
"Itu bukan karma Nak tetapi ujian hidup," ujar Papa menekankan.
Alfred kembali menatap Papa.
"Aku sudah sudah banyak kegagalan Pa. Gagal menjadi suami serta Daddy yang baik dan bertanggung jawab, gagal mempertahankan HUGO GDOUP," ucap Alfred seakan tidak terima dengan ujian itu.
Mama beranjak dari tempat duduknya lalu kembali duduk di samping Alfred.
"Sayang setiap manusia memiliki ujian hidupnya masing-masing, termasuk Mama sama Papa," ucap Mama dengan lembut sembari mengusap bahu Alfred sehingga membuat Alfred membeku.
Tanpa mampu menahan lagi Alfred langsung memeluk Mama.
"Aku minta maaf Ma sudah membuat Mama sama Papa kecewa dan bahkan terluka," lirih Alfred dalam pelukan Mama.
"Mama dapat memahaminya karena masa lalu kalian hampir mirip kisahnya dengan masa lalu Ma, ma sama Papa dulu, dan berakhir bahagia," ucap Mama sembari mengusap punggung Alfred.
Hmmm
Deheman seseorang membuat pelukan mereka terlepas.
"Sayang tumben malam-malam ke sini?"
"Apakah kedatanganku menganggu?" pertanyaan Moses membuat Mama memutar bola matanya. Sedangkan Moses menatap Alfred dengan tatapan tak bersahabat.
"Sensitif,"
"Selamat malam Adik ipar?" sapa Alfred.
Moses diam mengabaikan sapaan Alfred.
"Sayang," peringatan dari Mama.
"Hmmm kapan datang? aku dengar-dengar perusahaanmu mengalami masalah besar," ujar Moses seakan paham dengan peringatan Mama.
"Bukan hanya perusahaan sayang, bahkan Kakak ipar kamu akan ditahan untuk menanggung tuduhan itu," terang Mama.
Mendengar penuturan Mama membuat mata Moses menyipit melirik Alfred.
Alfred mengusap wajahnya.
"Rumah sakit pusat mengalami kerugian dalam jumlah besar, sehingga membuat para investor penanaman modal menarik saham mereka. Sedangkan rumah sakit cabang di kota x mengalami masalah yang mengakibatkan aku di sel karena lalai dan bahkan dengan tidak sengaja mengancam nyawa orang banyak. Di sana pihak polisi mendapatkan obat-obatan yang sudah kadaluwarsa," cerita Alfred.
Moses tercengang karena masalah yang satu ini baru dia ketahui dari Alfred sendiri.
"Apa belum ada bukti siapa dalang atau tikus-tikus yang berkhianat?" tanya Moses dengan wajah serius.
Alfred menggeleng.
"Sebelum ada bukti aku akan tetap mendekap di penjara," ujar Alfred dengan tatapan kosong. "Aku tidak takut di penjara tetapi hanya satu ketakutanku itu adalah tidak bisa melihat istri serta anak-anakku," ungkap Alfred dengan wajah sendu.
"Sayang jangan merasa khawatir apa lagi takut karena semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak bersalah, dan suatu saat kebenaran itu akan terkuak," ucap Mama kembali menguatkan Alfred. "Masalah Abel dan kedua cucu kami kamu jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja selama di sini," sambung Mama.
"Terima kasih Ma," Alfred seakan mendapat kekuatan dari Mama.
Mama mengangguk.
"Maaf mungkin kedatanganku menganggu," ucapku di tengah-tengah obrolan mereka. Aku tidak tau jika kedua orang tuaku serta Moses berada di area dapur.
"Sayang,"
Mereka tidak menyadari kedatanganku karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa turun? ya ampun aku lupa bahkan makanan ini sudah dingin," ujar Alfred sembari menepuk jidatnya. Karena asik mengobrol dia lupa dengan tugasnya.
"Makanya aku turun," sahutku dengan singkat.
"Sayang jangan salahkan suamimu karena Mama sama Papa yang menahan Alfred di sini,"
Aku tersenyum mendengar perkataan Mama.
"Apa cucu-cucu Papa sudah tidur?" tanya Papa.
Aku menarik kursi di samping Papa lalu mendaratkan bokong.
"Sudah Pa," sahutku.
"Baiklah kalian makanlah. Ayo Ma pijit Papa di ruang keluarga," titah Papa seperti malam-malam biasanya pasangan ini giliran melakukan itu.
Mama beranjak seakan mengerti.
"Sayang kamu tetap di sini?" Mama sengaja memperingatkan Moses karena pria tampan itu masih engan beranjak dari tempat duduknya.
Moses memutar bola matanya malas, lalu segera beranjak. Dan kini tinggallah kami berdua dengan mulut tertutup.
"Sayang aku panaskan dulu, tunggu sebentar ya?" Alfred beranjak sembari mengangkat napan.
__ADS_1
"Tidak perlu, lagi pula belum dingin-dingin amat bukan? sini biar aku cicipi," kataku.
Alfred mengurungkan niatnya. Lalu dia mendekatku, meletakan mangkok di hadapanku.
"Maaf jika tidak sesuai dengan seleramu," ujar Alfred sembari mendudukkan dirinya di sampingku.
Aku menelan ludah karena menyadari kedekatan kami berdua. Untuk menutupi kecanggungan itu aku segera menikmati masakan Alfred.
"Bagaimana?" Alfred memperhatikanku dan itu membuatku tidak nyaman tetapi aku berusaha terlihat biasa-biasa saja seperti orang baru.
"Enak kok bahkan rasanya mengalahkan para koki," pujiku.
Hmmm
Seketika wajah Alfred terlihat senang setelah mendengar cita rasa toppoki itu. Kami makan dengan keheningan hanya terdengar sendok beradu dengan piring.
Tidak terasa makanan didalam piring kandas tak bersisa. Aku yang awalnya tidak menyukai makanan itu seakan ketagihan, toppoki buatan Alfred lumayan enak dan cocok di lidahku.
Aku meletakan sendok di atas piring kosong, lalu meraih tisu dan mengusap mulutku.
Tiba-tiba Alfred meraih wajahku agar menghadap kepadanya. Aku kaget tetapi berusaha diam dan ingin tau apa maksud dari Alfred.
Jempol jari tangan Alfred mengusap ujung bibirku.
"Ada sisa makanan yang tertinggal," ujar Alfred tanpa merasa jijik menjilati jari jempolnya. Maklum makanan itu mengandung kuah kental sehingga akan berantakan kemana-mana jika tidak hati-hati.
Mataku membulat melihat hal itu. Sungguh perlakuan Alfred membuatku syok. Alfred beranjak membawa piring kotor lalu segera mencucinya, sedangkan aku masih terpaku tidak percaya, bahkan tidak menyadari keberadaan Alfred.
"Sayang ayo kamu harus segera minum obat," suara bariton Alfred membuat lamunanku buyar.
Aku menelan ludah lalu beranjak bangkit. Alfred menuntunku sepanjang jalan menuju kamar.
°°°°°°
Seusai minum obat aku segera bergabung dengan Keenan serta Kiran. Sedangkan Alfred masih berada di kamar mandi.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka sehingga membuatku memiringkan tubuh menghadap anak-anak yang masih terlelap.
Alfred mendudukkan dirinya ditepi ranjang.
"Apa keberadaanku di kamar ini membuatmu tidak nyaman?" tanya Alfred memastikan perasaanku.
"Tidak masalah," sahutku dengan singkat karena tidak tau harus mengatakan apa.
Alfred membaringkan tubuhnya di samping Keenan dengan posisi menghadap, dalam arti menghadapku juga.
Kasur ini berukuran king size jadi bisa menampung kami berempat, bahkan masih luas.
Alfred pandangi wajah tenang terlelap Keenan dan Kiran, seketika bibir itu melengkung indah.
"Son cepat besar biar ada yang gantiin Daddy, Daddy ingin pensiun dini," ucap Alfred sembari mengusap kening Keenan. "Biar ada waktu untuk bersama Mommy," imbuh Alfred dengan mengalihkan tatapannya kepadaku.
Jleb
Aku tersentak karena kepergok sejak tadi memperhatikan interaksi mereka berdua. Alfred menyunggingkan senyuman kepadaku, aku berusaha tenang.
"Sayang kamu sangat cantik, seperti Mommy," ucap Alfred memuji kecantikan Kiran bahkan menyamakan paras kami berdua. Seketika wajahku bersemu merah sehingga membuatku membuang muka tanpa disadari oleh Alfred.
Setelah mendaratkan kecupan ke wajah masing-masing Alfred merubah posisi baringnya menjadi terlentang dengan kedua tangan terlipat di kepala, pandangannya ke ara langit-langit kamar bernuansa putih itu.
"Isabel apa sedikitpun kamu tidak mengingat?" ujar Alfred tanpa mengalihkan pandangannya.
Aku menarik nafas panjang, merubah posisi tidurku juga.
"Maaf aku tidak mengingat apapun," sahutku sembari mengigit bibir bawahku.
Hmmm
Alfred memiringkan tubuhnya menghadap kearah kami.
"Sayang aku harap ingatanmu cepat kembali karena aku tidak ingin hidup diliputi kesalahan dimasa lalu,"
Aku lalu menatap Alfred.
"Memangnya masa lalu apa? maaf aku sama sekali tidak mengingat," tanyaku sembari memegang kepalaku.
"Apa kamu penasaran? jika begitu berjuanglah untuk sembuh. Ketika ingatanmu kembali akan aku ungkapkan isi hati ini tetapi sekarang belum saatnya karena kamu belum ingat apa-apa," ungkap Alfred.
"Aku jadi penasaran," aku membatin.
Hmmm
Hening, kini suasana kamar sangat hening. Tanpa menunggu lama deru nafas halus terdengar, menandakan Alfred sudah
__ADS_1
asuk ke alam mimpi.
Aku menatap wajah Alfred, Keenan serta Kiran secara bergantian. Wajah ketiganya indentik sangat mirip.
Aku beranjak turun dari ranjang, lalu mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Alfred. Sebelum menyelimuti Alfred, aku memperhatikan wajah lelah Alfred.
Tanpa sadar tangan ini terulur merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah tampan itu.
"Seandainya dari awal hubungan kita seperti ini, maka akulah orang yang paling bahagia di dunia ini. Kenapa aku mengatakan itu? karena sikap manismu, perhatianmu, sungguh luar biasa dan aku bahkan tidak mengenali sisi burukmu dimasa lalu. Aku sangat percaya kamu berjuang untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, tetapi hatiku masih sulit untuk menerima apapun," aku membatin tanpa ingin menarik tanganku.
Alfred merubah posisi tidurnya sehingga tanpa sadar dia menarik tanganku membawa kedalam dekapannya sehingga membuat mataku membulat kaget.
"Dulu aku mengungkapkan perasaanku kepadamu, bahkan aku masih sangat ingat jelas bagaimana reaksi wajahmu, ya reaksi ejekan dan penuh tawa. Apa kamu tau apa yang kurasakan pada saat itu? kecewa ya kecewa karena telah mencintai orang yang salah, bahkan rasa cinta ini masih melekat di hati ini. Di hati ini hanya terukir namamu untuk selamanya," aku kembali membatin.
Aku menghela nafas panjang, berusaha menarik pelan tanganku. Ketika berhasil ditarik aku kembali berbaring ditempat semula. Ketiga orang yang aku sayangi dan cintai seakan tidur sangat nyenyak. Sebegitu kuat ikatan batin ketiganya. Biasanya Keenan maupun Kiran tidak pernah tidur nyenyak seperti ini tetapi malam ini mereka engan untuk membuka mata dan merasa lapar.
Tidak berselang lama aku juga ikut masuk ke alam mimpi.
°°°°°°
Keesokan harinya
Kini kami sedang berkumpul di ruang keluarga. Kiran sedang dalam gendongan Alfred sedangkan Keenan dalam gendongan Gabriella.
Mereka berbincang-bincang banyak hal, yang pastinya aku banyak diam. Sedangkan Alfred sejak tadi raut wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang hilang.
"Beberapa jam lagi aku akan berangkat, jadi izinkan aku bermain dengan Keenan dan Kiran," ujar Alfred.
"Silahkan sayang, bawalah istri dan kedua cucu Mama ke kamar," ucap Mama seakan mengerti.
Alfred tersenyum mendengar perkataan Mama.
"Sayang aku ingin menghabiskan beberapa jam bersama kalian," ucap Alfred sembari bangkit.
Mendengar hal itu membuatku sangat malu dan hanya bisa menundukkan kepala.
Gabriella meletakan Keenan di stroller sedangkan Kiran masih dalam gendongan Alfred.
"Biar aku yang dorong," Alfred langsung mendorong stroller menggunakan tangan kanannya.
Papa, Mama dan Gabriella memandangi kami sembari menyunggingkan senyuman.
Didalam kamar Alfred benar-benar menghabiskan waktu dengan Keenan dan Kiran, bahkan dia sengaja tidak membuat mereka tidur. Aku hanya bisa memperhatikan interaksi mereka.
Ganti popok serta membuatkan susu, Alfred yang mengerjakannya sedangkan aku hanya duduk manis di sofa panjang yang menghadap televisi lebar.
Mungkin karena sudah sangat ngantuk Keenan maupun Kiran tidur begitu saja sehingga membuat Alfred tertawa kecil. Sungguh kedua bayi ini sangat manis dan mengemaskan sehingga membuat Alfred engan untuk meninggalkan mereka.
"Apa mereka sudah tidur?" kataku karena menyadari Alfred menghampiriku, lalu duduk di sampingku.
"Iya sepertinya mereka kelelahan," sahut Alfred sembari melirik arloji di pergelangan tangannya.
Alfred menegakkan tubuhnya lalu membasahi bibirnya.
"Aku akan pergi dan akan kembali lagi tetapi tidak tau kapan waktunya," ujar Alfred dengan mata memerah. Alfred meraih wajahku, merapikan anak rambut yang menghalangi wajahku. "Semoga ingatanmu sudah kembali ketika aku kembali untuk menjemput kalian," imbuhnya tanpa melepaskan tatapannya.
Aku sesak dengan kedekatan wajah kami bahkan menahan nafas. Alfred mengatup bibirnya dengan sorot mata sendu.
Deg
Alfred mencivm bwbirku bahkan lebih dari itu. Mataku membulat dengan tubuh membeku mendapat serangan dari Alfred. Aku tidak membalas sehingga membuat Alfred terpaksa menyudahi.
"Maaf aku tidak dapat menahannya," bisik Alfred sembari mengusap bwbirku yang basah akibat olah raga bwbir yang baru usai dilakukannya.
Aku langsung membuang muka sembari mengatur detak jantung yang tidak normal.
"Baiklah saatnya aku akan pergi, titip anak-anak," lirih Alfred dengan mata berkaca-kaca setelah mengecup seluruh wajah Keenan dan Kiran.
"Jangan khawatirkan kami. Jagan abaikan kesehatanmu dan jangan terlalu lelah karena pekerjaan itu tidak pernah ada kata habisnya," ucapku dengan sesak untuk melepaskan Alfred. Hati dan ucapanku tak sejalan.
Alfred langsung memelukku dengan erat, menampung kerinduan yang akan dia rasakan nantinya.
"Percayalah aku akan kembali," bisik Alfred tanpa sadar meneteskan air didalam pelukanku.
"Memangnya kamu mau kemana? kenapa sejak kemarin mengatakan itu?" aku membatin dengan perasaan khawatir jika ada sesuatu yang terjadi.
Alfred tersenyum lalu melangkah gontai menuju pintu kamar. Sebelum menutup pintu Alfred menoleh ke belakang, memandangiku dengan senyuman seperti dipaksakan.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Ada karya baru dengan judul SUAMI TAK DIANGGAP. Jika berkenan silahkan tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya.
Salam sehat🤝🤝🤝
__ADS_1