
Malam ini dokter Frans mengajak Gabriella makan malam di suatu tempat yang belum diketahui oleh Gabriella.
Gabriella menyetujui permintaan dokter Frans sehingga membuatnya kini bersiap-siap untuk dijemput oleh dokter Frans.
Drett....
Ponsel yang ada digenggaman Gabriella bergetar.
"Frans," gumam Gabriella lalu segera menggeser tombol hijau.
["Aku sudah di basemen."]
["Baiklah, aku akan segera turun."]
Gabriella memperhatikan sekali lagi penampilannya, merasa tidak ada yang kurang dia segera keluar dari apartemen.
Senyuman mengembang di bibir dokter Frans melihat sosok Gabriella melangkah mendekatinya. Dimana Gabriella menggunakan dress sebatas lutut warna krim.
"Frans," sapa Gabriella disertai senyuman.
"Kamu sangat cantik," balas dokter Frans kagum dengan penampilan Gabriella.
Seketika wajah Gabriella merona merah me dapat pujian itu.
"Apakah sudah siap?" tangan dokter Frans memastikan kembali, takut ada yang ketinggalan.
"Sebenarnya kita kemana sih?" tanya Gabriella sedikit penasaran karena sejak kemarin dokter Frans merahasiakan itu.
"Ada deh, semoga kamu suka," ucap dokter Frans, kekeh tidak ingin memberitahukan dulu.
Gabriella menghela nafas.
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dirahasiakan dokter Frans, mereka tidak putus dengan obrolan. Keduanya seakan sudah akrab.
Perjalanan beberapa menit tidak terasa. Gabriella menyipitkan mata melihat tempat yang akan mereka masuki, itu adalah sebuah cafe terbuka yang banyak dikunjungi para anak muda untuk berkencan.
"Frans kamu tidak salah membawaku ke sini?" tanya Gabriella menyakinkan jika dokter Frans salah memilih tempat.
"Tentu saja tidak, anggap saja kita ikut berkencan," goda dokter Frans sembari mengedipkan mata.
Gabriella lalu salah tingkah.
Dokter Frans segera membawa Gabriella masuk dengan menarik tangannya, hal itu membuat Gabriella semakin salah tingkah.
__ADS_1
Tiba di tempat yang sudah dipesankan dokter Frans. Gabriella membelalakkan mata melihat sebuah meja yang sudah dekorasi dengan bentuk hati warna merah.
Dokter Frans menarik kursi untuk Gabriella.
"Silahkan duduk," ucap dokter Frans dengan sikap manis.
Gabriella menelan ludah, lalu menurut saja. Tidak lama dokter Frans memutari meja, lalu ikut duduk di depan Gabriella.
"Kamu ingin pesan apa?" tanya dokter Frans sehingga membuat Gabriella tersadar dari keterkejutannya.
"Sushi dengan minuman iced tea," ucap Gabriella.
"Baiklah. Mbak samakan saja Sushi dengan minuman iced tea," ujar dokter Frans kepada pelayan cafe.
Sang pelayan mengangguk dengan sopan.
Sembari menunggu pesanan datang mereka kembali berbincang tetapi perasaan Gabriella sudah tidak tenang, sejak tadi hatinya bertanya-tanya.
"Sebenarnya Frans mengajak aku ketempat seperti ini untuk apa ya?" batin Gabriella bertanya-tanya.
Tidak lama pesanan mereka datang.
"Selamat menikmati Tuan, Nona," ucap ramah Sang pelayan.
"Terima kasih," balas Gabriella dan di angguki oleh dokter Frans.
"Hmmm lezat juga," ucap Gabriella memecah keheningan disela suapannya sehingga membuat dokter Frans menghentikan kunyahannya. "Apa kamu sering ke sini?" tanya Gabriella.
"Baru pertama denganmu, aku baru kali ini," sahut dokter Frans dengan jujur karena dia bukanlah tipe pria suka kumpul-kumpul, selama ini dia sibuk dengan pekerjaannya, bahkan mengabaikan masalah pribadinya.
"Oh!" Gabriella ber oh ria dengan bibir berbentuk huruf o. "Hmmm kok tau tempat ini?" imbuhnya.
"Tau sih sudah lama tetapi tidak ada niat untuk masuk karena cafe ini identik dengan kencan," terang dokter Frans.
Gabriella manggut-manggut seakan paham. Tidak terasa makanan mereka habis, sepertinya keduanya begitu lapar.
"Ya ampun aku mampu menghabiskan makanan ini," gumam Gabriella.
"Bagus dong," sahut dokter Frans disertai senyuman.
"Kebetulan lapar, hmmm tadi siang tak sengaja melewati makan siang," pungkas Gabriella.
"Apa? kamu melewati makan siang?" ucap dokter Frans seketika sangat kaget. "Gaby jangan ulangi kebiasaan buruk itu lagi! Kita boleh sibuk bekerja tetapi jangan sampai abaikan yang menjadi kewajiban kita, jika sakit bukankah semuanya menjadi fatal?" terang dokter Frans.
__ADS_1
"Bukan begitu, sungguh seharian ini aku begitu sibuk sehingga tidak mengenal waktu," lirih Gabriella dengan suara pelan.
"Jangan ulangi lagi ya?" ucap dokter Frans lembut sembari mengusap punggung tangan Gabriella yang kebetulan diletakan di atas meja.
Gabriella mengangguk dengan segera menarik tangannya tanpa membuat dokter Frans tersinggung.
Dokter Frans beranjak bangkit, lalu mengulurkan tangan di hadapan Gabriella. Tanpa merasa ragu Gabriella ikut bangkit.
Tanpa tak diduga dokter Frans berlutut di hadapan Gabriella tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Gabriella membelalakkan mata mendapat hal itu.
"Gaby malam ini aku akan mengutarakan hatiku. Entah kapan datangnya perasaan ini? tetapi ketika pertama kali aku bertemu denganmu, getaran hatiku tak karuan. Aku memang pria yang tidak bisa semanis pria yang pada umumnya, aku kaku dengan yang namanya tentang hati. Gaby aku mencintaimu....." ungkap dokter Frans dengan serius bahkan dia menatap wajah Gabriella sangat lekat.
Deg
Kaget tentu saja dirasakan Gabriella. Walaupun dia tau jika orang tua mereka saling setuju, tetapi dia tidak pernah menyangka jika dokter Frans memiliki perasaan kepada dirinya.
"Gaby mulailah buka hatimu untukku, aku tidak main-main. Aku jatuh cinta kepadamu," pungkas dokter Frans kembali tanpa berbelit-belit.
Gabriella menelan ludah.
"Aku, aku!" Gabriella tidak dapat meneruskan ucapannya, seketika ingatan dimasa lalu membuatnya runtuh, yaitu dimana saat mantan kekasihnya menyatakan cinta kepadanya dengan cara yang sama, apa yang dilakukan dokter Frans.
"Bukalah hatimu Gaby," lirih dokter Frans seperti memohon.
Gabriella memundurkan selangkah, lalu menarik tangannya. Hal itu membuat dokter Frans tersenyum miris. Dari perlakuan Gabriella dia sudah tau apa jawabannya.
"Aku, aku." Gabriella menggelengkan kepala. "Frans jujur aku pada saat ini belum bisa membuka hati untuk siapapun. Aku belum bisa menggantikan nama Bernat dalam hatiku," ucap Gabriella dengan jujur, bahkan matanya berkaca-kaca ketika menyebutkan nama mantan kekasihnya. "Aku minta maaf Frans," lirihnya kembali dengan kepala menunduk.
Dokter Frans menelan pil pahit. Ungkapan hatinya ditolak oleh Gabriella dengan alasan belum bisa membuka hati.
Dokter Frans bangkit dengan hati kecewa. Lalu mengusap bahu Gabriella yang sedang terguncang akibat menahan tangis.
"Aku menghormati keputusanmu, aku akan tetap menunggu sampai kamu bisa membuka hati. Gaby aku benar-benar mencintaimu dan akan sabar menunggu waktu itu," ucap dokter Frans dengan serius. Dia berusaha mengembangkan senyuman.
Gabriella menarik nafas sesak. Ungkapan hati dokter Frans tentu saja membuatnya tidak enak hati.
"Aku tidak ingin memberi harapan Frans, lebih baik pergunakan waktu itu untuk orang lain. Aku tidak ingin membuat kamu berharap karena aku tidak tau kapan bisa membuka hati," pungkas Gabriella tidak ingin memberi harapan palsu.
"Hatiku sudah terikat untukmu, bagaimana bisa aku mengubahnya semudah itu," sahut dokter Frans dengan pilu setelah mendengar penuturan Gabriella.
Gabriella menghela nafas panjang, dia tidak tau harus mengatakan apa lagi karena hatinya benar-benar tertutup akan cinta Bernat yang terus tertanam di hatinya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪