MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 174~MDS2


__ADS_3

Rebecca menelan ludah mendengar ucapan Keenan. Tubuh semakin menegang, disertai detak jantung yang tak karuan.


Keenan memeluknya begitu erat, dengan tangan kekarnya itu. Rebecca agak sulit untuk mengambil nafas.


"A-aku ingin tidur," lirih Rebecca dengan wajah memerah.


Keenan tak bergeming mendengar ucapan Rebecca, bahkan ia juga engan melepaskan pelukan itu.


Mata Rebecca membulat mendapat kecupan bertubi-tubi di pucuk kepalanya.


"Apa yang dia lakukan?" batin Rebecca tak karuan.


"Kamu pakai shampo apa? aromanya wangi sekali, hingga membuatku ingin menciumnya terus-menerus," ujar Keenan.


Rebecca tercengang dalam diam masih dengan jantung berdebar. Sejak kapan seorang Keenan menanyakan masalah sepele ini tetapi lihatlah malam ini ia menanyakan masalah yang tidak penting.


Mendengar Rebecca tak menjawab membuat Keenan memberanikan diri membalikan tubuh Rebecca agar menghadap kepadanya.


Rebecca berusaha menolak tetapi tenaganya tak sebanding dengan Keenan tentunya. Bahkan kepalanya berbantalkan lengan kekar itu.


Kini keduanya saling berhadapan. Tatapan keduanya bertemu dalam diam. Tentu saja jantung keduanya saling berdegup kencang.


Tangan Keenan terulur untuk menyibak rambut panjang yang menghalangi wajah cantik itu.


"Akhirnya aku dapat memandangi wajahmu sedekat ini. Kamu tumbuh dengan sempurna, semakin cantik tentunya," ujar Keenan bukan hanya bualan semata .


Demi apapun Rebecca ingin bersembunyi saat itu. Sorot mata tajam Keenan seakan menembus di jantungnya.


"Aku juga baru kali ini memandangi wajah tampanmu itu," batin Rebecca tanpa mengalihkan tatapan intens itu.


"Rebecca aku minta maaf atas segala sikap dan perbuatanku di masa lalu dan masa sekarang," gumam Keenan dengan suara serak tanpa memutuskan tatapan itu.


Rebecca tertekun, tiba-tiba kenangan dimana pertama kali Keenan pergi ke Indonesia, itulah adalah perpisahan pertama kali mereka.


Pada saat itulah pertama kali ia merasa sedih untuk melepaskan kepergian Keenan tanpa ada hubungan yang baik.


"Kamu terlalu jahat," lirih Rebecca seraya memukul dada Keenan bertubi-tubi, diiringi mata berkaca-kaca.


Keenan membiarkan Rebecca mengeluarkan emosinya. Bahkan pukulan itu sama sekali tidak terasa sakit.


Merasa puas Rebecca langsung membalikan kembali tubuhnya. Sungguh saat ini merasa sangat malu atas ulahnya sendiri.


Dengan segera Rebecca menenangkan dirinya. Ia tidak ingin terjebak dengan perasaan itu, bisa saja ini semua Keenan lakukan karena tak ingin perpisahan ini terjadi.


Tidak ingin Rebecca merasa tak nyaman Keenan dengan terpaksa beranjak dari ranjang. Untuk malam ini ia mengalah dulu, dan kembali tidur di sofa.


"Selamat malam," ujar Keenan seraya mengecup kepala Rebecca.


Sekali lagi membuat mata Rebecca membulat, mendapat kecupan manis dari pria tampan ini.


°°°°°°


Keesokan paginya


Keenan bangun cukup pagi. Ia kembali menyiapkan sarapan untuk mereka. Keenan memang sengaja memberhentikan pelayan untuk bekerja di apartemen mereka.


Untuk itu ia yang menggantikan tugas sang pelayan.


Terlebih dahulu Keenan membuatkan sarapan, yang terutama kesukaan Rebecca.


Usai menyiapkan sarapan ia melakukan tugas beberes seperti menyapu serta mengepel lantai.

__ADS_1


Karena ini pertama kali baginya untuk mengepel lantai hingga membuat lantai menjadi licin dan banjir.


Awww


Tiba-tiba teriakan Rebecca di ambang pintu kamar mengagetkan aktivitas Keenan. Melihat Rebecca ingin terpeleset membuat Keenan segera berlari kencang dan berhasil mendekap tubuhnya tetapi dengan kata lain mereka jatuh berdua akibat lantai memang licin.


Cup


Bibir keduanya menempel, katakan Rebecca yang mencium karena posisi dia yang di atas tubuh Keenan.


Entah apa yang membuat kedua insan ini terdiam tanpa engan menggulingkan tubuh, masih dengan bibir menempel.


Detak jantung keduanya jangan ditanyakan lagi. Mungkin keduanya saling menyadari.


Entah apa yang membuat Keenan berani diri memperdalam ciuman itu.


Rebecca terbelalak kaget serta membeku tanpa membalas ciuman itu, apa lagi ia belum berpengalaman.


Karena tak kunjung juga mendapat balasan membuat Keenan segera mengakhiri. Ada raut kecewa yang terpancar di wajah tampan itu.


"Maaf," ujar Keenan seraya berhati-hati menggulingkan tubuh Rebecca. Sungguh Rebecca seperti orang linglung atau orang mabuk yang tak tau harus berbuat apa.


Wajahnya kini bersemu merah, ia hanya bisa membuang muka.


"Jangan bergerak, ini sangat licin," ujar Keenan.


Tanpa berpikir panjang ia langsung mengendong Rebecca apa bridal kembali masuk kedalam kamar. Tentu saja apa yang dilakukan Keenan membuatnya kaget luar biasa.


Keenan mendaratkan Rebecca di atas sofa.


"Apa ada yang sakit?" tanya Keenan dengan raut wajah khawatir.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa lantai sangat licin serta basah sekali?" tanya Rebecca sedikit syok mendapat lantai begitu licin.


"Hmm itu," ujar Keenan seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Mengepel?" ucap Rebecca menjawab pertanyaannya sendiri.


Keenan mengangguk malu-malu.


Jawaban Keenan membuat dahi Rebecca mengerut.


"Tidak mungkin," batin Rebecca.


"Untuk apa kamu melakukan itu? itu tugas Bibi," ucap Rebecca.


"Tidak masalah," pungkas Keenan tanpa ingin memberitahu tujuannya.


Tiba-tiba tangan Rebecca terulur tepat di ujung kening Keenan. Rupanya ujung kening itu memerah akibat terbentur lantai.


Keenan membeku terdiam. Tentu saja itu sedikit perih tetapi engan untuk dipermasalahkan.


"Apakah sakit?" lirih Rebecca seraya mengusap dengan penuh hati-hati.


Keenan memejamkan mata sesaat, merasakan sentuhan lembut itu.


Dengan segera ia meraih pergelangan tangan Rebecca, lalu membawanya menempel tepat di dadanya.


"Ini yang sakit ketika mendengar perpisahan," ujar Keenan dengan nada berat seraya menatap Rebecca.


Rebecca menelan ludah mendengar hal itu.

__ADS_1


"Aku akan membereskan yang berantakan di luar," ucap Rebecca dengan gugup, ia segera menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Keenan.


°°°°°°


Di ruangannya Rebecca menutup wajahnya setelah mengingat kembali kejadian-kejadian di apartemen.


"Ada apa ini?" gumamnya seraya menggelengkan kepala. "Tenang Eca jangan terbuai," imbuhnya kembali.


Tok tok


Ketukan pintu membuat lamunan Rebecca membuyar.


"Masuk," sahutnya.


Klek


Pintu ruangan dibuka dan sosok Gerry lah yang datang.


"Selamat siang Nona," sapa Gerry seperti biasanya.


"Iya Ger," sahut Rebecca berpura-pura sibuk dengan laptop di atas meja kerjanya. Padahal sejak tadi ia hanya melamun saja.


"Saya hanya menyampaikan bahwa Tuan akan mengajak Nona untuk makan siang," papar Gerry seperti yang diperintahkan Keenan kepadanya.


Tentu saja itu membuat Rebecca kaget karena ia tak menyangka.


"Katakan kepadanya bahwa aku sibuk," ucap Rebecca ingin menghindari Keenan.


"Apa yang membuatmu sibuk?" tiba-tiba suara bariton itu membuat Rebecca maupun Gerry sedikit kaget karena tak menyadari kedatangan Keenan.


Diam-diam Gerry tersenyum melihat kedua insan itu.


"Jika begitu saya permisi," ucap Gerry seakan tau suasana itu.


Sepeninggalan Gerry suasana sedikit hening. Keenan maupun Rebecca terdiam untuk beberapa detik.


"Ya ampun kenapa dia datang dalam situasi seperti ini?" keluh kesah Rebecca dalam hati.


"Apa yang membuatnya sibuk seakan engan untuk makan siang bersama," batin Keenan.


Hmm


"Pekerjaan itu tak pernah ada kata selesai, jadi kita sendiri yang harus pintar menyesuaikannya," ujar Keenan.


Rebecca menghela nafas berat seraya mengigit bibir bawahnya.


"Baiklah jika memang tidak bisa, lain kali saja. Hmm itupun jika masih ada waktu," ujar Keenan tidak ingin memaksa, sungguh ia tidak ingin membuat Rebecca merasa tidak nyaman atas dirinya.


Setelah mengatakan itu Keenan segera berjalan menuju pintu ruangan. Tepat diambang pintu ia berhenti, lalu membalikan badan.


"Jangan lewatkan makan siang." Keenan mengingatkan. Sedangkan orang yang ditujukan hanya terdiam bengong.


Kecewa tentu saja dirasakan oleh Keenan tetapi kembali lagi ia tidak bisa memaksa.


Rebecca memandangi tubuh menjulang itu dengan tatapan datar. Ia dapat menyadari raut kekecewaan di wajah Keenan.


Rebecca hanya bisa menarik nafas dalam-dalam untuk membuang rasa sesak yang penuh di dadanya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2