
Keduanya melalui hari-hari seperti biasanya. Sampai pada waktu 6 hari.
Rebecca lebih cepat pulang sedangkan Keenan masih ada yang dikerjakan di kantor. Ia sudah lebih memberitahukan Rebecca sebelumnya.
Gerry masuk kedalam ruangan Keenan karena diperintahkan.
"Ada apa Tuan?" tanya Gerry karena sebenarnya sudah tidak ada pekerjaan.
"Duduk ada yang ingin dibicarakan," titahnya.
Dahi Gerry mengerut tetapi dengan segera mendaratkan bokongnya di sofa.
Keenan menghela nafas seraya melipat kedua tangannya dengan pandangan penuh tanya.
"Besok adalah hari terakhir dimana batas waktu yang aku minta tetapi sampai sekarang belum ada tanda atau respon yang diberikan," ungkap Keenan.
Gerry terdiam seraya mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Keenan.
"Saya percaya bahwa Nona akan memberi kesempatan untuk Tuan karena saya dapat melihat masih ada cinta di pancaran mata Nona, bahkan masih besar," pungkas Gerry.
Keenan langsung menatap tajam kearah Gerry.
"Kau berani memperhatikannya? sampai sejauh itu menatapnya?" bentak Keenan dengan aura wajah mematikan.
"Tenang Tuan, bukan begitu maksud saya," ujar Gerry kelabakan.
"Yang boleh menatapnya dalam hanya aku! Apa kau paham?" seru Keenan.
"Maaf Tuan," sahut Gerry segera menunduk."Dasar, dulu kemana saja," umpat Gerry yang hanya bisa berkata dalam hati.
Keenan menyandarkan kepalanya sejenak seraya menadah pandangan ke atas.
"Aku harus apa Ger?"
Gerry menghela nafas.
"Menurut saya, malam ini Tuan berusaha menjelaskannya lagi. Menyakinkan bahwa Tuan benar-benar ingin mempertahankan hubungan atau rumah tangga karena Tuan sangat mencintai Nona," tutur Gerry.
"Kau benar, aku memang seharusnya melakukan itu. Hanya ada malam ini kesempatan untuk berbicara lagi dengannya," ujar Keenan.
Setelah berbincang-bincang, mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen masing-masing.
__ADS_1
**
Menjelang petang
Usai membersihkan diri Rebecca kembali mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Dia ingin memasak tetapi tiba-tiba mendapat pesan dari Keenan bahwa malam ini mereka akan makan di luar.
Tiba-tiba Rebecca menghentikan ketikan ketika mengingat sesuatu, sesuatu yang berkaitan dengan waktu yang dimintai oleh Keenan.
"Besok adalah waktu terakhir kami bersama. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? aku masih bingung dengan perasaanku sendiri," gumam Rebecca.
Klek
Pintu kamar dibuka. Hal itu membuat Rebecca menoleh.
"Apa kamu sudah bersiap-siap?" tanya Keenan seraya membuka jas serta meletakan tas di atas sofa.
"Belum karena tadi ada sedikit pekerjaan," sahut Rebecca dengan jujur.
"Hmm baiklah, segeralah bersiap dan aku akan membersihkan diri," ujar Keenan dengan raut wajah lelah. Ia leleh bekerja dan lelah berpikir.
**
Kini keduanya sudah berada dalam mobil.
"Terserah kamu saja," sahut Rebecca karen ia memang tidak tau.
"Baiklah." Keenan segera menjalankan kendara empatnya menuju tempat yang ia pilih.
Keenan menepikan mobilnya, hal itu membuat Rebecca sedikit menaikan kedua alisnya.
"Bagaimana jika kita makan di sini saja?" ajak Keenan seraya menunjuk tempat makan kaki lima tetapi itu tempatnya sangat bersih.
"Kamu tidak salah pilih?" tanya Rebecca karena sulit percaya jika seorang Keenan bersedia makan di tempat seperti itu.
"Sudah bosan makan di restoran terus, kita harus bisa mencoba. Yang penting tempatnya bersih dan higienis," pungkasnya.
Rebecca mengangguk karena dia juga tidak terlalu milih, asalkan tempat itu bersih.
"Kamu benar," ucap Rebecca.
Keduanya turun dari mobil. Dengan refleks Keenan mengenggam tangan Rebecca. Rebecca membeku seraya memandangi genggaman itu.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan, Nona," sapa pemilik rumah makan. Tentu saja mereka kaget dan tak percaya bahwa pengunjung itu adalah orang-orang yang berpengaruh.
Rebecca tersenyum membalas sapaan itu.
"Ini adalah rumah makan tradisional, jadi menu ala-ala tradisional gitu. Kamu ingin pesan apa?" tanya Keenan kepada Rebecca.
"Samakan saja dengan pesananmu," ucap Rebecca tanpa ingin memilih.
"Baiklah," sahut Keenan tak ingin menghabiskan waktu.
Sekedar menunggu pesanan itu mereka saling mengobrol. Tetapi tidak membahas tentang hubungan mereka. Untuk masalah itu Keenan simpan dulu karena saat ini mereka akan mengisi perut.
Tidak menunggu lama pesanan mereka kini sudah tertata rapi di atas meja.
"Ada apa?" tanya Keenan seraya mengusap wajah Rebecca begitu saja. Rebecca kaget hingga membuatnya menjadi kikuk dan tak lama segera menggelengkan kepala.
Keduanya makan dalam diam. Menikmati cita rasa makanan itu.
Mereka makan dengan lahap, menyantap makanan itu.
**
Didalam mobil keduanya kembali hening. Setelah usai makan Keenan membawa Rebecca ke suatu tempat yang tak diketahui oleh Rebecca, yang pastinya itu bukan arah ke apartemen.
Dahi Rebecca mengerut melihat tempat yang dikunjungi Keenan, yaitu sebuah taman kota.
"Untuk apa kita ke sini?" tanya Rebecca dengan polosnya.
"Tentu saja untuk menikmati malam panjang. Malam ini terakhir kita bisa bersama-sama," ujar Keenan dengan pandangan lurus ke depan.
Deg
Mendengar pernyataan Keenan membuat Rebecca menoleh ke arah samping. Dengan diam menatap sejenak raut wajah sendu itu.
Keduanya jalan saling beriringan, di sana cukup ramai pengunjung. Berbagai pasangan diantara mereka, yang pasti banyaknya pasangan berkencan.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪
•Author minta maaf karena tidak teratur update. Author lagi sakit dan kini lagi proses penyembuhan.
__ADS_1
Sekali lagi minta maaf🙏