
Di sebuah kamar di rumah sakit. Kedua wanita sedang sibuk melipat beberapa pakaian dimasuk 'kan nya ke dalam tas besar. Hari ini adalah kepulangan Dinda, setelah tiga hari di rawat di rumah sakit.
Hanya Asih yang menjemputnya, sedangkan Syena, ia titipkan kepada Karin, yang menunggu di apartemen.
"Ibu?" panggil Dinda, Asih, yang sedang melipat baju pun sedetik menoleh kepada Dinda, yang duduk di atas ranjang pasien.
"Ada apa Dinda?"
"Apa yang ibu bicarakan dengan ayah?"
Dinda, ingat. Pertemuannya beberapa hari lalu bersama Fras. Dinda, tidak bisa mendengar pembicaraan ayah dan ibunya karena saat itu Asih, memintanya pergi. Sekarang Dinda, kembali teringat dengan pertemuan itu.
Asih, menghentikan gerak 'kan tangannya untuk melipat baju. Lalu duduk di atas kursi seraya menghembuskan nafasnya perlahan.
"Apa yang ingin kamu ketahui? Apa pun pembicaraan ibu dengannya tidak jauh dari masalah kita selama ini. Dia menyesal telah meninggalkan mu. Dia hanya meminta maaf namun bagi ibu itu sudah terlambat. Kata maaf tidak bisa mengubah takdirmu dan menyembuhkan luka yang selama ini tertanam. Apa lagi anak dan istrinya telah menjadi bencana dalam hidup kita." Jelas Asih, lalu melipat kembali baju itu. Memasuk 'kan nya ke dalam tas, di tariknya resleting pada tas agar tas tertutup rapat.
"Bencana? Maksud ibu?"
Sedetik Asih, melirik ke arah Dinda, berjalan mendekatinya.
"Ayahmu sudah tahu jika Rey, mantan suamimu. Dan Velove, merebutnya darimu. Awalnya ibu tidak ingin mengatakan. Namun sepertinya Fras, mencari tahu tentang dirimu selama ini."
Dinda, menunduk diam.
"Ibu, Dinda, ingin pergi. Kita pindah rumah. Dinda, tidak mau bertemu apa lagi berhubungan dengan mereka. Dinda juga takut jika Rey, kembali membawa Syena. Lagian Dinda, juga sudah tidak bekerja lagi di Miranda grup. Dinda sudah berhenti. Kita mulai hidup baru lagi Bu, hanya kita bertiga." Mohon Dinda, sambil menggenggam tangan Asih.
Asih, menghela nafasnya panjang. Lalu berkata, "Dinda, apa kamu tidak ingin menikah lagi? Jika ada seseorang yang kamu sukai ceritalah pada Ibu. Ibu sangat berharap kamu akan memulai hidup baru dengan orang yang tepat. Ehm … sepertinya Nak Willy, sangat akrab dengan Syena, dia juga menyayangi Syena."
"Maksud Ibu apa? Ibu berpikir jika Willy, menyukai ku? Willy, memang baik terutama pada Syena. Jangan berpikir yang lebih Bu, bagaimana kalau pak Willy, sudah punya calon. Karena tidak mungkin setampan pak Willy, belum punya pasangan."
Tanpa sadar Dinda, mengakui jika Willy, lelaki yang tampan. Memang itu kenyataannya. Tidak bisa di pungkiri sebagai wanita Dinda, juga sempat mengagumi sosok pengacara muda itu. Namun, Dinda tidak ingin berharap lebih.
Rasa trauma masih ada dalam dirinya, tidak sulit membuka hati namun sulit untuk percaya lagi pada seorang lelaki. Apa lagi Dinda, sadar diri statusnya bukan lagi seorang gadis kini dirinya menyandang status janda yang memiliki satu anak.
Tidak mungkin pria seperti Willy, mau hidup bersama dengan dirinya. Jika pun Willy, memiliki hati dan perasaan padanya tetap masih ada keluarga yang harus di mengerti. Mungkinkah keluarga Willy, merestui, mengizinkan, merelakan, putranya menikah dengan seorang janda? Rasanya tidak mungkin.
__ADS_1
Untuk saat ini Dinda, hanya akan fokus pada Syena, putri kecilnya dan masa depannya.
"Kita berangkat sekarang Bu. Dinda, rindu rumah." Ajak Dinda, yang turun dari ranjangnya.
"Sebentar Ibu ambil dulu tas." Asih, melangkah ke arah kursi untuk mengambil tasnya lalu memapah Dinda, untuk berjalan.
"Tidak perlu seperti ini Bu, Dinda bisa jalan sendiri." Tolak Dinda, saat Asih, menggandeng tangannya
"Jangan sampai telat makan lagi ya! Nanti lambungnya kambuh."
"Iya Bu."
Mereka saling bercakap sepanjang koridor. Saat sampai di depan lobby sebuah taksi sudah menunggu. Dinda, dan Asih, pun langsung masuk ke dalam taksi itu.
****
Di tempat lain terjadi percakapan antara Fras, dan Danu. Mereka berada di ruang kerja Fras, namun bukan di perusahaan melainkan di rumahnya.
Fras, terlihat mengucap kata demi kata, sedangkan Danu, fokus mendengarkan menulis beberapa kalimat pada buku yang di pegangnya.
"Saya ingin memberikan hak waris pada Dinda, kamu sudah tulis 'kan apa yang aku katakan?" tanya Fras, Danu hanya mengangguk.
Fras, menghela nafas sejenak
"Lalu untuk aset yang lainnya akan saya bagi rata antara Dinda, dan Velove."
"Apa bapak ingin menulis pembagian ahli waris saat ini? Bukankah bapak masih ada tidak perlu secepat ini pak." Karena bagi Danu, itu terlalu cepat untuk membagikan hak warisnya.
"Tidak ada yang tahu Danu, kapan kita akan tiada. Namun aku berharap sisa hidupku bisa melihat Dinda, dan Asih, bahagia."
Danu hanya mangut-mangut.
"Kesalahan ku tidak akan bisa termaaf 'kan walau hanya dengan memberikan seluruh hartaku untuknya. Bagaimana pun Asih lah yang menemaniku hingga aku sukses. Namun, setelah kesuksesan ku aku malah menyakitinya, membuatnya pergi meninggalkan ku."
"Setidaknya pak Fras, sekarang bisa hidup tenang. Karena sudah bertemu dengan mereka. Dan sudah memberikan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Jadi jangan terus menyalahkan diri." Danu memberikan wejangan.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi Danu, aku ingin kamu mengutus seseorang untuk memantau kehidupan putriku. Asih, dan Dinda. Aku ingin memberikan rumah yang baru saja ku beli untuk Asih, tapi mereka pasti akan menolak. Tidak akan menerimanya."
"Kita pikirkan cara itu nanti. Rumah yang berada di kota X akan segera di alih nama 'kan. Dan untuk hak waris akan segera saya urus."
"Danu!"
"Iya Pak?"
"Jangan biarkan Rita dan Velove tahu hal ini."
"Tentu Pak. Saya akan jaga rahasia."
Danu sudah sangat lama bekerja dengan Fras. Dia sangat tahu bagaimana sikap Rita, yang memang sedari dulu. yang di lakukannya hanyalah uang. Jika masalah hak waris ini di ketahui mungkin Rita, tidak akan terima.
Danu, juga tahu niat Rita, yang memang hanya ingin kemewahan saja. Bukan karena tulus mencintai bos nya. Tanpa perintah dari Fras, Danu selalu menjaga rahasia tentang percakapannya dengan bosnya.
Setelah selesai mengurus hak waris, Danu beranjak pergi meninggalkan ruangan Fras, meninggalkan Fras, duduk melamun di tengah ruangan yang sepi.
Jika Tuhan mengizinkan. Ingin rasanya Fras, menikmati sisa hidupnya bersama Asih, dan Dinda. Ingin memeluk dan menimang cucunya itu. Walau itu tidak mungkin.
*****
Di tempat lain Dinda dan Asih sudah sampai di apartemen. Ternyata Karin, menyambut kedatangan nya, menyediakan makanan untuk makan siangnya hari ini.
Tanpa menunggu lama mereka pun makan bersama dengan penuh canda dan tawa.
"Dinda, jika kamu ingin bekerja. Kamu bisa bekerja dengan ku," tawar Karin.
"Iya Karin, aku pikir-pikir dulu ya."
"Dinda, Ibu baru ingat. Ibu sudah tahu siapa yang membayar pengobatan Syena saat itu." ujar Asih.
"Siapa Bu?"
"Willy."
__ADS_1
Sontak Dinda, dan Karin, tersedak bersamaan. Asih merasa heran pada mereka berdua. Jika memang terkejut tidak seperti itu juga.
Karin, dan Dinda, saling berpandangan. Mungkinkah Dinda, masih ingat dengan nazar nya?