MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 60. Berkunjung


__ADS_3

Tok tok


Andre masuk dengan wajah pucat pasi. Bukan hanya Andre, ada dua sosok yang memakai seragam kepolisian. Melihat siapa yang datang membuat Alfred menyimpan benda kecil itu kedalam laci meja kerjanya.


"Selamat siang Tuan Alfred Hugo," salam Pak polisi.


"Selamat siang Pak. Ada apa ini?" tanya Alfred dengan wajah terheran-heran.


"Kami dari pihak kepolisian memenuhi syarat penahanan Tuan Alfred atas tindakan yang terkait dengan kasus penggunaan obat-obatan yang sudah kadaluwarsa," terang salah satu Pak polisi sembari menyerahkan surat penahanan Alfred.


Mendengar hal itu membuat Alfred melebarkan mata, begitu juga dengan dokter Frans.


"Tapi itu tanpa sepengetahuan saya Pak," Alfred berusaha membela diri.


"Di kantor polisi Tuan bisa jelaskan," tegas Pak polisi.


Alfred menggeleng tidak setuju karena memang dia tidak bersalah.


"Bahkan kasus ini merugikan nyawa para pasien, bahkan sudah puluhan pasien yang opname,"


Alfred lalu melirik Andre karena dia belum menerima kabar seperti yang dikatakan pihak kepolisian.


"Yang dikatakan Pak polisi benar Tuan, saya baru dapat kabar dari sana," terang Andre seakan tau arti tatapan Alfred.


"Jika begitu ikut kami Tuan Alfred untuk di interogasi,"


Alfred menggeleng seakan engan.


"Mohon kerja samanya,"


Mau tidak mau Alfred dibawa ke kantor polisi.


°°°°°°


Di kantor polisi Alfred diperiksa selama 5 jam, dan dinyatakan bersalah. Tidak ada bukti bahwa itu akibat tuduhan atau permainan dari pihak luar maupun dalam sehingga Alfred ditahan.


"Aku mohon beri waktu satu hari," ujar Alfred dengan memohon.


Pihak polisi saling memandang, belum tau apa alasan Alfred.


"Aku ingin menemui istri dan anak-anak yang sekarang berada di Indonesia. Setelah aku kembali, aku akan segera menyerahkan diri. Sungguh aku minta mohon," ujar Alfred.


Pihak polisi terdiam sembari berpikir. Sebenarnya mereka sangat segan terhadap orang nomor satu di negara itu tetapi karena tugas mereka harus menjalankan sebagaimana mestinya hukum yang berlaku.


"Baiklah kami akan memberi toleransi hanya satu hari," ujar Inspektur.


"Terima kasih Pak Inspektur," sahut Alfred, lalu segera berlalu karena tidak ingin membuang waktu cuma-cuma.


Alfred keluar dan Andre berlari mendekat dengan wajah panik.


"Andre siapkan jet, aku akan berangkat ke Indonesia sekarang juga. Aku hanya diberi toleransi satu hari. Kau tangani semuanya selama aku pergi," ujar Alfred sembari sibuk dengan ponselnya.


"Baik Tuan,"


Tidak ingin membuang waktu Andre mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi menuju bandara, tentunya itu perintah dari Alfred.


Kini Alfred sudah berada di jet pribadi.


"Apa yang harus aku katakan? bagaimana caranya aku membantu mengembalikan ingatanmu jika aku saja di sel atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan? apa semua ini karma untukku karena sudah egois di masa lalu?" Alfred membatin dengan pandangan kosong, dihatinya hanya tersirat diriku dan anak-anak.


Alfred memang sengaja tidak mengabari atas kedatangannya, biarlah surprise untuk si kembar. Alfred sudah bertekad untuk menyembunyikan masalah itu kepadaku dan akan membicarakannya dengan keluargaku saja.


°°°°°°


Di Mansion aku hanya berdiam diri, tidak ada kesibukan. Tetapi tidak membuatku bosan karena kehadiran Keenan dan Kiran menjadikan hari-hariku seakan berwarna.


"Sayang saatnya mandi," kataku kepada Keenan dan Kiran. Aku yang memandikan mereka secara bergantian.


Keduanya sudah berpakaian rapi serta wangi.


"Anak Mama tampan, cantik sekali," pujiku sembari mendaratkan kecupan bertubi di wajah mereka berdua.


Seketika terlintas bayangan wajah Alfred, ya tentu saja karena wajah Alfred menang. Wajah kedua anak ini indentik dengan wajah sang Daddy.

__ADS_1


Dengan segera aku menggelengkan kepala, bermaksud menghilangkan bayangan itu.


Klek


Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Aku tidak menyadari itu karena sedang asik bergurau dengan Keenan serta Kiran.


"Sayang apa kalian sudah mengantuk? tunggu Mommy akan buatkan susu dulu," kataku seakan tau Keenan maupun Kiran sudah mengantuk.


"Biar Daddy yang buatkan,"


Mendengar suara bariton itu membuat pandanganku kearah pintu kamar.


Deg


Mataku melebar melihat sosok siapa yang datang, bukankah baru saja aku mengingat pria ini tetapi dia malah berada di hadapanku.


Alfred melangkah mendekati ranjang. Jantungku berdetak kencang. Senyuman Alfred membuatku membeku sesaat.


"Sayang maaf baru bisa mengunjungi kalian," Alfred langsung mendekap tubuhku dengan posisi dia berdiri dan aku duduk di tepi ranjang dengan kedua kaki menggantung.


Aku menelan ludah mendapat perlakuan Alfred. Alfred bahkan membenamkan wajahnya di pucuk kepalaku.


"Aku sangat merindukan kalian,"


Cup


Tanpa kuduga Alfred mengecup bibirku sekilas.


Jantungku berdebar tak karuan bahkan saat ini wajahku bersemu merah. Tanpa mengetahui perasaanku Alfred beralih kepada Keenan dan Kiran.


Cup cup


Alfred menciumi mereka silih berganti.


"Sayang Daddy datang, maaf ya baru bisa mengunjungi kalian sekarang," ujar Alfred sembari menggendong Kiran terlebih dahulu. Kedua bayi itu seolah mengerti siapa yang datang sehingga membuat mata yang awalnya redup kini terang kembali.


Aku terpaku melihat interaksi mereka. Jujur ada kebahagiaan di hati ini tetapi untuk hal yang lain hati ini masih engan terbuka.


"Apa yang terjadi?" batinku bertanya-tanya.


"Sayang mereka sudah tidur," gumam Alfred seperti bisikan. "Mereka tidur di sini saja ya? bersama-sama dengan kita. Hmm maksudku, aku ingin tidur satu ranjang dengan mereka malam ini saja karena besok malam aku harus kembali lagi," terang Alfred agar aku tidak salah mengartikan.


Mendengar Alfred akan kembali lagi dengan waktu singkat tanpa sadar dada ini terasa sesak.


"Apakah secepat itu?" tanyaku tanpa sadar. Tatapan Alfred lekat-lekat menatap wajahku sehingga membuatku tersadar atas ucapanku itu. "Hmm maksudku apa pekerjaanmu belum terselesaikan?" aku berusaha mengalihkan pertanyaan bodohku tadi.


"Maunya selalu didekat kalian tetapi keinginan kita tidak serupa dengan keadaan. Suatu saat aku akan memboyong kalian kembali, dan kita tinggal bersama-sama," ujar Alfred berusaha tersenyum, senyuman penuh makna.


Aku bungkam tidak tau harus menjawab apa. Alfred meraih tanganku lalu menggenggamnya begitu erat sehingga membuat aku salah tingkah dan pada akhirnya menundukkan kepala.


"Sayang mungkin dalam waktu lama aku tidak bisa mengunjungi kalian," Alfred menghela nafas yang begitu berat untuk mengatakan ini. "Bukan berarti melupakan kalian tetapi karena sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, bukan berarti kalian tidak penting tetapi semua ini aku lakukan demi masa depan Keenan dan Kiran. Bukan berarti aku memilih meninggalkan kalian tetapi aku terjebak dalam situasi ini," ujar Alfred berusaha mencari penjelasan yang tidak menyinggung perasaanku. "Percayalah, kalian bertiga adalah segala-galanya bagiku. Kalian bertiga adalah penyemangat bagiku, hmm apa kamu mengerti?" tanya Alfred diakhir penjelasannya sembari mengusap punggung tanganku dengan mata memerah.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa karena aku memang tidak tau apa yang terjadi, bahkan kita seperti orang asing yang baru saling kenal," ucapku tanpa menatap Alfred. "Seperti yang kamu katakan jika kami penyemangat bagimu, teruslah hidup dengan pemikiran positif," nasehatku, jujur saja dari lubuk hati yang paling dalam ini ada kekhawatiran.


"Terima kasih atas pengertianmu. Baiklah aku akan menemui Papa sama Mama, ingin berbincang-bincang sebentar," ya Alfred ingin mengabarkan berita kurang baik ini. "Hmm apa kamu sudah makan malam?"


Aku menggeleng karena memang belum, lagi pula sekarang baru menjelang malam.


"Kamu ingin makan apa? biar aku yang masakin," tanya Alfred yang berhasil membuatku melongok tak percaya bahwa dia bisa masak, dan satu lagi yang membuatku syok ingin memasak untukku.


"Sayang," Alfred membuyar lamunanku.


"I... iya," jawabku gugup.


"Apa kamu ingin makan toppoki? aku sangat mahir dengan makana yang satu ini karena kebetulan makanan itu adalah kesukaanku,"


"Bukankah waktu itu kamu sangat marah ketika aku memasak makanan itu?" aku membatin.


"Baiklah tetapi kurangi cabai," kataku setuju karena tidak enak jika menolak.


"Tunggu sebentar, nanti aku bawa ke kamar," Alfred bangkit sembari mengusap dahiku disertai dengan senyuman.


Aku terpaku dengan tubuh menegang sembari memandangi punggung Alfred yang mulai menghilang diambang pintu kamar.

__ADS_1


°°°°°°


Di dapur aku bergelut dengan peralatan masak. Tidak sulit karena bahan yang aku perlukan semuanya tersedia di lemari es. Para pelayan ingin membantu tetapi Alfred larang karena ini spesial untuk aku.


Tidak butuh waktu lama, toppoki buatan Alfred sudah siap dan dia sengaja menambah porsi cukup banyak karena untuk mereka berdua.


Tiba-tiba Papa sama Mama menghampiri Alfred yang tengah berdiri di meja makan sembari meletakan mangkok berisi toppoki di atas napan.


"Pa, Ma," ucap Alfred sedikit kaget dengan kedatangan kedua mertuanya.


"Kamu sedang apa?" tanya Mama masih keluh lidahnya memanggil Alfred dengan panggilan sayang seperti dahulu.


"Aku masak toppoki untuk Abel Ma," sahut Alfred.


Papa sama Mama saling memandang.


"Sejak kapan Abel suka makanan itu?" tanya Mama karena tau jika aku tidaklah menyukai makanan itu.


Mendengar pertanyaan Mama membuatku kembali meletakan napan itu di atas meja makan.


"Apa dia tidak menyukai makanan ini?" tanya Alfred dengan raut wajah berubah.


"Iya Nak, tetapi mungkin sudah berubah karenakan sudah lama tinggal di sana dan satu lagi karena dia tidak mengingat apapun," sambung Papa membenarkan ucapan Mama.


Alfred mendudukkan dirinya di kursi dan disusul oleh Papa sama Mama.


"Oh begitu tetapi tadi Abel mengiyakan makanya aku masakin," ungkap Alfred.


Hmm


"Nak bagaimana keadaan perusahaan di sana? apa masalah yang awal belum terselesaikan?" tanya Papa dengan wajah serius.


Alfred menghela nafas panjang, mengisyaratkan jika dia lelah dan tak bersemangat.


"Iya Pa," sahut Alfred dengan pandangan kosong ke depan.


Keadaan hening. Alfred berusaha bagaimana cara dia mengatakan ini.


"Pa, Ma masalah di sana semakin besar," cerita Alfred. "Sebenarnya aku dikasi toleransi selama satu hari, sekarang statusku adalah tahanan," imbuh Alfred sembari menatap Papa sama Mama silih berganti.


"Maksud kamu?" tanya Mama dengan mulut menganga.


"Tenang Ma biarkan menantu kita menjelaskan,"


"Aku dituduh melakukan kecurangan atas rumah sakit cabang di kota x. Pihak polisi menemukan obat-obatan kadaluwarsa dengan jumlah banyak, bahkan mengancam beberapa pasien," cerita Alfred dengan tatapan sendu.


Deg


"Apa? kenapa bisa?" tentu saja Mama syok.


Alfred menggeleng kepala karena memang belum menemukan siapa dalang dari kehancuran perusahaan HUGO GROUP.


Papa bungkam sembari mengusap dagunya mendengar cerita Alfred.


"Jadi kamu di sel?"


"Iya Ma karena tidak ada bukti kuat untuk membuktikan kekeliruan itu,"


Ketiganya hening sembari berpikir masing-masing.


"Pa, Ma aku titip istri dan kedua anakku sementara. Jika hari itu tiba maka aku akan datang untuk memboyong mereka kembali ke sana, semoga Papa sama Mama mengizinkannya karena mereka adalah harta yang masih aku miliki," ujar Alfred seperti memohon. "Aku mohon rahasiakan ini dari Abel karena aku tidak ingin masalah ini mempengaruhi pisiknya untuk berpikir. Entah sampai kapan aku akan bebas karena jaminan bersalah dan tidak bersalah harus ada bukti yang kuat," imbuhnya kembali.


"Sayang lakukan sesuatu," lirih Mama kepada Papa.


Mendengar hal itu membuat Alfred menyunggingkan senyuman, karena itu berarti hati Mama sedikit melunak. Walaupun terluka dan kecewa tetapi hati kecil Mama sangat peduli dengan masalah yang Alfred hadapi.


"Mungkinkah ini karma untukku?" ujar Alfred dengan tatapan kosong.


Papa maupun Mama terpaku mendengar kata-kata itu dari mulut Alfred.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2