MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 37. Calon Menantu Idaman


__ADS_3

Sudah 2 hari lamanya Alfred di rawat, selama itu juga aku tidak pernah menjenguknya.


Diam-diam aku tanya hasil sampel darah Alfred. Seperti dugaanku Alfred terserang malaria.


Di taman belakang rumah aku duduk sendirian seusai Leon berangkat ke sekolah. Minggu ini jadwalku masih dinas malam. Seharusnya aku mengistirahatkan tubuhku untuk bekal nanti malam tetapi seakan mataku sulit untuk di ajak bekerjasama. Akhir-akhir ini aku sulit tidur, bahkan semalaman tak dapat memejamkan mata.


Yang bisa kulakukan hanya melamun tanpa arah. Ingin rasanya untuk menyerah tetapi bayangan kebahagiaan kedua orang tuaku untukku mengurungkan niat itu. Bagaimana mungkin aku rela mengantikan kebahagiaan itu dengan kesedihan bahkan melukai.


Jika Alfred menceritakan itu semua, mengenai pernikahan mereka serta kronologi tentang Adiknya maka kedua orang tuanya berakhir di rumah sakit, apa lagi keduanya memiliki riwayat jantung.


Kupejam kedua mata ini dengan dada sesak. Sedikit rasa penyesalan dengan kehadiranku di dunia ini. Jika bisa memilih, maka aku memilih tidak dilahirkan dari pada hidup seperti ini.


Ssst....


"Apa yang sedang kupikirkan? jangan konyol Abel. Kamu harusnya bersyukur karena dianugerahi kedua orang tua atau saudara yang menyayangimu, buang jauh-jauh kehilangan akal sehatmu," kataku berbicara sendiri, anggap saja bunga-bunga itu lawan bicaraku.


Merasa lelah dengan berbagai macam pikiran, kuberanjak bangkit menuju dapur. Untuk membuang kejenuhan serta menunggu jam agar cepat berlalu, menyibukkan diri membuat kue kesukaan Leon. Sebagian dibawa ke rumah sakit untuk Yuen.


Pertama kubuat donat dengan beraneka garnis dan disusul bolu rasa coklat. Sedikit demi sedikit pikiran pendekku menghilang sejenak karena keasikan bermain tepung dan lain sebagainya.


Aku sangat bersemangat, mumpung ada waktu biar ada cemilan untuk menemani hari Leon di rumah.


Senyuman Leon semangat besar untukku. Kehadiran Leon pupuk bagiku untuk menyangka tubuhku yang mulai layu, bahkan nyaris mati.


°°°°°°


Di rumah sakit


"Andre bawa aku pulang sekarang juga," kekeh Alfred sejak tadi.


"Tuan tidak bisa, karena Tuan butuh perawatan selama satu minggu," terang Andre sejak tadi.


"Aku seperti orang bodoh di sini, tidak bisa berbuat apapun," decak Alfred kesal.


"Sabar Tuan,"


"Kau bisa bilang begitu karena tidak merasakannya," serkas Alfred menatap tajam kepada Andre.


Hmm


Kedatangan dokter Frans semakin membuat raut wajah Alfred muram.


"Kamu sudah minum obat?" tanya dokter Frans sembari memeriksa Alfred.


"Kau juga tau hanya dari melihat sisa obat itu," ujar Alfred sungguh tak bersahabat.


Dokter Frans memicingkan mata. Sebenarnya dia lelah dan nyerah untuk menangani Alfred tetapi karena tugas dia tidak bisa melemparkannya begitu saja.


"Sepertinya sudah," sahut dokter Frans seakan hafal dengan sisa butiran obat tersebut yang terletak di atas nakas.

__ADS_1


"Aku ingin pulang,"


Mendengar permintaan Alfred membuat alis dokter Frans terangkat, bagaimana mungkin pulang sedangkan kesehatannya memburuk dan perlu mendapat perawatan.


"Untuk sekarang belum bisa karena kondisimu masih memburuk," tolak dokter Frans dengan jujur.


"Andre cari dokter profesional untuk menggantikan Frans untuk mengobatiku. Ssst mengobatiku saja tak becus, bukannya sembuh malah semakin parah dibuatnya," perkataan konyol Alfred. "Entah dia lulusan dari mana sehingga tidak bisa diandalkan," sambungnya semakin menyudutkan dokter Frans.


Hahaha....


"Cari Andre," kataku sembari tertawa, bagiku sangat lucu. Aku sama sekali tak tersinggung dengan sindiran Alfred, malahan lucu bagiku.


"Dokter Frans lulus dengan nilai cumlaude Tuan," entah dari mana keberanian Andre itu.


"Kau mendukungnya Andre? apa kau sudah bosan bekerja denganku?" ancaman itu membuat mulut Andre tertutup rapat-rapat.


"Aku ingin menyampaikan kabar jika Om sama Tante sedang dalam perjalanan, mereka ingin menjengukmu,"


"Kau pasti mengabari Om dan Tante," tebak Alfred.


"Tentu saja, bahkan Daddy sama Mommy mengkhawatirkan keadaanmu sehingga membuat mereka rela terbang hanya ingin menjengukmu," terang dokter Frans.


Alfred terlihat malas.


°°°°°°


Turun dari mobil langkahku bergegas memasuki lobbydengan tergesa-gesa karena ada pasien darurat.


"Maaf Tuan, Nyonya."


"Tidak masalah," ujar ria seusia Papa.


"Cantik sekali," gumam wanita seusia Mama memujiku.


"Sekali lagi saya minta maaf karena terburu-buru," kataku kembali meminta maaf karena ini murni kesalahanku.


Wanita itu mendekati lalu tangannya terulur mengusap bahuku.


"Tidak masalah jadi tidak perlu merasa bersalah. Kamu sangat cantik," puji wanita itu kembali sembari tersenyum.


"Terima kasih Nyonya,"


"Tidak perlu terlalu formal, panggil saja kami Tante atau Om,"


Aku tersenyum merasa bingung karena baru kenal tetapi wanita itu seakan akrab kepadaku.


"Apa kamu mengenali Frans? maksud Tante dokter Frans," ralat wanita itu.


"Dokter Frans? iya Tante dokter Frans adalah sahabat saya," sahutku jujur.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum dan senyuman itu penuh arti.


"Baiklah Tante, Om saya permisi," ucapku pamit dan segera menyusuri lorong umah sakit.


"Menantu idaman," gumam wanita itu sembari memandangi punggungku yang mulai menghilang.


"Mom jangan ngacau," peringatan pria itu karena ucapan istrinya itu menurutnya sembarangan.


"Isabella," ternyata wanita itu memperhatikan namaku.


"Dad dia gadis yang sopan dan ramah, sangat cocok untuk menjadi menantu kita," sungguh akal sehat wanita ini hilang atas pesonaku.


Dengan segera pria itu menarik tangan istrinya. Pasangan suami itu langsung menuju kamar VVIP yang ditempati Alfred.


Brak


Baru saja diomongi dua sosok itu langsung mendobrak pintu begitu saja. Alfred maupun dokter Frans tau siapa yang melakukan itu jika bukan wanita rempong itu yang tak lain adalah Mommy dokter Frans.


"Sayang bagaimana keadaanmu? apa yang sakit? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya bertubi Meysi Mommynya dokter Frans. Wanita berparas cantik itu langsung memeluk Alfred dengan penuh kasih sayang.


"Tante tanyanya satu-satu," protes Alfred.


"Tante sangat khawatir sayang makanya Tante paksa Om kamu," terang Tante Meysi.


"Aku baik-baik saja Tante. Frans saja yang berlebihan," ujar Alfred memicingkan mata kearah dokter Frans.


"Bagaimana keadaanmu anak muda?" sekarang gilaran Daddy dokter Frans yang bernama Julio memeluk Alfred.


"Aku baik-baik saja Om, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Alfred membalas pelukan hangat itu.


Hmm


Tante Meysi berdehem sehingga membuat yang lain menatapnya.


"Sayang Mommy sudah mendapatkan wanita yang mau Mommy jodohkan," ucapan Tante Meysi membuat dokter Frans menghela nafas panjang. Mommynya kembali berulah dengan menjodoh-jodohkannya dengan wanita pilihannya tetapi sama sekali bukan kiteriaku.


"Mom di sini Mommy sama Daddy sedang menjenguk keponakan kalian yang sedang sakit jadi hentikan perjodohan konyol Mommy itu karena aku bukanlah tidak laku," ujar dokter Frans dengan menggelengkan kepala.


"Mommy jamin 100% kamu setuju,"


Semua menggelengkan kepala mendengar keyakinan Tante Meysi.


"Dia gadis cantik, sopan dan ramah hmm kamu juga mengenalnya sayang. Sungguh calon menantu idaman setiap mertua, hmm kalau tidak salah namanya dokter Isabella,"


Huk huk....


Alfred maupun Andre batuk berbarengan ketika mendengar nama diriku disebutkan oleh Tante Meysi.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2