Life After Married

Life After Married
Bab 150- Kedatangan Velove


__ADS_3

Sebuah mobil taksi berhenti, tepat di depan sebuah rumah yang sederhana. Turunlah Velove dari taksi itu. Wajahnya begitu datar dengan tatapan yang begitu tajam.


Dengan satu tarikan nafas, kakinya melangkah dengan pelan, lalu berhenti sejenak saat melihat sebuah mobil yang terparkir, yang sangat ia kenali.


Telapak tangannya langsung mengepal, sedetik langkahnya kembali terayun, hingga tiba di depan sebuah pintu. Dengan kerasnya pintu itu diketuk, tanpa memperdulikan sang pemilik rumah yang bisa saja terganggu.


Ketukan itu semakin keras, bersamaan dengan emosi yang meluap. Tangannya terus bergetar, hingga pintu itu terbuka lebar.


Bola matanya membulat sempurna, aliran darah pada nadinya semakin mendidih, kepalan tangan yang sedari tadi tertahan langsung melayang, mendarat pada permukaan kulit mulus seorang wanita.


Hingga wanita itu tak dapat menghindar. Dan hanya diam saat pipinya terasa panas dan perih.


"Velove!" teriakan Rey, begitu menggelegar menghentikan tangannya yang akan menampar lagi wanita di hadapannya.


Marah, itu yang di rasakannya. Saat lelaki yang di cintai membentaknya hanya karena menampar wanita itu yañg menjadi kekasihnya saat ini.


Aaakhh!


Teriaknya, bersamaan dengan emosi yang meluap, kedua tangannya tidak berhenti memukul, mencabik-cabik wanita di depannya.


"Berhenti Mba, berhenti." Angle hanya pasrah saat tubuhnya didorong, dibanting, hingga di pukul. Bahkan rambut gelombangnya sudah tidak beraturan. Berantakan seperti rambut singa.


"Velove hentikan!"


Rey yang semula diam, langsung berlari menuju Angle yang sedang di hakimi oleh istrinya sendiri.


"Berhenti!" bentak Rey demikian.


Satu tangannya mencengkram kuat tangan Velove yang semakin kuat. Tatapannya tidak berpaling pada wanita yang berada dibelakang suaminya.


"Lepas! Lepaskan tanganmu, wanita itu harus ku hajar."


"Velove hentikan! Jika tidak, aku tidak akan kembali lagi padamu."


Perkataan Rey, membuatnya diam. Sedetik tatapan kebencian ia hunuskan. Kecewa dengan apa yang dikatakan Rey, demikian.


"Jadi selama ini kamu tinggal di sini. Dengan wanita ini?"


Rey, masih diam. Dadanya mulai naik turun seolah sedang mengatur aliran nafasnya. Embusan nafasnya terdengar, hingga menerpa wajah Velove, yang ada di hadapannya.


Cengkraman tangannya langsung Velove hempaskan. Barisan giginya beradu, menahan kekesalan.

__ADS_1


"Kamu bilang, kamu sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengan dia, tapi nyatanya … kamu pembohong besar Rey! Pembohong!" teriaknya.


Rey, hanya mengerjap kan matanya bersamaan dengan hembusan nafas yang berat. "Maaf, Maaf." Katanya setelah matanya mengerjap.


Senyuman sinis yang Velove pancarkan. Bersamaan dengan tawa mengerikan terdengar. Sedetik tatapannya kembali pada Angle, membuat wanita itu ketakutan.


PRANG!


BUGH!


"Ah," teriak Angle, saat sebuah benda menancap pada sisi dahinya. Menciptakan sebuah goresan tipis dengan cairan merah kental yang menetes di ujung lukanya.


Sebuah pas bunga berhasil Velove lemparkan pada Angle. Darah yang menetes membuat bibirnya merekah sempurna.


Haha … haha … haha …


Gila, Velove sudah gila. Bukannya meminta maaf namun malah tergelak.


"Angle!"


Tubuhnya langsung terkulai lemah. Sekuat mungkin Angle menahan rasa sakit itu. Perih, ngilu, bahkan darah yang menetes tidak kunjung berhenti.


Telapak tangan yang menahan di penuhi dengan darah. Sedetik butiran bening turun dari sudut matanya. Bukan karena cengeng namun, karena luka itu begitu menyakitkan.


Rey, kembali melirik sang istri yang masih tertawa renyah karena ulahnya.


"Sakit? Kasihan." Velove kembali tergelak.


"Tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan padaku. Tidak cukup hanya dengan satu luka, kamu harus mati! Siapa pun wanita yang sudah merebut suamiku harus mati!"


Velove kembali mencari sebuah benda yang siap ia lempar. Namun sebelum itu terjadi, satu tamparan mendarat mulus pada permukaan kulit wajahnya. Sedetik tatapannya menajam pada Rey, yang kini berada di hadapannya.


"Apa kamu baru saja menamparku?" tanyanya bagaikan orang bodoh. Sudah jelas-jelas Rey, menamparnya bahkan wajahnya terasa perih dan panas.


"Apa yang kamu lakukan sudah kelewatan," ucap Rey.


"Kenapa kamu melakukan ini Mas? Kenapa!" teriak Velove dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sekarang pikirkan sendiri. Kenapa aku melakukan itu padamu? Apa semenjak kita menikah kamu pernah berkata baik? Bersikap baik? Bahkan menghargaiku saja kamu tidak pernah. Rumah tangga seperti ini apa masih layak di pertahankan?" tanya Rey.


Sedetik tubuhnya berbalik kembali pada Angle. Velove masih diam, memperhatikan Rey, yang memapah Angle keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Rey! Rey!" teriaknya saat Rey sudah menghilang dari pandangannya.


Kakinya terus berlari, mengejar Rey yang sudah pergi jauh dengan mobilnya. Velove hanya bisa berteriak meluapkan seluruh emosinya.


"Rey!" teriakannya begitu menggema, memenuhi seisi bumi.


*****


Rey segera menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Tangannya langsung membuka seatbelt yang mengikat tubuhnya. Pintu mobil pun dibuka, diikuti dengan kaki jenjang yang mendarat di permukaan aspal.


Segera langkahnya terayun memutari mobil dan berhenti tepat di samping pintu yang berlawanan. Pintu itu terbuka memperlihatkan Angle yang sedikit meringis karena masih menahan rasa sakit.


Punggung Rey segera menunduk, mengeluarkan Angle dari dalam mobil. Memapahnya, memasuki rumah sakit, hingga sampai di ruang UGD.


"Bertahanlah sayang," ucapnya dengan lembut. Berbeda pada Velove, yang berbicara dengan nada tinggi.


"Suster!" teriak Rey, pada seorang wanita berseragam. Wanita yang berpenampilan layaknya seorang perawat langsung berlari ke arahnya, membantu Rey memapah Angle hingga ke dalam ruang UGD.


Detik itu juga para perawat dan dokter langsung bertindak.


"Pak, tolong tunggu di luar ya pak," ujar seorang perawat meminta Rey untuk menunggu.


Rey, hanya pasrah. Menunggu dengan tenang. Diraupnya wajah itu dengan kasar. Pikirannya saat ini sangat kacau, entahlah apa yang akan terjadi padanya nanti.


Siapa yang akan menjauh dari hidupnya, entah itu Bian anaknya yang pasti akan Velove bawa pergi. Atau Angle yang akan pergi meninggalkannya.


Mungkin saja setelah ini Angle akan berpikir kembali tentang mempertahankan hubungannya atau tidak. Atau dirinya akan kehilangan kedua orang yang dia cintai.


"Kenapa jadi seperti ini," gumamnya dengan penuh penyesalan.


"Pak, dengan keluarga Bu Angle?" tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Rey, langsung bangkit berdiri. "Iya, saya. Bagaimana keadaannya?"


"Bu Angle, hanya mendapatkan luka ringan saja. Sobekan pada dahinya tidak terlalu besar. Bapak di harapkan ke bagian administrasi terlebih dulu ya pak."


"Baik suster."


"Baik, pak. Terima kasih."


Rey, segera pergi menuju bagian administrasi. Setidaknya hatinya sedikit tenang, karena mendengar Angle yang baik-baik saja.

__ADS_1


Rey berjalan gontai, hingga tidak fokus melihat jalanan di depannya. Membuatnya harus menabrak tubuh sesorang.


"Maaf," ujarnya saat merasakan hantaman kecil pada bahu kekarnya. Hingga matanya membulat terbelalak, saat melihat siapa orang yang baru saja ia tabrak.


__ADS_2