MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 43. Terjadi Begitu Saja


__ADS_3

Aku berusaha mendorong Alfred tetapi tentunya tidak membuahkan hasil. Dia lebih besar dan tengahnya melebihi kekuatanku.


"Lepas, apa yang kamu lakukan? lepas," teriakku dan menahan ketakutan. Aku bisa melihat tatapan lain di mata Alfred.


Dengan sergap Alfred memegang tanganku dan satunya lagi menjepit lenganku sehingga membuat aku tak berdaya dibawah kungkungan itu. Sejak tadi aku membuang muka sehingga tatapan kami tak bertemu.


Hening tanpa suara itulah yang terjadi, hanya terdengar deru nafas antara kami berdua.


Tatapan Alfred tak lepas dari wajahku. Entah apa yang membuat hatinya tertarik menatap wajahku yang selalu dia muak ketika berhadapan denganku.


Jemari Alfred terulur merapikan helaian rambut yang menghalangi wajahku. Tentu saja sentuhan itu membuat aku kaget sehingga tatapanku beralih. Alfred masih melakukan itu, bahkan memperlakukan dengan lembut selayaknya, entahlah karena aku juga tidak paham. Bola mata kami beradu sangat dalam. Alfred semakin memajukan wajahnya sehingga kini hidung manjung kami saling bersentuhan. Aku ingin menghindar tetapi hatiku berkata lain. Deru nafas kami begitu teras sangat jelas. Wangi mint membuatku terbuai.


Entah siapa yang mulai dan memulai sehingga bwbirku menjadi l a h a pan Alfred. Bahkan kini posisi kami sama-sama duduk di atas kasur. Alfred semakin menekan t-e-n-g-k-u-k ku semakin memperdalam c i v m a n itu dengan cara sangat lembut. Demi apapun aku terbuai bahkan menginginkan lebih dari ini. Bukan hanya aku Alfred juga terbuai.


Hhmmm


Kehabisan oksigen membuat kami terpaksa berhenti. Seketika aku tersadar dengan apa yang barusan kami lakukan sehingga membuatku mendorong dada Alfred sekuat mungkin agar aku bisa terlepas dari dekapannya.


Malu tentu saja menguasai diriku bahkan wajahku memerah. Aku tau Alfred telah menertawaiku dan semakin merendahkan harga diriku.


Aku berusaha menurunkan kaki ke bawah tetapi semua itu tak dibiarkan oleh Alfred. Alfred mendekap tubuhku dari belakang, memeluk begitu erat. Aku sangat kaget bahkan ingin pingsan.


Entah setan apa yang merasuki pria itu sehingga kini bwbir menggoda itu mendarat di t e n g k u k po los karena aku memakai dress dengan leher rendah serta rambutku diikat kucir kuda. Aku mengigit bwbir bawah merasakan geli.


"Apa yang kamu lakukan?" lirihku dengan suara bergetar berusaha menghentikan kegiatan Alfred.


Aku m e n d e s i s mendapati t e n g k u k itu di h i s app halus. Aku menelan ludah serta mengigit b w b i r bawahku dengan bergetar. Bahkan kedua kepalan tangan Alfred bermain di aset berharga sehingga membuat mataku membulat memandangi tangan itu. Bahkan aku baru sadar jika kini kami sama-sama *****


Alfred menuntun membaringkanku dengan lembut tanpa melepaskan pang***** dahsyat ini. Dalam sekejap apa yang tidak pernah terbayangkan terjadi begitu saja malam ini. Awalnya sangat sakit sehingga membuatku berteriak, tetapi perlahan rasa sakit berubah menjadi kenikmatan luar biasa. Sungguh Alfred melakukan itu dengan sangat lembut dan dapat mengimbangiku yang tak berpengalaman ini. Di sinilah aku melihat sisi lain dari Alfred, dimana sisi itu membuatku nyaman dan menjadi wanita miliknya. Sorot mata penuh cinta serta belaian tangan lembut itu membuatku melayang.


Puncak ******** berakhir dengan kelelahan. Semburan larva panas pertama bagi Alfred tergenang pada aset yang selama ini aku jaga untuk orang yang akan menjadi suami dan untuk orang yang aku cintai, benar itu diambil oleh suami sekaligus orang yang aku cintai. Mungkin saja sekarang mulai berkembang.

__ADS_1


Alfred menggulingkan tubuhnya di sisi tubuhku yang tak berdaya. Lelah itulah yang kami rasakan dan akhirnya memejamkan mata tanpa sepatah kata.


°°°°°°


Keesokan harinya.


Alfred terbangun, dia sedikit kaget karena memelukku dari belakang. Seketika dia baru ingat dengan apa yang terjadi tadi malam, dimana kami telah menghabiskan malam panas dengan keadaan sadar.


Alfred bangun dan melepaskan pelukan tangan yang melingkar di perutku. Seketika tatapan Alfred berubah memandangi punggungku.


Tangan itu terangkat ingin meraih selimut untuk menutupi tvbvhku tetapi dia urungkan sehingga membuat tangannya menggantung.


Alfred memejamkan mata mengutuki kebodohannya karena melakukan itu. Kini pria itu menyesalinya. Alfred beranjak masuk ke kamar mandi dengan perasaan kacau.


Di kamar mandi Alfred berdiri di bawah shower mengalir menyirami sekujur tvbvh dengan tangan meninju tembok beberapa kali sehingga menyebab punggung tangan itu terluka. Menyesal tentu saja dirasakannya tetapi semua sudah terlambat.


Didalam kamar aku aku menangis dengan mulut terbungkam. Aku bangkit dengan lilitan selimut, mencari pakaianku yang berserakan di lantai. Dengan buru-buru aku pakai dan ingin secepat mungkin keluar dari kamar terkutuk itu.


Hiks hiks....


"Kau sangat bodoh Isabella, ya kau sangat bodoh. Kau terlena dan terbuai oleh kepalsuan Alfred, kau lupa bahwa pria itu hanya menginginkan balas dendam," ucapku berbicara dengan diriku sendiri, mengutuk kebodohanku.


Aku basuh tvbvhku ini dengan menggosok cukup kuat agar bekas maha karya yang ditinggalkan Alfred menghilang saat ini juga. Bukan menghilang, malah kulitku menjadi merah. Aku benci dengan tvbvhku ini, aku merasa kotor sekarang. Walaupun tidak ada salahnya kami melakukan itu karena sah tetapi tentu saja salah bagiku karena hubungan ini tidaklah seperti yang keluargaku harapkan.


Alfred keluar dari kamar mandi sekitar 2 jam. Dia memang ingin menunggu aku keluar dari kamar itu.


Alfred meraih selimut yang terkapar di atas kasur karena tak sempat aku lipat. Seketika matanya tertekun dengan bercak darah di seprei berwarna putih. Itu adalah noda ******* yang diambil olehnya bahkan Alfred sendiri menyadari hal itu ketika sedang ******** ku tadi malam. Ada perasaan bersalah dalam lubuk hatinya.


Alfred raih seprei itu lalu melipat dan menyimpannya didalam lemari yang terkunci. Entah apa maksudnya hanya dia yang tau.


°°°°°°

__ADS_1


Setelah kejadian itu aku sama sekali tidak pernah bertemu Alfred. Aku memang sengaja untuk menghindar, bahkan aku sengaja tidak sarapan di rumah. Aku sengaja berangkat cukup pagi dan pulang ketika Alfred belum pulang hanya untuk menghindarinya.


Kejadian itu membuatku banyak diam. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di sebuah panti asuhan ketika pulang dari rumah sakit hanya ingin meringankan beban pikiranku.


Di sinilah aku bisa tertawa lepas melihat berbagai macam tingkah anak-anak. Aku juga ikut serta membantu para pengasuh. Anak-anak panti menerima kehadiranku, bahkan mereka sangat senang aku kunjungi. Kadang jika aku dinas malam, aku juga sekali-kali membawa Leon ke panti asuhan agar dia terbiasa berinteraksi dengan anak-anak.


Seperti hari ini aku pulang lebih awal dari rumah sakit. Tujuanku pastinya ke panti asuhan.


Aku keluar dari ruangan. Seketika langkahku terhenti mendapati sosok dokter Frans menghampirimu.


"Dokter Abel apa kamu punya waktu? sebentar saja," ujar dokter Frans.


Aku terdiam tanpa ingin menjawab.


"Sebentar saja, ada yang ingin aku bicarakan," ujar dokter Frans seperti memohon karena aku juga menghindari dokter Frans.


Aku menghela nafas panjang.


"Maaf Kak Frans aku buru-buru karena ingin mengantar Leon membeli peralatan sekolah," sahutku pada akhirnya, itu hanya alasanku saja karena rencana kami adalah ke pusat pembelanjaan di malam hari.


Dokter Frans tersenyum dipaksakan.


"Tidak masalah. Baiklah," ada kekecewaan di wajah tampan itu.


"Maaf ya Kak. Aku pergi dulu takut Leon menunggu," ucapku berusaha tersenyum.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


Menghindari vulgar karena mendekati bulan puasa hehe...

__ADS_1


__ADS_2