MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 92. Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Gabriella melamun didalam ruangannya. Perkataan Tante Meysi serta kedua orang tuanya masih terngiang-ngiang.


Haruskah saat ini dia membuka hati untuk orang lain? seketika kenangan bersama mendiang Bernat dimasa lalu mengingatkannya, dimana mereka sangat bahagia.


Gabriella meraih ponsel di atas meja kerja, lalu membuka album foto.


"Honey aku sangat merindukanmu? apa kamu juga merasakan hal itu?" gumam Gabriella sembari terisak. "Honey apa aku mengingkari janji setia jika sekarang aku membuka hati untuk seseorang, mengantikan dirimu?" imbuhnya sembari mengusap wajah Bernat di layar ponselnya.


Gabriella menghela nafas sesak. Sungguh sangat menyakitkan ketika dia kembali mengingat kenangan dimasa lalunya, bagaimana bisa dia mencintai orang lain, walaupun tidak munafik dia merasa nyaman dengan seorang pria tetapi tidak tau perasaan apa itu.


Tok tok


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk sehingga dengan cepat Gabriella menyeka air matanya dan kembali mematikan layar ponsel. Merasa tenang baru dia mempersilahkan untuk masuk.


Klek


"Selamat pagi Nona," sapa Geo dengan beberapa berkas di tangannya.


"Pagi juga Gea. Hmmm apa jadwalku hari ini?"


"Pagi ini jadwal Nona kosong, dan siang nanti jadwal Nona bertemu klien. Kebetulan klien tidak bisa ke kantor sehingga Nona akan menemui langsung di kantornya," terang Gea.


Keterangan Gea membuat Gabriella mengerutkan kening karena dia tau dimana kantor sangat klien yang sedang mereka tangani.


"Apa alasan klien membatalkan pertemuan di kantor? bukankah perusahaan Tuan Micho cukup jauh?" ucap Gabriella.


"Seperti yang diinformasikan asisten, Tuan Micho kesehatannya bermasalah Nona. Sekitar 1 jam menempuh perjalanan Nona, itupun jika tak terjebak macet. Atau kita batalkan saja?" ucap Gea.


"Tidak Gea karena jadwal selanjutnya akan lebih padat, dan kita tidak boleh mengecewakan klien," sahut Gabriella dengan bijaksana dalam menangani klien.


"Baik Nona saya akan mempersiapkan berkas-berkas," ucap Gabriella, dan tak lama undur diri.


°°°°°°


Tepat setelah makan siang Gabriella berangkat menuju dimana kantor klien. Dia menyetir sendiri dikarenakan Gea tidak bisa ikut serta karena tiba-tiba menemui klien yang lainnya.


"Semoga saja tidak macet," gumam Gabriella sembari melirik arloji di tangannya.


Ting


Notifikasi ponsel membuat Gabriella meraih ponselnya.


Tante Meysi: ["Sayang jangan lupa makan siang."]


Itu adalah pesan dari Tante Meysi.


Gabriella: ["Iya Mom. Terima kasih sudah mengingatkan."]


Tante Meysi: ["Semangat sayang."]


Gabriella tersenyum membaca pesan itu.


1 jam perjalanan kini dia tiba di perusahaan milik kliennya. Tidak ingin membuang waktu Gabriella bergegas memasuki loby kantor.


"Selamat siang. Saya ingin menemui Tuan Micho," ucap Gabriella kepada resepsionis.


"Selamat siang Nona. Apakah sudah membuat janji?"

__ADS_1


"Sudah. Sampaikan saja dari Gabriella," ucap Gabriella yang tidak ingin menyebutkan nama kepanjangannya.


Resepsionis segera menghubungi asisten CEO.


"Anda segera menemui Tuan di ruangannya Nona, di lantai 7," ucap resepsionis tersebut mempersilahkan Gabriella.


"Terima kasih." Gabriella langsung menuju lift.


Tiba di ruangan, mereka langsung membahas inti dari pertemuan itu dengan serius.


Gabriella menghela nafas lega.


"Baiklah Tuan Micho, jika begitu saya undur diri," ucap Gabriella karena pembahasan sudah berakhir. Dia juga ingin cepat-cepat kembali, apa lagi cuaca tidak mendukung.


"Terima kasih Nona Gabriella," ujar Tuan Micho sembari berjabat tangan kembali.


°°°°°°


Gabriella dengan hati-hati mengendarai mobilnya. Petir serta angin mulai menghiasi langit yang nampak menghitam.


"Ya ampun sepertinya akan turun hujan lebat, moga saja aku tak terjebak," gumam Gabriella karena kebetulan saat ini dia melintasi jalanan yang lahan kosong beberapa meter.


Tiba-tiba steer mobil terasa berat dan membelok dengan sendirinya, serta suara bergemuruh. Seketika membuat Gabriella menepikan mobilnya.


Gabriella turun untuk mengecek lebih yakin karena dia sudah tau pasti ban mengalami kebocoran.


Ssst


Gabriella mendesis sembari memukul ban mobil bagian belakang.


"Astaga kenapa bisa bocor di tempat seperti ini?" cicit Gabriella dengan perasaan kesal. Bagaimana ini? kendaraan lain pun tidak ada yang lewat," imbuhnya dengan perasaan dongkol.


Rintik hujan disertai kilat mulai menyirami bumi.


Gabriella mengigit bibir bawahnya dengan posisi berdiri di samping mobil, ingin mencari bantuan. Ada beberapa truk lewat tetapi tidak menanggapi lambaian tangan Gabriella karena cuaca tidak mendukung.


Gabriella meraih ponselnya lalu ingin menghubungi Gea tetapi sayangnya jaringan sinyal kosong. Hal itu membuat wanita cantik itu semakin kesal.


"Ya ampun bajuku sudah basah, tidak mungkin aku masuk kedalam mobil. Jika begitu mana bisa mencari bantuan,' lirih Gabriella ingin menangis karena bunyi petir begitu keras.


Tin tin


" Nona.... Nona...."


Tiba-tiba klakson mobil dari arah belakang mengagetkan Gabriella yang tengah berjongkok ketakutan sehingga membuatnya berbalik.


" Gaby!"


"Andre!"


Seru mereka berdua dengan penuh kekagetan.


Seketika Gabriella bernafas lega setelah mengetahui siapa sosok yang sangat dia kenali, sejak tadi rasa takut itu memenuhi dirinya, apa lagi kawasan tersebut sangat asing baginya.


Deg


Seketika tubuh Andre membeku mendapat pelukan erat dari Gabriella.

__ADS_1


"Aku takut Andre, ban mobilku 1 jam lalu bocor," keluh Gabriella dalam pelukan.


Duar


Sekali lagi bunyi petir keras itu memenuhi suasana hening tersebut sehingga membuat Gabriella semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Andre hanya terdiam tanpa membalas.


Kedua tangan Andre menggantung, dia mengurungkan niatnya untuk membalas pelukan itu. Sedangkan Gabriella semakin membenamkan wajahnya di dada kekar Andre.


Andre memejamkan mata. Detak jantungnya jangan ditanyakan lagi, mungkin Gabriella menyadari hal itu. Sedangkan tubuh Gabriella terasa bergetar mungkin karena saking takutnya.


"Tenanglah, tidak ada yang perlu kamu takutkan," ujar Andre.


Menyadari sesuatu sehingga membuat Andre meletakan kedua tangannya di bahu Gabriella dengan mendorong tubuh Gabriella sehingga pelukan itu terlepas.


Tanpa berbicara apapun Andre menarik tangan Gabriella memasuki mobilnya. Didalam mobil keduanya sibuk mengelap tubuh yang sudah basah kuyup.


Andre segera meraih jas yang diletakkan di kursi bagian belakang.


"Pakai ini, sepertinya kamu kedinginan," ujar Andre tanpa ingin memandangi Gabriella, apa lagi kondisi pakaian Gabriella basah sehingga tidak pantas untuk dipandang oleh pria. Dimana Gabriella menggenakan rok span hitam sebatas lutut dengan baju kemeja lengan panjang warna putih polos.


"Kamu juga basah Andre," lirih Gabriella menatap Andre dengan lekat-lekat.


Andre menelan ludah, lidahnya keluh untuk mengatakan itu.


"Hmmm tutupi, maksudku....."


Dengan segera Gabriella meraih jas itu lalu menutupi tubuhnya. Dia sangat paham dengan maksud Andre setelah memperhatikan keadaannya.


Seketika senyuman mengembang di bibirnya karena Andre bukanlah tipe pria yang nakal, sangat persis seperti mantan kekasihnya. Walau dikenal playboy tetapi sangat pujaan hati menghormati dirinya.


"Bagaimana bisa kamu berada di kawasan ini?" tanya Andre.


"Aku menemui klien," sahut Gabriella sembari menahan dingin.


"Sendirian?"


"Iya karena Gea tidak bisa ikut. Soalnya ban mobilku bocor," kesal Gabriella.


"Kalau begitu biar aku antar pulang, masalah mobil akan ada yang mengurusnya. Kebetulan bengkel disekitar sini tidak ada," ujar Andre dengan pandangan jauh ke depan.


"Maaf menyibukkan. Hmmm kamu sendiri habis dari mana?"


"Mewakili Tuan bertemu klien."


"Terima kasih Andre," ucap Gabriella sembari memegang tangan Andre disertai senyuman.


Deg


Andre membeku, lalu tanpa sadar mengalihkan pandangannya kepada Gabriella.


"Terima kasih, jika tidak ada kamu maka aku tidak tau akan jadi apa. Jaringan pun tidak ada," ungkap Gabriella tanpa melepaskan tangannya.


Andre menyunggingkan senyuman tanpa sadar.


"Aku terpesona dengan senyum manismu Andre," bisik Gabriella, entah bermaksud bercanda atau serius hanya Gabriella yang dapat mengartikannya.


Seketika Andre membeku, lalu dengan cepat merubah posisinya dengan jantung tak karuan.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2