
Tubuh Andre membeku, dengan mata melebar mendengar jawaban Gabriella yang menolak dirinya.
"Nikahi aku karena aku ingin menjadi istrimu, bukan kekasihmu Andre," ucap Gabriella dengan lantang tetapi sedikit bergetar, disertai mata berkaca-kaca.
Mata Andre melebar dengan jantung berdetak kencang. Apa yang diucapkan Gabriella barusan saja seperti sebuah mimpi, mimpi yang selalu menemani tidur malamnya. Andre masih belum mempercayainya.
Tatapan keduanya tak lepas. Bulir bening bergulir membasahi kedua pipi Gabriella.
Andre berusaha bangkit sehingga kini mereka saling berhadapan cukup dekat.
"Katakan sekali lagi," gumam Andre dengan bibir bergetar sembari memegang kedua bahu Gabriella.
Gabriella menggeleng karena tidak ingin mengatakan untuk kedua kalinya.
"Sepertinya apa yang aku katakan sudah cukup jelas," lirih Gabriella.
"Jadi, jadi kamu menerimaku?" kata Andre dengan wajah tak bisa diuraikan. Gabriella mengangguk.
Seketika mata Andre berkaca-kaca. Kedua tangannya terangkat, lalu membelai wajah Gabriella sembari mengusap sisa air mata itu.
Andre menarik tubuh Gabriella masuk kedalam pelukannya.
"Gaby aku tidak pernah menyangka jika malam ini menjadi malam bahagia yang luar biasa. Terima kasih telah membalas perasaanku," lirih Andre dengan membenamkan wajahnya di pucuk kepala Gabriella.
"Bantu aku untuk melupakan masa lalu," lirih Gabriella tergugu.
"Aku tidak memaksakan dirimu untuk melupakan masa lalu, tetapi aku akan berusaha mengantikan seseorang yang tersimpan rapat di hatimu. Karena sekarang masa depanmu adalah bersamaku," pungkas Andre.
"Maka dari itu nikahi aku. Aku tidak ingin menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih tetapi aku ingin menjadi istrimu. Walaupun sejujurnya hatiku belum sepenuhnya....."
Ucapan Gabriella terhenti karena dengan segera Andre membungkam mulut Gabriella dengan bibirnya.
Gabriella membeku dengan mata membulat mendapat bibir Andre yang menempel.
"Maaf," gumam Andre setelah dia menarik kembali bibirnya. Sungguh dia tak menyadarinya.
Gabriella langsung menundukkan wajahnya dengan wajah memerah. Sama halnya dengan Andre, bahkan ini pertama kali baginya.
"Aku mengerti itu karena bagimu tidaklah mudah. Aku akan berjanji setiap saat menghujani dirimu kebahagiaan dan cinta agar hatimu dan cintamu hanya ada untukku seorang," ungkap Andre, kembali meletakan kepala Gabriella di dadanya.
Gabriella terenyuh mendengar semua yang diungkapkan Andre.
__ADS_1
Tiba-tiba rintik hujan membuat keduanya menguraikan pelukan itu.
"Sepertinya akan turun hujan," ujar Andre sembari menadah kepalanya ke atas.
"Sepertinya dunia tidak mendukung kita," cicit Gabriella bercanda. "Awww....sakit," Gabriella merintih karena hidung mancungnya dipencet oleh Andre.
Tanpa aba-aba Andre langsung menggendong Gabriella ala bridal, berjalan menuju mobil. Tentu saja perlakuan Andre membuat Gabriella melongok tak percaya. Tanpa menolak Gabriella melingkarkan kedua tangannya di leher Andre.
Tatapan keduanya saling bersambutan, saling melemparkan senyuman masing-masing. Tiba di mobil Andre berusaha membuka pintu mobil tanpa melepaskan gendongan. Berhasil terbuka dia langsung mendaratkan bokong Gabriella di kursi samping setir.
Gabriella tentu saja merasa malu, untung saja malam jadi Andre tidak menyadari jika saat ini wajahnya merona merah.
"Andre mobilku bagaimana?" ucap Gabriella karena dia sendiri tadi membawa mobil.
"Aku akan me g hubungi seseorang dan orang itu yang akan membawa mobilmu ke apartemen," ujar Andre sembari mengirim pesan kepada orang yang dimaksudkan.
"Oh," Gabriella ber oh ria dengan bibir membentuk huruf o.
Seketika hujan turun begitu deras.
"Aku antar kamu ke mana?" tanya Andre, sebenarnya dia ingin selalu di samping Gabriella, apa lagi obrolan mereka belum usai.
Andre menggeleng sebagai jawabannya.
"Jika begitu kita ke apartemenku saja, kebetulan aku juga belum makan malam," usul Gabriella. "Hmmm sepertinya obrolan kita juga belum usai," pungkas Gabriella. Jujur dia juga ingin selalu berada di samping Andre dan masih banyak yang harus mereka bicarakan masalah hubungan itu.
"Apa tidak masalah?"
Gabriella menggeleng sembari melemparkan senyum.
Andre segera melajukan kendaraan roda empat nya membelah jalanan malam menuju apartemen Gabriella.
°°°°°°
Mereka menikmati makanan yang sudah dimasak oleh Gabriella sendiri. Sepanjang makan mereka tak berhenti mengobrol sehingga makanan di dalam mangkok tak terasa habis.
"Masakanmu sangat enak, bikin nagih," puji Andre seusai meletakan sumpit di atas mangkok.
"Biasa saja," sahut Gabriella sebenarnya merasa senang. "Kamu tunggu di ruang televisi, aku akan membereskan meja makan," imbuhnya sembari membawa mangkok kotor ke wastafel.
Bukannya pergi sesuai perintah Gabriella, Andre malah membuntuti nya dari belakang sehingga membuat Gabriella kaget.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita sama-sama mengerjakannya?" ucap Andre sembari mengedipkan mata. Hal itu membuat Gabriella salah tingkah. "Sepertinya menyenangkan," imbuh Andre sembari meraih spon cuci piring di tangan Gabriella karena Gabriella hanya terdiam.
"Biar aku saja," Gabriella berusaha merebut spon di tangan Andre tetapi tidak Andre biarkan sehingga membuatnya mengalah.
"Suami istri harus saling bekerja sama," ucap Andre. "Beginilah yang sering aku lihat Tuan dan Nona," imbuhnya seakan mengingat bagaimana momen pasangan romantis Alfred.
"Jadi kamu suka memperhatikan mereka?" tanya Gabriella dengan dahi mengerut.
"Bukan kesalahanku tetapi mereka sendiri yang sering menerbarkan keromantisan mereka," papar Andre.
"Hmmm mereka memang pasangan yang harmonis dan romantis, aku ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka," ungkap Gabriella.
Andre mengelap tangannya. Lalu merengkuh kedua bahu Gabriella.
"Aku akan berusaha memberi yang terbaik untukmu," ucap Andre dengan serius.
Gabriella mengembangkan senyuman. Lalu keduanya berjalan menuju ruang televisi. Duduk di sofa saling berdampingan.
"Gaby, kamu sendiri juga tahu bagaimana perbedaan kita," papar Andre sekarang berbicara lebih dalam untuk hubungan mereka. "Aku yakin keluarga besar kamu tidak akan merestui hubungan kita," imbuh Andre dengan tatapan sendu, dia tidak ingin hal yang ditakutinya terjadi seperti yang dia katakan sekarang.
Gabriella mengigit bibir bawahnya lalu tidak lama menyunggingkan senyuman sembari mengusap wajah sendu Andre.
"Apa kamu takut hal itu?" Andre mengangguk. "Keluarga kami bukanlah seperti itu, kami tidak pernah membedakan kasta. Khususnya kedua orang tuaku, mereka tidak pernah membatasi putra-putri mereka untuk memilih pasangan masing-masing. Maksudnya dari kasta manapun yang diutamakan kebahagiaan tersendiri bagi anak-anaknya. Bagi mereka pasangan itu bertanggungjawab," ungkap Gabriella panjang lebar.
Andre lalu menundukkan kepala, dia sadar saat ini sedang berhadapan dengan siapa.
Gabriella meraih punggung tangan Andre.
"Apa kamu tidak percaya itu? apa kamu tidak ingat pengakuan Alfred beberapa tahun lalu? dia mengaku bukanlah orang berada tetapi dengan tulus keluarga Januar menerimanya karena bagi mereka kebahagiaan Isabella yang paling utama," ungkap Gabriella menyakinkan Andre.
Andre lalu menggenggam tangan Gabriella dengan mata memerah.
"Temui Papa dan Mama segera. Minta restu mereka karena aku sudah kebelet kawin, eh maksudku menikah."
"Kamu....."
Cup
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1