MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 24. Terjebak


__ADS_3

Buk


Awww


Aku meringis karena tersungkur akibat didorong oleh Alfred. Setelah berpelukan cukup lama Alfred tiba-tiba mendorongku.


Seketika bayangan masa lalu sang Adik melintas di ingatan Alfred sehingga membuat dirinya tersulut rasa dendam.


Aku berusaha bangkit sembari menepuk bokongg yang terasa sakit akibat terbentur tanah. Aku merutuki kebodohanku karena sudah berani memeluk pria kejam itu.


Hari mulai mengelap, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Angin berhembus semakin kencang. Kami terdiam dengan jarak menjauh.


"Aku paham kamu menyelamatkanku karena sepertinya kamu katakan tidak akan membiarkan aku cepat mati. Seandainya kamu suami sesungguhnya akan aku adu bagaimana perasaanku disaat dua pria brengsek itu ingin melakukan pelecehan," keluhku didalam hati masih dengan ketakutan.


Aku menoleh dimana sesosok itu duduk dipohon kelapa yang tumbang sembari mengusap wajahnya. Dengan keberanian yang terkumpul aku beringsut mendekat.


Kini aku berdiri di samping Alfred. Seketika mataku menangkap noda darah pada ujung bibir Alfred. Itu mungkin akibat Alfred menghajar dua pria tadi. Hatiku tergerak ingin mengobati karena bagaimanapun itu disebabkan olehku. Tas medis yang dalam gendongan aku buka, lalu mengeluarkan alkohol serta kapas. Tanpa berpikir panjang aku berjongkok mensejajarkan tinggi kami.


Awww


Erang Alfred setelah alkohol beserta kapas mendarat pada ujung bibir yang terluka.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Alfred sembari menyentak tanganku sehingga mengakibatkan kapas yang kupegang terjatuh.


Aku menelan ludah.


"Izinkan untukku membersihkan lukamu, jika dibiarkan bisa infeksi," kataku memberi keterangan.


"Luka sekecil ini tentu saja tak masalah bagiku. Bilang saja kau hanya ingin menyentuh wajahku, tetapi simpan saja keinginanmu itu. Aku tak sudi tangan kejimu menyentuh aset berhargaku," bentak Alfred dengan rahang mengeras.


Aku mengigit bibir bawahku berusaha menahan rasa hati yang terluka mendengar cecar mulut Alfred yang begitu kasar.


"Jika begitu untuk apa kamu menyelamatkanku? apa karena tak menginginkanku cepat mati? karena misimu belum tercapai?. Apakah tidak menyenangkan jika dua pria itu berhasil memperko**ku di hadapanmu? bukankah itu sangat menyenangkan bagimu? dan itu keuntungan besar bagimu karena masa depanku sudah hancur, apa ka....."


Perkataanku tersekat ketika Alfred ingin mengayunkan tangannya ke wajahku. Tetapi tangan itu menggantung.


"Kenapa? ayo tampar aku sepuasmu bahkan cabut nyawaku sekarang, aku sudah siap. Ayo tampar," lirihku bercampur tangisan. Bahkan wajah ini sudah dibanjiri air mata.


Alfred memandangku dengan mata elangnya. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan terkepal erat.


Hati Alfred tercubit dan tak rela mendengar perkataanku membiarkan dua pria itu melakukan pelecehan terhadapku. Entah apa alasan dibalik itu hanya Alfred yang paham.


"Jangan pancing amarahku Isabella," suara bariton itu membuatku menyeka air mataku. Aku tersedu-sedu menahan tangis ini agar tak terdengar. Aku tau Alfred saat ini merasa menang dan bahagia melihat kerapuhan ini.


Duarr


Suara petir memecah pertengkaran suami istri yang tak diinginkan.


Hari semakin mengelap bahkan rintik hujan mulai menyirami.

__ADS_1


"Apa kau hanya berdiam diri saja?" cerotos Alfred tanpa memandangku.


Aku tak menghiraukan. Aku sibuk menenangkan diriku yang masih dalam luka. Seandainya saja Papa sama Mama di sini betapa senangnya aku dan mengatakan rasa takut mendalam ketika dua pria tadi ingin melakukan tindakan tak terpuji kepadaku.


Alfred melangkah menuju mobil tanpa sepatah kata berlalu di hadapanku. Aku masih terdiam dan tak tak tau harus bagaimana, padahal rasa takut menjalar di benakku.


Tin tin tin


Tiga kali bunyi klakson mobil di belakangku. Tetapi tidak membuatku beranjak dari posisi berdiri.


Tin.....


Clarkson panjang membuatku beralih memandangi Alfred. Tatapan mata itu membuatku menelan ludah. Dengan langkah gontai aku menyeret kedua kaki menuju mobil.


"Bisa cepat," bentak Alfred merasa geram karena aku hanya berdiri saja di samping mobil dengan kepala menunduk.


Duarr


Petir kembali memecahkan kesunyian. Dengan refleks aku buka pintu mobil bagian belakang. Mobil melaju keluar area pantai.


Didalam mobil hening. Alfred konsentrasi menyetir sedangkan aku sibuk dengan diriku sembari menoleh ke jendela mobil. Hujan deras disertai petir menjadi saksi bisu perjalanan panjang kami.


Jalan begitu sepi akibat turun hujan. Malam mencekam membuat aku bergidik didalam mobil, apa lagi ini di pendalaman. Hatiku tergerak menoleh kearah Alfred.


Aku memandangi punggung Alfred dengan mata sendu, begitu juga dengan wajahku. Sangat lama tanpa sangat empunya menyadarinya.


"Seharusnya aku membencimu tetapi mulut dengan hatiku bertolak belakang," kesal Alfred didalam hati.


Alfred berusaha menyalakan mobil tetapi tidak berhasil.


"Brengsek," umpat Alfred sembari memukul setir mobil menandakan pria ini emosi.


"Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Kehabisan bahan bakar. Andre kau memang tidak becus," tanpa disangka Alfred menyahut pertanyaanku dan Alfred memaki Andre atas insiden ini.


"Apa?" teriakku dengan mata membulat. Tetapi untung saja hujan deras jadi Alfred tidak akan mendengar teriakkan ini.


Hening itulah yang kembali terjadi. Hanya terdengar hujan serta petir. Lebih sialnya lagi kami terjebak tanpa ada perumahan di sekitar.


Bayangan hal-hal tak diinginkan membuatku bergidik. Hal yang menakutkan melanda diriku. Apa lagi ini tempat asing dan satupun kendaraan tak ada yang melintas.


"Bisa kamu pindah?" lirihku memberanikan diri. Tetapi perkataanku di acuhkan Alfred.


Huh aku menghela nafas panjang.


"Apa dia tidak mendengar?" gumamku karena berisik hujan.


Aku menenangkan diri dan menarik nafas.

__ADS_1


"Bisa kamu pindah di belakang?" aku memberanikan diri menepuk punggung Alfred yang sejak tadi tak berniat sedikitpun menoleh ke belakang.


"Kau berani menyuruhku?" ujar Alfred tetap dengan posisinya.


Aku menelan ludah. Petir serta kilat tak berhenti, hal itu membuatku semakin ketakutan. Gelap itu keadaan saat ini. Bahkan bayangan Alfred sulit di lihat kecuali kilat melintas.


Aku berpindah duduk di bagian belakang Alfred. Tanganku meraba untuk menjangkau Alfred lebih dekat. Seketika mataku membulat merasakan suhu tubuh Alfred begitu panas karena telapak tanganku ternyata menempel di kening Alfred.


"Al apa kamu sakit?" tanyaku untuk pertama kalinya memanggil nama Alfred.


Alfred terdiam tanpa menjawab tetapi tanganku ditepis olehnya.


Duarr


Petir kembali memecah gelapnya malam, bahkan suara ini lebih dashyat dari sebelumnya sehingga membuatku terlonjak kaget serta takut, tanpa sadar mendekap kepala Alfred dari belakang kursi pengemudi. Bahkan kepala Alfred aku benam di wajahku.


"Dasar penakut," ujar Alfred seperti mengejek.


Perkataan Alfred tidak membuatku melepaskan dekapan itu, begitu juga dengan Alfred membiarkan apa yang sedang aku lakukan. Tubuhku bergetar ketakutan, bayangan dua pria tadi kembali menghantuiku sehingga rasa takut ini semakin kuat. Mungkin saja Alfred dapat merasakan kondisi tubuhku.


Cukup lama kami berdiam seperti ini dengan mulut terkunci. Seketika aku sadar karena suhu tubuh Alfred sungguh diluar kata normal.


"Pindah ke belakang biar aku periksa, sepertinya kamu demam tinggi," lirihku seperti memohon.


Tanpa bersuara Alfred mendengar perkataanku. Aku memberi cahaya melalui senter ponsel. Alfred langsung menghempaskan tubuhnya menjadi berbaring dengan kepala diletakan di kedua pahaku. Tentu saja aku terkejut luar biasa. Entah karena kegelapan atau apakah itu hanya Alfred yang dapat memahaminya.


Aku menahan nafas sesaat. Bahkan tubuhku semakin menegang ketika Alfred langsung membenamkan kepalanya di perutku.


Aku menganga dengan mata melotot ke bawah. Aku ingin sekali memberontak tetapi semua keinginanku itu aku urungkan karena ternyata Alfred menggigil.


Tangan ini tergerak ingin merasakan kembali suhu tubuh Alfred tetapi rasanya sangat berat. Tanpa berpikir panjang aku tempelkan telapak tangan ke dahi Alfred.


"Demam tinggi," gumamku.


Tas yang berada di bawah kursi aku buka dengan bantuan cahaya senter ponsel. Obat yang dicari akhirnya ketemu.


"Minum obat penurun panas dulu, kamu demam tinggi," kataku sembari mengusap kepala Alfred dengan sadar.


"Tidak perlu, aku tidak butuh itu," bentak Alfred bergumam di perutku.


"Aku tidak ingin kamu mati sekarang karena misimu belum tuntas, oleh karena itu aku mengobati," sahutku sengaja untuk memanas-manasi Alfred.


Mendengar hal itu membuat Alfred segera membalikan badan. Aku tersenyum merasa menang tetapi sayangnya senyuman itu tak terlihat oleh Alfred.


"Mohon duduk agar lebih mudah," kataku dengan nada lembut bahkan seperti merawat anak kecil.


Obat dan air minum di tanganku dirampas Alfred, lalu diminum sekaligus. Setelah usai minum obat Alfred kembali membaringkan tubuhnya tetapi kali ini posisinya terlentang dengan kedua tangan menyilang menandakan kedinginan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author semakin semangat🙏


Author minta maaf karena update hanya 1 bab dan itupun singkat bagi para ayang bebeb reader. Harap maklum karena satu hari penuh ini author menemani anak rekreasi dari sekolah TK.


__ADS_2