
Di malam yang dipenuhi bintang-bintang, di sanalah seorang pria berdiri dengan menadah kepalanya ke atas, menatapi indahnya kelap-kelip bintang.
"Malam ini adalah terakhir kalinya aku di tanah kelahiran. Semoga suatu saat aku bisa berkunjung kembali," gumam Andre dengan wajah yang sulit diartikan. Ya pria itu adalah Andre.
Andre sedang berada di sebuah taman kota, tetapi anehnya di malam itu taman seakan sepi, hanya ada beberapa orang saja dengan pasangan masing-masing.
"Gaby, ya Gaby. Aku tidak bisa memilikinya tetapi tidak salahnya menyimpan namanya di hati ini," ujar Andre seketika tersirat bayangan wajah Gabriella dalam benaknya. "Aku mencintaimu dalam diam karena aku sadar siapa aku dan siapa kamu. Kita diibaratkan bagai langit dan bumi," imbuhnya kembali. Andre masih menadah kepalanya ke atas seakan dia mengungkapkan hatinya kepada bintang. "Jutaan bintang inilah menjadi saksi bisu perasaan cintaku kepadamu Gaby," timpalnya. Andre benar-benar tidak menyadari situasi di sekitarnya, bahkan jeritan ungkapan hatinya begitu jelas bila Didengar dengan jarak beberapa langkah.
Deg
Langkah seseorang terhenti setelah mendengar penuturan seperti sedang mengungkapkan perasaannya dengan seorang diri.
"Andre, Andre menyukai bahkan mencintaiku," gumam Gabriella dengan bibir gemetar. Jujur jantungnya berdetak kencang, beda halnya ketika dokter Frans mengungkapkan perasaannya, dia tidak merasakan jantung bermasalah seperti saat ini.
"Gaby andai kamu tahu alasanku pergi hanya untuk bisa melupakanmu karena jujur saja, aku tak sanggup melihat dirimu bersanding dengan orang lain," pungkas Andre tanpa mengubah posisinya.
"Andre...." lirih Gabriella tidak tahan lagi berdiri di belakang Andre, hanya dua atau tiga langkah panjang jarak diantara mereka.
Andre membulatkan mata mendengar seseorang yang belum jelas asal suara siapa itu yang terdengar dari arah belakang. Merasa penasaran Andre membalikan badan.
Deg
"Gaby!" Gumam Andre tanpa mengeluarkan suara.
Kaget, tak percaya tentu saja saat ini dirasakan Andre. Benarkah wanita yang sedang berdiri dengan wajah sendu dihadapannya ini adalah Gabriella? wanita yang memporak-porandakan hatinya? sungguh Andre belum percaya sehingga membuatnya berkali-kali mengerjapkan mata.
"Kamu tidak sedang bermimpi bahkan salah melihat Andre, aku adalah Gabriella Januar. Wanita yang baru saja kamu bicarakan, wanita yang baru saja mendengar pernyataan cinta darimu," ucap Gabriella dengan bibir bergetar tanpa mengalihkan pandangannya.
Cahaya lampu yang mengelilingi taman membantu penglihatan mereka karena posisi keduanya sedang berada di bawah cahaya lampu.
__ADS_1
Seketika mulut Andre menganga dengan wajah merona merah. Malu tentu saja yang dia rasakan pada saat itu, jika dia adalah seorang nyamuk ingin sekali dia menghinggap di mulut Gabriella supaya wanita itu berhenti mempermalukan dirinya, dengan mengungkapkan kembali kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
Hening, dengan tatapan diam itulah yang terjadi saat ini. Andre maupun Gabriella membeku dengan saling menatap dalam diam.
Kaki Andre tergerak melangkah mendekati Gabriella. Tanpa tahan lagi dia memberanikan diri menarik tubuh Gabriella membawa kedalam pelukannya. Katakanlah pada saat ini pikiran normal Andre tak terkendalikan dan melupakan siapa dia dan siapa Gabriella.
Gabriella membeku mendapat pelukan erat dari Andre. Bukan hanya sekedar memeluk, Andre bahkan mengusap kepala Gabriella dan membenamkan wajahnya di pucuk kepala Gabriella. Merasakan usapan lembut itu membuat jantung Gabriella berdebar. Rasa nyaman tentu saya yang dia rasakan.
Andre memejamkan mata sembari menghirup aroma wangi dari rambut Gabriella dengan jantung berdegup tak karuan. Dia yakin Gabriella menyadari hal itu tetapi Andre seakan tak peduli.
"Maaf," gumam Andre sembari menguraikan pelukannya, apa lagi dia tidak mendapatkan balasan dari Gabriella. Senyuman pilu melengkung di bibirnya, dengan hal itu dia sudah tahu jawaban hati Gabriella.
Beberapa detik kemudian Gabriella mengurungkan niat Andre untuk melepaskan pelukan itu, dengan tak kalah erat Gabriella memeluk Andre dengan wajah dibenamkan di dada kekar itu.
Mata Andre membulat tak percaya. Sedangkan Gabriella memejamkan mata sesaat.
"Percaya atau tidak, itu adalah isi hatiku," ucap Andre dengan bibir bergetar sembari memejamkan mata dengan kedua tangan semakin mengeratkan pelukan itu, pelukan pertama yang pernah dia rasakan dalam hidupnya dengan lawan jenis.
"Aku percaya," lirih Gabriella dengan kepala mengangguk sehingga dapat dirasakan oleh Andre.
"Aku menyukai bahkan jatuh cinta kepadamu Gaby," ungkap Andre dengan memberanikan diri masih dalam keadaan berpelukan.
Senyuman melengkung di bibir Gabriella. Entah apa arti dari senyuman itu. Perasaan senang bahkan lain dia merasakannya ketika Andre mengatakan itu. Gabriella bum paham dengan hatinya sendiri.
Gabriella menarik wajahnya dari dada Andre, lalu menadah wajahnya ke atas sehingga tatapan mereka bertemu dengan jarak wajah hanya berapa senti saja.
"Apa begini caramu menyatakan cinta?" sindir Gabriella dengan wajah tersenyum. "Sungguh tak romantis," cicitnya kembali ingin menggoda Andre. Dia tahu tipe pria seperti Andre.
Glek
__ADS_1
Andre menelan ludah mendengar sindiran Gabriella. Jujur dia bukanlah tipe pria romantis karena selama ini dia tak memiliki kekasih.
"Aku tidak tahu bagaimana karena aku bukanlah pria romantis," ujar Andre dengan wajah memerah.
Keduanya melepaskan pelukan masing-masing.
"Andre aku ingin mendengar langsung tepat di hadapanku," lirih Gabriella dengan jantung berdebar.
Andre kelabakan mendengar penuturan Gabriella. Dengan cepat dia memutar otak, seketika bayangan di drama yang pernah dia tonton terlintas begitu saja. Andre menoleh ke kanan kiri mencari sesuatu. Tatapannya jatuh dimana ada setangkai bunga mugunghwa.
Andre melangkah lalu memetik tangkai bunga itu, dan kembali lalu berlutut dihadapan Gabriella dengan tangan menggenggam setangkai bunga tersebut.
"Gabriella Januar pertama kali melihatmu jantung ini seakan menggila dengan tidak tahu malunya berdegup kencang. Seiring berjalannya waktu perasaan ini semakin tidak dapat aku sembunyikan. Tawa, senyum serta wajah cemberut itu terus-menerus terbayang di manapun aku berada. Gaby aku sadar ini tidak pantas aku lakukan kepada wanita seperti dirimu, putri dari keluarga terpandang yang kamu sendiri tahu perbedaan kita sangat jauh bagaikan langit dan bumi. Tetapi izinkanlah aku mengungkapkan perasaanku kepadamu, menurutku tidaklah salah, tetapi jika menurutmu tidak pantas aku akan berhenti," ungkap Andre panjang lebar bahkan minta persetujuan Gabriella terlebih dahulu.
Gabriella terenyuh melihat cara Andre yang begitu lembut bahkan sangat menghormatinya.
Gabriella hanya bisa mengangguk beberapa kali sebagai jawaban dari perkataan Andre. Tatapan keduanya tetap bertemu bahkan keduanya tak memutuskan tatapan itu.
"Gaby aku menyukaimu, jatuh cinta bahkan sangat mencintaimu. Aku bukanlah tipe pria yang romantis dan bahkan aku tidak tahu yang namanya berkencan. Ribuan bintang di atas sana serta setangkai bunga mugunghwa inilah menjadi saksi bisu pernyataan cintaku kepadamu. Gaby maukah kamu menjadi kekasihku?" ungkap Andre dengan mata memerah. "Jika kamu menolak buang bunga ini segera," lirihnya dengan bibir bergetar.
Gabriella sungguh terenyuh dengan ungkapan hati Andre. Sehingga ingin membuatnya menangis.
"Aku tidak ingin menjadi kekasihmu!" Ucap Gabriella sembari meraih bunga itu dari genggaman Andre.
Deg
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1