MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 164~MDS2


__ADS_3

Hati Rebecca tergerak pagi ini membuat sarapan. Ia bangun pagi-pagi hanya untuk mempersiapkan sarapan.


Setelah siap ia segera membersihkan diri. Sedangkan Keenan masih terlelap dalam tidurnya.


Tidak lama ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah lengkap.


Ternyata Keenan sudah bangun. Dimana ia mendapati pria tampan itu terduduk seraya mengucek matanya.


Perasaan kikuk pun menyerang dirinya. Keenan menyadari keluarnya Rebecca dari kamar mandi.


"Apa kamu akan berangkat pagi?" tanya Keenan.


"Iya," sahut Rebecca.


"Tunggu, biar aku yang mengantarkanmu ke bandara," ujar Keenan. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi.


Rebecca membeku mendengar apa yang dikatakan Keenan. Ia tidak menyangka jika Keenan akan mengantarkannya.


Tidak ingin terlambat ia segera keluar, menyeduh dua gelas susu.


Ia berharap pagi ini Keenan punya waktu untuk sarapan bersama-sama, bahkan selama ini Keenan belum pernah mencicipi masakannya.


Kini Rebecca menunggu Keenan di meja makan.


Hmm


Keenan berdehem hingga lamunan Rebecca buyar.


"Tunggu sebentar aku ingin sarapan," ucap Rebecca dengan canggung.


"Kamu tidak menawarkanku?"


Hamburger yang hampir saja masuk dalam mulutnya terhenti ketika mendengar perkataan Keenan.


"Kamu mau?"


Keenan mengangguk.


Rebecca meletakan hamburger di hadapan Keenan.


"Aku makan yang ini saja," dengan cepat kilat Keenan merebut hamburger milik Rebecca, bahkan itu sudah di gigit setengahnya.


Rebecca tercengang.


Keenan langsung melahap hamburger milik Rebecca dengan lahapnya.


"Sangat lezat," gumam Keenan tanpa berhenti melahapnya.


Rebecca tercengang seperti orang linglung.


"Kenapa diam? itu milikku buatmu saja," ujar Keenan.


Rebecca me jadi kikuk karena sejak tadi ia hanya genggong memperhatikan Keenan.


Keenan lalu menarik piring itu. Memotong hamburger, lalu memberikan potongan itu ke mulut Rebecca.


Rebecca terbelalak kaget. Keenan mengangguk sebagai kode agar Rebecca membuka mulutnya.


Entah karena apa Rebecca mengikuti keinginan Keenan. Potongan hamburger masuk di mulut Rebecca.


Dengan perasaan malu serta jantung berdebar Rebecca mengunyah dalam diam. Sedangkan tatapan Keenan tak teralihkan, hal itu semakin membuat Rebecca canggung.


Potongan terakhir Keenan masukan ke mulutnya sendiri.


Rebecca membeku merasakan sentuhan di ujung bibirnya, dimana Ibu jari Keenan mengusap sisa makanan di ujung bibir seksi itu.

__ADS_1


Rebecca menelan ludah. Sedangkan Keenan kelihatan biasa-biasa saja.


"Ada sisa makanan," ujar Keenan dengan jantung tak karuan.


Rebecca menjadi kikuk setelah kejadian itu.


"Sebaiknya kita segera berangkat karena jam terbang 1jam lagi," ucap Rebecca berusaha menahan detak jantungnya.


"Kenapa tidak menggunakan jet atau helikopter?" ujar Keenan dengan dahi mengernyit.


Rebecca menggeleng.


"Aku sudah terbiasa," sahut Rebecca.


Keenan menghela nafas. Seharusnya Rebecca menggunakan privasi pribadi agar perjalanan lebih cepat serta aman.


"Lusa aku akan menyusul," ujar Keenan.


"Tidak perlu, aku dapat menanganinya sendiri. Bukankah pekerjaan di sini masih menumpuk," papar Rebecca begitu peka.


Ssst


Desis Keenan dalam hati. Dia ingin menyusul bukan dengan maksud pekerjaan tetapi Rebecca mengira seperti itu.


"Apa kamu tau kapan Daddy sama Mommy kembali?" tanya Keenan seraya memakaikan sepatunya.


"Seperti yang Mommy katakan bulan depan," sahut Rebecca.


"Sepertinya mereka tak mengingat diriku," gumam Keenan seperti bersungut-sungut.


Rebecca memutar bola matanya, apa yang Keenan katakan benar juga. Sudah 2 tahun mereka berpisah.


"Oma masih tahap pemulihan jadi Mommy tidak mungkin meninggalkan Oma," ucap Rebecca.


Rebecca kaget mendengar perkataan Keenan yang tak biasa.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Keenan setelah menyelesaikan mengenakan sepatunya.


Rebecca mengangguk.


Setelah semuanya siap mereka segera keluar. Dengan Keenan menarik koper mini milik Rebecca.


"Apa ini? seperti sebuah mimpi," batin Rebecca sepanjang jalan, mendapat perlakuan Keenan untuk pertama kalinya.


**


Didalam mobil tidak ada obrolan. Keduanya saling bungkam seperti memikirkan sesuatu yang hanya mereka sendiri yang tau.


Hanya butuh waktu 15 menit jarak yang mereka tempuh.


Keduanya turun dan segera masuk. Keenan masih setia mendorong koper milik Rebecca. Keduanya berjalan secara beriringan.


Untuk menghindari publik. Keduanya sengaja menggenakan topi serta masker, maklum mereka berdua banyak dikenali publik.


Keenan mengantarkan Rebecca sampai pintu masuk.


"Aku berangkat," ucap Rebecca dengan wajah menunduk.


Keenan menatap dengan diam.


Demi apapun Rebecca terlonjak kaget mendapati tubuhnya di dekap erat oleh Keenan. Tubuhnya membeku dalam pelukan itu. Pelukan pertama setelah mereka dewasa.


Keenan memejamkan mata sesaat. Begitu juga dengan Rebecca.


"Berhati-hatilah," ucap Keenan.

__ADS_1


Rebecca mengangguk dan berusaha tersenyum.


°°°°°°


Di sebuah perumahan elit.


"Son ketemukan Daddy dengan Nona Rebecca. Daddy ingin bertemu," mohon Tuan Sun kepada Lucky.


"Iya Dad tetapi tidak sekarang. Tidak mudah untuk bertemu dengan Nona Rebecca Dad," ujar Lucky.


"Daddy ingin bertemu son," ujar Tuan Sun tetap kekeh ingin bertemu.


"Bentar Dad, aku akan menghubunginya," pungkas Lucky seraya merogoh ponsel dalam kantong celananya.


Beberapa kali di hubungi tetapi tidak diangkat oleh Rebecca.


"Tidak diangkat Dad, mungkin masih sibuk," ujar Lucky dengan wajah memelas, ia cukup lelah menghadapi pria paruh baya itu. Sejak kemarin selalu kekeh meminta ingin menemui Rebecca.


Mendengar hal itu membuat Tuan Sun mengusap wajahnya. Entah kenapa hatinya begitu dekat dengan Rebecca.


Lucky menatap wajah mulai menua itu dengan lekat-lekat.


"Dad sebenarnya apa yang terjadi? apa hubungan Daddy dengan Nona Rebecca?" pancing Lucky.


Tuan Sun terdiam dengan pandangan lurus ke depan, memandangi pepohonan yang bergoyang akibat diterpa angin.


"Jawab Dad!" Seru Lucky ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


Tuan Sun tak menggubris pertanyaan Lucky karena memang tidak tau bagaimana untuk menjelaskannya.


"Jika Daddy tidak memberitahukan bagaimana caranya aku mencari tau," ujar Lucky sembari menghela nafas.


"Kamu tidak akan dapat memahaminya son," sahutnya seraya meremas dadanya.


Lucky kembali menatap pria yang selama ini merawat dan membesarkannya. Mommy nya meninggal saat melahirkan Lucky. Bayangkan sudah puluhan tahun Tuan Sun betah menduda. Sungguh ia sangat setia dengan janji pernikahannya dengan wanita yang sangat dicintainya. Yaitu Mommy nya Lucky.


"Apa Daddy mengkhianati Mommy?" tuduh Lucky.


Mendengar tuduhan Lucky membuat Tuan Sun mengalihkan pandangannya.


Ting


Bunyi notifikasi pesan membuat Lucky fokus kepada ponselnya.


["Aku sedang keluar kota selama 1 minggu."]


Itu adalah balasan pesan dari Rebecca.


Huh.....


"Nona Rebecca sedang keluar kota selama 1 minggu Dad," ujar Lucky.


Mendengar hal itu membuat pria paruh baya itu kecewa. Sungguh saat ini ia ingin sekali bertemu dengan Rebecca.


**


Malam ini Keenan dan Lucky kembali bertemu di rumah sakit milik keluarga Hugo. Mereka bertemu dengan tertutup, yang akan di hadirkan dokter.


Ternyata Keenan dan Lucky memberi sampel darah dari Rebecca dan Tuan Sun.


"Lakukan yang terbaik," ujar Keenan kepada dokter.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2