Life After Married

Life After Married
Packing


__ADS_3

Besok merupakan hari keberangkatan Bian dan Lea ke Maldives. Malam ini keduanya sedang disibukan dengan packing barang-barang yang akan mereka bawa. Dua buah koper besar menampung pakaian dan barang-barang yang mereka butuhkan.


"Aduh capeknya." Lea menghempaskan dirinya ke atas ranjang.


"Semua barang sudah masuk kan? Tidak ada yang ketinggalan?" Bian mendekati Lea.


"Kayaknya sih sudah semua," ucap Lea sembari berpikir.


Bian ikutan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tepat disamping istrinya. Suasana sunyi, keduanya sama-sama diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Mata Bian menatap lurus keatas, ke langit-langit kamar. Sesekali menoleh sebentar kearah istrinya yang tampak tersenyum. Kemudian matanya menoleh lagi kearah langit-langit kamar, ketika ketahuan memandang Lea.


"Kamu ngapain ngelihatin aku?" tanya Lea yang merasa risih diperhatikan Bian.


"Lha emangnya gak boleh?" ujar Bian.


"Enggak bolehlah kalau nggak izin dulu," ujar Lea.


"Yee ... ngapain harus izin. Kan kamu istri aku." Bian mengusap puncak kepala Lea.

__ADS_1


Lea segera mengentikan tangan Bian yang mengacak-acak rambutnya. Mengibaskan tangan Bian agar tidak kembali mengacak rambutnya. Namun semakin dilarang, Bian semakin usil mengacak rambut Lea.


"Ih ... Udah ah!" tolak Lea.


"Tuh kan berantakan," protes Lea sembari membenahi rambutnya.


"Gemes!" ucap Bian seraya memonyongkan bibirnya hendak mencium Lea. Langsung tanpa aba-aba ditangkis oleh Lea. Dan Lea pun menjauh dari Bian.


Akhirnya Bian berhenti menggoda Lea. Kembali dalam diamnya, menatap langit-langit kamarnya lagi.


"Habisnya kamu dari tadi senyum-senyum sendiri. Kan jadi penasaran apa sih yang sedang kamu pikirin. Sampai-sampai senyum sendiri kaya gitu," ujar Bian.


Lea melirik Bian dengan ekor matanya. Sejak kapan suaminya ini menjadi super PD (percaya diri). Bisa-bisanya dia berpikiran bahwa Lea sedang memikirkannya.


"Enak saja," elak Lea.


"Aku itu ya lagi mikirin besok. Akhirnya kita bisa pergi ke Maldives sayang," lanjut Lea dengan senyum indah yang perlahan mengembang di bibir manisnya. Senyum yang kemudian merekah hingga menjadi lebar dan tambah indah. Ah begitulah Lea, terlalu cantik sehingga sulit diterjemahkan dengan kata-kata dalam rangkaian tulisan.

__ADS_1


Bian ikut tersenyum melihat Lea yang tampak bahagia. Dirinya merasa lega karena sebentar lagi impian istrinya untuk ke Maldives terwujud. Ditengah kesibukannya yang bejibun, akhirnya dia dapat meluangkan waktu pergi ke pulau yang indah itu.


"Kamu senang sayang?" tanya Bian.


"Buangettttt ..." jawab Lea dengan cepat.


"Syukurlah kalau kamu senang." Bian mendekat hendak memeluk Lea.


"Jadinya aku tidak terlalu bersalah menjadi suami. Kalau istri senang suami pun ikut senang. Ya meskipun dengan cara yang sederhana," ucap Bian seraya memeluk Lea dalam posisi keduanya masih berbaring diatas ranjang.


Baru saja Bian mengatakan dengan cara yang sederhana. Kalau ditelisik lagi, ini bukan sederhana lagi. Berlibur ke Maldives bukanlah hal yang sederhana. Untuk kesana perlu menguras uang yang sangat banyak. Eh tetapi bagi seorang CEO seperti Bian. Pergi ke Maldives udah seperti pergi ke pasar. Mudah saja baginya. Beruntungnya Lea mendapatkan suami tajir melintir dan tidak pelit seperti Bian.


"Terimakasih sayang," ujar Lea membalas pelukan Bian.


"Sama-sama. Semoga kamu suka." Bian menatap lekat wajah istrinya.


Dalam hitungan beberapa detik, bibirnya telah mendarat mulus dibibir Lea. Melumattnya dengan rakus, mengigit kecil bibir itu sehingga menimbulkan bunyi decapan dari mulut keduanya.

__ADS_1


Saat asyik dalam kegiatannya tersebut. Samar-samar terdengar berisik dari luar kamar. Tepatnya dilantai bawah, beberapa orang berteriak dan hentakan langkah kaki berlarian. Segera saja Bian dan Lea menghentikan aktivitasnya. Mereka saling menatap dalam tatapan bingung.


Wah. Apa yang terjadi dibawah sana ya?


__ADS_2