggal kan.
"Tante biarkan aku saja kalian tunggu saja di bawah."
Asih, terperangah saat Willy tiba-tiba datang mengambil kopernya. Dengan cekatan Willy membantu membawa semua barang-barang ke dalam mobilnya.
Asih merasa senang juga merasa aneh ketika netranya melihat perlakuan Dibfa dan Willy, yang berseri-seri. Tidak biasanya Dinda memancarkan senyumnya pada pengacara tampan itu.
"Tante kenapa bengong!"
Tiba-tiba suara Karin mengejutkan nya. Karin juga ikut membantu pindahan rumah sahabatnya.
"Karin, ngagetin tante saja."
"Abisnya tante ngelamun saja. Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Karin pada Asih. Mereka pun pergi meninggalkan apartemen yang banyak sekali kenangan.
Sesampainya di bawah Asih dan Dinda menaiki mobil Karin sedangkan Willy membawa mobil sendiri bersama Rio.
******
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam. Akhirnya mereka tiba di kota Surabaya. Kota dengan julukan nama kota pahlawan karena sejarahnya yang sangat di perhitungkan. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa indonesia dari serangan penjajah.
Walaupun kota itu terasa panas lebih dari ibu kota. Namun kota itu juga memiliki tempat-tempat yang nyaman.
Sepanjang perjalanan Dinda hanya menatap ke arah jendela, melihat kota baru yang akan menjadi tempat tinggal barunya. Dirinya akan tinggal bersama putri dan ibunya, memulai kehidupan baru tanpa ada nya masa lalu.
Mobil Karin mulai memasuki sebuah rumah, menerobos pintu gerbang yang cukup tingggi. Mereka di buat takjub dengan interior rumah itu yang sama sekali jauh dari bayangan nya.
Mata mereka kembali di buat takjub ketika memasuki pekarangan rumah yang luas. Ada taman yang penuh dengan bunga dan rerumputan hijau di bawahnya.
__ADS_1
Karin, yang sudah biasa tinggal di rumah mewah pun tidak mampu berkedip. Karena baginya rumah ini sangat lah mewah. Namun berbeda dengan Asih, yang menatap sendu rumah lamanya.
Ya, itu lah rumah yang pernah Asih tinggali dulu. Rumah cintanya bersama Fras kala itu.
Kedua mobil yang berbeda tipe juga warna berhenti tepat di depan rumah itu. Willy dan Rio juga merasa takjub. Mereka mulai turun dari mobilnya. Dinda dan Karin bahkan tidak berkedip.
Namun pandangan Asih terlihat berbeda. Rumah itu mengingatkan nya pada masa lalunya. Bahkan rumah ini masih terlihat sama taman hijau dan luas yang di penuhi bunga Daisy.
"Ibu, kenapa Ibu tidak bilang rumahnya sebesar ini?" tanya Dinda. Sama sekali tidak mendapat jawaban dari Asih.
"Ibu? Ibu kenapa kok nangis?"
Segera Asih menghapus air matanya saat Dinda melihat titik butiran bening membasahi pipinya.
"Ibu hanya mengenang masa lalu. Masa keci ibu bersama kakek mu."
Dinda mengerti akan perasaan ibunya. Segera Dinda menghampiri Asih lalu memeluknya. Tanpa Dinda tahu rumah itu adalah rumah tinggal ayah dan ibunya dulu. Saat mereka masih muda dan baru berbahagia menjadi suami istri.
Bahkan Dinda, saat itu masih berada dalam kandungannya.
"Aahh … kenapa kalian bersedih. Lihat lah ada tiga orang di sini yang menunggu. Apa kalian akan membiarkan kami kepanasan di sini."
Asih dan Dinda seketika tersenyum. Saat mendengar celotehan dari Karin.
Merasa tidak enak membiarkan Willy, Rio, dan Karin di luar hingga kepanasan. Asih pun mengajak mereka untuk masuk.
"Ayo masuk," ajak Asih yang berjalan ke arah pintu.
"Dinda lupa Syena di dalam mobil."
"Ya ampun Dinda kenapa di tinggal."
Syena memang sedang tertidur. Karena merasa takjub pada rumahnya Dinda meninggalkan putrinya yang tertidur di dalam mobil.
Segera Dinda berlari menuju mobil. Asih hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sebabnya meninggalkan balita di dalam mobil bukan lah hal yang patut di contoh dan tidak boleh dilakukan.
Dinda membuka pintu masih terlihat wajah teduh Syena, yang begitu nyaman menuju alam mimpinya. Di tariknua tubuh mungil itu perlahan memindahkan ke dalam pangkuannya.
Tiba-tiba Willy, menghampiri dan mengambil alih Syena.
"Sini, biar aku saja. Syena akan terasa berat jika sedang tidur." Ucap Willy, dengan senyuman.
Dinda merasa beruntung karena Willy begitu peduli dan perhatian pada Syena. Membuat senyum Dinda terukir sesaat.
Dari jauh Asih merasa heran hingga memicingkan matanya. Perlakuan Willy dan Dinda benar-benar aneh. Jika mereka sepasang kekasih mereka terlihat begitu bucin.
"Ada apa dengan mereka?" pikir Asih dalam hati.
...----------------...
__ADS_1
Ada udang di balik batu Bu. Hehe