
"Sayang ayo bangun. Apa hari ini kamu tidak masuk kantor?" tanyaku kepada Alfred karena Alfred seakan enggan untuk bangun.
"Masih ngantuk sayang. Hmmm 5 menit lagi yah?" tawar Alfred masih memejamkan mata.
"Ini sudah pukul 8," paparku tanpa henti menggoncang tubuh Alfred.
"Tidak masalah sayang, apa kamu lupa siapa pemilik perusahaan? jadi tidak ada yang berani memarahi suami tampanmu ini," gumamnya antara sadar dan tidak sadar.
"Aku yang memarahi karena perusahaan itu sekarang sudah berpindah nama kepemilikannya," pungkasku sehingga berhasil membuat mata yang engan terbuka itu akhirnya melebar sempurna.
"Lupa sayang," ujar Alfred dengan wajah memelas.
Beberapa bulan lalu Alfred merubah nama kepemilikan perusahaan HUGO GROUP atas nama Isabella Hugo.Tsnpa berdiskusi terlebih dahulu, aku pun tahunya pas ketika disuruh mendata tangani dokumen kepemilikan perusahaan.
Perintah atau keinginan Alfred tidak bisa dibantah sehingga aku mengalah.
"Makanya segera bersiap-siap beri contoh kepada karyawan," ocehku.
"Ini akibat begadang sampai subuh," gumam Alfred sehingga membuat wajahku memerah, mengingat pergumulan kami tadi malam.
"Cepat sana, sudah aku siapkan air hangat," usirku agar Alfred tidak berkelanjutan membahas soal ranjang.
"Kamu begitu menikmati tadi malam sayang. Hmmm kicauan keluar dari bibir seksi ini membuat anu ku...." bisik Alfred tak selesai.
"Tidak....." Teriakku seraya membungkam mulut Alfred.
"Daddy, Mommy..." Panggil Leon yang saat ini berdiri tepat di ambang pintu.
Mendengar panggilan dari Leon membuat keduanya menyipitkan mata. Kapan Leon masuk bahkan mereka tidak menyadari.
Mataku membulat takut Leon mendengarkan kemesuman Alfred tadi.
"Sayang, kapan kamu datang?" tanyaku kikuk.
"Barusan Mom, tepat dimana Mommy teriak," sahut Leon sehingga membuatku mengusap dada, merasa lega.
"Sini sayang," ucapku.
Leon mendekat dengan tangan memegang ponsel.
"Mom ini Oma sedang menelepon. Katanya ponsel Mommy maupun Daddy tidak aktif, makanya Oma menelpon lewat ponsel Leon," kata Leon seraya memberikan ponsel pemberianku. Aku memberikan Leon ponsel bukan untuk bermain-main tetapi untuk bisa selalu menghubunginya ketika kami tidak berada di Mansion. "Sudah mati," gumam Leon.
"Aku mandi dulu," ujar Alfred segera memasuki kamar mandi.
"Mom, Leon akan turun untuk sarapan," kata Leon.
"Iya sayang. Leon duluan saja sarapan, nanti takut terlambat," ucapku seraya mengecup seluruh wajah Leon.
Leon meninggalkan kamar. Sedangkan aku kembali menghubungi Mama.
["Sayang besok kalian semua harus berangkat ke tanah air."]
["Ada apa tiba-tiba begini Ma? lagi pula bukan saatnya liburan sekolah atau cuti apapun."]
["Pokoknya Mama tidak mau tahu sayang. Kakakmu juga ada di sini."]
["Sebenarnya ada apa Ma? dan apakah kehadiran kami sangat penting?"]
__ADS_1
["Tentu saja sangat penting sayang, bahkan jntungmu pasti ingin meledak hehehe."]
["Mama buat aku jadi penasaran saja. Katakan Ma ada apa?"]
["Pokoknya ada. Kalian mulai beberes, Mama sudah sangat rindu dengan ketiga cucu Mama."]
["Jika Mama tidak ingin mengatakan, maka jangan harap kami akan datang."]
["Tidak masalah, asalkan jangan menyesal."]
["Mama......"]
["Apa sayang? telinga Mama sakit loh."]
["Katakan Mama. Baiklah aku akan bertanya dengan Kakak."]
["Pasti jawabannya sama."]
"[Mama....."]
"Ada apa sayang kok teriak-teriak?" tanya Alfred ketika keluar dari kamar mandi.
"Mama sayang, buat aku penasaran," sahutku.
Sedangkan Mama di seberang sana ketawa sekenanya.
["Ya sudah sayang. Mama harap kalian hadir."]
Mama langsung menutup sambungan Videocall begitu saja.
"Ada apa Mama menelpon pagi-pagi begini?"
"Mendadak begitu?"
"Makanya aku juga kaget. Apa lagi sekarang bukannya libur sekolah atau cuti apapun,"
Hmmm
"Jadi seharusnya bagaimana sayang? Kak Gaby ternyata sudah berada di sana. Aku jadi sangat penasaran sekali," kataku seraya berpikir yang tidak-tidak.
"Tidak masalah sayang. Kita turuti saja perintah Mama. Masalah pekerjaan atau sekolah itu tidak masalah," ujar Alfred seraya mengusap pucuk kepalaku dengan penuh cinta.
Huh....
"Tiba-tiba begini. Mama memanglah pintar membuat orang penasaran. Sayang segera berpakaian, aku akan ke kamar anak-anak. Tunggu di meja makan ya?"
Cup
Seperti biasa aku sangat menyukai mendaratkan ciuman di hidung mancung itu.
"Seharusnya di sini," protes Alfred seraya menunjukan bibir seksi itu.
"Bau...."
Setelah mengatakan itu aku langsung berlari keluar kamar. Sedangkan Alfred sibuk memeriksa aroma mulutnya. Padahal aku hanya bercanda, tidak mungkin bau karena dia baru saja sikat gigi.
°°°°°°
__ADS_1
Di Mansion tidak ada tanda-tanda yang mencurigai. Sehingga membuat perasaanku lega. Kami baru saja tiba di Mansion.
"Sayang hati-hati," ucapku kepada Leon yang sangat buru-buru keluar dari mobil.
Seakan tidak mendengar, Leon langsung berlari lebih duluan masuk kedalam Mansion sehingga membuatku maupun Alfred menggelengkan kepala.
Aku menggendong Keenan sedangkan Kiran dalam gendongan Alfred.
"Sayang kita lagi di rumah Opa sama Oma," ucapku kepada Keenan maupun Kiran. Sedangkan bayi mengenaskan kamu senyum-senyum. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.
Kami masuk kedalam Mansion dan disambut oleh beberapa pelayan.
"Papa sama Mama ada Bi?" tanyaku kepada kepala pelayan.
"Ada Nona. Beliau berada di ruang keluarga," sahut kepala pelayan.
Aku mengangguk dan melajutkan langkah kami.
**
Tiba di ruang keluarga. Kami dapat melihat Leon berbincang-bincang dengan Papa sama Mama. Dan di sana ada Eyang, Moses dan Mischa. Seketika jantungku berdebar kencang karena kini keluarga kami berkumpul. Sedangkan Gabriella tidak kutemukan sosoknya di sana.
"Cucu Oma," seru Mama heboh bahkan tidak ada tanda-tanda kekhwatiran di wajah cantik itu.
Aku masih mematung dengan perasaan bercampur aduk. Ada apa ini? kenapa kami dikumpulkan? itulah pertanyaan yang merajalela di hatiku. Karena kemarin aku juga tidak mendapat jawaban dari Gabriella, bahkan dia tidak menjawab panggilanku.
"Sayang," panggilan serta usapan di punggungku menyadarkan lamunanku. "Ada apa? ayo duduk," ucap Alfred.
"Kakak apa kmu tidak merindukan Adik tampanmu ini?" seru Mischa dengan wajah dibuat-buat cemberut.
"Tidak karena kamu jarang berkunjung ke tempat Kakak," aku juga pura-pura merajuk.Ya aku sedikit melupakan rasa penasaran.
"Papa lihatlah putri kesayangan Papa," adu Mischa kepada Papa.
Papa menggelengkan kepala seraya melepas rindu kepada ketiga buah hati kami.
Kami saling melepas rindu silih berganti. Hatiku damai melihat Opa sama Oma masih bisa hadir ditengah-tengah kami, walaupun sudah tidak sesehat dulu.
"Kamu kenapa?" tanyaku kepada Moses yang hanya diam saja sejak kedatangan kami.
"Biasalah Kak masalah dua wanita hmmm," bukan Moses yang menjawab melainkan si resek Mischa.
"Sok tahu!" Desis Moses.
Keadaan hening sejenak.
"Pa, Ma sebenarnya ada apa kami disuruh tiba-tiba ke sini?" tanya Alfred mulai membahas ke inti pertemuan ini.
Semuanya terdiam, hal itu membuatku maupun Alfred saling memandang.
"Kak Gaby kemana? Mama mengatakan jika Kak Gaby sudah berada di Mansion," tanyaku seakan menyadari keberadaan Gabriella.
"Aku di sini sayang,"
Deg
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪