Life After Married

Life After Married
Season 2 Curhatan Rey


__ADS_3

Dika segera membuka pintu apartemen saat Rey datang. Mengambil alih barang-barangnya yang segera dirapihkan bersama Bi Num. 


Bian yang tertidur langsung dibawa ke dalam kamar. 


"Apa yang terjadi?" tanya Dika sedikit memelankan suaranya.


"Mereka bertengkar lagi," jawab Bi Num. 


"Lagi," gumam Dika yang sudah bosan mendengarnya. 


"Sekarang lebih parah, Bu Velove menampar Bian," bisik Bi Num mengejutkan Dika. 


Dika terbelalak mendengar hal itu. "Ditampar? Memangnya apa salah Bian?" Dika ikut emosi juga. 


"Entahlah, Bi Num juga pusing melihatnya. Kasihan Den, Bian dia selalu menangis melihat pertengkaran kedua orang tuanya," jelas Bi Num. 


Dika menghela nafas panjang. 


"Dika!" teriakan Rey mengejutkannya.


"Iya Pak?" Dika menyahut dengan keras dan berlari ke kamar Bian. 


"Ada apa Pak?" tanya Dika setelah masuk.


"Belikan obat demam," jawab Rey.


"Bian demam?" tanya Dika. 


"Iya, badannya panas sekali." Rey menjawab seraya menyentuh kening Bian. 


"Baiklah, aku akan membeli obat dulu. Ada lagi selain obat?" 


"Belikan juga makanan, bubur untuk Bian." 


"Hem, baiklah. Aku pergi dulu." 


Dika pun pergi meninggalkan apartemen. 


Rey, terus mengompres kening Bian supaya demamnya turun. Rey, tidak pernah meninggalkan Bian walau sebentar. 


.


.


Velove melamun sendirian di dalam rumah. Netra itu memindai setiap sudut ruangan, rumah yang besar, mewah, terasa hampa jika sendirian. 


Berkali-kali Velove menghubungi Rey, tetapi tidak dijawab. Padahal dia ingin menanyakan Bian, Velove pun melakukan hal yang sama kepada Bi Num dan Dika. Namun, tidak ada yang menjawab satu pun. 


Mereka bingung juga takut. Rey melarang mereka untuk menjawab panggilan dari Velove. Terpaksa Bi Num mematikan ponselnya. 


"Ada apa dengan mereka semua, kenapa tidak ada yang menjawab teleponku." Velove kesal hingga melemparkan ponselnya. 

__ADS_1


"Velove?" Panggilan seorang wanita mengalihkan pandangannya. 


"Mama." Velove segera memeluk Rita yang baru saja datang. Hanya Ritalah sebagai tempat mengadu.


"Ada apa? Apa kamu bertengkar lagi dengan Rey?" tanya Rita yang duduk di samping Velove.


"Entahlah Ma, aku bingung. Rey sekarang berubah, dia … kali ini aku yang salah. Aku terlalu cemburu, dan aku sudah menampar Bian." Velove berkata sambil terisak.


"Kamu menampar Bian?" Rita pun sangat terkejut mendengar hal itu. 


"Aku khilaf Mah, khilaf," ucap Velove menyesal.


Rita mendengkus. 


"Lalu apa yang kamu lakukan? Kenapa hanya diam saja, pergi dan cari Rey," ujar Rita dengan emosi. Lama-lama Rita pun kesal pada Velove yang tidak bisa mengambil hati Rey. 


"Apa kamu ingin kejadian masa lalu terulang lagi? Jangan sampai Rey jajan di luar, melanpiaskannya pada wanita lain." Perkataan Rita semakin menakuti Velove.


"Mama jangan menakutiku," ujar Velove.


"Jika kamu tidak ingin itu terjadi, maka


"Jika kamu tidak ingin itu terjadi maka rubahlah sikapmu. Kamu harus bisa merayu Rey, agar Rey betah dan nyaman bersamamu. Bukannya selalu memancing masalah yang ada hanyalah pertengkaran." 


Velove terdiam ketika mendengar ucapan Rita.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Velove yang menunduk lemah. 


.


.


"Pak ini obatnya," ujar Dika memberikan obat itu pada Rey. 


"Terima kasih Dik," ucap Rey.


"Sama-sama," jawab Dika.


"Dika belum makan apa aku berikan obat ini sekarang?" tanya Rey bimbang.


"Tidak apa-apa Pak, Bian sudah makan roti tadi pagi jadi bisa diberikan obat langsung," jawab Bi Num. 


Rey, langsung memberikan obat itu pada Bian. 


"Pak, Bu Velove telepon berkali-kali," kata Dika, mungkin sudah bosan mendengar ponselnya yang terus berdering.


"Biarkan saja," ujar Rey datar. 


"Tapi …," ucap Dika tertahan. 


"Aku ingin tenang, jangan ada yang mengganggu aku atau Bian. Lagi pula Velove tidak tahu tempat ini." 

__ADS_1


Benar apa yang Rey katakan. Velove tidak mengetahui apartemennya karena Rey, sengaja tidak memberitahukan. Rey, selalu datang untuk menenangkan diri. 


"Aku tidak tahu mau dibawa ke mana rumah tanggaku ini. Aku merasa sudah tidak nyaman lagi, apa pernikahanku masih bisa bertahan atau tidak." 


Bi Num dan Dika terdiam saat mendengar curhatan Rey, mereka hanya saling menatap, mungkin Rey membutuhkan seorang teman saat ini. 


"Bi Num permisi ke belakang, Pak," ucap Bi Num lalu pergi. 


Kini hanya Dika yang menemani Rey. Dika duduk di atas sofa, dia menatap Rey di depannya. "Aku siap menjadi teman curhatmu, katakanlah jangan sungkan," ujar Dika. 


Rey menghela nafas. 


"Apa kamu tahu wanita kemarin?" tanya Rey. 


"Wanita mana?" Bukannya menjawab Dika malah balik tanya.


"Sekretaris Joshua," jawab Rey.


"Ouh, wanita yang kau tolong itu? Dan membuatmu terpana," singgung Dika dengan senyuman. "Memangnya kenap dengan wanita itu?" tanya Dika lagi.


"Jangan bilang kamu menyukainya, bisa berabe nanti," tambah Dika membuat Rey tersenyum.


"Aku tidak akan menyukai istri orang lain," kata Rey, lalu diam sejenak dan berkata, "Dia mantan istriku," ucap Rey. 


Dika terkejut hingga menyemburkan air kopinya. Kata mantan istri membuatnya tidak percaya.


"M-Mantan istri? M-Maksudmu kalian pernah menikah?" Dika benar-benar syok. 


"Jika aku bilang mantan, artinya aku pernah menjadi suaminya, tapi itu lima tahun lalu," ucap Rey.


"Lalu dengan Bu Velove?" tanya Dika.


"Ya, saat aku menikahi Velove." Dika semakin bingung dengan jawaban Rey. 


"Seperti apa yang kamu lihay saat ini, seperti itu juga hubunganku dulu dengan Velove. Aku merasa bosan dan tidak nyaman dan ketika aku bertemu Angel, semuanya berubah. Angel gadis polos dan cantik, juga baik. Bahkan dia bisa akrab dengan Dinda." 


"Dinda? Siapa lagi itu?" tanya Dika yang semakin bingung mendengar perkataan Rey. 


Rey tersenyum, saat melihat wajah Dika. 


"Dinda adalah istriku yang pertama, wanita yang paling aku cinta. Namun, karena kesalahanku kami harus berpisah," ucap Rey menunduk sedih. 


"Tunggu dulu," tahan Dika ketika Rey ingin bicara. "Istri pertamamu Dinda apa kamu juga menikahi Bu Velove saat masih bersama Dinda?" tanya Dika dan Rey membenarkan itu. 


Dika menghela nafas, lalu berkata," Aku kira Bu Velove adalah istrimu satu-satunya, ternyata … banyak juga wanita yang kamu nikahi. Pantas saja Bu Velove sangat cemburu ternyata ini alasannya. Apa kamu berniat untuk menikah lagi? Atau kembali pada …," ujar Dika tertahan karena Rey menyanggahnya. 


"Maksudmu kembali pada Angel? Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya tidak mungkin aku merusak kebahagiaannya. Lagi pula, aku kasihan pada Bian, yang aku pikirkan sekarang adalah Bian," jelas Rey.


"Dan kamu bertahan karena Bian," ujar Dika diangguki Rey. 


"Pak Rey, Bian bangun," ujar Bi Num memberitahukan. "Bian menangis memanggil nama Ibu," tambah Bi Num.

__ADS_1


"Aku akan ke kamarnya, Dika jika kamu ingin pulang, pulanglah." Perintah Rey, sebelum pergi ke kamar Bian. 


Dika yang sudah mendapat perintah langsung pamit untuk pulang.


__ADS_2