Life After Married

Life After Married
Bab 84- Kecemasan Rita


__ADS_3

Di sebuah restoran hotel ternama. Berkumpullah para wanita-wanita sosialita. Di salah satu ruangan VIP. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan. Saling menyanjung, memamerkan kekayaan, terutama barang mewah yang mereka miliki. 


Sebuah deringan ponsel berbunyi di tengah-tengah pembicaraan mereka. Salah satu wanita diantara mereka merogoh tas brended miliknya. Di ambilnya sebuah benda pipih yang membunyikan suara dering yang sempat mengganggu obrolan bersama temannya. 


"Ada apa Rita, siapa yang telepon?" tanya salah satu temannya. 


Rita, tersenyum lalu menjawab, "Anak saya, saya izin jawab dulu. Kalian lanjut 'kan saja pembicaraan nya." 


Rita beranjak dari duduknya. Berjalan beberapa langkah untuk menjauh dari kebisingan para teman sosialitanya. Sepanjang langkah Rita, bermonolog dalam hatinya. Tidak biasanya Velove, menghubunginya di saat waktu bersama teman-teman nya. 


Di usapnya ikon hijau dengan simbol telepon oleh ibu jarinya, sedetik tampilan waktu pun bergerak. Rita, segera mendekat 'kan benda pipih itu pada daun telinganya. 


"Ada apa Velove?" ucapnya sedikit berbisik. 


"Mah, Papa sudah bertemu dengan anaknya?" Suara Velove, terdengar panik di ujung sana. 


"Maksudmu? Coba katakan dengan pelan." 


"Papa sudah tahu jika Dinda, putrinya. Mereka sudah bertemu." 


Detik itu juga Rita, membelalak 'kan matanya. Perkataan Velove, mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. 


Selama ini Rita, selalu menutupi pertemuan nya dengan Asih, bahkan saat di rumah sakit pun Rita, tidak mengatakannya pada Fras, jika dirinya bertemu dengan mantan istrinya itu. 


Tiba-tiba Velove, memberikan kabar yang mengejutkan. Tentang Fras, yang sudah bertemu dengan Dinda, putrinya. 


Benda pipih itu Rita, turun 'kan. Di tempel 'kan nya pada dadanya. Kepalanya menengok sekilas memperhatikan teman-temannya yang masih asyik mengobrol. Detik itu juga kakinya mengayun melangkah keluar dari ruang VIP itu. 


Hingga langkahnya terhenti di depan toilet. Rita, segera masuk lalu mengunci pintu itu dengan rapat. Setelah merasa aman dan di dalam toilet tidak ada siapa pun membuat dirinya bebas leluasa berbicara dengan Velove. 


Benda pipih itu kembali ia dekat 'kan pada telinganya. Percakapannya kembali di mulai.


"Velove, apa kamu masih di sana?" 


"Iya ini aku Ma. Lagian Mama, lama banget bicaranya." 

__ADS_1


"Mama sedang bersama teman-teman Mama. Jadi Mama, pergi ke luar agar bebas bicara denganmu. Sekarang jelaskan pada Mama, maksud perkataan mu tadi. Dari mana kamu tahu hal itu?" 


"Rey, dari Rey Ma." 


"Rey?" Sedetik keningnya mengerut. Rita, merasa aneh darimana Rey, tahu tentang Dinda, adalah anak Fras. 


"Coba jelaskan bagaimana Rey, bisa tahu?" 


Terdengar hembusan nafas dari ujung sana. Sepertinya Velove, sedang mengatur nafasnya sejenak.


"Sepertinya Papa mencari tahu tentang Rey. Dan Papa tahu jika Dinda adalah istrinya dulu, Papa merasa kecewa dan marah karena Rey, menyakiti hati putrinya. Bahkan Papa meluapkan amarahnya pada Rey, dan mengancam Rey, untuk tidak lagi mengganggu Dinda, dan Syena." 


"Tidak hanya Rey, papa juga memarahiku. Dia bilang kelakuan ku tidak bisa di maafkan dan sangat memalukan. Papa bilang jika Dinda, adalah kakak ku walau tidak se-ibu. Papa meminta ku untuk meminta maaf pada Dinda. Aku tidak mau Ma! Lagian aku tidak tahu jika dia saudaraku. Apa salah jika aku menyukai Rey, dulu juga Mama begitu 'kan!" 


"Hust, jangan ungkit masa lalu ku," hardik Rita, yang tidak terima masa lalu nya di ungkit. 


"Tapi papa tidak tahu 'kan tentang kamu bukan anak kandungnya?" 


Rita, benar-benar takut jika Fras, mengetahui kebenarannya. Fras, pasti marah besar padanya. Selain membohonginya Rita, juga telah menghancurkan rumah tangganya. Tidak bisa di bayangkan jika Fras, mengetahui hal ini. Dirinya akan kehilangan semuanya. 


"Baguslah. Setidaknya Fras, tidak tahu  masalah itu. Jangan sampai dia tahu mengerti!" 


"Iya Ma." 


"Mama tutup dulu telepon nya. Kita bicarakan ini nanti setelah di rumah. Untuk masalah Dinda, biarkan saja. Papamu sudah terlanjur mengetahuinya." 


"Iya Ma, aku tutup teleponnya." 


Sambungan telepon pun di tutup. 


"Aku harus hati-hati sekarang. Jangan sampai Fras, juga mencari tahu tentang Velove, yang bukan anaknya. Apa Fras, akan membawa Dinda, ke rumah? Rasanya tidak mungkin." Batin Rita, yang merasa was-was. Lalu melangkah keluar dari toilet kembali menuju ruang VIP.


*****


Velove, merenung diri di dalam kamar. Memikirkan tentang siapa ayahnya. Seperti apa sosoknya. Kenapa Rita, memilih di nikahi Fras, di banding ayah kandungnya. 

__ADS_1


Suara pintu terbuka. Muncul Rey, di balik pintu dengan satu tangan yang mengguyar rambutnya. Handuk putih melilit di pinggangnya, memperlihatkan perut rata yang bagaikan roti sobek itu. Melihat dari tampilannya sepertinya Rey, baru saja melakukan ritual mandi nya.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Rey, yang melihat Velove, duduk di bibir ranjang. Dengan tatapan menerawang jauh pemandangan di luar sana. 


Mendengar suara Rey, Velove, seketika menoleh ke arah Rey, yang masih menggunakan handuknya. Membuat mata Velove, sedetik langsung tergoda. 


"Apa yang kamu lamunkan?" pertanyaan Rey, kembali mengejutkan lamunannya. 


"Rey, kamu percayakan jika aku tidak tahu bahwa Dinda saudaraku. Aku saja sangat terkejut mendengar perkataan mu tadi." 


"Aku juga sama terkejutnya. Bahwa kenyataan nya aku menikahi dua wanita yang bersaudara. Aku selingkuh dengan adik istri ku sendiri." Tutur Rey, sambil melangkah ke arah lemari, mengambil satu kaos oblong dan celana panjang yang langsung di pakainya di hadapan Velove. 


Mungkin karena mereka suami istri tidak ada lagi rasa malu, bahkan mereka sudah melihat seluruh tubuhnya masing-masing. 


"Kamu tidak akan meninggal 'kan ku karena hal ini 'kan?" Velove, bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Rey, yang baru saja selesai memakai kaosnya. 


Sedetik Rey, menoleh ke arahnya. Lalu berkata, "Apa kamu lupa ancaman papa mu? Lagian aku tidak akan lagi melakukan hal yang sama, tapi aku ingin kamu membantu ku." Tatap Rey, pada Velove.


"Apa?" tanya Velove, heran.


Rey, berjalan mendekati wanita yang kini menjadi istrinya. Di tatapnya mata itu dengan lekat. Mungkin Rey, akan menepati janjinya pada Fras, untuk tidak menyakiti Velove, menerima Velove, menjadi istri sepenuhnya. Namun, tidak dengan Syena, Rey, akan tetap berusaha mendapatkan Syena. 


"Bantu aku mendapatkan putri ku," ucap Rey, dengan tegas tanpa mengalihkan tatapan matanya. Velove, yang di tatap masih saja diam.


'Lagi-lagi Rey, meminta hal yang sama. Dia tidak bisa melupakan anak itu.' batin Velove. 


"Kenapa Rey? Aku bisa memberimu anak. Kita mulai dari awal, lupakan Syena. Biarkan dia bersama ibunya. Jangan remehkan ancaman papa. Kamu tahu papa melarangnya 'kan? Lebih baik kita fokus pada kehidupan kita dan pekerjaan mu sebagai direktur perusahaan Sanjaya." 


"Aku tidak bilang akan melupakan atau pergi dari kehidupan mu. Yang ku inginkan hanya bertemu putriku. Jika pun kamu hamil dan memberiku anak aku akan sangat senang. Setidaknya keturunan ku bertambah," kata Rey, meyakinkan. 


Namun Velove, seperti tidak setuju dengan yang Rey, inginkan. 


"Baiklah jika itu keinginanmu. Sebagai istri aku akan mendukung apa yang kamu inginkan." 


Rey, tersenyum. Kedua tangannya terbuka lebar, lalu memeluk Velove, di hadapannya. Mendekapnya dengan hangat. Namun tidak dengan wajah Velove, yang datar tanpa senyuman sedikit pun. 

__ADS_1


"Aku harus cepat hamil dan melahirkan. Agar Rey, tidak lagi mengharapkan anak itu. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar Rey, tidak bertemu lagi putrinya." Batin Velove, dalam hati. Lalu kedua tangannya terangkat untuk membalas pelukan Rey.


__ADS_2