Life After Married

Life After Married
Bab 114- Hari Duka


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Kirana binti Fras Sanjaya dengan mas kawin cincin emas sebesar 5 gram di bayar tunai!"


Sah! Sah!


"Alhamdulillah," ucap syukur memenuhi ruangan ICU.


Permintaan Fras, memang sangat tak masuk akal. Namun dengan kehendak tuhan semua berjalan dengan lancar.


Willy mengucapkan ijab kabul di depan Fras, yang masih berbaring. Dirinya sempat bimbang antara setuju atau tidak.


Ingin meyakinkan sang mertua dengan menikahi Dinda, namun tidak mungkin sekarang, karena dirinya tidak memberitahukan ibu dan neneknya.


Namun apa boleh buat. Permintaan Fras harus ia lakukan.


Pernikahan pun terjadi setelah satu jam Fras mengatakan keinginannya. Berkat bantuan Danu yang dapat mencari penghulu dalam waktu yang cepat.


Walau pun surat lainnya masih bisa menyusul nantinya. Sementara mereka menjalani pernikahan secara agama. Bahkan mas kawin pun tidak mereka siapkan. Hanya cincin Asih, yang di berikan sebagai mahar.


Tidak pernah terbayangkan oleh Willy akan menikah secepat ini. Ada rasa sedih dalam hatinya karena harus menikahi Dinda tanpa adanya pesta seperti pernikahan yang ia dambakan.


Namun itu bukanlah masalah, pesta masih bisa dilakukan setelah ini. Yang terpenting adalah hubungan mereka sudah terikat tali suci.


Danu, yang menjadi saksi pernikahan ini di temani para perawat dan dokter yang juga menjadi saksi pernikahan mereka.


Namun dimana Syena? Apa Syena melihat ini? Karena Syena dilarang masuk kedalam ruang ICU terpaksa Syena di titipkan pada seorang pengasuh oleh Danu.


Kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka. Walau hanya akad tanpa pesta. Namun kebahagiaan itu tidak di rasakan oleh seseorang yang ada di luar pintu ICU.


Rey, hanya diam mematung saat mendengar ijab kabul yang Willy ucapkan. Nama Dinda Kirana mengingatkan pada pernikahannya dulu, saat janji suci ia ucapkan untuk tetap bersama selamanya.


Namun, kenyataannya nama yang ia sebut kini sudah menjadi istri orang lain.


Sakit hati itu yang Rey, rasakan. Membuatnya tidak sanggup untuk tinggal berlama-lama. Tubuhnya langsung berbalik meninggalkan ruang ICU.


"Ayah, sekarang keinginan ayah sudah tercapai. Sekarang ayah harus sembuh." Dinda berkata seraya menggenggam tangan Fras yang semakin dingin.


Wajahnya telihat sangat pucat. Namun tetap berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum.


Fras menarik tangan Willy ditumpukkannya pada tangan lembut putrinya. Sepasang netranya begitu teduh memandang putri dan menantunnya saat ini.


"Berjanjilah kalian harus bahagia. Dan kamu." Tatap Fras pada Willy. "Jaga janjimu untuk tidak menyakiti putri dan cucuku."


"Iya Ayah aku berjanji akan selalu membahagiakannya."


Fras terlihat menarik nafasnya. Nafasnya terasa sangat berat. Kini sepasang netranya melihat ke arah Danu, meminta Danu untuk mendekat.


Danu yang sudah tahu dengan isyarat itu langsung mendekat.

__ADS_1


"Aku titipkan putri dan cucuku padamu. Mengabdilah untuk mereka semasa hidupmu."


"Ayah!" Dinda merasa tidak suka dengan ucapan Fras yang seperti sebuah pesan terakhir sebelum pergi jauh.


Danu hanya mengangguk dan berjanji akan menjaga keluarganya.


Kini Fras kembali menatap Dinda, dan Asih bergantian.


"Apa kamu senang melihat bunga daisy lagi? Rawatlah bunga itu hingga mekar." Asih langsung menangis mendengar perkataan itu. Ternyata Fras masih ingat apa kesukaannya.


"Tinggallah di rumah itu untuk selamanya. Jangan pernah meninggalkan rumah itu lagi."


Nafas Fras semakin sesak. Bahkan suaranya semakin tertahan hingga akhirnya mata Fras tertutup rapat. Bahkan Dinda masih bisa merasakan genggaman tangannya yang terlepas.


"Ayah!"


"Fras!"


Mereka semua terkejut dan panik. Dokter yang berada di sana langsung memeriksa keadaan Fras, namun dokter hanya bisa menggeleng. Semua alat medis dia lepaskan.


Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi Fras, memanggilnya untuk menghadapnya.


Tangisan pun semakin pecah. Kamar ICU yang menjadi kebahagiaan dan saksi pernikahan dalam seketika berubah, menjadi saksi kepergiaan Fras untuk selamanya.


"Ayah!" teriak Dinda dengan tangisan. Willy, hanya bisa memeluknya untuk menenangkannya.


Jenazah Fras langsung disemayamkan ke tempat peristirahatan terakhir. Semua keluarga ikut mengantarkan terutama Velove dan Rita.


Velove dan Rita terlihat biasa-biasa saja. Wajah mereka datar tanpa ada tangisan. Sedangkan Dinda orang yang paling terpukul.


"Om, kok Opah di masukkan kedalam tanah?" tanya Syena yang masih polos.


"Itu rumah Opah sekarang." Jawab Willy, yang menggendong Syena.


"Rumah! Kok rumahnya di dalam tanah?"


Willy, hanya tersenyum.


"Nanti kamu akan mengerti." Kata Willy seraya mengusap kepala Syena.


setelah selesai dikuburkan dan dipanjatkan doa. Kini Dinda dan Asih mulai menaburkan bunga diatas tanah merah yang masih baru.


Setelah selesai, mereka semua kembali pulang.


*****


"Ma, ini kenapa barang kita semua ada diluar!" pekik Velove yang syok saat melihat barang-barangnya berhamburan di halaman rumahnya. Seperti orang yang terusir atau di tendang.

__ADS_1


"Siapa yang melakukan ini!" Rita ikut marah. Sambil memungut pakaiannya.


Tidak berselang lama Asih, Dinda, dan Willy datang. Emosi Rita terlihat memuncak saat melihat wajah mereka.


"Hei, kalian! Apa ini perbuatanmu Asih. Mentang-mentang Fras sudah tiada kamu bisa mengusirku dan menguasai rumah ini."


"Jangan harap kalian bisa tinggal di sini ya!" Velove menimpali. Namun ada satu pria yang hanya diam pria itu tidak lain adalah Rey.


"Baru saja kita mengantarkan Fras ke tempat terakhir. Sikap kalian sudah seperti ini!" cibir Asih tidak kalah sewot.


"Lalu siapa yang mengeluarkan barang-barang kami di rumah ini. Jika bukan kalian!"


"Berhenti!"


Suara bariton menghentikan teriakan dan pekikkan Rita. Membuat semua orang menoleh kearah Danu yang kini berdiri di depan mobilnya.


Danu tidak sendiri namun datang bersama seorang pria, yang diyakini pengacara Fras.


"Siapa yang menyuruh kalian berterak hah!" bentak Danu dengan tampang yang sangat menyeramkan.


Danu melangkah maju bersama pengacara itu mendekati mereka semua.


Willy hanya diam menyikapi.


"Sepertinya ini masalah keluarga. Tidak baik bagi Syena berada di tempat ini," batin Willy.


"Dinda, berikan Syena padaku." pinta Willy.


"Untuk apa Wil?"


"Situasi ini tidak pantas untuk Syena lihat. Lagi pula aku bukan keluarga. Lebih baik aku dan Syena pergi dulu setelah masalah kalian selesai baru aku akan kembali."


"Baiklah. Tolong jaga Syena."


"Iya," jawab Willy lalu melangkah pergi.


Kini kembali pada Danu.


"Kalian semua ikut saya kedalam," ujar Danu dingin.


Lalu melangkah masuk kedalam rumah yang menjadi tempat tinggal Fras selama ini.


Asih, Dinda, Velove dan Rita pun melangkah masuk mengikuti Danu dan pengacara itu.


Langkah mereka terhenti di ruangan utama. Semuanya berkumpul dan duduk di kursinya masing-masing.


Dinda dan Asih terlihat santai dan tenang. Sedangkan Rita dan Velove terlihat emosi, tegang, dan penasaran apa yang akan Danu katakan.

__ADS_1


Mereka sudah bisa menebak jika Danu pasti akan mengatakan tentang hak waris atau wasiat Fras. Dan itu membuat Velove dan Rita curiga. Jika kedatangan Danu di rumah sakit ada hubungannya dengan hari ini.


__ADS_2