
"Ah! Berat!" lirih Lea.
"Lho tangan siapa ini?" batin Lea setengah sadar dari tidurnya. Matanya mengedarkan pandangannya dari tangan yang ada di atas perutnya hingga ke pemilik tangan tersebut. Senyum pun merekah di wajah cantiknya itu.
"Oh iya gue udah nikah dan dia suami gue. Hampir saja lupa," batinnya lagi sembari memandangi wajah tampan suaminya.
Tangan Lea menelusuri lekuk wajah itu, mulai dari rambut, dahi, mata, pipi, hidung, dan terakhir mulut. Diusapnya perlahan agar suaminya tidak terbangun dari tidurnya. "Gue nggak salah pilih suami. Emang keliatan garang tapi kalau tidur kenapa manis sekali," batinnya sembari terus mengusap wajah Bian.
"I love you," ucapnya lirih sembari mengecup dada bidang suaminya yang telanjang itu. Tidak lupa Lea juga semakin mengeratkan pelukannya. Dirasa hari masih terlalu gelap, Lea pun melanjutkan tidurnya.
***
Keesokan harinya.
Sinar matahari mengintip dari balik korden kamar apartemen. Membuat Bian menggeliatkan badannya ke kanan dan ke kiri. Sementara Lea yang tidur dalam pelukannya segera melepaskan pelukan itu. Matanya memicing melihat jam yang tertempel pada dinding.
__ADS_1
"Astaga! Sudah jam setengah delapan!" pekiknya dan segera bangkit dari ranjangnya.
"Aduh gimana ini?" ucapnya panik seraya berlari ke kamar mandi dan tak lupa memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai.
Bian yang sebenarnya belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya menjadi terbangun. Namun, masih ingin rebahan di atas ranjangnya itu. Rasanya malas sekali jika harus bangkit dari ranjang empuk itu. Pasalnya ini adalah kali pertama dia tidur di ranjang empuk bersama dengan istrinya. Sungguh sesuatu yang tidak ingin diakhiri, pikirnya.
Tidak lama kemudian Lea keluar dari kamar mandi secara tergesa-gesa. Dengan memakai handuk kimono dia merapikan tempat tidur. Melipat selimut yang masih digunakan Bian untuk menutupi badannya yang telanjang, merapikan bantal dan guling pada tempatnya. Tidak lupa memunguti pakaian yang masih tersisa di lantai kamar itu.
Lea menyuruh Bian untuk segera mandi dan bersiap pergi ke kantor. "Ayo buruan mandi sayang!" Lea mendorong pelan Bian masuk ke kamar mandi. Bian pun hanya pasrah menuruti perintah istrinya.
Sementara itu Lea segera ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk suaminya. Wajahnya tiba-tiba murung tatkala tidak menemukan bahan masakan apapun yang ada di dapurnya. Ya jelas saja, apartemen itu baru saja dia tempati sejak semalam.
"Hai morning sayang," Bian mencium kening istrinya.
"Kok melamun?" tanya Bian seraya memeluk Lea dari belakang.
__ADS_1
"Ehm ... e ... sebelumnya aku minta maaf ya sayang," lirih Bian.
Bian mengernyit keheranan menatap istrinya yang tampak sedih. "Maaf atas apa ya?" tanya Bian.
"Maaf karena hari ini aku belum bisa masakin kamu sayang," ucap Lea tertunduk.
"Jadi aku pesen makanan dari aplikasi lagi tadi," imbuhnya.
"Maafin aku ya sayang. Masih jauh dari kata istri yang baik."
"Astaga! Aku kira ada apa," ucap Bian kesal.
Sontak saja Bian gemas dengan tingkah istrinya pagi ini. Ditangkupnya wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap lekat Lea. "Dengarkan sayang!" ucap Bian.
"Aku mencari istri bukan mencari pembantu," tukas Bian dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Tapi itu bukankah kewajiban aku menjadi istri?" tanya Lea.
"SsStt," Bian meletakkan satu telunjuknya di mulut Lea untuk tanda berhenti berbicara tentang hal itu.