MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 68. Jujur


__ADS_3

Aku kembali sibuk membongkar apa saja yang terdapat di ruangan Alfred, hanya mencari kartu memory itu. Sesuai yang dikatakan Alfred dia menyimpannya didalam laci tetapi tidak kutemukan. Ataukah benda kecil itu berhasil diambil sang pencuri?


Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa karena tidak menemukan apa yang aku cari.


"Sepertinya memory itu dicuri," aku bergumam.


Tok tok


Pintu ruangan diketuk sehingga membuatku merapikan penampilanku yang acak-acakan.


"Masuk!"


Klek


"Selamat pagi Nona," sapa Vini dengan tangan memegang beberapa berkas.


Aku mengangguk dengan tubuh lelahku.


"Apa agendaku hari ini Vin?" aku bertanya.


"Nona siang nanti akan menemui investor dari perusahaan x, sepertinya mereka ingin menarik saham," terang Vini yang membuat aku memejamkan mata.


"Berapa jumlah saham dari perusahaan tersebut?" tanyaku.


"Sekian-sekian Nona," Vini menyebutkan angka nominal.


Aku menghela nafas panjang mendengar angka nominal itu. Sekarang masalah bukan di rumah sakit saja tetapi merambat kesemuanya, yaitu properti dan yayasan juga para investor menarik saham mereka.


"Siapa dalang semua ini? sepertinya bukan orang sembarangan, mereka memiliki kekuatan," ucapku sembari memijit pelipis.


"Benar Nona sepertinya bukan orang yang sembarangan," sahut Vini.


"Vin apa kamu merasa selama di sini tidak ada yang mencurigakan?" aku bertanya.


Vini menggelengkan kepala.


Ssst


Aku mendesis.


"Kita akan menemui investor tersebut, siapkan semua berkas nanti siang," ucapku sembari beranjak bangkit.


"Baik Nona. Jika tidak ada lagi saya permisi," ucap Vini sembari beranjak bangkit.


Aku mengangguk.


Sepeninggalan Vini aku kembali duduk di kursi kebesaran dengan pandangan kosong ke depan.


"Apa aku harus menemui bendahara yang sebelumnya? tetapi dimana aku harus mencarinya? sedangkan Alfred mengatakan sudah hilang kontak, bahkan sama sekali tidak tau dimana keberadaannya," aku membatin. "Sepertinya dia kunci dari kekacauan ini," imbuhku.

__ADS_1


Klek


Lamunanku buyar ketika terdengar pintu terbuka tanpa diketuk, sedikit kesal bagiku karena tidak mengetuk terlebih dahulu. Tetapi melihat siapa sosok yang berada diambang pintu membuat raut wajah yang awalnya kesal kini berubah berseri-seri.


"Dek," panggilku.


Moses langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Aku beranjak bangkit dari dudukku lalu menghampiri Moses dan duduk di sampingnya.


Aku memandangi Moses dengan seksama. Pria ini memanglah sangat tampan. Seketika masa kecil terlintas di ingatanku.


"Ada apa Kak?" tanya Moses sehingga membuatku tersentak kaget karena mengenang momen di masa lalu.


Boleh Kakak memelukmu?" entah pertanyaan konyol itu.


Moses mengangkat kedua alisnya mendengar permintaanku.


"Ada apa dengan Kakak?" tentu saja Moses sedikit heran.


Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk Moses.


"Dek apa kamu masih ingat dimasa-masa kecil kita? dimana Kakak pernah merusak mainan kamu? karena itu Mama memukuli tangan Kakak," ucapku dengan mata berkaca-kaca dalam pelukan Moses.


Deg


Seketika tubuh Moses menegang, bahkan tangan yang tadi membalas pelukanku kini mengambang.


Dengan terpaksa Moses melepaskan pelukanku. Moses menatapku dengan deru nafas memburu.


"Kak apa Kakak sudah kembali mengingat?" tanya Moses dengan tatapan tajamnya.


Aku mengigit bibir bawahku. Inilah saatnya aku jujur kepada Adik tampanku ini, biar dia seorang yang tau masalah ini.


"Kakak tidak pernah mengalami amnesia seperti yang kalian ketahui,"


Deg


Mata Moses membuat dengan mulut menganga.


"Jadi?"


"Iya Dek,"


Aku menjelaskan apa yang terjadi.


"Kakak pikir ini sebuah lelucon?" protes Moses.


Aku menghela nafas, apa yang Moses katakan itu benar tetapi kembali lagi ke rencana awal.


"Kakak harap kamu mengerti dengan keputusan itu Dek. Jika disuruh memilih, lebih baik Kakak pada saat itu memilih mati saja," lirihku tanpa sadar meneteskan air mata.

__ADS_1


Melihat aku terluka membuat Moses merubah raut wajahnya.


"Aku mengerti Kak," ucap Moses sembari memelukku. "Kenapa Kakak sembunyikan semua itu? pria itu pantas mendapatkan karmanya," imbuh Moses kembali murka kepada Alfred.


"Dek jangan pernah katakan itu, ini bukan kesalahan Alfred sepenuhnya. Siapapun jika di posisinya akan melakukan itu," ucapku memberi pengertian kepada Moses.


Moses melepaskan pelukan kami lalu menggenggam tanganku.


"Aku minta maaf karena tidak menyadari apa yang telah terjadi. Hmmm apa Kakak mencintai pria itu?" tanya Moses menyakinkanku.


Aku menarik nafas panjang.


"Itu dulu, dan sekarang Kakak tidak tau. Rasa trauma melebihi dari rasa itu. Kakak tidak ingin mengulangi dengan kejadian masa lalu karena itu sangat menyakitkan," kataku dengan pandangan ke langit-langit dalam ruangan itu.


"Dia sudah berubah Kak, aku bisa melihat kesungguhan di matanya itu," ujar Moses.


"Entahlah Dek," lirihku dengan pasrah. "Kakak tidak tega melihat dia mendekam cukup lama, maka dari itu Kakak akan berusaha mencari bukti agar masalah ini tidak menyudutkan Alfred. Selama ini dia sudah banyak menderita," imbuhku dengan dada sesak.


"Aku janji besok atau lusa dia akan keluar," ujar Moses dengan yakin sehingga berhasil membuatku tercengang karena itu sangatlah mustahil.


"Jangan bercanda Dek," ucapku.


"Lihat saja besok atau lusa Kak," sahut Moses dengan tenang.


"Terima kasih Adik tampan Kakak. Kakak percaya kepadamu," aku langsung mencubit kedua wajah tampan itu sehingga membuat yang empunya mendesis menahan nyeri.


"Dek tolong rahasiakan ini untuk saat ini, biar Kakak sendiri yang memberitahukan suatu saat nanti," kataku masih ingin menutup masalah ini.


"Kasian Papa, Mama serta Kak Gaby Kak, mereka sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Kakak," ujar Moses seperti menentang keinginanku.


"Kakak akan bisa menyelesaikannya Dek," lirih sembari menghela nafas lega karena sudah memberitahukan kebenaran ini.


"Baiklah jika itu yang terbaik tetapi aku tidak akan membiarkan jika itu berlarut lama karena tidak ingin dibodohi," ujar Moses dengan serius.


Aku tersenyum mendengar penuturan Moses. Akhirnya Moses pulang terlebih dahulu karena ada hal yang sangat penting untuk diselesaikan sedangkan aku masih disibukan dengan berkas-berkas yang belum semua aku periksa.


Dulu pekerjaanku memeriksa pasien sekarang beralih ke berkas-berkas laporan perusahaan.


Seusai makan siang aku berencana ke perusahaan pencakar langit HUGO GROUP yang hanya berjarak 20 menit dari rumah sakit.


Di sana aku dan Vini menemui investor yang akan menarik sahamnya seperti yang diinformasikan Vini.


Tiba di loby kantor aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak pernah menyangka jika aku menikahi pria yang sederajat dengan keluargaku. Sedikitpun aku tidak pernah menyangka dengan itu. Karena dari awal aku tidak pernah mempermasalahkan soal itu, apa lagi perkenalanku dengan Alfred tidaklah mulus. Bilang saja pernikahan yang dipaksakan oleh satu pihak, demi misi balas dendam. Dan apa yang terjadi saat ini tidak pernah terbayangkan sama sekali.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author semakin semangat💪


•Lanjut 2 bab lagi

__ADS_1


__ADS_2