
Perempuan cantik berbadan kecil itu asyik bergaya didepan kamera. Sang fotografer mengarahkan gerakan perempuan yang sedang melakukan pemotretan itu. Terlihat fotografer kurang puas dengan gaya yang ditunjukkan oleh modelnya kali ini.
"Matanya agak tajam ya!" seru Mario sang fotografer.
"Sudah sajalah. Gayanya kurang keluar," sambungnya.
Mario menghentikan sesi pemotretan itu. Dia melihat foto-foto yang tertangkap kameranya. Beberapa foto langsung saja dia hapus saat itu juga.
"Gimana bro?" tanya teman Mario.
"Kurang bro. Sayang sekali pemotretan kali ini. Andaikan saja Lea mau menjadi model kita. Pasti akan trending foto ini," ungkap Mario.
"Yang sabar ya!" seru teman Mario.
Meskipun obrolan mereka berdua lirih, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Olivya. Jelas saja Olivya sakit hati saat mengetahui ada orang yang membicarakannya dari belakang. Yang lebih membuat Olivya semakin kesal adalah Mario membandingkan dirinya dengan kakak iparnya, Lea.
"****! Dia membandingkan gue dengan Lea?" umpat Olivya.
Lea dan Olivya sama-sama menyukai dunia permodelan. Sering kali mereka bekerja bersama dalam suatu event tertentu. Namun diantara keduanya banyak fotografer ataupun brand yang lebih tertarik kepada Lea. Makanya kebanyakan job ditawarkan kepada Lea terlebih dahulu. Jika Lea menolak JOB tersebut makan akan dilemparkan ke model yang lainnya, salah satunya Olivya.
"Pakai susuk apa sih si Lea brengs*k itu!" umpat Olivya lagi.
"Gue nggak kalah cantik dengan dia kok!" katanya pada diri sendiri didepan sebuah cermin.
"Tapi kenapa semua orang lebih suka dia!" katanya dengan kesal.
"Arghhhhhhhhh...." teriaknya melampiaskan amarah.
Mario masuk ke ruang makeup dan mendapati Olivya yang tampak marah. Kemudian dia bertanya, "Oliv lo kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Mario, Olivya membawa tasnya dan berlalu pergi dari ruangan tersebut. Mario tidak mempedulikan Olivya jika dia ingin pergi, ya silahkan pergi, pikirnya. Toh pemotretan juga sudah selesai. Mario hanya mengangkat bahunya melihat ekspresi Olivya.
Dengan kecepatan tinggi Olivya melanjutkan Mini Cooper miliknya. Sepanjang perjalanam menuju kampus tak henti-hentinya dia mengumpat fotografer sialan itu. Berani-beraninya dia membandingkan dirinya dengan Lea.
"Kurang ajar!" umpatnya.
__ADS_1
Begitu sampai di parkiran kampus swasta nomer satu di Indonesia itu. Olivya segera turun dan berjalan menuju kelasnya. Karena setelah pemotretan, Olivya harus tetap masuk kuliah. Dengan mood yang berantakan Olivya masuk ke kelas.
Dia segera mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi. Samar-samar terdengar obrolan dari gerombolan teman-teman di kelasnya itu. Kalau tidak salah mereka sedang membicarakan Lea. Ya, Lea teman sekelasnya Olivya dijurusan Ilmu Komunikasi. Yang saat ini menjadi kakak iparnya.
Gerombolan orang-orang itu sedang membicarakan Lea. Mereka kagum dengan Lea yang saat ini bisa memimpin perusahaan sebesar Armada Trans. Padahal dirinya saja belum menamatkan kuliahnya. Beginilah kira-kira isi obrolan mereka
"Wih keren ya Lea. Belum lulus kuliah udah dipercaya memimpin perusahaan," kata Rhere.
"Iya bener banget kok bisa ya. Padahal anak Jurusan Komunikasi, eh nyasar ke bisnis," kata Thania.
"Udah cantik, dapet suami tampan dan kaya raya, pinter lagi. Pinter dikuliah juga dibidang bisnis. Kalau dia jomblo udah gue sikat," timpal Alvin.
"Hahah ngarep Lo. Mana mau Lea sama Lo. Jangan mimpi ketinggian!" sahut Faiz.
"Eh tapi kenapa bukan adeknya aja yang megang perusahaan Armada Trans ya?" bisik Faiz lirih, karena takut terdengar Olivya.
Olivya yang emosinya sudah diubun-ubun, sontak menoleh ke arah gerombolan orang-orang itu. Tatapan matanya tajam seolah siap memangsa siapa pun yang ada dihadapannya.
"Lo ngomongin gue? Udah nggak usah bisik-bisik! Langsung saja ngomongin gue didepan gue. Jangan munafik lo pada ya!" ucap Olivya dengan nada yang tinggi.
"Jangan sekali-kali kalian bandingin gue dengan Lea. Karena gue dengan Lea beda level!" sambungnya.
"Apa lo bilang? Coba ulangi lagi!"
"Sini lo kalau berani!" Olivya semakin marah dan hampir saja melemparkan sebuah buku yang ada dihadapannya.
Niatnya langsung terhentikan tatkala melihat dosen masuk kedalam kelas. Kegiatan kuliah pun dimulai dengan dosen yang menjelaskan materi komunikasi bisnis. Ditengah penjelasan yang disampaikan dosen tersebut. Tiba-tiba nama Milea Anindita Dinata disebut-sebut sebagai contoh mahasiswa yang berhasil menerapkan ilmu komunikasi bisnis.
Informasi mengenai Lea yang menggantikan suaminya, memimpin perusahaan Armada Trans telah tersebar keseluruhan penjuru negeri. Oleh karena itu banyak orang yang membicarakan Lea. Ternyata bukan hanya gerombolan teman-teman sekelasnya, namun dosennya pun turut membicarakan Lea. Ditambah lagi ungkapan rasa bangga memiliki mahasiswa seperti Lea.
"Saya sangat bangga memiliki mahasiswa seperti ananda Lea," ungkap dosen.
"Selain bagus dibidang akademik kampus, ternyata kemampuan berbisnis juga sangat bagus," lanjutnya sembari tepuk tangan.
"Saya harap kalian semua bisa mengikuti jejaknya. Sukses diusia muda," imbuhnya.
__ADS_1
Jelas saja mendengar penuturan dosen tersebut. Membuat amarah Lea semakin memuncak saja. Rasanya tidak mau mendengar apa yang sedang dosennya katakan. Maka dia menutup dua telinganya dengan telapak tangannya. Supaya tidak mendengarkan orang-orang yang memuji Lea.
Sesampainya di rumah.
Baru saja menginjak pintu utama, suara Olivya telah menggelegar memanggil maminya. Dengan segera Dwita langsung menghampiri putri kesayangannya itu. Lalu menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Anak cantiknya mami kenapa datang marah-marah?" sambut Dwita.
"Sini duduk dulu. Ceritakan sama mami ada apa sama kamu?" pinta Dwita.
Mami dan anak itu pun langsung duduk di sofa ruang tamu. Olivya mulai menceritakan semua kejadian yang dia lewati hari ini. Mulai dari kejadian waktu pemotretan, obrolan teman sekelas, hingga pujian dosen terhadap Lea. Mami manggut-manggut mendengar penjelasan Olivya.
"Mami tidak tega anak kesayangan mami diperlakukan seperti itu," kata Dwita setalah mendengar cerita Olivya.
"Mami akan berusaha untuk membalikan cerita dan keadaan," tambahnya.
"Bagaimana caranya Mi?" tanya Olivya.
Dwita tampak diam dan berpikir tentang masalah putrinya itu. Jelas saja dia tidak terima dengan apa yang diceritakan Olivya. Lea yang dikenal sebagai erempuan payah olehnya. Ternyata sudah menjadi topik pembicaraan positif diluar sana.
"Ini tidak bisa dibiarkan," batin Dwita.
"Aku harus bisa menyingkirkan perempuan itu dari rumah ini,"
"Enak saja dia bisa mendapatkan pujian dan menjadi kebanggaan banyak orang diluar sana. Sedangkan anak kesayanganku justru dihina."
"Awas saja perempuan payah. Aku tidak akan tinggal diam. Tunggu saja waktunya."
Setelah Dwita kalut dalam pikirannya. Dia melihat Olivya yang terlihat amat sedih dan frustasi. Diusapnya punggung dan rambut putrinya itu.
"Kamu jangan terlalu khawatir sayang," pesan Dwita.
"Serahkan semua kepada mami."
"Sekarang kamu bersih-bersih dan istirahat sana!" perintah Dwita.
__ADS_1
Olivya mengiyakan dan beranjak menuju kamarnya. Melepaskan kekesalan yang seharian ini merasukinya.
Iri dengki hanya akan merusak hati.