
Pengarahan telah usai.
Rebecca langsung bergegas menuju toilet wanita terdekat. Ia benar-benar tak tahan lagi. Didalam cermin ia dapat melihat pangkal hidungnya memerah.
Hatchiiii.....
Ia kembali bersin. Bahkan hidungnya terasa amat gatal, antara ingin bersin tetapi tidak jadi, ini sungguh menyiksa.
Felisha menyusul Rebecca karena tadi ia buru-buru berlari.
"Apa sebaiknya kamu diobati dulu?" usul Felisha sedikit khawatir.
"Tidak perlu Fel, sebentar lagi juga kembali normal," ucap Rebecca di sela-sela bersinnya.
Dan akhirnya mereka kembali ke ruang kerja.
**
"Tuan apa sebaiknya Nona segera mendapat pengobatan?" saran Gerry didalam ruangan Keenan.
Keenan tak bergeming. Ia fokus dengan laptop di atas meja kerjanya.
"Lakukan jika itu membuatmu tenang," ujar Keenan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Mereka ini benar Kakak Adik ya? kenapa hubungan persaudaraan mereka tidak seperti saudara pada umumnya. Ada kecanggungan serta menjaga jarak," batin Gerry.
"Ada masalah?" ujar Keenan sehingga lamunan Gerry tersadar.
"Saya akan ke ruangan Nona," ujar Gerry. Ternyata perkataan Gerry berhasil membuat Keenan mengalihkan pandangan serta fokusnya pada laptop.
Lalu tatapan datarnya bersirobok dengan Gerry.
"Untuk apa? apa kerjamu nganggur?" ujar Keenan dengan tegas.
Klek
Gerry menelan ludah mendengar sindiran itu.
"Maksud saya untuk melihat keadaan Nona. Jika bersin terus-menerus maka perlu panggilkan dokter Tuan," terang Gerry dengan sabar.
"Kau sangat perhatian sekali?" perkataan Keenan membuat Gerry terpaku. Ya ia juga tidak mengerti kenapa kekhawatirannya sangat besar terhadap Rebecca.
"Bukan begitu Tuan, jika Nona kenapa-kenapa maka Tuan serta Nyonya akan khawatir," jelas Gerry menemukan alasan utama.
Mendengar nama kedua orang tuanya membuat Keenan bungkam. Apa yang dikatakan Gerry benar adanya. Bukankan tadi pagi sangat Mommy berpesan agar menjaga Rebecca.
Ssst....
"Dasar anak manja!" tuduh Keenan setelah Gerry keluar dari ruangan.
**
Hatchiiii.....
Bukannya mereda, bersin Rebecca semakin menjadi. Yang paling menyiksa ketika ingin bersin tetapi tiba-tiba tidak jadi.
"Eca, sebaiknya kamu segera ditangani deh. Aku khawatir, lihat pangkal hidungmu semakin memerah," saran Felisha. Bahkan dalam ruangan itu tak konsentrasi me dengar bunyi bersin Rebecca. Karyawan yang lainnya juga menyarankan hal yang sama agar Rebecca segera mendapat penanganan.
"Tidak perlu Fel," ucap Rebecca kembali menyelesaikan tugas yang diberikan.
Tiba-tiba kedatangan Gerry membuat suasana kembali hening, yang awalnya sedikit berisik.
"Maaf jika kedatangan saya menganggu. Saya hanya ingin mengecek Nona Rebecca, apakah sudah membaik," ujar Gerry.
__ADS_1
"Kebetulan Tuan. Ibu Eca sebaiknya segera mendapat penanganan, bersinnya terus berlanjut," bukan Rebecca yang menyahut tetapi malah Felisha.
"Tidak perlu Tuan, saya baik-baik saja. Hatchiiii...." Tolak Rebecca diiringi bersin kembali.
Gerry memperhatikan Rebecca secara diam. Apa yang dikatakan Felisha adalah benar, kondisi Rebecca semakin parah.
Rebecca mengalami alergi debu berat. Hidung berair, mata memerah serta membengkak, tenggorokan dan hidung terasa gatal. Bahkan sesekali ia batuk.
"Mari Nona, ikut saya," ujar Gerry.
"Ikut kemana Tuan?" lirih Rebecca.
"Saya antar Nona pulang," sahut Gerry.
Rebecca menggeleng pelan.
"Pekerjaan saya belum selesai Tuan. Lagi pula jam pulang masih lama," lirih Rebecca disela menahan gatal dalam hidungnya.
Huk.... huk....
Dan kini batuknya semakin menjadi.
"Saya mohon Nona," mohon Gerry.
"Tidak mungkin saya pulang dengan kondisi seperti ini. Apa yang akan Daddy serta Mommy nanti," ucap Rebecca tidak ingin kedua orang tuanya ikut khawatir.
Kini Rebecca sudah tidak fokus pada layar laptop. Ia terus-menerus mengusap pangkal hidung serta kedua matanya yang sudah berair.
"Antar ke rumah sakit saja Tuan," akhirnya Rebecca tidak tahan lagi, ia harus segera minum obat untuk meredakan alergi ini.
Mendengar panggilan Rebecca begitu formal membuat Gerry jadi salah tingkah.
Rebecca bangkit dari kursi kerjanya.
Deg
Tanpa disadari Keenan sudah berdiri menjulang di antara mereka. Karena terlalu fokus kepada Rebecca mereka tak menyadari kedatangan sang CEO tampan.
Hatchiiiii.....
Huk... huk....
Bersin serta batuk kembali menyerang Rebecca. Halal itu mengundang perhatian Keenan. Ia dapat melihat perubahan di wajah Rebecca. Dimana terdapat pangkal hidung memerah, mata memerah serta agak bengkak.
"Mari Nona," ujar Gerry kembali karena tidak tega melihat Rebecca menahan sakit.
"Fel, aku tinggal dulu," ucap Rebecca sebelum meninggalkan ruangan.
Rebecca mengikuti langkah Gerry.
"Kembali bekerja!" Suara bariton itu membuat para karyawan kembali fokus setelah puas diam-diam memandangi rupa rupawan itu secara gratis dan sedekat ini.
Ini pertama kalinya Keenan menginjakkan kaki di ruangan ini setelah Rebecca masuk kerja.
Didalam lift khusus. Hening itulah yang terjadi, hal itu membuat Gerry semakin dilanda pertanyaan. Diam-diam ia melirik Keenan maupun Rebecca silih berganti. Kakak beradik itu sama-sama diam, tidak ada satu katapun yang keluar. Bukankah jika saudara kita sakit maka salah satu sangat peduli? Gerry bahkan mengingat dirinya dulu dengan sang Adik. Persaudaraan mereka sangat dekat walaupun dia memiliki Adik perempuan. Tetapi dari kedua saudara bersamanya ini ia tidak menemukan hal itu. Keduanya bagai orang asing.
Didalam lift Rebecca tak henti-hentinya bersin serta batuk. Ia berusaha menutupi agar tidak mencemarkan virus ke orang lain.
Ting
Pintu lift terbuka, ketiga keluar.
Gerry masuk kedalam ruangannya dan Keenan menuju ruangan kebesarannya dengan disusul Rebecca dari belakangnya.
__ADS_1
Klek
Pintu dibuka
Keduanya masuk dengan diam.
"Kak Ken aku minta air. Tenggorokanku gatal sekali," lirih Rebecca disela batuknya.
"Merepotkan saja!"
Mendengar hal itu membuat Rebecca mengangkat kepalanya. "Tidak jadi, aku tidak membutuhkannya lagi," ucap Rebecca dengan nada menekankan. Seketika matanya semakin mengembun.
Langkah Keenan terhenti ketika ia ingin mengambil minum seperti yang dimintai Rebecca barusan tetapi dengan santainya ia membatalkan permintaannya itu. Baguslah jika ia tersinggung, itulah yang ada dalam pikiran Keenan.
"Batalkan kedatangan dokter. Aku yang akan pergi ke rumah sakit. Aku tidak ingin merepotkan siapapun," ucap Rebecca seraya bangkit dari sofa, ingin segera keluar dari ruangan menyesakan itu.
"Kamu benar aku memang selalu merepotkan orang. Aku baru sadar sekarang, sedikit pun perhatian atau rasa peduli itu tak ku dapat darimu. Sangat berbeda dengan Kak Leon maupun Kak Kiran, mereka sangat peduli kepadaku," keluh piku Rebecca dalam hati.
Tiba-tiba
Tok tok
Pintu diketuk
"Masuk!" Titah Keenan.
Klek
"Maaf Tuan membuat menunggu."
Keenan mengangguk
"Nona terkena alergi lagi?" tebak sang dokter kepada Rebecca seakan sudah hafal.
"Iya Kak," jawab Rebecca serta mengucek pangkal hidungnya.
"Periksa di kamar saja," titah Keenan.
Tanpa menunggu lama Rebecca serta dokter berparas cantik itu mengikuti perintah Keenan. Karena sudah tidak tahan, Rebecca menurut saja karena mau ke rumah sakit tidak mungkin karena benar-benar menyiksa.
Didalam dokter mulai memeriksa Rebecca.
**
Diluar ruangan Keenan mendudukkan dirinya di atas sofa. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Klek
Tidak selang lama dokter keluar.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Keenan dengan wajah datar.
"Alerginya cukup parah dari sebelumnya. Nona memang rentan bila terkena debu yang cukup berat. Saya sudah meresepkan obat, dan sudah di minum oleh Nona. Biarkan dulu Nona untuk istirahat beberapa menit. Saya sarankan Nona selalu mengenakan masker bila berada di luar gedung atau ruangan yang terendap debu parah." Jelas dokter panjang lebar.
Keenan manggut-manggut seraya memijit ujung dahinya.
"Jika begitu saja permisi Tuan."
Keenan kembali mengangguk.
"Inilah resiko jika dilarang ini itu. Jadi kekebalan tubuh sangat gampang di serang penyakit. Ini andil kesalahan Mommy karena apapun selalu dilarang," gumam Keenan seakan ingat dulu dimana Mommy Isabella sangat melarang mereka bermain di luar Mansion. Karena mereka bandel tidak mengikuti larangan Mommy Isabella, sedangkan hanya Rebecca yang mendengarkan, mungkin karena ia masih kecil diantara mereka berempat.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪