MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 25. Terbawa Perasaan


__ADS_3

Tubuhku membeku dengan posisi seperti ini. Walaupun Alfred adalah suami sahku tetapi bagiku sangat canggung dengan pernikahan yang dipaksakan. Kegelapan keberuntungan bagiku karena kami sama-sama tidak bisa melihat raut wajah, apa lagi saat ini wajahku sudah memerah.


"Dad, Daddy......" Gumam Alfred seperti mengigau dengan tubuh menggigil dan mata terpejam.


Mendengar racauan dari Alfred membuat lamunanku buyar. Aku menegakan tubuhku lalu menatap Alfred.


"Dad, Ben bangun!" Gumam Alfred kembali masih dengan mata terpejam.


Aku meraih ponsel yang senternya masih menyala, lalu beralih ke wajah Alfred.


"Bangun Dad, Ben,"


Puk puk puk


Aku mengusap dahi serta menepuk pelan tangan Alfred yang berada di atas dadanya untuk menenangkannya.


"Dia mengigau dengan memanggil Daddy dan Adiknya," gumamku dengan tatapan sedih.


"Jangan pergi," dengan reflek tanganku ditarik Alfred.


"Tidurlah aku di sini," bisikku agar Alfred kembali tenang dan aku mengizinkan Alfred memeluk tanganku.


Aku membuka baju dinas, lalu menutupi sebagian tubuh Alfred. Walaupun aku tidak menyukai pria kejam ini tetapi rasa kemanusiaan tidak bisa aku pungkiri. Bahkan aku ikut merasakan apa yang sedang Alfred rasakan.


Kuusap genangan air mata di ujung pelupuk mata Alfred. Ya Tuhan aku kira pria ini tidak bisa mengeluarkan air mata. Sebenarnya apa yang terjadi dan sampai menyeret diriku. Ya saat ini Alfred terpuruk dengan dia mengingat orang-orang yang sangat disayanginya tanpa rasa sadar.


Jari jemariku tak berhenti mengusap dahi Alfred bahkan jari nakalku ini menjalar ke seluruh wajah tampan itu.


Lama-lama suhu badan Alfred kembali normal. Aku tidak bisa memejamkan mata. Rasa takut serta pikiran menghantui benakku. Sedangkan Alfred tertidur nyenyak bahkan posisinya memeluk perutku sehingga membuat nafasku ingin berhenti. Jantungku dari tadi sulit diajak berdamai. Walaupun kutau Alfred melakukan diluar kesadarannya tetapi dasar hatiku ini berkata lain seolah menolak untuk yang terjadi sebenarnya.


Lampu senter ponselku mati menandakan kehabisan baterai. Suasana dalam mobil kembali gelap gulita. Hujan serta petir kilat sudah berhenti bergema.


Entah sudah jam berapa ini tidak bisa diprediksi. Aku berusaha mengalihkan pikiranku agar bisa terlelap. Akhirnya usahaku membuahkan hasil dan ikut terlelap dengan posisi duduk dengan kepala Alfred di pangkuanku serta memeluk perutku. Posisi kami so sweet banget seperti pasangan suami istri yang romantis.


°°°°°°


Alfred menggeliatkan tubuhnya. Dengan mata berat dia berusaha membuka mata.


Deg


Wajah tenang yang tengah terlelap menyambut bangun paginya. Sesaat Alfred memutar bola matanya mengingat apa yang terjadi. Merasa sudah sadar Alfred kembali menatapku tanpa aku ketahui.


Entah hatinya tergerak dari mana tangan Alfred terulur untuk merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahku. Jari jemari itu menyelipkan rambut ke telinga dengan wajah datar.


Tak pantas di situ jemari itu menyelusuri wajahku dan terhenti di bibir ranumku yang pastinya membuat Alfred tergoda. Ya itu aset yang menonjol pada diriku dan satunya lagi tentu saja dva bhvkit kmbar.

__ADS_1


Jemari itu mengusap-usap bwbirku sehingga membuat aku menggeliat karena merasa terganggu tetapi tidak pantas membuatku terbangun bahkan tidak terpengaruh dengan mimpiku.


Alfred menelan ludah sendiri. Bagaimanapun dia adalah pria normal pada umumnya. Pagi dingin juga mempengaruhi kelelakiannya. Dengan deru nafasku turun naik sehingga sangat terlihat jelas dva gvndvkkn itu seperti ikut irama nafasku yang naik turun.


Alfred meradang dengan mengigit bwbir bawahnya. Merasa tidak tahan lagi akal sehat itu seakan menghilang sehingga bwbir seksi Alfred menempel di bwbirku. Semula hanya menempel tetapi dalam sesaat Alfred mencivmku dengan paksa. Tentu saja perbuatan tak terpuji Alfred membuatku terbangun.


"A.... apa yang kamu lakukan?" gumamku de gan nada tertahan karena dengan asiknya Alfred melahap mvlvtku. Aku memukul-mukul dada Alfred serta mendorongnya agar dia berhenti tetapi tenagaku tak sebanding.


Plak


Akhirnya satu tamparan keras berhasil menghentikan tindakan brutal Alfred. Aku menatap Alfred dengan mata tajam serta wajah tak bersahabat. Nafasku turun naik karena saking marahnya. Sedangkan Alfred mengusap wajah yang terkena bekas tamparanku.


Aku memeriksakan diriku takut Alfred melakukan lewat batas. Rasa lega karena pakaian yang aku kenakan masih lengkap. Hanya saja baju kemeja kusut akibat pelukan kepala dan wajah Alfred.


"Kamu mengambil kesempatan," lirihku dengan mata berkaca-kaca sembari membuang muka.


"Kau berani menamparku Isabella?" ujar Alfred dengan rahang mengeras.


"Semua itu ada alasannya," sahutku tanpa merasa takut, bahkan aku membalas tatapan Alfred.


Prok prok


"Aku akui jati dirimu Isabella Januar. Opst Isabella Hugo," ujar Alfred sembari mengejek.


"Buang pikiran salahmu itu," suara bariton Alfred membuat pikiranku tentang itu sirna. "Jangan merasa bangga, aku lakukan itu karena ingin membuat hidupmu semakin menderita," ralatnya kembali mengenai civman tadi.


Mendengar perkataan terhina itu membuat hatiku tersayat-sayat. Apa yang dikatakan Alfred itulah kebenarannya. Aku hanya tawanan sampai misinya selesai.


Tanpa membalas ucapan Alfred, aku segera membuka pintu mobil ingin mencari nafas segar karena saat ini dadaku tercekat sulit untuk bernafas.


Aku berjalan menyelusuri tepi jalan dengan mata membendung air mata tanpa menoleh ke mobil. Anehnya kenapa satupun kendaraan tidak ada yang lewat.


Rasa haus serta lapar mempengaruhi langkah gontai ini sehingga membuatku terhenti di pinggir jalan.


Jarak tempatku berdiam diri sendiri cukup jauh dengan mobil, bahkan tak terlihat. Rasa takut kini berubah jadi pemberani akibat perkataan Alfred.


"Haus," lirihku dengan suara parau, kerongkonganku sangat kering. Sebenarnya masih ada stok air mineral tetapi tertinggal didalam mobil.


Pikiran ini membuat kepalaku ingin pecah. Seketika lelah berpikir kedua orang tuaku terlintas di benakku.


"Papa, Mama aku rindu," lirihku dengan tatapan sendu ke depan.


Tin tin


Klakson mobil membuat pandanganku teralihkan.

__ADS_1


"Nona silahkan masuk," suara bariton itu berasal dari dalam mobil yang tak lain adalah Andre.


Aku terdiam tanpa ingin bergerak dari tempat lamunanku. Aku tau didalam sana ada sesosok pria yang ingin aku hindari selama-lamanya.


Andre membuka pintu mobil lalu turun mendekatiku.


"Nona segera ikut kami," ucap Andre.


"Biar aku naik kendaraan lain Andre," sahutku tanpa menatap Andre.


"Tidak ada taxi yang lewat sini Nona," terang Andre.


Mendengar deru mobil membuatku segera bangkit dan berdiri di tengah jalan untuk menyetop kendaraan yang aku yakini adalah truk.


Stop stop


Teriakku sembari melambaikan tangan. Aksiku membuahkan hasil, truk itu berhenti tepat di hadapanku.


"Pak saya ingin menumpang ke kota," ucapku.


"Tapi tidak ada tempat duduk lagi Nona," ujar sang supir. Ya didalam sana berjumlah tiga orang pria.


"Saya naik di belakang. Plis Pak," kataku memohon.


Mendengar permohonanku membuat satu pria turun dan membantu aku naik kedalam kap mobil.


Melihat aksi nekatku Andre serta Alfred saling memandang, bahkan Alfred ikut turun didalam mobil. Andre berteriak ingin menghentikan aku tetapi seakan aku tidak mengenal mereka sehingga mobil itu melaju dengan tenangnya.


Ternyata truk ini pengangkut sayuran. Aku terduduk dengan derai air mata meratapi nasib hidupku yang malang ini. Sebenarnya aku merasa takut, takut ketiga pria itu melakukan tindakan kejahatan tetapi rasa itu aku tepis demi tidak ingin bersama Alfred. Sepanjang jalan aku berdoa.


"Apa dia tidak takut?" gumam Alfred sembari menatap baju dinas berwarna putih yang tergeletak di kursi, baju dinas itulah yang menyelimuti tubuh Alfred tadi malam sehingga membuat Andre menoleh ke belakang.


"Apa yang Tuan lakukan kepada Nona sehingga engan pulang bersama-sama?" Andre memberanikan diri untuk bertanya.


Alfred menatap Andre dengan tajam.


"Simpan pikiran konyolmu itu, apa kau lupa misiku untuk menikahinya?" bentak Alfred.


"Kasian Nona, sepertinya ada yang terjadi diantara mereka," Andre membatin sembari menyalakan mobil.


Sepanjang jalan sebenarnya Alfred tidak tenang. Pikirannya ternyata berpusat padaku. Sedangkan mereka tidak tau arah truk yang membawa diriku tadi.


Bersambung....


Jangan lupa like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat💪

__ADS_1


__ADS_2