MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 191~MDS2


__ADS_3

Rebecca menjalani kehamilannya penuh dengan kebahagiaan. Keenan sangat siaga 24 jam ada untuk dirinya.


Hari ini mereka akan ke rumah sakit untuk kontrol dan ingin melihat jenis kelamin buah cinta mereka.


"Sayang apa kamu sudah bersiap?" tanya Keenan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sudah sayang, tinggal nungguin kamu saja," ucap Rebecca seraya mengambil pakaian ganti Keenan.


Keenan segera memakai bajunya. Dengan susah payah Rebecca bangkit. Usia kehamilannya memasuki bulan ke lima tetapi perutnya nampak membesar.


Setiap bulan ia melakukan USG hanya memastikan perkembangan bayi mereka tetapi sengaja merahasiakan dulu jenis kelamin buah hati mereka, dan hari ini mereka akan mengetahui jenis kelamin itu.


"Sayang bisa cepat sedikit? Mommy sudah nunggu di rumah sakit," ucap Rebecca karena baru saja di kirim pesan oleh Mommy Isabella.


Ternyata wanita yang selalu memberi support kepada Rebecca ikut menemani atau melihat calon cucu pertama mereka.


"Ayo," Keenan segera merangkul tubuh Rebecca.


***


Di rumah sakit


"Kenapa mereka sangat lama?" gumam Mommy Isabella.


Sejak tadi ia menunggu, bahkan sengaja datang lebih cepat.


Seraya menunggu kedatangan Keenan dan Rebecca ia merespon via Videocall dengan Daddy Alfred. Sejak tadi ponsel itu menyala.


"Mom...." Panggil Rebecca hingga membuat wanita paruh baya itu menoleh.


"Sayang kalian akhirnya datang juga?" ucap Mommy Isabella, lalu mengakhiri sambungan telepon.


"Maaf Mom jadi lama menunggu," ucap Rebecca dengan tidak enak hati.


"Tidak masalah. Mommy by pasti anak nakal ini berulah," tuduh Mommy Isabella kepada Keenan.


"Sakit Mom," rengekan Keenan karena di jewer oleh sang Mommy.


Rebecca tertawa lepas melihat hal itu.


"Rasakan," ucapnya.

__ADS_1


***


Kini mereka berdua di ruang pemeriksaan. Dengan perasaan tidak sabar mereka menunggu keterangan dokter.


"Bayi Tuan, Nona berkembang dengan baik. Dengan berat sekian-sekian. Selamat bayi berjenis laki-laki," terang sang dokter.


Deg


Ketiganya cukup kaget karena mereka rupanya menginginkan anak laki-laki atau cucu laki-laki, dan kini keinginan mereka terkabul.


"Sayang anak kita jagoan," ujar Keenan dengan wajah berseri-seri, memeluk Rebecca dengan penuh kebahagiaan.


Rebecca hanya mampu mengangguk seraya meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan.


"Ya Tuhan terima kasih," ucap Mommy Isabella dengan mata berkaca-kaca.


"Saya turut bahagia Tuan, Nyonya, Nona." Ucap sang dokter.


"Terima kasih dok," balas Rebecca.


°°°°°°


Di balkon kamar


"Jagoan, hentikan tendanganmu. Mommy kesakitan ini," celoteh Keenan menirukan suara anak-anak.


"Habis Daddy nakal sih," ucap Rebecca juga menirukan suara anak-anak.


"Apa kamu tahu jika Daddy sangat mencintai dan menyayangi Mommy. Bahkan Daddy tidak akan bisa hidup tanpa Mommy," ucap Keenan seakan mengungkapkan isi hatinya.


Rebecca terdiam sejenak, dan ini saatnya ia ingin mengetahui sejak kapan perasaan itu tumbuh di hati Keenan. Apakah baru-baru ini? atau sejak kapan?.


"Hmm sejak kapan Daddy?" ucap Rebecca seakan yang menjawab adalah calon buah hati mereka.


"Sejak Mommy lahir," sahut Keenan.


Rebecca menyipitkan matanya mendengar jawaban Keenan.


Keenan beranjak, mendudukkan dirinya. Hingga mereka saling berhadapan.


"Sayang aku mencintaimu dan menyayangimu sejak lahir. Entah itu cinta monyet atau ala-ala apapun itu tetapi perasaan itu tumbuh begitu saja," ungkap Keenan.

__ADS_1


Rebecca menggeleng, pertanda ia tidak percaya.


"Buktinya kamu benci kepadaku," ucap Rebecca seakan ingatan masa lalu terlintas dalam benaknya.


"Entahlah aku sendiri tidak paham. Mungkin karena kita menjadi saudara, hal itu membuat perasaan ini kecewa. Untuk membalaskan rasa kecewa itu aku terpaksa menjauhi bahkan menganggap kamu sebagai orang luar," sambungnya.


Rebecca bungkam. Pernyataan Keenan sama sekali tak pernah terbesit dalam pikirannya.


"Apa kamu percaya?"


Rebecca menggeleng.


"Buktinya kamu memiliki kekasih," lirih Rebecca dengan wajah menunduk, raut sedih terpancar di wajah itu.


Keenan menghela nafas.


"Itu karena aku merasa cukup cocok," pungkasnya.


"Hanya sekedar itu?" Rebecca ingin memastikan yang sebenarnya.


"Kami memang menjalani hubungan bertahun-tahun tanpa ada yang tahu. Percayalah sayang aku hanya mencintaimu, hanya mencintaimu sampai kapanpun."


"Alasan kamu pacaran dengan Sunny tidak jelas," celetuk Rebecca.


"Aku tidak mencintainya sayang, hanya namamu tetap di hati ini. Kami menjalani hubungan hanya sebatas pacaran biasa. Jangan berpikiran macam-macam. Kamulah orang yang pertama aku cium dan dicium setelah Mommy," pungkas Keenan dengan jujur. "Bahkan aku melakukan pertama kali hanya denganmu," sambungnya.


"Masalah kamu mendengar obrolanku dengan Gerry waktu itu, itu hanya ingin membuat kamu sakit hati kepadaku. Apa kamu tahu? karena aku cemburu ketika melihat dengan jelas kamu berpelukan dengan Lucky ketika berada di rumah sakit," cerita Keenan.


"Aku menyadari kedatanganmu," sambungnya.


Rebecca menatap dalam diam, mencari kebohongan di kedua mata Keenan. Tetapi ia tidak menemukan apa yang dicarinya.


"Aku percaya sayang, sangat percaya," ucap Rebecca.


Keenan langsung tersenyum. Tidak melewatkan kecupan di seluruh wajah itu.


"Sayang Daddy kamu sungguh keterlaluan kepada Mommy. Sungguh tega menyakiti hati Mommy selama ini. Mommy mencintainya dalam diam, eh ternyata diam-diam Daddy juga memendam perasaannya," celetuk Rebecca seakan curhat dengan calon buah hati mereka.


"Yang terpenting Daddy mendapatkan Mommy boy. Dan Daddy sama Mommy bersatu, dan bahkan berhasil memproses kamu," ujar Keenan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2