Life After Married

Life After Married
Bab 144- Ngidam Banyak Maunya.


__ADS_3

Ngidam, banyak maunya.


Malam begitu tenang, mengiringi keindahan suasana kota di malam hari. Suara bising kendaraan yang lain memecah keheningan. Hembusan angin menerpa wajah hingga menusuk ke dalam kulit paling dalam. Membuat bulu-bulu roma berdiri seketika.


Udara terasa dingin menyegarkan, Langit cerah di hiasi bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar menebar cahaya berkilauan.


Di tambah dengan cahaya dari bola-bola lampu yang menggantung di udara, diantara gedung-gedung tinggi dan tiang, menambah kesan ramai jalanan kota malam ini.


Suara bising knalpot pada kaki si kuda besi begitu bising, namun tidak mengganggu pendengaran si penunggang. Kedua tangan berlapis sarung hitam menggenggam erat kedua tanduknya untuk mengatur laju lambatnya motor itu.


Dengan kepala yang tertutup helm fullface, dan tubuh yang tertutup jaket kulit. Pria itu tetap fokus pada jalanan di depannya. Sebuah tangan yang melingkar pada perutnya memberikan kehangatan. Seseorang di belakangnya tetap memeluk tanpa melepas helm dan jaket kulitnya.


Motor itu berhenti, di depan SPBU. Satu kaki milik pria itu menurunkan standar besi untuk menopang kuda besinya. Agar tetap seimbang tidak terjatuh. Seorang penumpang di belakangnya langsung turun dan berlari menuju toilet.


Di dalam toilet


Seorang wanita menunduk lemah seraya memuntahkan isi dalam perutnya. Cairan bening terus turun tanpa henti, membuat wajah wanita itu putih pucat.


Satu punggung tangannya dibiarkan mengusap benda kenyal bawah hidungnya. Punggungnya bersandar sejenak pada sisi tembok.


Suara notifikasi pesan dari ponsel mengejutkannya. Dilihat nya pesan itu dari sebuah kontak yang bernama MY Husband, bibirnya melengkung sesaat setelah membaca beberapa kalimat dari sebuah aplikasi pesan.


[ Sayang, kamu baik-baik saja 'kan? Apa aku perlu panggilkan dokter? ]


Pesan menunjukan sebuah perhatian dan kekhawatiran.


[ Gak perlu Mas, Dinda hanya mual dan pusing. Nanti juga biasa lagi. ]


Balas wanita itu yang tidak lain adalah Dinda yang sedang melakukan perjalan ke sebuah kota yang terkenal di jawa barat.


Motor sport yang baru saja di dapatkan Willy, menjadi kendaraan yang di pakai untuk perjalanannya menyusuri kota kembang itu.


Hanya karena mengidam sebuah kue Willy dan Dinda rela melawan dinginnya malam, dan jauhnya jarak yang di tempuh hanya untuk menemukan awug.


Bukan Willy tidak ingin menaiki mobil yang menjadi kendaraan ternyaman. Namun, permintaan ibu hamil lah yang terpaksa melakukannya.


Baru saja sampai di kota itu, tiba-tiba Dinda, merasakan mual. Sesuatu yang tertahan pada ujung tenggorokan nya ingin segera dimuntahkan.


Setelah membalas pesan itu. Dinda langsung bangun berdiri, lalu keluar dari dalam toilet saat hendak membuka pintu seseorang sudah ada di depan matanya.


"Mas, kenapa ada di sini? Ini toilet perempuan lo Mas."


Tidak peduli semua mata nyalang tertuju padanya. Willy langsung menyentuh wajah Dinda, meraba wajah pucat itu. Tentu saja perlakuan Willy membuat heboh seisi toilet yang di penuhi banyak wanita.


"Mas, apaan sih! Malu tahu." Dinda langsung menurunkan tangan Willy dari wajahnya. Pipinya sudah memerah karena menahan malu dilihat banyak orang.

__ADS_1


Tiba-tiba perutnya kembali bergejolak, merasa diaduk-aduk hingga atas dadannya. Sesuatu yang bergerak dari dalam berhenti ujung tenggorokannya.


Merasa sudah tidak tahan, Dinda langsung berbalik masuk kembali ke dalam toilet. Tidak hanya Dinda, Willy pun ikut masuk membuat heboh para wanita yang ada di sana.


Mereka berlomba-lomba melihat apa yang sedang terjadi. Perlakuan Willy yang perhatian, dengan telatennya memijat tengkuk leher Dinda, membuaat baper semua wanita yang ada di sana.


Tidak sedikit dari mereka yang memuji, dan berharap mendapatkan suami seperti Willy.


Dinda menyadari jika dirinya sudah jadi tontonan orang banyak. Tanpa menunggu lama, tangan Willy langsung di tarik keluar dari toilet.


Bahkan hingga depan motornya, mereka tetap menjadi perhatian.


"Mas, kamu bikin malu saja. Kenapa pake masuk segala sih ke toilet wanita. Lihat tuh orang-orang pada melihat."


"Untuk apa peduli pada mereka. Yang aku pedulikan itu kamu, mana ada suami yang diam lihat istrinya kesakitan."


"Aku cuma mual Mas."


"Sama saja," sanggah Willy. "Sekarang kita mau kemana? Mau tetep cari kue itu?" tanya Willy.


"Iya Mas, sayang juga sudah sampai bandung kalau gak beli."


"Ya sudah, ayo naik lagi."


Dinda langsung menaiki motornya setelah Willy, sudah siap membawanya pergi. Kuda besi itu melaju membelah padatnya kota bandung malam ini.


Padahal masih banyak makanan yang bisa Dinda pilih. Namun Dinda hanya menginginkan awug.


"Di sini tidak ada. Makan yang lain saja ya?"


"Enggak mau Mas, maunya awug." Helaan nafas Willy hembuskan. Kenapa keinginan orang yang ngidam tidak bisa digantikan. Bahkan ribuan makanan yang berjajar di depan mata tidak menggugah selera istrinya.


"Ya sudah, kita istirahat dulu nanti cari lagi."


Willy menuntun Dinda berjalan, menuju sebuah meja kosong yang tersedia. Willy kembali bertanya apa ada yang diinginkan. Namun Dinda hanya menggeleng.


Willy beranjak dari kursinya, mencoba membeli beberapa jajanan yang ada di sana. Berharap Dinda akan tergiur dan ikut memakannya. Namun tidak ada satu pun yang Dinda cicipi.


"Sayang, makanlah sedikit saja. Kamu belum makan apapun. Nanti kita cari kue awugnya."


"Gak mau Mas, gak ada yang aku suka."


"Bukankah kamu sangat suka manis. Ini aku belikan martabak, kamu suka pedes aku belikan seblak ceker cobain deh, pasti suka." Dinda tetap menggeleng, walau makanan itu sudah Willy sodorkan.


"Makanlah sedikit ya sayang. Atau mau makanan lain tinggal tunjuk saja aku belikan."

__ADS_1


Mata Dinda mulai memindai setiap gerobak jajanan yang berbaris di depannya. Hingga netranya terhenti dan tertuju pada satu gerobak yang dipenuhi macam-macam buah segar.


"Ada Mas aku mau itu." Tunjuk Dinda pada gerobak biru di depannya. Mata Willy langsung terbelalak ketika membaca sebuah tulisan yang ada pada kaca gerobak.


"Rujak?" tanyamya demikian. Dinda langsung mengangguk diiringi dengan senyuman.


"Iya, Mas beliin ya."


"Tapi ini sudah malam, masa mau rujak."


"Ya udah deh, aku gak mau makan," rajuk Dinda.


Akhirnya Willy pun membelikan apa yang Dinda inginkan. Dengan lahapnya Dinda memakan rujak buah hingga sambelnya habis tidak tersisa.


Willy hanya menatapnya dalam diam. Keinginan Dinda selama hamil memang sangat aneh, sulit di atur. Seperti halnya memakan rujak di malam hari.


"Enak?"


"Enak banget Mas. Tapi kok perutku sakit ya Mas."


"Sakit! Sudah aku bilang jangan makan rujak." Willy langsung panik.


"Bayi kita lo Mas, yang ingin."


"Terserah siapa yang ingin. Kita ke klinik sekarang. Kalau bayi kita kenapa-napa gimana?"


"Mas, tunggu itu awugnya."


Tunjuk Dinda pada sebuah gerobak yang baru saja datang. Seorang pedagang yang membawa beberapa anyaman kerucut di dalam gerobaknya. Dan beberapa kue bergentuk segita berwarna putih, dengan noda-noda gula memenuhi isi badanya.


"Kita ke klinik dulu nanti aku beli itu."


"Udah gak sakit kok Mas, beliin," rengek Dinda dengan manja. Willy membuang nafas kasar sejenak. Lalu melangkah pergi menuju pedagang awug.


*****


Dinda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berada di dalam hotel. Setelah mendapatkan kue impian Willy dan Dinda bergegas mencari penginapan terdekat. Untuk bermalam malam ini.


Willy masuk ke dalam kamar, membawa sebuah piring yang terdapat awug di dalamnya. Dinda yang sedang rebahan sejenak langsung terbangun dan duduk.


Menyambut kedatangan Willy, bersama kue awug yang diinginkan. Willy duduk di atas sofa, mengulas senyum karena melihat Dinda yang begitu antusias tidak sabar memakan kue awugnya.


Satu sendok kue beras itu Willy masukan ke dalam mulut Dinda. Dikunyahnya lalu di telan. Saat hendak memberikan potongan kedua, Dinda menolak dengan alasan, "Sudah kenyang."


Willy terbelalak. Sambil menatap sedih piring yang di pegangnya. Satu suapan itu tidak sebanding dengan perjalanan tempuh dari jakarta ke bandung. Namun apa yang terjadi? Hanya satu suap yang Dinda makan.

__ADS_1


Tidak melihat beberapa waktu yang terbuang. Dengan terpaksa Willy memakan semua kue itu. Sedangkan Dinda sudah terlelap dalam mimpinya.


"Enak juga," ujar Willy setelah menggigit dan menelan sepotong kue awug. Jika dirasa-rasa kue itu sangat enak dan bikin ketagihan.


__ADS_2