
Menjelang pagi tak lantas membuatku terbangun dari tempat tidur. Kebetulan hari ini weekend jadi ingin memanjakan tubuh lelah ini sebentar.
Selimut tebal kutarik kembali untuk menyelimuti tubuhku. Aku mulai memejamkan mata kembali. Tapi tiba-tiba bayangan wajah Alfred terlintas begitu saja sehingga membuat mataku terbuka lagi.
Aku duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuh yang terasa kram.
"Aku benar-benar sudah gila," gumamku sembari mengusap wajahku. "Sadar Abel dia sama sekali tidak menyukaimu, yang ada dia sangat membencimu," kembali lagi aku bergumam dengan tatapan sendu.
Tok tok
"Mommy," panggil Leon sembari mengetuk pintu kamar.
Segera aku mengusap wajah sendu ini agar Leon tak banyak tanya. Aku bangkit melangkah menuju pintu.
Klek
Senyuman merekah di bibirku melihat putra penyemangat sudah tampil wangi dan rapi, sepertinya Leon sudah dimandikan Dea.
"Pagi Mom," sapa Leon memperlihat gigi rapatnya.
"Pagi juga sayang, hmm kesayangan Mom sudah wangi," balasku langsung menggendong Leon membawa ke ranjang.
"Mommy bau," canda Leon sembari memencet hidungnya.
"Kan....Mommy nangis nih," aku pura merajuk dengan wajah sedih.
Hahaha.....
"Masa sudah tua masih mau nangis," ucap Leon terkekeh menertawai candaanku.
"Tua muda tidak ada yang membedakan untuk nangis sayang, semua wajar-wajar saja," jelasku memberi pengertian kepada Leon.
"Berarti Mommy sering nangis dong?" tebak Leon.
"Tentu sayang. Kadang kita menangis karena senang dan sebaliknya," sahutku sembari mengusap kepala Leon.
Sesuai rencana setelah sarapan kami akan membersihkan rumah bagian lantai bawah sampai perkarangan rumah.
"Ayo Mom," ajak Leon dengan tangan memegang sapu. Anak ini sungguh antusias sekali.
"Oke bos," balasku dengan memberi kode jari, lalu menarik lengan Leon.
Kami mulai membersihkan, Dea juga ikut serta. Tibalah di bagasi mobil yang cukup luas. Aku belum pernah memasuki garasi itu selama tinggal di sini.
__ADS_1
"Mom ini seperti ada ruangan," oceh Leon sehingga membuat tanganku terhenti menyapu di ujung sana. Aku melihat Leon membuka sebuah pintu. "Tidak di kunci Mom," ulang Leon.
"Sayang tidak boleh masuk, nanti ada binatang loh," kataku melarang Leon untuk masuk, aku tau itu pasti gudang penempatan barang yang sudah tidak berguna lagi.
"Sangat kotor Mom, kita harus membersihkannya," Leon masuk begitu saja sehingga aku menyuruh Dea menyusul Leon, sedangkan aku menyelesaikan pekerjaan dulu.
"Mom sini," panggil Leon menyuruh aku menyusul.
"Bentar sayang, Mommy selesaikan ini dulu," sahutku tanpa menghentikan aktifitas tanganku.
Merasa cukup aku langsung menyusul mereka. Ternyata ruangan yang kukira gudang penyimpan barang tak berguna itu hanya di simpan beberapa barang saja, ruangan itu juga tidak terlalu kotor.
Banyak kotak kardus yang tersusun dan dihinggapi sarang laba-laba.
"Mom apa ini?" pertanyaan Leon membuat pandanganku teralih. Di tangan Leon memegang kotak kayu berukuran kecil. Kakiku melangkah mendekati Leon.
"Sini sayang, tidak boleh ini bukan milik kita," kataku ingin menyimpan album itu kembali ke tempat asalnya. "Kak Dea bawa Leon untuk mandi lagi, sepertinya sudah bau," kataku sehingga membuat Leon mengendus hidungnya di bagian ketiak.
"Leon tidak bau Mom," protes Leon sehingga membuat aku tertawa kecil.
"Ayo Leon," ajak Dea berlalu meninggalkanku.
Kotak yang masih di tanganku segera aku simpan di tempat semula tanpa berkeinginan melihat isi didalam kotak itu karena bukan wewenangku. Aku juga takut jika Alfred mengetahuinya.
Brak
"Huh," keluhku langsung berjongkok untuk mengambil kotak tersebut.
Deg
Mataku membulat dengan tubuh membeku mendapati sebuah benda didalam kotak tersebut. Tanganku bergetar meraih beberapa lembar foto yang aku tau siapa pemilik wajah di foto itu.
"Kak Gaby," lirihku dengan menggelengkan kepala.
Di sana terdapat 10 lembar foto pasangan kekasih. Satu lembar foto wanita sendiri yang terdapat tulisan di baliknya.
"Honey kenapa kamu pergi tanpa kabar? kenapa kamu lakukan itu kepadaku? aku tidak bisa hidup tanpamu....aku sudah berjanji kepadamu, lebih baik aku mati dari pada kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu..."
Tubuhku merosot ke lantai dengan berlinang air mata. Dadaku seketika sesak bahkan menyayat hati setelah membaca tulisan singkat itu.
Sekarang aku tau dibalik rencana Alfred. Pantas saja Alfred ingin balas dendam. Tetapi sayangnya dia salah sasaran dan belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana dia tau karena kasus itu sengaja ditutupi keluarga demi privasi.
Aku masih memandangi foto-foto itu dengan linangan air mata.
__ADS_1
°°°°°°
Alfred baru saja turun dari helikopter yang mendarat di sebuah Mansion mewah yang terletak beberapa kilometer dari pusat kota.
"Andre biar aku sendiri yang menyetir, kau pulanglah. Aku tau kau lelah," ujar Alfred berbaik hati, ini jarang sekali terjadi, bahkan beberapa bulan ini selalu melemparkan amarah kepadanya.
Mata Andre menyipit, tentu saja tak dilihat oleh Alfred karena dia sibuk dengan ponselnya.
"Apa kau tidak dengar?" suara bariton itu membuat Andre bergegas masuk kedalam mobil miliknya. Dia tidak ingin Tuannya itu berubah pikiran.
"Terima kasih Tuan," ujar Andre sebelum menjalankan mobil.
Tanpa menjawab Alfred juga masuk kedalam mobilnya dan mendahului Andre.
"Dasar singa," umpat Andre.
Alfred tidak lantas pulang ke rumah. Dia ada janji temu dengan seorang yang menjadi kaki kanannya di sebuah cafe.
Sampai di cafe Alfred langsung menemui anak buahnya.
"Tuan," sapa pria bertopi itu.
Alfred mengangguk dan langsung mendudukkan dirinya menghadap anak buahnya.
"Bagaimana?" mereka mulai membahas obrolan.
Merasa cukup Alfred kembali ke mobil dan langsung pulang. Ini adalah kepulangannya selama satu bulan meninggalkan rumah, bahkan sudah satu bulan tak bertemu penghuni rumah.
Hanya butuh beberapa menit mobil mewah itu memasuki perkarangan rumah. Alfred keluar dari mobil dan langsung menapakkan kaki menuju pintu utama, jujur saja dia sangat lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya seharian ini di kamar yang sudah lama ditinggalkan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika pandangannya ke garasi yang pintunya terbuka sebelah. Selama ini pintu garasi tidak pernah terbuka selain dirinya menyimpan mobil.
Merasa penasaran Alfred mengurungkan niatnya masuk kedalam rumah sehingga ia berbalik melangkah ke garasi.
Keningnya mengerut mendapatkan garasi sangat bersih bahkan tercium wangi lantai. Tidak berapa lama wajahnya merah padam mendapati sebuah pintu terbuka di ujung sana. Dengan tangan terkepal erat disertai rahang mengeras Alfred melangkah panjang menuju ruangan yang tak ingin dia masuki selama ini.
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu mendapati sesosok orang yang sangat dia benci sedang berlutut di lantai sembari menangis, memandangi lembaran foto.
Sorot mata tajam Alfred ingin menguliti.
"Apa yang kau lakukan?" suara bariton itu membuat tubuhku membeku.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
°Susul 2 bab lagi hari ini Bravo💪