
"Dinda, Ibu baru ingat. Ibu sudah tahu siapa yang membayar pengobatan Syena saat itu." ujar Asih.
"Siapa Bu?"
"Willy."
Sontak Dinda, dan Karin, tersedak bersamaan. Asih merasa heran pada mereka berdua. Jika memang terkejut tidak seperti itu juga.
Karin, dan Dinda, saling berpandangan. Mungkinkah Dinda, masih ingat dengan nazar nya.
"Kalian ini kenapa? Ayo minum dulu." Asih, memberikan segelas air minum kepada Dinda, juga Karin. Mereka berdua segera meminumnya.Lalu melanjutkan lagi makan nya.
"Tante serius?" tanya Karin, yang masih tidak percaya. Asih, hanya menjawab dengan angguk 'kan.
"Ibu tahu darimana?" tanya Dinda, yang menatap Asih.
"Ibu bertanya padanya. Saat membawamu ke rumah sakit Willy, juga membayar pengobatan mu. Ibu berpikir mungkin saat Syena, sakit itu juga Willy, yang membayar. Ternyata benar."
Dinda, tertegun sampai menghentikan makan nya. Kenapa dirinya tidak pernah terpikirkan jika Willy, yang membayar pengobatan Syena, waktu itu.
"Ibu ke belakang duluan, kalian lanjut saja makan nya."
Asih, bangun dari duduknya meniggal 'kan meja makan. Mata Karin, terus mengikuti langkah Asih, pergi. Hingga sudah tidak nampak, Karin segera mendekat, mengejutkan lamunan Dinda.
"Dinda!" panggilnya. "Kamu masih ingat 'kan ucapanmu waktu itu? Jika seorang wanita kamu akan menjadi 'kan nya saudara, dan jika itu pria kamu akan menjadi 'kan nya suamimu."
Karin menghela nafasnya sejenak.
"Seharusnya kamu senang karena bukan Rey, pria itu. Tetapi Willy." Ujar Karin, seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi serta melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Itu hanya gurauan saja, kenapa kamu memikirkan nya Karin!" elak Dinda.
"Gurauan kamu bilang! Dinda, itu janjimu kamu sudah bernazar jika tidak dilakukan kamu kualat loh!"
"Aku akan bilang makasih padanya. Jodoh itu rahasia Tuhan. Lagian aku bukan dayang sumbi. Janji itu hanya ada dalam sebuah legenda, apa itu ya judulnya? Oh … sangkuriang."
"Dinda, tetap saja kamu sudah bernazar 'kan!"
"Karin, lihatlah aku. Menurutmu aku pantas untuknya? Aku hanya seorang janda beranak satu. Tidak mungkin pengacara hebat sepertinya akan mau menikahi ku. Sudahlah jangan di bahas lagi, lebih baik kamu beres 'kan piring kotornya lalu cuci di dapur."
Setelah mengatakan itu Dinda, berlalu pergi. Karin, hanya mencebik 'kan bibirnya.
*****
Di tempat lain sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah yang luas. Rita, turun dari mobil itu melangkah memasuki rumahnya.
Langkahnya terus terayun memasuki sebuah kamar. Di bukanya pintu itu dengan keras mengejutkan seorang pria yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Pria itu tidak lain adalah Fras, yang sempat memejamkan matanya duduk tenang di atas sofa. Namun ketenangan nya terganggu karena sebuah bantingan pintu yang sangat keras.
"Apa kamu tidak bisa menutupnya dengan pelan?" ujar Fras, masih di tempat.
"Kenapa kamu tidak bilang! Kenapa kamu merahasiakan itu semua."
"Merahasiakan apa?"
Fras, menatap Rita, yang menatapnya seperti membunuh. Melihat tatapan itu membuat Fras, gugup. Jantungnya kini sedang berdetak sangat cepat. Ada rasa takut juga khawatir pada dirinya. Bagaimana jika Rita, mengetahui tentang wasiat ahli waris itu. Mungkinkah karena hal itu Rita, marah dan emosi.
"Jika kamu sudah bertemu dengan putrimu. Kenapa kamu tidak mengatakan itu hah!"
Akhirnya Fras, bisa bernafas dengan lega.
"Maaf aku tidak memberitahu mu. Tiga hari lalu aku bertemu dengan nya. Putriku ternyata sudah dewasa bahkan dia sudah punya anak. Aku sudah punya cucu dia cantik sekali."
"Kamu juga akan mempunyai cucu dari putriku," sanggah Rita, yang duduk di sampingnya.
"Ya, kamu benar. Cucu kedua dari ayah yang sama." Ucap Fras, di iringi senyuman. "Jujur aku kecewa dengan Velove, apa tidak ada lelaki lain selain Rey? Kenapa harus memilih suami orang yang ternyata suami dari anak ku sendiri." Tambah Fras.
"Apa itu penting? Apa kamu menyalahkan Velove, tentang hal ini? Tidak seharusnya kamu memarahinya dan menyalahkan nya. Inilah yang aku takut 'kan saat kamu menemukan putrimu kamu akan lupa pada putri kita."
Putri kita? Itu putrimu Rita bukan putri Fras.
"Kamu tenang saja. Aku akan berlaku adil. Lagi pula Dinda, tidak memaafkan ku. Dia membenciku, putriku tidak bahagia bertemu dengan ku."
"Lupakanlah, putrimu sudah dewasa. Lagian kamu sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan mu. Biarkan saja, jika memang dia belum bisa membuka hati untukmu. Jangan selalu memikirkan nya, pikirkan tentang Velove, saat ini." Ujar Rita, yang melangkah menuju tempat tidurnya..
"Jangan sampai anak itu mengambil hak waris yang seharusnya menjadi milikku." Rita, berkata dalam hatinya.
...*****...
Di kediaman Fras, penghuni rumah tengah makan malam bersama. Rey, dan Velove juga ikut serta. Namun Rey, merasa canggung setelah perdebatan nya dengan sang mertua tiga hari lalu. Mereka sama-sama diam.
"Rey, bagaimana keadaan perusahaan saat ini? Apa kamu sudah mulai beradaptasi?" Rita, memulai obrolan di tengah-tengah makan.
"Tidak begitu sulit. Karena sebelumnya aku berpengalaman hanya saja bukan seorang direktur melainkan manajer." Jawab Rey, menghentikan makan nya sejenak.
"Kamu harus terbiasa. Karena perusahaan itu nanti juga akan menjadi milik kalian," ujar Rita, dengan bangganya. Melirik Fras, yang hanya menatapnya datar.
"Apa kalian sudah merencanakan kehamilan lagi? Bagi Mama, sudah waktunya kamu melalukan program hamil lagi pula kejadian itu sudah sangat lama." Tambah Rita, yang terus berbicara. Tidak seperti Fras, yang hanya diam.
"Semoga saja aku cepat hamil Ma, doa 'kan saja," ujar Velove di sela makannya.
"Selalu sayang. Lagi pula Mama kesepian, rumah ini tidak ramai. Mungkin jika punya cucu Mama bisa bermain dengannya, benar 'kan Pa?" ujar Rita.
"Mama Papa kalian sudah tahu bahwa aku sudah pernah menikah dan punya anak. Jika kalian mengizinkan aku akan bawa anak ku untuk datang menemani Mama bermain."
__ADS_1
"Tidak!" Fras, memotong perkataan Rey. Dengan kedua sendok yang di hentak 'kan pada piringnya.
Kini Rita, Velove, Rey, sama-sama menatap Fras.
"Aku sudah katakan pada mu Rey, jangan ganggu mereka. Jangan pernah sekali pun berpikir untuk membawa cucu ku pergi memisahkan nya dari ibunya."
Fras, menatap tajam pada Rey, yang langsung menghindari tatapan itu. Velove, dan Rita, hanya terdiam. Suasana makan malam menjadi hening tidak ada suara apa pun termasuk sendok dan piring juga ikut diam.
Setelah mengatakan itu Fras, bangkit dan berlalu pergi. Meninggal 'kan ketiga insan yang masih terdiam dalam pikirannya masing-masing.
"Tidak bisakah kamu berhenti memikir 'kan anak mu?" Rita, membuka suara. "Aku sudah merestui kalian, dengan syarat kamu melupakan mantan istri dan anak mu itu. Seharusnya yang kamu lakukan merebut hati papa, agar kamu segera di naik 'kan jabatan mu menjadi presdir untuk menggantikan nya." Tambah Rita.
Rey, masih diam.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Rey, menginginkan hak asuh Syena, karena Rey, iri pada Dinda, yang selalu mendapatkan yang ia mau. Dan Rey, sangat benci karena dirinya selalu saja yang di salah 'kan.
"Rey, apa kata Mama benar. Lebih baik lupakan Syena, lupakan niat mu untuk mengambil hak asuhnya. Lebih baik kita fokus pada rumah tangga kita," ujar Velove. Rey, masih diam mencerna kata demi kata.
"Jika kamu ingin anak. Aku akan memberikan nya, lagi pula kandungan ku sehat kita hanya harus bersabar," lanjut Velove.
"Dengarkan kata istri mu Rey, lebih baik kamu fokus pada pekerjaan mu." Tambah Rita, yang ikut mencecar.
Rey, hanya mengangguk mendapatkan kritikan dari dua wanita itu.
...*****...
Di tempat lain. Karin, baru saja sampai di depan rumahnya. Rumah lama yang ia tempati dengan Vikram. Karin, memang berniat untuk menjualnya namun sampai saat ini belum ada yang membeli.
Karin, menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya. Kedua tangannya terus memutar stir, mengatur rem dan tuas. Agar mobil terparkir dengan benar.
Karin membuka seatbelt sebagai pengaman untuk tubuhnya. Satu tangannya hendak membuka pintu namun terhenti karena ponselnya berbunyi. Membuatnya harus menjawab panggilan itu.
"Halo?"
"Dengan ibu Karin?"
"Ya. Saya sendiri. Ini dari siapa?"
"Saya dari kepolisian ingin mengabarkan jika tahanan atas nama Vikram, melarikan diri."
"Makasudnya kabur?"
Karin, benar-benar terkejut mendengar kabar mantan suaminya itu. Terakhir kali Karin, di kabarkan jika Vikram, terlibat perkelahian sehingga harus di rawat di rumah sakit. Dan sekarang Karin, mendapatkan kabar buruk baginya karena Vikram, kabur dari penjara.
Jantungnya kini berdegup sangat cepat. Hatinya bertalu-talu hingga kegelisahan menyelimuti dirinya. Ada sedikit rasa takut karena sebelumnya Vikram, selalu mengancamnya. Pikiran Karin, semakin berkelana hingga memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi.
Mungkinkah Vikram, datang menemuinya? Itu yang Karin, takut 'kan. Sehingga saat ini netranya terus memindai ke arah luar mobilnya. Menyapu pandangan ke sekelilingnya, memastikan jika Vikram, tidak mengikutinya.
__ADS_1
Sesaat hatinya tenang, tiba-tiba Karin, di kejutkan dengan lampu rumahnya yang tiba-tiba menyala. Padahal tidak ada siapa pun di rumah itu.