Life After Married

Life After Married
Bab 138- Awal pendekatan


__ADS_3

POV Karin dan Rio ( Flashback )


Setelah kejadian mengerikan yang menimpa Karin, membuatnya dekat dengan Rio. Hampir setiap hari, setiap malam Rio lah yang menemaninya, merawatnya hingga sembuh.


Bahkan mereka sempat dikejutkan dengan pernikahan kedua sahabatnya saat itu.


"Pelan-pelan!"


"Ini juga pelan-pelan."


"Kamu ikhlas gak sih!"


"Ya sudah. Dorong saja sendiri."


Di lorong rumah sakit yang cukup ramai seorang pasien dan seorang pria sedang bersitegang. Hanya karena si wanita tidak merasa puas kursi rodanya didorong kasar oleh si pria.


Namun, si pria juga kesal karena si wanita tidak henti-hentinya ngedumel. Padahal tangannya dengan sangat pelan mendorong kursi roda yang di naiki pasien wanita.


Sama-sama keras kepala itulah mereka.


"Dasar! Gak peka." Karin menggerutu. Sedangkan Rio, berjalan lebih dulu di depannya.


"Aunty!" teriak Syena, di ujung lorong membuat Karin dan Rio berbalik ke arah sumber suara.


"Syena." Entah kenapa Karin sangat bahagia melihat bocah kecil itu.


Karena yang terakhir dia lihat Syena dalam keadaan bahaya. Tanpa terasa bulir air mata turun membasahi pipinya.


Saking senangnya Karin ingin segera memeluk tubuh kecil itu. Hingga tidak sadar dirinya sedang duduk diatas kursi roda dan hendak melangkah.


Namun, tiba-tiba kursi rodanya goyang. Membuat Rio yang berada di depannya langsung berlari kearahnya hanya untuk memegang keseimbangan kursi roda itu.


"Karin!" teriak Dinda diujung sana. Hingga Langkah Syena pun terhenti.


"Aunty."


"Ah!" teriak Karin saat hendak terjatuh. Beruntung tangan kekar Rio, segera menggapai punggungnya, membuat tubuh mereka kini saling menempel bahkan, kedua netra indah saling bertemu.


"Yeay! Om pengacara pahlawan." Sorak Syena, dengan kedua tangan yang ditepuk-tepuk 'kan.


Sontak sorakan Syena membuat Dinda, tersadar dari lamunannya. Dan langsung menutup mata Syena dengan kedua tangannya.


"Mama!" rengek Syena, saat matanya tertutup.


"Sebentar sayang," ucap Dinda yang masih menutup mata putrinya.


Setelah cukup lama bertatapan Rio dan Karin pun tersadar. Wajah mereka seketika memerah karena malu. Semua orang yang lewat senyum-senyum melihat pemandangan romantis itu.


Rio segera membantu Karin, duduk kembali diatas kursi rodanya. Dinda segera melangkah kearah Karin bersama Syena.


"Aunty."


"Syena." Kini Karin bisa memeluk Syena dengan lama.


"Terima kasih ya Rio, kamu sudah menjaga Karin."


Rio, hanya menjawab dengan angguk 'kan. Memang Rio lah yang menjaga Karin semenjak kejadian itu. Entah kenapa rasa khawatirnya sangat dalam. Apalagi saat Karin harus menjalani operasi.


Bukan tidak ada orang lain atau keluarga yang menunggu. Namun, saat itu Rio, sama sekali tidak berpikir untuk menghubungi orangtuanya. Di tambah Dinda yang meminta agar tidak memberitahukan ibu Karin soal kejadian itu.


Dinda takut jika orangtua Karin akan khawatir dan merasa cemas. Sehingga Dinda meminta pada Rio untuk menjaga sahabatnya itu.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar Karin, begitu pun Karin yang sudah terbaring diatas ranjangnya. Karena bekas luka operasinya belum sembuh Karin tidak boleh banyak bergerak lebih dulu.


"Dinda aku sudah dapat kabar tentang ayahmu. Sabar ya, dan maaf aku tidak datang untuk melayad," ujar Karin.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Justru aku merasa bersalah karena baru sempat menjengukmu."


"Seharusnya aku Dinda yang merasa bersalah. Syena hampir celaka karena Vikram."


"Jangan memikirkan dia lagi," ucap Dinda yang menyentuh tangan Karin. "Vikram sudah di penjara," lanjutnya.


"Papa!" teriak Syena, membuat Rio, Karin, dan Dinda, menoleh ke arah pintu.


Syena berlari ke arah Willy, yang baru saja datang. Bahkan Willy langsung memangku tubuh kecil itu.


Sontak Rio dan Karin tertegun. Setelah mendengar panggilan Syena pada Willy tadi.


"Papa!" gumam Karin, Rio, bersamaan. Sedetik tatapan mereka tertuju pada Dinda.


"Apa sudah sedekat itu Syena dan Willy? Bahkan memanggilnya papa."


"Ehm … sebenarnya …."


"Tidak apa-apa Dinda, kenapa harus malu. Lagian aku setuju kok kamu menikah dengannya," ucap Karin menggoda Dinda.


"Kami memang sudah menikah."


"Apa!" Rio, terkejut bahkan sampai tersedak saat tengah meminum air mineral.


Karin diam tak percaya. Matanya membelalak seketika.


Kabar pernikahan Dinda saat itu adalah kabar mengejutkan bagi mereka berdua. Ada sedikit kesal karena tidak diberi tahu. Namun juga ada rasa bahagia karena sahabatnya kini sudah mendapatkan kebahagiaan.


Hingga tiba waktunya pulang dari rumah sakit. Karin duduk terdiam di atas ranjang pasiennya. Menunggu seseorang menjemputnya.


Satu jam lamanya belum juga ada yang datang, bukan karena dirinya tidak memiliki keluarga hanya saja mereka semua sibuk. Di beritahu pun tidak akan ada yang datang.


Satu tangannya mengambil tas yang sudah disiapkan. Dibawanya untuk pergi. Saat hendak melangkah tiba-tiba tubuh seorang pria sudah berada di hadapannya.


Dilihatnya pria itu yang tak lain adalah Rio. Lagi-lagi Rio yang datang. Tanpa menunggu lama Rio langsung mengambil tas miliknya.


Karin hanya diam menatap tangan kekar yang menggenggam tangannya, perasaannya kini merasakan hal yang berbeda, entah apa dirinya pun tidak tahu.


Rio laki-laki kedua yang memperhatikannya sekain Vikram. Bahkan lebih darinya. Rio bukan siapa-siapa namun dia peduli dan bertanggung jawab karena Dinda sudah memintanya untuk menjaga dirinya. Hingga Rio merelakan waktunya untuk ini.


Rio mengantarkan Karin ke apartemen Dinda, yang kini menjadi tempat tinggalnya. Yang dekat dengan kantor dan juga rumahnya.


Di tuntunnya dengan hati-hati. Rio tidak pernah melepaskan genggaman, dan pelukannya sampai Karin tiba di dalam kamarnya. Setelah merasa tugasnya selesai Rio pun pamit pergi ke tempatnya.


"Terima kasih," ucap Karin yang kini sudah berbaring di rumah sakit


"Sama-sama," jawab Rio dingin. "Jika membutuhkan sesuatu kamu bisa menghubungiku. Aku pergi dulu, usahakan jangan banyak gerak karena lukamu belum sembuh," sambung Rio, lalu melangkah pergi.


Tanpa sadar perhatian Rio, membuat sesuatu dalam hatinya bergerak. Hati yang berdebar, jantung yang berdetak tidak karuan menimbulkan perasaan lain entah perasaan seperti apa yang di rasakannya. Setelah kejadian itu membuatnya ingin lebih dekat lagi dengan Rio.


Hampir setiap pagi dan malam Karin akan selalu datang ke kantornya. Hanya untuk membawakan sarapan pagi dan makan malam sebagai alasan.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu terdengar. Baru saja Rio turun dari ruangannya. Hendak melangkah menuju dapur untuk membuat kopi. Namun langkahnya berbalik menghadap pintu masuk karena suara bunyi dari ketukan.


Pintu dengan kaca transfaran membuatnya bisa melihat siapa yang sudah datang. Mimik wajahnya terlihat biasa saja saat melihat Karin yang menunggunya di depan pintu.


Sudah bisa di pastikan jika Karin pasti mengantarkan sarapan paginya.


Pintu pun terbuka, membuat wajah Karin semakin terlihat.


"Pagi!" sapa Karin dengan ceria.


"Masuklah," titah Rio, dengan dinginnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan masuk. Pagi ini aku ada meeting aku hanya ingin memberikan ini padamu." Karin, memberikan satu buah paper bag yang langsung Rio terima.


"Terima kasih."


"Sama-sama. Aku pergi dulu." Karin langsung berlari masuk ke dalam mobilnya. Rio hanya menatap kepergiaannya. Setelah mobil Karin semakin menjauh Rio, pun kembali masuk ke dalam kantornya.


Di simpannya paper bag itu di atas meja. Di bukanya dan di lihatnya. Satu cup kopi dan sandwish untuknya. Hampir setiap hari Karin memberikannya dengan beda menu.


"Dia selalu saja mengirimkan ku sarapan.Apa dirinya juga sarapan."


Rio sempat berpikir apa Karin ada waktu untuk sarapan atau tidak. Tanpa banyak berpikir Rio langsung menyantap makanannya.


*****


Rio hendak pergi untuk menemui kliennya. Kantor pun di tutup dan di kunci. Saat hendak melangkah netranya melihat seorang wanita yang membawa sebuah kantung kecil untuk di buangnya ke dalam tong sampah.


Namun Rio mengenal wanita itu yang bekerja dengan Karin. Wanita itu adalah asisten rumah tangga yang selama ini menjaga Karin.


Rio, bertanya sejenak menghentikan langkah wanita itu.


"Buang apa itu Bik?" tanyanya membuat wanita itu menoleh.


"Eh, Den Rio. Ini loh Den, mau kasih makanan yang tidak habis untuk di bawa ke anak-anak di rumah singgah."


"Baik sekali Bik, bagus itu untuk membantu."


"Iya sih Den, tapi sayang. Karena makanan ini tidak di makan sama sekali oleh non Karin. Tadi pagi saja non Karin meminta di buatkan sandwish, dan banyak sekali. Bibik pikir akan di makan, namu cuma di masukkan ke dalam tupperware dan di bawanya. Sedangkan sisanya non Karin selalu meminta bibik untuk kasih ke anak-anak yang rumah singgah sana. Non Karin tidak pernah sarapan."


"Jadi Karin tidak pernah sarapan sama sekali," batinnya.


"Kenapa dia meminta tapi tidak memakannya?"


"Katanya, tidak enak makan sendiri."


Rio, langsung tertegun. Mengingat kembali saat-saat Karin datang ke kantornya, hanya untuk sarapan bersama. Jadi Karin hanya butuh teman.


*****


"Bu ada yang ingin bertemu Ibu," ujar seorang asisten pada bosnya.


"Siapa?" tanya Karin. Yang masih fokus pada laptopnya. Belum sempat asistennya menjawab seorang pria tiba-tiba datang menjawab pertanyaannya.


"Saya," ucapnya Karin pun menoleh hingga mengabaikan laptopnya. Matanya membulat sempurna saat tahu siapa pria itu.


"Rio!"


"Pak jangan asal masuk," tahan asistennya pada Rio, namun Karin menghentikannya. Karena Rio adalah temannya.


"Dia temanku biarkan saja dia masuk."


"Baiklah Bu." Asistennya pun berlenggang pergi.


"Rio, kenapa kamu tidak bilang akan datang ke kantorku?"


"Sekalian lewat saja aku mampir," jawab Rio hanya sebatas alasan saja. Entah kenapa hati Karin begitu berbunga-bunga saat Rio datang ke kantornya. Dengan segera langkahnya terayun menghampiri Rio yang sudah duduk di sofa.


"Jika kamu akan datang aku akan menjemputmu di bawah."


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Rio, membuat Karin melongo.


"Aku ingin mengajak mu lunch bareng. Jika kamu mau, karena aku tidak enak kamu selalu memberikanku sarapan pagi. Tapi jika kamu sibuk aku akan langsung pergi, aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu."


"Aku tidak sibuk." Karin menjawab dengan cepat sebelum Rio melangkah pergi. "Tunggu dulu aku akan ambil tas aku dulu."


"Baiklah, aku tunggu di bawah." Kata Rio yang langsung melangkah pergi. Bibirnya melengkung sempurna saat ajakannya di terima.

__ADS_1


*****


__ADS_2