MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 8. Keterlaluan


__ADS_3

Sedikitpun aku tidak mencicipi makanan itu, hanya sekedar menyentuhnya saja aku enggan. Aku kembali berusaha memejamkan mata, ingin kembali terlelap. Ternyata keberuntungan berpihak kepadaku sehingga aku kembali terlelap dengan perut kosong.


Uum...


Aku menguap sembari meregangkan otot-otot yang terasa kram. Aku membukakan mata, aku lihat pesawat jet sudah mendarat, itu artinya kami sudah sampai di bandara Internasional Incheon-Seoul. Ya Alfred membawaku ketempat tinggalnya selama ini.


"Mari Nona," ucap Andre menghampiriku, ia menyadari kalau aku sudah terbangun. Sedangkan pria iblis itu aku tidak melihatnya, baguslah jika aku tidak melihat dirinya.


Aku menghela nafas panjang.


"Kenapa Nona tidak memakan makanan Nona?" tanya Andre.


Aku melirik di meja yang pada awalnya diletakan makanan tetapi aku tidak menemukannya lagi.


"Tuan Alfred protes," imbuhnya kembali yang berhasil membuat keningku mengerut.


Apa maksud Andre mengatakan Alfred memprotes, memangnya memprotes apa? aku tidak paham dan memang tidak peduli.


"Tuan? kamu memanggil dia Tuan? bukankah posisi kalian setara? bahkan dia sendiri memanggil nama langsung denganmu, sangat aneh." Ucapku kepada Andre sebelum beranjak bangkit.


"Mari Nona jangan banyak tanya," ujar Andre dengan wajah datar, seakan tidak suka dengan pertanyaanku. "Hmm Tuan sudah pergi dari tadi dan aku yang mengantar Nona," sambungnya kembali sehingga membuat langkahku terhenti.


"Aku bisa sendiri," sinisku. Ya pria ini 11,12 dengan sifat Alfred.


"Silahkan saja jika Nona mengetahui kediaman Tuan. Jika begitu aku permisi," dalam sekilas Andre meninggalkanku tanpa menoleh kebelakang lagi.


"Hah...." aku sontak kaget karena baru menyadari. Dengan secepat kilat aku berlari sebelum Andre menghilang. Tentu saja aku tidak tau alamat suamiku, eh pria yang akan menyiksaku lahir batin, itulah yang cocok untuk menyebutkan sosok dirinya.


Dari tangga aku masih dapat melihat Andre yang ingin memasuki mobil.


"Andre tunggu," teriakku sembari berlari. "Tunggu aku Andre," aku berteriak memanggilnya, tidak mungkin tak didengar tetapi seakan teriakanku tak berguna bagi dirinya sehingga mengabaikannya begitu saja.


"Apa?" bentak Andre kepadaku seketika aku berhasil menarik bajunya.


Huh.... huh... huh...


Aku mengatur nafasku, dada ini sangat sulit untuk menghirup oksigen. Tanpa menjawab aku masuk begitu saja kedalam mobil yang akan membawa kami ke bandara.


Tiba di bandara aku mengikuti langkah Andre dari belakang, sungguh miris keadaanku sekarang. Putri dari keluarga terkenal sekarang tidak ubahnya seperti tawanan para mafia.


Didalam mobil aku hanya memandangi jendela mobil dengan perasaan gundah gulana. Aku sama sekali tidak mengagumi keindahan kota Seoul karena ini bukan untuk pertama kalinya. Dulu semasa SMA aku dan Kak Gaby sering berlibur memilih negara ini.


"Sudah sampai Nona," suara bariton itu menyadarkan lamunanku. Bahkan aku tidak menyadari dimana kami sekarang. Aku melihat rumah besar serta mewah di depan mata. Segala pikiran mulai bertanya-tanya memenuhi isi kepalaku. "Apa Nona akan berdiam diri di mobil saja?" sindiran Andre kembali memudarkan lamunanku. Aku mendesah malas dan segera keluar dari dalam mobil.


"Ini rumah siapa?" tanyaku sembari memperhatikan.


"Menurut Nona?" bukannya menjawab Andre malah membuat pertanyaan yang bikin aku jengkel.


"Aku bertanya Tuan Andre!" Aku sengaja menekan panggilan itu sembari mengeram.

__ADS_1


"Kediaman Tuan. Apa Nona keberatan? secara Nona memiliki istana mewah dibandingkan ini?" tatapan Andre membuatku membuang muka.


"Jika boleh memilih lebih baik aku memilih tinggal di gubuk dari pada di rumah mewah seperti ini tetapi serasa didalam neraka," gumamku tanpa takut didengar oleh Andre, bukankah itu bagus? itulah menurutku.


Andre mengabaikan gumamanku dan langsung pergi meninggalkan aku yang berdiri mematung.


"Sebenarnya siapa dia? penuh teka-teki. Isabella tamat riwayatmu hiks hiks," aku menangis dalam hati.


Aku pun menyusul Andre.


"Aku hanya bisa mengantar sampai sini. Segeralah masuk sebelum Tuan menendang anda!" Ucapan Andre membuatku ngeri, apakah pria iblis itu melakukan seperti yang Andre lontarkan? sungguh aku tidak tenang sehingga membuat kedua lututku merasa bergetar.


Klek


Aku membuka pintu, ternyata pintu itu tak terkunci. Seakan menerima kedatanganku tanpa diundang oleh sang pemilik.


"Apakah rumah sebesar ini tidak memiliki ART?" gumamku sembari berjalan.


Sesaat langkahku terhenti dengan tubuh membeku melihat pemandangan menjij*kan di depan mataku. Dimana seorang wanita berpakaian seksi sedang duduk di pangkuan Alfred sembari mengusap wajah Alfred.


"Honey dia sudah datang," ucap wanita itu dengan nada manja tanpa ingin turun dari pangkuan Alfred, dia menyadari kehadiranku di sana.


"Biarkan saja honey, dia hanya lalat di rumah ini. Anggap saja dia mencari makanan kotor untuk dihinggapi," mulut berbisa Alfred merendahkan diriku yang saat ini menyandang sebagai istri sahnya. Demi apapun aku tidak pernah menduga jika diriku disamakan dengan hewan yang paling jorok.


Aku membuang muka untuk menghindari kedua mata ini, untuk menonton kemesraan mereka yang tidak tau malu. Bukan karena sakit hati tetapi mereka seakan tidak menghargai keberadaanku di sini.


"Honey ternyata dia sangat cantik," mataku membulat mendengar pujiannya. Wanita itu dengan nada tidak suka. Dia memperhatikan diriku dari ujung kaki sampai kepala seperti ingin menguliti tubuhku.


"Terima kasih honey," wanita itu tanpa merasa malu mengecup pipi Alfred.


Aku menelan ludah berusaha tenang. Darah ini sudah mengalir ke ubun-ubun. Kedua tanganku terkepal erat, ingin sekali memberi bungkeman di wajah mereka berdua tetapi keinginanku itu hanya bisa aku tahan.


Alfred mengangkat tubuh wanita itu dan mendudukkannya di sebelah dirinya.


"Honey sebaiknya kau berangkat sekarang juga," ujar Alfred.


"Baiklah honey. Hmm ingat jaga hatimu dan katakan siapa statusku di sini karena tidak ada waktuku untuk menjelaskan itu kepadanya," ucap wanita itu dengan tatapan sinis menatapku.


Alfred terdiam masih dengan wajah dinginnya, mungkinkah dia tidak ingin menunjuk wajah sedikit menyegarkan di hadapanku?.


Wanita itu langsung berlalu, dengan sengaja menyenggol bahuku sembari mengibas rambut panjangnya sehingga mengenai seluruh wajahku.


"Kasian sekali," ejeknya dengan wajah tersenyum mengejek.


Alfred mendekat kepadaku sehingga aku sedikit memundurkan kaki setelah kepergian wanita itu.


"Dia adalah istriku!"


Deg

__ADS_1


Mataku melotot dengan mulut menganga. Belum lagi jantung ini ingin copot mendengar pengakuan Alfred tentang hubungannya dengan wanita tadi. Apa dia bilang istri? apakah aku hanya salah mendengar? aku yakin aku tidak salah dengar karena suara itu sangat lantang. Alfred memberitahu kedudukan wanita yang ia cumbui tadi.


"Apa kau mendengar?" suara bariton meninggi Alfred menyadarkan kebungkamanku.


"Istri?" gumamku dengan sangat lirih. "Jadi aku statusku apa di sini?" batinku.


"Iya dia istriku yang sesungguhnya," akuinya kembali yang berhasil membuat dada ini seperti di hantam bongkahan baru besar, disertai pisau tajam yang menghujam tepat di hatiku.


"Kamu mempermainkan agama? bagaimana mungkin kamu melakukan pernikahan sakral ini sedangkan kamu masih menjadi suami sah orang lain? apa ini lelucon?" ucapku dengan mengumpulkan keberanian menentang pengakuan Alfred.


Alfred semakin mendekat dengan tatapan membunuh. Rahangnya mengeras dengan gigi mengelatuk, menandakan amarahnya menggebu.


Awww


Tangan kekarnya mencengkram wajahku begitu kuat.


"Kau mengajariku tentang itu? benar begitu Isabella Januar? hmm aku lupa sekarang nama Januar telah dibuang dan digantikan dengan H. Aku tekankan jangan pernah berani mengajariku," ujar Alfred dengan murka. Ia semakin mengencangkan cengkraman itu sehingga membuat aku ingin menangis tetapi untuk saat ini aku berusaha kuat dihadapannya.


Brak


Tubuhku di dorong sehingga mengenai kaki meja sofa.


"Ini belum seberapa jika kau berani kembali mengajariku," ujarnya kembali dengan wajah iblisnya.


Aku terdiam tanpa ingin menanggapi semua caci makinya. Tidak ada gunanya aku memotong karena dengan aku mengeluarkan kata itu semakin membuatnya murka.


"Di sini hanya ada dua kamar yang kosong. Kamarmu di pojok sana yang biasa untuk tamu. Satu lagi aku tekankan jangan pernah menginjakan kaki di lantai 3 karena itu bukan wilayahmu," ujarnya dengan posisi membelakangiku. "Jangan harap di sini ada pelayan seperti di istanamu karena aku tidak akan mampu untuk membayar mereka, dan rumah ini bukanlah milikku. Jadi untuk itu kau yang mengerjakan semuanya," sambungnya tanpa membalikan badan.


Aku terdiam sembari menahan rasa sakit di lututku akibat benturan kaki meja sofa.


"Isabella sadarlah siapa statusmu di sini, kau hanya seorang tawanan yang entah sampai kapan dibebaskan," aku membatin dengan sendu.


Setelah mengatakan itu Alfred pergi meninggalkanku menaiki tangga. Aku beringsut bangkit dan menyeret koperku menuju kamar yang tadi di tunjukan Alfred.


Klek


Aku membuka pintu. Kakiku berhenti melangkah di ambang pintu. Mataku membulat melihat kondisi dalam kamar. Tidak ini bukanlah layak dikatakan kamar tetapi gudang penyimpanan barang yang tak berguna.


Aku menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin Alfred tega menyiksa diriku disaat seperti ini. Aku masuk dan langsung membersihkan kamar yang memang sengaja dibuat oleh pemiliknya. Lelah tentu saja tetapi kamar ini harus rapi sehingga aku bisa beristirahat di kasur cukup muat dua orang itu.


Setelah menyimpan alat seperti penyapu dan pengepel aku menutup pintu kamar dan tidak lupa menguncinya.


Hiks hiks hiks


Tangisan yang kutahan sejak tadi kini tumpah seketika. Aku terduduk di pintu kamar dengan kedua lutut kupeluk.


"Apa salahku Tuhan? sehingga aku bertemu dengan dia?" tangisku menjerit memecah keheningan.


Seharusnya ini adalah malam pengantin bagi pengantin baru tetapi itu tidak berlaku bagi kami. Ini adalah malam pertama yang menyambut setiap penderitaanku. Ucapannya tentang sudah memiliki istri terngiang-ngiang di telingaku. Seketika ketakutan menghantui diriku, bagaimana jika keluargaku mengetahui kebenaran ini. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana reaksi Papa sama Mama. Ya demi apapun aku tidak ingin hal ini terjadi. Biarlah aku yang menanggung semua ini tanpa aku ketahui apa kesalahanku. Aku berdoa agar kebenaran ini tidak sampai di telinga keluargaku, khususnya kedua orang tuaku.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi🙏


__ADS_2