MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 95. Kedai Kopi


__ADS_3

Cuaca begitu cerah tetapi tidak secerah hati seorang wanita cantik saat ini. Di sebuah pemakaman elit seorang wanita tengah berlutut sembari meneteskan air mata.


"Honey aku sangat merindukanmu. Apa saat ini kamu melihatku?" lirih Gabriella sembari mengusap nisan atas nama Bernat.


Gabriella berulang-ulang menyeka air mata yang tak berhenti meluncur membasahi kedua pipinya.


"Seandainya kamu masih hidup, aku tidak akan terluka seperti ini. Pasti sekarang kita akan bahagia selamanya dengan keluarga kecil kita, seperti yang sudah kita rancang," lirih Gabriella seakan berbicara dengan Bernat. "Tetapi itu hanya tinggal kenangan, kamu pergi meninggalkanku, kamu tidak setia honey hiks.... hiks...." sekali lagi tangis Gabriella pecah sembari menepuk-nepuk pusara itu. Hatinya sakit dan sesak mengingat kenangan serta cara tragis mantan kekasih mengakhiri hidupnya yang tak luput dari keterlibatannya.


Sungguh sesosok Bernat sangat berpengaruh dalam kehidupan Gabriella. Pria pertama yang berhasil memporak-porandakan hatinya. Pria pertama yang menjadi cinta pertamanya. Pria pertama yang sangat mencintainya atau menyayanginya setelah sang Papa.


"Tuhan seandainya aku membuka hati untuk orang lain apakah itu salah? benar yang dikatakan mereka, perjalanan hidupku masih panjang," Gabriella membatin dengan tatapan tanpa berkedip untuk beberapa saat di bingkai foto Bernat.


Kedua tangan terkepal erat, menahan gejolak hati yang sangat terluka. Tangisan pilu itu hanya disaksikan oleh angin sepoi-sepoi.


"Aku mencintaimu honey dan sampai kapanpun cinta serta namamu terukir di sini tetap abadi," lirihnya kembali dengan kedua tangan mendekap dadanya.


Tanpa disadari seorang pria menghentikan langkahnya ketika mendengar dengan lantang pernyataan terakhir Gabriella.


Seketika dadanya seperti dihantam bebatuan. Sungguh rasanya begitu sesak, bahkan untuk sesaat sangat sulit mengambil nafas.


Gabriella masih betah dengan posisi awal. Tanpa menghentikan meneteskan air mata.


Tiba-tiba isak tangisnya terhenti ketika matanya menangkap seseorang menyodorkan sapu tangan.


"Mungkin ini bisa membersihkan air mata di wajahmu," ujar pria itu.


Gabriella menoleh ke samping, seketika dia kaget.


"Andre!"


Andre mengangguk sembari tersenyum halus.


Gabriella berusaha bangkit berdiri dengan dua kaki terasa kram akibat sudah lama berlutut.


Hiks.... hiks...


Deg


Tubuh Andre membeku mendapat pelukan dari Gabriella yang tanpa dia sangka. Gabriella terisak dalam pelukan itu untuk mencurahkan kesedihannya.


Tangisan Gabriella begitu terdengar pilu di telinga Andre.


"Kenapa dia pergi meninggalkanku Andre? jika saja musibah itu tak terjadi, dia pasti masih hidup hiks.... hiks...." lirih Gabriella tersendat akibat menangis.


Andre memejamkan mata mendengar hal itu. Sungguh pilu serta terenyuh apa yang dikatakan Gabriella.


Seketika ingatannya terbesit dimasa lalu, dimana dia menyaksikan kematian tragis putra Tuannya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang tangan Andre tertarik membalas pelukan itu, bahkan tangan kanannya mengusap punggung Gabriella yang bergetar akibat menangis.


"Sabar! Semua itu bukan kesalahan kamu, semua sudah menjadi rencana yang di atas," akhirnya Andre tidak tahan lagi untuk berkata.


Gabriella menghentikan tangisannya, lalu pelan-pelan melepaskan pelukan erat tersebut. Gabriella pandangi wajah Andre yang kini dengan mata memerah.


Andre mengusap wajah Gabriella yang dibanjiri air mata dengan sapu tangan tadi. Gabriella tidak menolak sama sekali.


Seketika keduanya terlihat kikuk, baru menyadari keadaan mereka.


"Aku terlalu cengeng," ucap Gabriella berusaha melengkungkan bibirnya dengan pandangan kebawah.


"Jika merasa hal itu, mulai sekarang jangan pernah lagi cengeng," sahut Andre dengan pandangan ke pusara Bernat.


Gabriella mengerucutkan bibirnya.


Andre melangkah mendekat dimana makam kedua orang tua Alfred setelah meletakan sebuket bunga di pusara Bernat.


Andre juga melakukan hal yang sama, meletakan buket bunga ke masing-masing. Andre lalu berjongkok tepat di sisi nisan Daddy Alfred.


"Daddy saatnya tanggungjawab sudah usai. Tuan sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, bahkan sangat bahagia. Tuan memiliki seorang istri seperti yang Daddy inginkan. Putri dari Tuan Januar, seperti yang pernah Daddy inginkan untuk menjodohkan mereka kelak dan itu terjadi. Daddy memiliki tiga cucu sekaligus, cucu yang tampan dan cantik, sungguh kebahagiaan Tuan luar biasa. Terima kasih atas semua jasa Daddy dalam hidupku," ungkap Andre pelan tetapi masih terdengar jelas di telinga Gabriella karena tanpa Andre sadari Gabriella berdiri di belakangnya dengan jarak sangat dekat.


Andre bangkit ingin menyudahi, seketika dia kaget dengan sentuhan tubuh Gabriella karena tidak tau jika wanita dengan mata sembap itu berdiri di belakangnya.


"Aku duluan," ujar Andre.


"Kamu bilang tanggungjawab usai? maksudnya apa?" tanya Gabriella karena penasaran.


"Hmmm apa kamu punya waktu? keluar dari area pemakaman ini, di persimpangan sana terdapat kedai kopi. Sebaiknya kita mengobrol di sana, hmmm tidak enak di sini nanti didengar oleh mereka-mereka," ujar Andre sembari menunjuk beberapa makam.


Hahaha.....


Seketika tawa Gabriella pecah dengan tidak sadarnya. Bahkan saking lucunya keluar air mata dari ujung matanya.


Sungguh Andre senang melihat atau mendengar tawa itu. Seketika bibirnya melengkung.


Opst


Seketika Gabriella membungkam mulut dengan kedua telapak tangannya ketika dia sudah sadar.


"Apa yang kulakukan?" batin Gabriella sembari mengigit bibir bawahnya dengan kikuk.


Andre tidak menghiraukan bahkan pura-pura memainkan ponselnya, dia tau jika Gabriella merasa canggung akibat tawanya tadi.


"Ayo," seru Andre melangkah mendahului Gabriella.


Gabriella masih merutuki kebodohannya.

__ADS_1


"Honey aku pamit pulang," gumam Gabriella sembari mengusap bingkai foto Bernat. Andre mendengarkan gumaman itu tetapi tidak membuatnya membalikan tubuh.


°°°°°°


Di kedai kopi seperti yang dikatakan Andre, di situlah mereka mengobrol. Kedai kopi dengan area terbuka sehingga mendapat angin segar.


Keduanya menikmati racikan kopi yang menjadi menu andalan di kedai tersebut.


"Aku masih menagih dengan perkataanmu tadi hmmm," ucap Gabriella kembali kepada topik utama.


Andre meletakan gelas kembali ke atas lantai.


"Andre...." Seru Gabriella karena pria itu tak kunjung menjawab.


Andre menegangkan tubuhnya sembari menyusupkan jari-jemari tangannya sendiri.


"Tanggungjawab untuk menjaga Tuan telah usai, sepertinya aku....."


"Mengundurkan diri, begitu?" potong Gabriella menebak.


Andre menganga mendengar tebakan yang mengenakan itu.


"Benar begitu Andre?" tanya Gabriella sekali lagi.


"Iya, aku akan mengundurkan diri dan ingin tinggal bersama Adikku di negara x," ujar Andre tanpa menatap lawan bicaranya.


Gabriella membeku mendengar penuturan Andre yang tiba-tiba itu.


"Kenapa tiba-tiba? apa kamu ada masalah dengan Alfred?"


"Ini tidaklah tiba-tiba, sudah lama aku rencanakan. Sesuai janjiku dulu dengan Tuan besar. Bukankah Tuan sudah bahagia sekarang? sudah memiliki keluarga, dan tidak menjadi yatim lagi?" ungkap Alfred. "Aku tidak memiliki masalah apapun karena Tuan adalah orang yang banyak berjaksa dalam hidupku," imbuhnya dengan pandangan jauh ke depan.


Gabriella mengigit bibir bawahnya sembari memutar bola matanya. Kenapa mendengar Andre ingin pergi dari negara ini perasaanya tidak setuju.


"Apa karena kamu ingin menikah dengan Vini?" tebak Gabriella yang berhasil membuat Andre mengalihkan tatapannya.


"Jika itu alasannya bukankah lebih baik?"


Deg


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


•Selamat hari raya lebaran, rayakan hari kemenangan ini dengan penuh suka cita dan bahagia🙏


Kepada semua para reader yang merayakannya. Di tunggu kue lebarannya karena author tidak lebaran🤗

__ADS_1


Mohon maaf lahir batin👏


__ADS_2