
1 bulan berlalu
Keenan memilih tinggal sendiri di apartemen. Dengan alasan ingin mandiri. Mau tidak mau kedua orang tuanya mengizinkannya.
Mommy Isabella hanya bisa mengelus dada dengan permintaan Keenan. Bukannya sudah tinggal satu negara tetapi Keenan malah memilih tinggal di apartemen.
Leon 1 bulan lalu juga mutasi ke rumah sakit cabang di kota x.
Hal itu mengundang kegundahan di hati Mommy Isabella. Satu-persatu putranya meninggalkan Manson.
Sosok Rebecca yang dapat mengobati hari-hari sepi mereka di Mansion tetapi untuk 1 tahun ke depan gadis cantik itu akan menghabiskan waktu di kantor karena hari ini ia mulai magang.
Di meja makan
Dua pasangan yang selalu menebarkan keharmonisan serta keromantisan itu sedang mengobrol ringan tepat di meja makan.
Keduanya menyantap sarapan pagi yang dibuat oleh Mommy Isabella sendiri.
"Pagi Dad. Pagi Mom," sapa Rebecca.
"Pagi sayang. Wah putri Mommy sangat cantik," balas Mommy Isabella seraya memuji penampilan perdana Rebecca pagi ini. Dimana ia menggenakan pakaian kantor.
"Tentu dong. Bukankah Mommy nya juga tak kalah cantik?" balas Rebecca seraya menebarkan senyuman manisnya.
Tetapi senyuman itu tak bertahan lama ketika ia mencerna perkataannya sendiri. Seketika wajah berseri-seri tadi kini menjadi sendu.
Daddy Alfred maupun Mommy Isabella saling memandang dengan diam.
"Sayang ayo lekas habiskan sarapannya. Ini Mommy buatin roti bakar kesukaan Eca," ucap Mommy Isabella ingin mencairkan keadaan. Ia memahami dari perubahan wajah Rebecca.
"Terima kasih Mom, akan Eca habiskan," sahut Rebecca kembali ceria. Melihat keceriaan Rebecca kembali membuat senyuman mengembang di bibir keduanya.
"Sayang Mommy sama Daddy yang akan mengantar Eca untuk pertama kali masuk kerja," ucap Mommy Isabella dengan tenangnya.
Hah.....
Apa ia salah dengar?
"Iya Nak, ini semua keinginan Mommy," timpal Daddy Alfred.
Rebecca memejamkan mata sesaat.
"Mom, Dad sekarang Eca bukan anak kecil lagi. Jadi tidak perlu di antar segala," protes Rebecca seraya menggelengkan kepala.
"Mommy tau itu sayang tetapi tetap saja Mommy mengkhawatirkanmu," sahutnya merasa benar.
"Apa kata karyawan lainnya Mom jika Eca di antar?" Rebecca kekeh tidak ingin di antar segala.
"Mommy ingin tau saja sayang," kekehnya.
__ADS_1
"Stop Mom! Sekarang Eca bukan anak TK, SD, SMP, SMA lagi!" Seru Rebecca dengan nada cukup tinggi. Mungkin karena terbawa perasaan hingga ia tidak dapat mengontrol diri.
Daddy Alfred maupun Mommy Isabella terbelalak kaget mendengar seruan lantang dari Rebecca.
"Maaf sayang ternyata selama ini Mommy salah," lirih Mommy Isabella dengan wajah sendu seraya menunduk.
Rebecca memang diperlakukan berbeda dari saudara lainnya. Bukan karena tidak sayang kepada yang lainnya. Tetapi itu semata karena Rebecca yang paling bontot. Keenan maupun Kiran lebih tua 4 tahu dari Rebecca. Otomatis Rebecca yang paling kecil diantara ketiganya.
Semua menyukai Rebecca semasa bayi termasuk Keenan. Tetapi entah kenapa sikapnya mulai berbeda ketika Keenan menduduki kelas 6 SD.
Mommy Isabella memang ingin sekali memiliki anak lagi tetapi Tuhan berkehendak lain. Dia divonis tidak bisa memiliki keturunan lagi karena rahimnya di angkat.
Seketika mata Rebecca melebar setelah mendengar suara pilu dari wanita yang sangat ia sayangi. Ternyata ia sudah salah berbicara serta nada suaranya seperti menyinggung perasaan kedua paruh baya itu.
Rebecca beranjak dari kursi duduknya, lalu memutari meja agar menjangkau kedua orang tuanya.
"Mom bukan begitu maksud Eca. Eca minta maaf Mom sudah berkata kasar," lirih Rebecca tak kalah pilunya.
"Tidak sayang, ini semua kesalahan Mommy. Mommy anggap kamu masih saja anak kecil," imbuhnya seraya menatap Rebecca.
"Usia Eca sudah 21 tahun, itu sudah berarti gadis bukan? jika Eca selalu anak kecil, kapan dong Eca menikah? hehehe.... " canda Rebecca seraya tertawa nyinyir, memamerkan gigi putihnya.
Deg
Mendengar kata nikah membuat Daddy Alfred dan Mommy Isabella saling menatap dengan sorot mata saling mengunci.
°°°°°°
Dari kejauhan Rebecca melihat kedua teman sekampusnya menunggu di lobby kantor.
"Dad, Mom, itu teman sekampus Eca," ucap Rebecca seraya menunjuk kearah kedua itu yang sedang berbicara dengan satpam kantor.
"Ayo kita samperin," kata Mommy Isabella seraya menarik kedua tangan orang yang berada di samping kanan kirinya yang tak lain suami serta putri kesayangannya.
"Felis, Jio!" Panggil Rebecca hingga membuat nama yang dipanggil segera menoleh.
"Eca," balas mereka secara bersamaan seraya mengembangkan senyuman.
"Kenapa kalian menunggu di sini? kan ada ruang tunggu," ucap Rebecca seakan sudah hafal dengan fasilitas kantor.
"Kami hanya menunggu kamu. Selamat pagi Tuan, Nyonya," sahut Felis seraya menyapa kedua orang tua Rebecca.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya," timpal Jio.
"Pagi juga. Hmm kalian teman satu kampus Eca?" ucap Mommy Isabella.
"Iya Nyonya," sahut keduanya.
"Jangan formal begitu. Cukup panggil Om Tante saja," ucap Mommy Isabella.
__ADS_1
**
"Dad, Mom," suara bariton itu membuat semuanya menoleh.
"Sayang," panggil Mommy Isabella langsung mendekati Keenan.
"Kamu baru datang son?" sindir Daddy Alfred.
"Bukan begitu Dad, tadi terjebak macet. Jika tak percaya tanyakan saja kepada Gerry," ujar Keenan.
"Maaf Tuan. Apa yang dikatakan Tuan Keenan benar," papar Gerry.
Hmm
"Dad, Mom. Eca sama temen-temen akan ke ruang HRD," ucap Rebecca sehingga semuanya memperhatikannya.
"Untuk apa?" tanya Mommy Isabella.
"Untuk menyerahkan surat keterangan dari kampus Mom," jelas Rebecca. Entah wanita ini tau atau memang sengaja pura-pura tak paham.
"Sayang bimbing Adikmu serta kedua temannya ini. Gerry beri pekerjaan yang ringan karena mereka baru pertama kali terjun ke dunia bisnis langsung," ucap Mommy Isabella.
Mendengar permintaan Mommy Isabella membuat Rebecca memejamkan mata, bukan hanya dia tetapi Daddy Alfred dan Keenan juga melakukan itu.
"Sayang untuk masalah ini kita tidak bisa ikut campur, walaupun ini perusahaan milik kita. Ini latihan untuk Eca dan teman-temannya, di sini mereka membuktikan bahwa mereka sudah layak." Pungkas Daddy Alfred.
"Tapi Mommy khawatir saja, putri kita gampang sakit Dad. Kena debu sedikit saja langsung flu," lirih wanita itu seraya menatap Rebecca yang sejak tadi hanya menunduk saja.
Daddy Alfred menghela nafas panjang.
"Masalah mahasiswa magang di perusahaan ini Daddy tidak ikut campur, semua sudah ada aturan dari mulai perusahaan ini berkembang. Peraturan tidak bisa di langgar, semua sama diperlakukan sesuai peraturan di perusahaan ini." Pungkas Daddy Alfred dengan tegas.
"Mommy sampai kapan Eca bisa mandiri jika selalu di kawal. Pasti orang-orang mengira Eca anak bawang," keluh Rebecca dalam hati.
"Baiklah sayang. Mulai sekarang Mommy memberi kebebasan untukmu. Buktikan bahwa kamu kuat dan bisa. Maafkan Mommy selalu mengatur, tetapi itu semata agar kamu...."
"Dia sudah dewasa Mom, bukan anak kecil lagi!" Akhirnya Keenan ikut berkomentar karena pagi-pagi sudah membuang waktu yang tidak penting baginya. Bahkan ia menekankan kata bukan anak kecil lagi.
Sindiran itu membuat Rebecca mengangkat wajahnya, lalu menatap Keenan yang rupanya juga menatap kearahnya. Hingga tatapan mereka bertemu, sedangkan kedua teman Rebecca serta Gerry sejak tadi hanya menunduk saja.
"Baiklah Daddy sama Mommy bisa mengantar sampai sini saja. Ayo sayang kita harus kembali, kita sudah me. buang waktu mereka," ujar Daddy Alfred seraya merengkuh pinggang ramping itu.
Akhirnya kedua paruh baya meninggalkan gedung pencakar langit. Sedangkan kedua teman Rebecca mengikuti Gerry ke ruang HRD.
Keenan menatap Rebecca dengan tatapan tajam.
"Kau bukan anak kecil lagi. Belajar dewasa dan mandiri!" Sindir Keenan menekankan. Setelah mengatakan itu ia berjalan tanpa beban.
Rebecca terpaku mendengar sindiran itu. Dia tidak terima dikatai dengan tuduhan itu.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪