
Di perumahan elite.
Rebecca terlebih dahulu menghubungi Lucky, ia menunggu di luar. Sebenarnya tidak baik bertamu di saat subuh begini.
Tentu saja Lucky langsung terbangun dari tidurnya. 2 jam yang lalu mereka baru tiba di rumah sepulang dari Mansion keluarga Hugo.
Klek
"Dek," panggil Lucky setelah pintu dibuka.
Rebecca terdiam, dia tidak tau harus berkata apa.
"Ayo masuk, tidak baik udara diluar," ujar Lucky mempersilahkan Rebecca masuk.
"Maaf sudah menganggu waktu istirahatmu," ucap Rebecca tidak enak hati.
"Tidak masalah, bahkan sebaliknya aku senang," ujar Lucky, ia tak menyangka jika Rebecca mendatangi kediaman mereka.
Keduanya masuk dengan beriringan.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu," saran Lucky karena sangat paham dengan apa yang sedang dihadapi Rebecca.
"Baiklah," sahut Rebecca karena ia memang perlu menenangkan diri untuk saat ini.
Lucky membawa Rebecca ke kamar. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia bicarakan tetapi waktu saat ini tidak tepat sehingga ia membiarkan Rebecca beristirahat dulu.
**
Keesokan harinya
Di kediaman keluarga Sun.
Lucky bersama Tuan Sun sedang berbincang di ruang keluarga. Lucky memberitahukan bahwa ada Rebecca saat ini di kediaman mereka.
Tentu saja kabar itu membuat Tuan Sun terbelalak kaget karena tak menduga.
"Dimana putriku son?" tanya Tuan Sun sungguh bahagia.
"Mungkin masih tidur Dad. Sebaiknya biarkan saja dulu," ujar Lucky.
Tuan Sun manggut-manggut.
"Se-selamat pagi," sapa Rebecca dengan perasaan sungkan.
Mendengar sapaan itu membuat kedua pria beda usia itu saling menoleh kearah suara.
"Nak," seru Tuan Sun. Pria paruh baya yang baru saja membaik itu bangkit berdiri dari tempat duduknya. Melangkah mendekati Rebecca.
Dalam diam ingin sekali mendekap tubuh itu tetapi keberaniannya seakan dipendam. Bagaimana bisa ia berani melakukan itu ketika mendengar penuturan Rebecca waktu itu.
"Ya Tuhan benarkah ini Daddy kandungku?" batin Rebecca.
"Aku minta maaf atas ucapanku semalam," ucap Rebecca dengan wajah menunduk.
Mendengar permintaan maaf Rebecca membuat Tuan Sun meneteskan air mata. Tanpa berpikir panjang lagi ia dekap tubuh Rebecca, membawanya kedalam pelukannya.
"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf sayang tetapi Daddy. Daddy minta maaf atas semua ini," pungkas Tuan Sun seraya memejamkan mata.
Rebecca hanya bisa mengangguk dalam pelukan itu dengan tubuh tergoncang menahan tangis.
Lucky merasa lega karena Rebecca mau menerima orang tuanya.
"Son," panggil Tuan Sun hingga Lucky tersadar dari lamunannya.
Lucky bangkit berdiri lalu mendekati dimana Daddy bersama sang Adik. Lucky pun ikut dalam dekapan itu.
"Dek, Kakak juga minta maaf. Sungguh Kakak tidak pernah tau jika memiliki seorang Adik," ujar Lucky.
**
__ADS_1
Kini ketiganya duduk saling berdampingan, posisinya Rebecca di tengah-tengah.
"Daddy akan menceritakan kronologi kejadian di masa lalu," papar Tuan Sun.
Rebecca maupun Lucky terdiam.
#Flashback#
Tuan Sun menghadiri undangan pesta anniversary salah satu kolega bisnisnya di sebuah hotel.
Ia hadir bersama dengan sekretarisnya karena pada saat itu ia telah menyandang status duda.
Mereka dipersilahkan untuk menikmati hidangan setelah memberi ucapan selamat.
"Pelayan," panggil sang sekretaris yang berjenis laki-laki memanggil salah satu pelayan.
Pelayan menghampiri dengan membawa nampan berisi 4 gelas jus.
"Tuan ingin meminum jus apa?" tanya sang sekretaris.
"Terserah Bob," sahut Tuan Sun.
Tanpa berpikir panjang Bobby mengambil 2 jus yang berbeda.
Mereka menyesap jus itu tanpa merasa curiga sedikitpun.
"Tuan saya permisi ke toilet," ucap Bobby merasa kebelet.
Tuan Sun mengangguk.
Sekian menit ia merasakan keanehan di tubuhnya. Gerah dan menimbulkan gairah yang luar biasa.
Tuan Sun berusaha tenang dan ingin menunggu kembalinya Bobby tetapi rasa keanehan itu tidak bisa ia tahan lagi hingga membuatnya berusaha bangkit.
Tuan Sun berjalan keluar dari pesta, ia ingin segera merendamkan tubuhnya dan minta bantuan dokter.
Bruk
Awww
Jeritan sesosok yang ia tabrak, ternyata wanita itu tersungkur ke lantai.
"Maaf saya tak sengaja Tuan," ucap wanita itu berusaha bangkit.
Tuan Sun berusaha melihat siapa sosok itu.
Deg
Paras cantik wanita itu mengundang gairahnya, dan bahkan ia sudah tidak tahan lagi untuk merendam gejolak itu.
Tanpa berpikir panjang Tuan Sun membawa wanita itu secara paksa. Mencari kamar hotel yang kosong. Kebetulan di sana ada kamar kosong, itu membuat Tuan Sun tidak bersusah payah lagi.
"Tuan lepaskan saya. Tuan ingin bawa saya kemana?" mohon wanita itu seraya menangis.
Tuan Sun seakan tak peduli dengan permohonan itu Karen saat ini dirinya sudah dikuasai.
Didalam kamar dengan pencahayaan remang-remang sehingga wanita itu sulit melihat tampang pria yang membawanya itu.
"Aku mohon bantu aku untuk meredakan gejolak ini. Aku tidak tau jika minuman itu diberi obat perangsang, sungguh aku tidak tahan," lirih Tuan Sun dengan pandangan penuh nafsu.
Wanita itu menggeleng seraya memundurkan dirinya.
"Tolong jangan lakukan itu kepada saya Tuan," mohon wanita itu, ia berusaha membuka pintu yang sengaja dikunci oleh Tuan Sun. "Tuan, Nona tolong saya," teriak wanita itu seraya memukulkan pintu sekuat mungkin.
Tuan Sun seakan tak peduli, yang ada dibenaknya harus mendapat pelepasan. Terutama ia ternyata tertarik dengan wanita itu pad saat pandangan pertama.
Hingga dosa besar itu terjadi begitu saja. Awalnya wanita itu menolak tetapi perlahan ia hanya pasrah karena percuma saja ingin menolak.
Entah pelepasan yang ke berapa Tuan Sun tumbang di samping wanita itu. Ternyata wanita itu sudah tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
"Ternyata dia masih suci, aku minta maaf. Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku ini," gumam Tuan Sun seraya mengecup dahi itu dalam pencahayaan remang-remang.
Keesokan paginya
Tuan Sun terbangun tetapi ia tidak mendapati wanita yang ada di sampingnya. Ia hanya bisa mendapati bercak darah di atas seprei. Itu adalah bukti bahwa kesucian wanita yang ia tiduri.
"Kemana dia? aku akan mencarinya!" Gumam Tuan Sun.
**
"Begitulah ceritanya Nak. Daddy sudah berusaha mencari tau tetapi sayangya tidak ada jejak bukti karena kebetulan CCTV di area itu sedang ada kerusakan. Sungguh Daddy berusaha waktu itu, dan sampai saat ini karena Daddy merasa bersalah," cerita Tuan Sun dengan mata memerah.
Rebecca maupun Lucky mendengar dalam diam. Di sini memang bukan sepenuhnya kesalahan Daddy mereka.
"Sekali lagi Daddy minta maaf Nak," ujar Tuan Sun kepada Rebecca. "Sungguh Daddy tidak tau," imbuhnya.
Rebecca meneteskan air mata ketika mengingat bagaimana sosok wanita yang telah melahirkannya dari cerita Mommy Isabella. Rebecca hanya bisa melihat foto mendiang Mamanya.
"Kata Mommy, Mama adalah wanita yang baik hati serta tulus," lirih Rebecca seraya menyeka air mata yang tak dapat ia bendung lagi.
Tuan Sun maupun Lucky membeku.
"Aku saja tidak dapat mengenal Mama karena Tuhan lebih menyayangi Mama. Kata Daddy sama Mommy, disaat usiaku baru usia 1 tahun Mama pergi untuk selama-lamanya," ungkapnya dengan dada sesak.
Lucky menghela nafas, ternyata bukan hanya dia saja yang tidak mengenal langsung sesosok wanita yang sudah melahirkan mereka.
"Nasib kita ternyata sama Dek," pungkas Lucky dengan pandangan kosong.
Mendengar penuturan Lucky membuat Rebecca tercengang.
"Kakak bahkan belum sempat di gendong bahkan di cium oleh Mommy. Mommy meninggal pada saat melaghirkan Kakak ke dunia," ceritanya dengan pilu.
Rebecca terbelalak kaget mendengar cerita Lucky. Lucky berusaha tegar, tanpa terasa ia meneteskan air mata. Tanpa di duga ternyata nasib mereka hampir sama.
Rebecca bersyukur mendapat kedua orang tua asuh yang benar-benar menyayanginya, sedangkan dia hanya diasuh oleh Daddy nya sendiri dan beberapa pengasuh.
"Daddy minta maaf kepada kalian. Daddy memang pria brengse*," ujar Tuan Sun mengaku salah.
Rebecca memejamkan mata. Begitu juga dengan Lucky.
Mereka berbincang banyak hal.
"Apa keputusanmu Nak?" tanya Tuan Sun ingin tau apa keputusan yang diambil Rebecca.
Rebecca terdiam untuk sesaat.
"Eca akan tetap pada pendirian, apa yang telah Eca sampaikan tadi malam itu adalah keputusan yang tepat. Buat apa mempertahankan hubungan semacam ini Dad," lirih Rebecca.
"Apa kamu sudah sangat yakin?"
Rebecca mengangguk mantap.
Mendengar hal itu membuat Tuan Sun kecewa atas keputusan yang diambil oleh Rebecca. Ia ingin sekali rumah tangga mereka tidak dikorbankan dengan perpisahan.
"Daddy sangat percaya Nak Keenan adalah sosok yang baik," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan gegabah Dek, pikirkan berulang-ulang. Selesaikan dengan hati dingin, jangan mengikuti ego masing-masing," timpal Lucky juga tidak sependapat dengan keputusan Rebecca.
Ia yakin jika Keenan adalah sosok yang tepat untuk sang Adik. Dulu ia memang tertarik dengan Rebecca, bahkan sangat menginspirasi dirinya.
Jika mengingat hal ituembuat ia merasa malu sendiri, hingga ia merahasiakan kekonyolannya itu. Yang tau hanya Keenan yang tak lain adalah Adik iparnya sendiri. Sungguh dunia ini ternyata sempit.
"Baiklah jika itu sudah keputusanmu, walau sejujurnya Daddy tidak setuju."
Rebecca terdiam tanpa ingin berkata apapun lagi.
"Nak apa kamu tau jika Daddy Alfred dirawat di rumah sakit?"
Deg
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪