Life After Married

Life After Married
Bab 78- Ada apa dengan Dinda


__ADS_3

"Dinda, kamu tidak apa-apa Nak? Wajahmu pucat sekali." Fras, langsung menyadari keadaan Dinda, saat ini. Namun Dinda, tetap terlihat tegar.


"Dinda! Kamu sakit? Lebih baik kita ke rumah sakit?"


"Apa pedulimu Fras! Dinda sakit karena bertemu denganmu."


Suara Asih, mengalihkan pandangan Fras, dan juga Dinda yang sama-sama meliriknya yang berdiri di belakang Dinda.


"Asih!"


"Ibu!"


Ucap keduanya bersamaan. Tatapan Asih, masih tertuju pada Fras.


"Untuk apa kamu datang setelah meninggalkan luka. Apa kamu datang hanya untuk menaruh luka!" Tatapan Asih, begitu tajam. Fras, hanya diam memandangi wanita yang pernah ia sakiti.


"Asih, kamu tidak berubah," batinnya. Yang terus menatap Asih, di hadapannya. Yang masih cantik seperti dulu.


Asih, mengalihkan tatapannya pada sang putri yang berdiri di sampingnya. Di lihatnya wajah Dinda, yang begitu pucat. Asih, sangat khawatir. Selain keadaan tubuhnya yang tidak sehat di tambah dengan masalah yang sedang di hadapinya saat ini.


Tubuh Asih, mendekat. Satu tangannya ia biarkan menyentuh bahu sang putri. Dinda, yang merasa di sentuh pun menoleh pada sang ibu membuat pandangan mereka saling bertemu.


"Pergilah, Syena ada bersama Willy," lirih Asih.


"Jangan memikirkan tentang apa pun. Istirahatlah," titah Asih meminta Dinda, untuk segera pergi.


"Tapi Bu …," ucap Dinda, tertahan. Karena tatapan Asih, yang memohon padanya.


Sedetik Dinda, melirik ke arah Fras, dan kembali menatap Asih. Setelah diam beberapa saat akhirnya Dinda, mengayunkan langkahnya untuk pergi.


Melihat putrinya pergi, Fras terus menatap Dinda, hingga menyebrangi jalanan di depannya. Langkah Dinda, sedetik terhenti menoleh ke belakang yang dimana Asih, dan Fras, sedang bertatapan.


"Apa yang akan ibu lakukan?" batinnya. Lalu berbalik melangkah memasuki kantor New-Dream.


Kembali pada Asih.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Asih, dingin.


"Asih."


"Apa yang kamu rasakan setelah menemui putrimu?" tambah Asih.


"Sudah lama aku mencari kalian."


"Untuk apa? Untuk menyakitiku lagi!"


"Asih."

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Jangan lagi menemui kami apa lagi datang menemui Dinda."


"Apa salah jika aku ingin bertemu putriku?" sanggah Fras.


"Karena kamu, putriku menganggap pernikahannya kutukan. Dia membencimu bukan karena aku yang meminta tapi dia sendiri yang merasakan bagaimana perlakuan ayahnya."


"Kutukan! Kutukan apa maksudmu?"


"Kutukan cinta yang menghancurkan hidup dan masa depannya."


"Asih, aku tahu aku salah. Maafkan aku … maafkan aku Asih." Belum kering air mata Fras, kembali luruh membasahi pipinya.


"Kata maafmu tidak akan merubah keadaan pada putrimu. Dinda, mungkin akan mengalami trauma seperti diriku. Selama hidupnya mungkin Dinda, tidak akan percaya lagi cinta."


"Apa yang terjadi padanya? Apa karena rumah tangganya yang putus dan harus bercerai apa karena itu?" ucap Fras, membuat Asih, menatapnya.


"Kamu sudah tahu jika putrimu mengalami hal yang sama? Di sakiti oleh suaminya yang meninggalkannya demi wanita lain. Dan yang lebih menyakitkan wanita itu adalah …."


*****


Dinda, membuka pintu dengan perlahan. Langkahnya yang pelan seperti sedang merasakan sakit pada tubuhnya. Namun, tetap ia tahan.


Nafasnya ia hembuskan perlahan, lalu kembali melanjutkan langkahnya lebih dalam lagi memasuki kantor New-Dream.


Samar-samar terdengar suara tawa Syena, dari dalam. Dinda, melihat Syena yang sedang bermain bersama Rio, namun kemana Willy, Dinda, tidak melihatnya.


Dinda, tersenyum seraya melangkah ke arah Syena. Tiba-tiba langkahnya terhenti sejenak, tangan kirinya menyentuh bagian perut ratanya, di iringi gigitan bibir sebagai penahan rasa nyeri.


Rio, yang mendengar Syena, memanggil ibunya seketika mendongak menatap lurus ke arah Dinda, sedang melangkah. Rio, melihat ada yang berbeda dari Dinda, wajahnya begitu pucat membuat Rio, berpikir jika Dinda, sedang tidak sehat.


"Mama!" teriak Syena, yang langsung memeluk menghambur ibunya, begitu pun dengan Dinda, yang melakukan hal yang sama.


"Oma, mana Ma?"


"Oma, di luar sayang nanti menyusul," jawab Dinda. "Kamu sedang main apa sayang?" tanya Dinda, seraya merapikan rambut Syena.


"Aku main sama om pengacara Ma."


"Dinda, kamu sakit?" tanya Rio, saat sudah mendekat ke arah Dinda.


"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Dinda, balik.


"Wajahmu pucat sekali," jawab Rio. Dibda hanya mengulum senyum.


"Mungkin karena cuaca panas di luar. Kepalaku sedikit pusing saja. Dimana Willy?" tanyanya lagi.


"Willy …."

__ADS_1


"Syena, ini jusnya." Belum sempat Rio menjawab Willy, sudah datang yang membawa segelas jus jeruk di tangannya.


Dinda, tersenyum lalu berdiri. Willy, yang mendapat senyuman itu seketika tergugup dan canggung. "Ehm … tadi Syena, meminta minuman yang segar karena haus katanya jadi ku buatkan jus jeruk untuknya," ucap Willy, terbata-bata.


"Syena, pasti merepotkan kalian."


"Tidak!," jawab Rio cepat. "Justru aku senang bermain dengannya. "Syena, jus sudah jadi ayo kita main ke atas." Ajak Rio, yang langsung memangku Syena, berjalan ke arah Willy, untuk mengambil jusnya. Sebelah matanya berkedip lalu pergi menaiki anak tangga.


Willy, hanya menatap kepergian Rio, dengan bingung. Apa maksud kedipan temannya itu Willy, tidak mengerti.


Aduh pak pengacara jangan terlalu polos kamu bukan anak kecil. Masa arti kedipan itu tidak tahu. Rio, sudah memberikan mu kesempatan untuk berduaan dengan Dinda. Pembacaku beritahulah Willy, agar dia mengerti.


Willy, melangkah pelan ke arah Dinda, yang masih berdiri di tempatnya. "Duduklah," ujar Willy, seraya menunjuk kan tempat duduk yang kosong.


"Apa kamu tidak bekerja? Anak ku pasti sudah mengganggumu." Kata Dinda, yang mendaratkan bokongnya pada kursi.


Willy, pun ikut duduk di sampingnya.


"Aku baru saja pulang dari pengadilan. Jadi ku tutup sementara," ujar Willy, Dinda hanya mangut-mangut.


Sedetik Willy, melihat wajah Dinda, yang sangat berbeda. Putih dan pucat membuat Willy, khawatir. "Kamu tidak apa-apa? Apa kamu sakit?" tanyanya yang langsung mendekat ke arah Dinda.


"Aku sehat. Hanya sedikit kurang sehat kemarin aku sempat demam."


"Apa kamu sudah pergi ke dokter?"


"Apa kamu khawatir?" tanya Dinda, yang tersenyum. "Aku bukan Syena, aku bisa pergi ke dokter sendiri. Ssst …." Tiba-tiba Dinda, merasakan perih pada perutnya, membuatnya meringis menahan nyeri. Satu tangannya ia tekankan pada bagian perutnya.


"Apa perutmu sakit? Sebaiknya kita ke rumah sakit saja kamu sedang tidak baik-baik saja." Willy, mendadak panik.


"Tidak usah aku tidak apa-apa. Mungkin karena aku belum makan apa pun hari ini jadi terasa nyeri."


Memang benar, karena masalahnya Dinda, melupakan waktu makannya. Bukan hanya melewati namun juga melupakannya.


"Tunggu di sini akan aku ambilkan kamu minum." Dengan langkah cepat Willy, langsung berlari ke arah dapur meninggalkan Dinda, yang masih menahan sakitnya.


Dinda, bangun dari duduknya saat akan melangkah tiba-tiba ponselnya berdering. Di lihatnya layar ponsel yang tertera satu pesan dari Rey, sekilas isi pesan itu terlintas pada layar ponselnya membuat Dinda, langsung tahu apa isi pesan itu.


Seketika matanya terbelalak, nafasnya mulai memburu. Rasa nyeri semakin terasa membuat tubuhnya lemas, sedetik itu juga tubuhnya terjatuh bersamaan dengan ponsel yang di pegangnya.


"Dinda!"


Teriak Willy, yang berlari hingga menjatuhkan gelas yang di bawanya. Beruntung Willy, berlari cepat hingga kedua tangannya mampu menahan tubuh Dinda, yang akan terbentur lantai.


Di sisi lain Asih, dan Fras, masih berada di tempat yang sama. Wajah Fras, terlihat menegang, syok, dan terkejut. Rasanya tidak percaya dengan apa yang di katakan Asih, padanya. Seketika lututnya terasa lemas membuat tubuhnya roboh terjatuh pada atas aspal jalanan.


Danu, yang melihat bosnya tersungkur lemah langsung keluar dari dalam mobilnya. Sedangkan Asih, masih diam tanpa kata dengan air mata yang berlinang

__ADS_1


__ADS_2