MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 107. Surprise


__ADS_3

"Sayang kenapa kamu menangis?"


Lemparan pertanyaan dari kedua paruh baya tersebut membuat Vini masih membeku. Dia berulang kali mengedipkan mata, apakah dia salah lihat? apakah yang ada dihadapannya saat ini adalah bayangan kedua orang tuanya?.


"Vini Anggraini!" Panggil wanita seumuran dengan Mommy Meysi.


Deg


Sekarang Vini yakin itu adalah kedua orang tuanya.


"Papa, Mama....Benarkah ini kalian?" ucap Vini dengan wajah tak percaya.


"Jadi maksud kamu, kami jelmaan hantu? begitu?" cecar wanita itu.


"Jadi, jadi....sebenarnya ada apa ini? kenapa Papa sama Mama berada di sini?" lirih Vini sembari menyeka air matanya.


"Karena ingin membahas pernikahan mendadak kalian," imbuhnya dengan tangan terlipat. "Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba nyemplung begitu saja," sindirnya.


"Sayang apa kamu tahu ini semua?" lirih Vini seraya melirik dokter Frans. Dokter Frans hanya bisa nyinyir, memperlihatkan gigi ratanya. "Awas ya ternyata kamu ikut mengerjaiku," timpal Vini dengan wajah cemberut.


Vini langsung memeluk kedua orang tuanya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena Vini sangat sibuk.


"Kamu tidak ingin memeluk calon mertuamu?" ucapan Mommy Meysi membuat Vini kikuk.


Dengan segera Vini mendekat lalu mendekap tubuh wanita yang sempat dia kira menentang hubungan mereka.


"Maafkan Mommy ya? bukan maksud Mommy menentang hubungan kalian, kamu saja yang salah paham, pergi begitu saja tanpa mendengar sampai akhir," ungkap Mommy panjang lebar dalam pelukan Vini.


"Vini minta Maaf Tante, hmm Mommy. Terima kasih sudah tulus menerima Vini," lirih Vini seraya terisak. Dia menangis karena bahagia serta terharu.


Mommy Meysi mengurai pelukan mereka, lalu menyeka air mata Vini sembari tersenyum.


"Jujur pada awalnya Mommy kaget dan tak percaya dengan hubungan kalian karena kamu juga tahu sendiri bukan? masalah itu tidak perlu diungkit kembali. Mommy menerima kamu dengan tulus, asalkan Frans bahagia dengan pilihannya," pungkas Mommy Meysi kembali.


Vini mengangguk, senyuman kecil mengembang di bibirnya.


"Daddy terima kasih," ucap Vini kini bergantian memeluk Daddy Julio.


"Hmmm terima kasih sudah bersedia menjadi pasangan pilihan Frans. Daddy berdoa agar kebahagiaan menyertai hubungan kalian ke depannya," ungkap Daddy Julio sembari menepuk bahu Vini. "Kami sudah menganggap kamu putri kami sendiri, jadi anggap juga kami adalah orang tuamu sendiri," imbuhnya.


Vini kembali mengangguk dengan perasaan haru. Dia tidak pernah menyangka kejadian seperti saat ini.


"Sayang kamu beruntung memiliki mertua yang sangat baik. Impian serta khayalan kamu menjadi kenyataan," ucap Mama Maya seakan menceritakan keinginan Vini.


"Maksudnya May?" tanya Mommy Meysi.


"Biasalah Mey impian setiap wanita, sering berandai-andai," ucap Mama Maya.


"Oh begitu," sahutnya seakan paham.


"Sayang putri Mama orangnya super cerewet loh, tetapi hatinya tak sejalan dengan mulut cerewetnya," ucap Mama Maya membuka kartu Vini.


"Mama...."Desis Vini mengeram seraya mengigit bibir bawahnya.


"Putri Papa juga malas mandi," timpal Papa Angga.

__ADS_1


"Papa...." Vini bangkit berdiri langsung membungkam mulut Papa Angga.


"Sayang benarkah itu? hmmm ternyata kamu jorok," goda dokter Frans.


"Sayang jangan dengarin Papa sama Mama, mereka mengada-ngada," elak Vini dengan bibir mengerucut.


Hahaha....


Seketika ruangan VIP itu penuh dengan canda tawa meledek Vini.


Huh....


Vini menutup wajah karena diledek.


Mereka kini menikmati hidangan seraya mengobrol sehingga tidak terasa makanan tak tersisa dalam piring.


"Bagaimana ceritanya Papa sama Mama bisa datang ke sini tanpa sepengetahuan Vini?" tanya Vini sejak tadi sangat penasaran.


Mommy Meysi menceritakan dari awal sampai akhir. Hal itu membuat Vini tercengang dan tak percaya.


"Vini sama sekali tak menyangka Mommy. Tak pernah menyangka Mommy sama Daddy langsung berangkat ke kota x untuk menemui kedua orang tua Vini," ungkap Vini dengan mata berkaca-kaca. Padahal setelah kepulangan Vini dari kediaman Mommy, seakan harapan Vini berakhir tetapi tahu, tahunya kalian telah merencanakan sesuatu untuk mengerjai Vini," cicit Vini.


"Surprise sayang," sahutnya.


"Nak Frans kapan kalian meresmikan hubungan kalian?" sekarang giliran Papa Angga yang angkat bicara.


Dokter Frans menegakkan tubuhnya.


"Minggu depan Papa. Kami akan menyelenggarakan resepsi pesta pernikahan di sini. Apa Papa sama Mama keberatan?" tanya dokter Frans mengusulkan keinginannya tetapi dia juga harus meminta pendapat dari calon mertuanya.


"Iya Papa benar. Kami sama sekali tidak mempermasalahkan di mana saja kalian mengelar resepsi pernikahan, yang terpenting dari Mama kalian mendapatkan kebahagiaan," pungkas Mama Maya menimpali.


Semuanya mengangguk mendengar tanda setuju dari kedua orang tua Vini.


"Serahkan kepada Mommy, semua akan Mommy urus," pungkas Mommy Meysi.


"Biar Frans saja Mom," dokter Frans tidak ingin wanita tangguhnya itu kelelahan kedepannya karena mengurus semuanya.


"Hanya ini kesempatan Mommy untuk pertama dan terakhir. Hanya kamu putra satu-satunya jadi biarkan Mommy sama Daddy yang mengurus semuanya, kalian tinggal duduk manis saja," ucap Mommy Meysi tidak ingin kalah.


"Baiklah Mommy menang," desis dokter Frans.


"Tanggal sekian-sekian. Kita harus cepat-cepat meresmikan atau mengesahkan mereka, karena aku tidak ingin cucu kita lahir lebih duluan dari bulan pernikahan mereka," ucap Mommy Meysi tanpa di rem.


Mendengar sindiran Mommy Meysi membuat wajah dokter Frans maupun Vini bersemu merah. Mereka pura-pura tidak menanggapi.


"Sayang...." Gumam Mama Maya seraya mengigit bibir bawah.


"Tidak masalah May, biar kita cepat diberi cucu. Aku sudah sejak lama ingin mendengar tangisan bayi di rumah tetapi baru kali ini masih dalam proses atau saat ini lagi berkembang," ucap Mommy Meysi menjurus ke hal lebih dalam hal itu membuat kedua pria paruh baya menggelengkan kepala. "Tetapi tetap saja cara itu salah," imbuhnya kembali seakan menarik ucapannya sendiri.


"Mommy percayalah tidak ada yang harus kalian cemaskan, hmmm kami masih tersegel," ujar dokter Frans mengelak.


"Tak percaya," ketus Mommy Meysi.


°°°°°°

__ADS_1


Di Mansion


Malam ini Alfred pulang terlambat karena masih ada pekerjaan yang harus selesai saat itu juga. Apa lagi dia menghandle semuanya, sedangkan Andre sudah berangkat seperti yang dia ketahui.


Begitu juga dengan Vini tiba-tiba minta cuti mendadak.


Aku dengan setia menunggu kepulangan Alfred sembari mengerjakan tugas. Sedangkan anak-anak sudah terlelap di kamar masing-masing ditemani Dea dan Mia.


Klek


Bunyi handle pintu membuat konsentrasiku teralihkan.


"Sayang kamu belum tidur?" tanya Alfred melangkah mendekat.


"Belum sayang lagi menyelesaikan tugas seraya menunggu kamu," ucapku sembari tersenyum. Kututup laptop, lalu beranjak bangkit untuk membukakan jas serta menyimpan tas milik Alfred. Begitulah setiap harinya jika aku tidak sibuk, sebenarnya Alfred menolak diperlakukan seperti itu, tetapi itu sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang istri.


Alfred mendaratkan kecupan bertubi di seluruh wajahku sehingga membuat aku cemberut.


"Sayang pergi sana, bersihkan dirimu. Oya sudah aku siapin air hangat," ucapku seraya mengusap roti sobek itu.


"Kamu membuatku tidak tahan. Hmmm malam ini aku menagih jatah," goda Alfred dengan berbisik.


Aku dengan segera berlari menjauh mendengar godaan Alfred.


"Menagih apa lagi?" cicitku.


"Lagi kepengen sayang," Alfred kembali menggoda dengan cara mengedipkan mata.


"Dasar mezvm!"


Alfred ingin melangkah ke kamar mandi tetapi dia mengingat sesuatu.


"Sayang didalam tas kerja ada kartu undangan pernikahan. Coba tolong kamu ambil, tetapi kamu jangan jantungan ya?" ucapan Alfred membuat dahiku mengerut.


Tidak ingin berlama-lama karena rasa penasaran aku langsung membuka tas kerja Alfred yang sudah aku simpan pada tempatnya tadi.


Kartu undangan itu aku raih dalam tas lalu de gan segera melihat atas nama siapa kartu undangan itu.


Deg


Bagai dihantam ombak aku sungguh terkejut bahkan tidak percaya melihat tertera nama kedua orang yang sangat aku kenali.


"Frans, Vini. Me-menikah?" aku bergumam masih tak percaya.


"Iya sayang aku juga sempat kaget. Ketika menerima kartu undangan itu aku langsung menghubungi Frans serta Tante Meysi," ujar Alfred.


Alfred menceritakan seperti yang diceritakan oleh dokter Frans maupun Tante Meysi.


Huh....


"Sulit untuk dipercaya, ternyata banyak kejadian yang tiba-tiba begitu saja," aku bergumam sedangkan suami mezvmku itu sudah bermain dengan air hangat didalam kamar mandi.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2