Life After Married

Life After Married
Dasar Ganjen


__ADS_3

Dua hari kemudian setelah persidangan Bian dinyatakan tidak bersalah dan bebas. Ditemani dengan tim pengacara dan Gigi, Bian meninggal gedung itu. Lega sekali akhirnya bisa keluar dari penjara. Sekarang saatnya memperbaiki hubungannya dengan Lea, pikirnya.


Dalam perjalanan pulang, Gigi yang duduk disamping Bian terus mengelayuti lengan kekar Bian. Sesekali menyandarkan kepalanya pada bahu Bian. Wajahnya juga tidak pernah lepas dari senyuman. Tampaknya dia sangat bahagia dengan bebasnya Bian. Hingga Bian merasa sangat risih dengan tingkahnya tersebut.


"Gigi tolong lepasin tangan gue," pinta Bian.


"Gak mau aku kangen banget sama lo," ucap Gigi.


"Tolong lepasin dulu, gak enak dilihat orang. Gue ini laki-laki beristri," ucap Bian.


"Tapi kan sebentar lagi gue akan jadi istri Lo," tutur Gigi.


Bian terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.


"Jangan lupa sama janji lo. Besok kita nikah, kalau perlu hari ini juga," terang Gigi.


"Lo juga janji akan beri waktu buat gue ketemu dengan Lea dan jelasin semuanya," ungkap Bian.


"Gue cuma waktu sehari," ucap Gigi.

__ADS_1


"Lebih baik nikahnya minggu depan. Banyak yang harus disiapkan," usul Bian.


"Gak mau! Pokoknya secepatnya," tolak Gigi.


Ditepisnya tangan Gigi dari lengan Bian, membalikkan badannya. Kemudian mata Bian memandang jendela yang ada disebelahnya. Dia jengah dengan Gigi yang selalu mengungkit pernikahan. Dan memikirkan bagaimana perasaan Lea kalau sampai tahu masalah ini. Oh Tuhan gue bingung, pikirnya.


"Sayang fitting baju sekalian yuk," ajak Gigi.


"Eh nggak bisa. Kan gue harus ketemu dulu sama Lea," tolak Bian.


"Itu bisa besok saja kali."


"Kalau besok lo bisa seharian sama Lea. Kalau hari ini kan tinggal setengah hari saja sama Lea."


"Nggak bisa nanti malem kita kencan dulu. Baru besok pagi lo pulang ke rumah ketemu sama dia." Gigi memberi sedikit penekanan pada kata dia.


"Lho kok lo ngatur-ngatur sih. Pokoknya gue pengen pulang dulu pengen ketemu dan bicara sama Lea!" tukas Bian.


"Gak bisa! Lo harus inget! Lo bisa keluar dari penjara gara-gara gue dan lo harus menuruti semua apa kata gue!" ucap Gigi yang tidak ingin dibantah.

__ADS_1


Bian memalingkan wajahnya dari Gigi dan menggeser duduknya menjauh. Kesal sekali berbicara dengan perempuan satu ini. Sudah dibilang tidak ada rasa cinta sama sekali, eh dipaksa menikah. "Dasar perempuan breng$ek!" umpatnya dalam hati.


"Bian sayang jangan marah ya," Gigi kembali menggelayuti lengan Bian.


"Lepasin!" Bian menepis tangan Gigi.


"Kenapa dilepas? Gue kangen banget sama lo. Pengen mesra-mesraan kaya calon pengantin lainnya," ucap Gigi sembari nyengir.


"Gue gerah dan risih berpegang tangan," jawab Bian tanpa menoleh ke arah Gigi.


"Ih sekali-kali kenapa sih. Kan lama kita nggak kaya gini?"


"Lha emang pernah kita kaya gini?"


Gigi tampak berpikir den mengingat-ingat kejadian terakhir dia bermesraan dengan Bian. "Pernah, dulu terakhir waktu kita kelas 5 SD."


"Lo masih inget gak?" tanya Gigi kepada Bian.


"Nggak lah," jawab Bian sembari bergidik.

__ADS_1


"Dasar perempuan ganjen," batin Bian.


Bian dan Gigi adalah sahabat dari kecil. Gigi selalu memiliki perasaan yang lebih kepada Bian, sedangkan Bian menganggap Gigi murni sebagai sahabat. Bahkan berpegangan tangan waktu masih kelas 5 SD sudah dianggap serius. Dasar ganjen! pikirnya.


__ADS_2