Life After Married

Life After Married
Bab 123- Cibiran Teman


__ADS_3

POV Mayang


Mayang sepertinya masih kesal hingga tidak bergabung untuk makan malam dengan ibu, anak, dan menantunya. Dirinya hanya diam berdiri didalam kamar.


Sedetik suara getaran ponsel mengejutkannya, yang bibirnya tidak henti-hentinya menggerutu.


Satu tangannya terayun untuk mengambil ponsel itu. Di lihatnya nama yang tertera. Ternyata itu adalah panggilan video dari teman-temannya.


Seketika senyumnya merekah. Ngobrol bersama teman mungkin suasana paling asyik dibandingkan makan malam bersama sang menantu.


Raut wajah bahagianya terlihat jelas, jari jempolnya mulai mengklik tombol ikon hijau agar sambungan video terhubung.


"Malam Jeung," sapa salah satu wanita dalam video itu. Sepertinya tidak hanya satu melainkan empat orang yang bergabung dalam video termasuk dirinya.


"Jeung Mayang lama banget angkatnya," ujar teman yang lainnya.


"Tumben malam-malam VC ada apa? Bukankah arisan masih lama ya." Mayang merasa heran karena malam-malam begini temannya melakukan video call.


"Justru itu. Kita mau ngadain arisannya besok, gimana Jeung?"


"Besok!" Mayang terlihat berpikir. Mungkin lebih baik, dari pada harus diam di rumah membosankan. Apalagi ada menantu yang tidak diharapkan.


"Boleh deh, lagian sumpek aku diam di rumah," sambung Mayang.


"Tumben, kenapa nih! Ada masalah? Wajahnya kok di tekuk gitu." Ledek teman-temannya. Membuat mood Mayang lebih buruk, lebih kesal dari sebelumnya.


Mayang sempat berpikir, bagaimana jika teman-temannya tahu kalau menantunya adalah seorang janda. Mungkin bisa panas telinganya karena ejekan dari temannya itu.


"Eh, ngomong-ngomong kenapa kok di cepetin jadwal arisannya jadi besok?" tanya salah satu temannya. Mayang pun jadi kepikiran ada apa dan mengapa jadwal arisannya mendadak besok.


"Enggak tahu sih. Tapi katanya Jeung Rani punya kejutan nih untuk kita-kita. Entahlah aku pun tidak tahu apa kejutannya."


"Aduh jadi penasaran deh," ujar teman yang lainnya.


Lama mengobrol dalam panggilan video. Entah apa yang dibahas. Sepertinya ibu-ibu memang tidak berhenti untuk ngerumpi.


Berbagai topik mereka bahas. Hingga satu jam lamanya waktu yang mereka habiskan. Hingga detik-detik menegangkan pun terjadi. Akhir obrolan yang hangat berubah jadi panas dan emosi.


"Jeung Mayang, kita denger katanya udah punya menantu ya? Anaknya nikah kok gak di undang sih Jeung."


Mimik wajah Mayang seketika berubah jadi sangar. Darimana teman-temannya tahu tentang pernikahan putranya. Niat Mayang ingin merahasiakan namun ternyata mereka semua sudah tahu lebih dulu.


"Darimana mereka tahu? Apa mungkin dari Shila." Pikirnya.


"Jeung, kok diem saja. Berarti bener dong Willy, anak Jeung yang pengacara itu udah nikah. Tapi kita kok gak tahu ya."


Saat hendak menjawab tiba-tiba satu panggilan masuk pada video mereka. Saat dilihat nama yang tertera adalah Rani. Tidak lama kemudian Rani pun ikut bergabung.


"Jeung Rani, akhirnya ikut nimbrung juga," ujar salah satu temannya yang paling rempong.


"Maaf ya. Tadi ada urusan sebentar," jawab Rani.

__ADS_1


"Eh, ada Bu Mayang. Bagaimana Bu, tadi Shila di ajak main ke rumah. Niatnya sih mau jodohin sama anaknya eh … ternyata anaknya udah nikah."


Sontak teman-teman yang lain terkejut. Hingga bola mata mereka membulat dan hampir saja keluar.


Entah apa maksud Rani, mengatakan itu. Namun wajah Mayang sudah memerah karena menahan emosi.


"Gak salah Jeung, mau dijodohin sama Shila. Memangnya Bu Mayang gak tahu apa anaknya nikah. Jangan bilang ya Mba kalau mereka itu nikah karena …."


"Ya, mungkin saja kita 'kan gak tahu Jeung," sanggah Rani. "Apalagi nikahnya diam-diam."


"Memangnya kenapa jika anak saya sudah menikah!" Mayang yang sedari tadi hanya diam mendengar ejekkan temannya itu kini membuka suara. Hatinya sangat kesal apalagi teman-temannya menuduh yang tidak-tidak. Seperti halnya kecelakaan dalam bercinta.


"Enggak kenapa-kenapa sih Jeung. Tapi aneh saja masa ibunya gak dikasih tahu."


"Mungkin Jeung Mayang malu karena menantunya itu janda. Ya, bisa dibilang Willy, mendapatkan seorang janda."


Semua temannya semakin terkejut. Hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Mayang yang kesal langsung mematikan panggilam videonya. Amarahnya kini sedang memuncak. Cibiran-cibiran yang dilontarkan temannya membuatnya malu dan naik darah.


"Ih, sebel. Dasar kurang kerjaan bisanya mencibir saja," umpatnya.


"Shila, anak itu pasti yang mengatakannya."


Di saat sedang meluapkan amarahnya. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Namun, bukan panggilan masuk melainkan satu notifikasi chatting dalam grubnya.


Dibukanya layar datar itu, langsung menampilkan beberapa deretan tulisan dari setiap teman pada aplikasi biru yang paling banyak digunakan saat ini.


Grup Arisan Berlian


Amarah Mayang semakin memuncak. Begitu pun dengan emosinya yang semakin naik. Teman-temannya meminta agar Mayang membawa Dinda, pada acara arisannya besok.


Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka pun akan membawa para menantu atau putri mereka.


"Sial! Nyebelin banget sih si Rani." Umpat Mayang yang langsung melempar ponselnya ke atas ranjang tidurnya.


Mayang berpikir keras, bagaimana besok. Apa harus membawa Dinda keacara arisannya atau tidak. Kini dirinya dilanda dilema.


****


Keesokan paginya, Dinda dan Willy sedang bersiap-siap untuk pergi. Karena hari ini Willy akan ada sidang yang akan dijalani klien-Nya. Dan Dinda, akan pergi keperusahaannya yang lama ia tinggalkan.


Pagi ini begitu berbeda, senyum merekah yang Willy, tampilkan. Dinda menatap heran pada suaminya itu. Ada apa dan mengapa senyum-senyum tidak jelas.


"Sayang kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Dinda, yang tangannya sibuk mengikat dasinya.


"Aku sedang senang saja," jawab Willy yang masih tersenyum.


"Jangan senyum-senyum sendiri. Kaya orang gila." Willy sontak tergelak mendengar ucapan Dinda.


Willy, sangat senang karena, sekarang ada yang membantunya memakaikan Dasi tetapi tidak saat dulu. Saat masih bersama Rio. Willy paling enggan memakai dasi dikerahnya, karena keahlian tangannya yang tidak terlalu mahir dalam memakai dasi.

__ADS_1


Terkadang Rio yang selalu membantunya untuk memakaikannya. Hidup mandiri tidak lah mudah apalagi seorang lelaki.


"Kenapa tertawa?"


Kini Dinda lah yang tertawa mendengar curhatan suaminya.


"Lucu saja. Aku tidak menyangka kalian seromantis itu. Apa Rio masih normal?"


"Kamu ngeledek ya."


"Eh, eh, Wil!" pekik Dinda saat perutnya di gelitik. Membuatnya tidak bisa menahan tawa.


Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan tawa mereka. Keduanya saling pandang dalam sekejap, lalu Dinda melangkah untuk membuka pintu.


"Biar aku saja. Jangan lupa pakai jasnya."


"Hm …"


Dinda pun melangkah ke arah pintu. Saat dibuka, matanya seketika membulat melihat Mayang yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mama," ucapnya yang langsung mendapat tatapan dari Mayang.


"Mama mau ketemu mas Willy? Sebentar biar Dinda panggilkan."


"Tunggu. Aku butuh bicara denganmu bukan Willy."


Dinda merasa heran, ada apa sepagi ini ibu mertuanya mengajaknya bicara.


"Ada apa ya Ma?"


"Aku ingin hari ini kamu ikut aku keacara teman-temanku. Tapi ingat! Jangan memalukan, pakai pakaian yang bagus, dan jangan bicara apa pun jika tidak tahu. Mengerti."


"Tapi Ma kita pergi kemana?"


"Masih saja nanya," gumamnya dalam hati. "Arisan. Sudah banyak tanya siap-siap aku tunggu kamu di bawah." Setelah mengatakan itu Mayang pun berlalu pergi meninggalkan Dinda, yang masih bengong.


*****


"Siapa?" tanya Willy saat Dinda sudah berada di dalam kamar.


"Mama," jawabnya. Membuat Willy langsung menoleh.


"Mau apa? tidak macam-macam kan?"


"Tidak, Mama minta aku untuk ikut dengannya. Ada acara arisan bersama teman-temannya."


"Tumben," lirih Willy yang merasa heran.


"Apa aku boleh pergi?" tanya Dinda meminta izin.


"Ya, aku mengizinkanmu. Tapi kamu harus kasih tahu kemana kalian pergi, aku takut jika Mama berbuat hal aneh. Semoga saja ini awal kedekatanmu dan Mama."

__ADS_1


"Iya sayang, Semoga saja." Sedetik Willy pun memeluk Dinda. Hanya sesaat sebelum akhirnya Dinda meminta izin ut


untuk berganti pakaian lebih dulu.


__ADS_2