
Tubuh Rebecca menegang, ia sangat sulit bergerak karena pelukan itu cukup erat.
"Aku ingin segera mandi," lirih Rebecca dengan gugup.
"Baiklah, aku sudah siapkan air hangat." Akhirnya mau tidak mau Keenan melepaskan pelukan itu, ia tidak ingin wanita itu merasa kesal.
Tanpa menoleh sedikitpun Rebecca segera masuk kedalam kamar mandi. Sungguh dirinya sangat gugup, apa lagi eadaan Keenan yang hanya sehelai handuk yang melekat di tubuhnya.
Dengan cepat Rebecca mengunci pintu kamar mandi. Ia segera menghadap pada cermin seraya memegang dadanya.
"Ya Tuhan rasanya jantung ini ingin meledak," gumam Rebecca seraya mengatur nafasnya.
Demi apapun ia tak menyangka jika Keenan berani melakukan hal yang mendadak itu.
Dengan segera Rebecca menggeleng kepalanya berkali-kali, ingin mengusir pikiran yang negatif.
**
Keenan duduk menunggu Rebecca di meja makan seraya sibuk dengan ponselnya, membalas beberapa email yang dikirimkan Gerry.
Tidak beberapa lama sosok yang sejak tadi ditungguinya berjalan menuju meja makan. Dengan segera Keenan meletakan ponselnya di atas meja makan.
Rebecca pun segera duduk tepat di hadapan Keenan dengan perasaan canggung.
"Kamu yang masakan ini?" tanya Rebecca dengan pandangan ke menu makanan yang ada di hadapannya.
"Benar sekali, maaf jika cita rasanya tak sesuai dengan lidahmu," ujar Keenan dengan was-was.
"Benarkah ini dia yang masakin?" batin Rebecca sedikit tak percaya.
Rebecca manggut-manggut. Ia segera menyendok nasi serta masakan olahan tangan Keenan sendiri. Lalu ia segera mencicipinya dengan cara diam.
Keenan menelan ludah dengan perasaan was-was. Ia takut jika cita rasa itu membuat Rebecca kecewa. Ini bahkan pertama kalinya ia memasak makanan itu.
"Bagaimana? jika tidak enak jangan dipaksakan. Aku bisa memesan makanan sekarang," ujar Keenan.
Mendengar ucapan Keenan membuat Rebecca menghentikan kunyahan, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Keenan.
"Tidak perlu, tidak baik membuang makanan begitu saja," ucap Rebecca.
Cita rasa ini cukup lezat di lidah, hanya sedikit asin saja yang mengurangi kelezatannya. Rebecca sengaja engan komen dengan cita rasanya, bagaimanapun Keenan sudah berusaha menyiapkan ini semua.
Dagingnya sedikit asin, sedangkan sayurannya kurang garam.
Keenan tercengang karena melihat cara makan Rebecca.
"Ada apa?" tanya Rebecca ketika menyadari jika Keenan belum menyantap makanannya.
Keenan tersadar hingga ia segera mencicipi masakan olahan tangannya. Karena ia yang masak jadi cocok-cocok saja di lidahnya.
Mereka menikmati dalam diam, tidak ada yang ingin berbicara terlebih dahulu. Sampai keduanya selesai.
"Mau kemana?" tanya Keenan melihat Rebecca beranjak bangkit.
"Akan membawa ke wastafel," sahut Rebecca.
"Kamu langsung di ruang televisi saja, biar aku yang membereskan semuanya," ujar Keenan.
__ADS_1
Dahi Rebecca mengerut.
"Biar aku saja karena ini kewajibanku," ucap Rebecca dengan kekeh tak ingin mendengar perintah Keenan.
"Beri aku kesempatan, bukankah aku meminta waktu selama 7 hari? maka dalam 7 hari aku yang melakukannya," ujar Keenan memberitahukan kembali.
Deg
Mendengar waktu yang disebutkan oleh Keenan, tiba-tiba membuat hati Rebecca tercubit. Ada perasaan tidak rela tetapi ia belum menyadarinya saja.
Tanpa mendengar sahutan Rebecca lagi, Keenan segera membereskan peralatan yang kotor dan membawanya ke wastafel.
Rebecca tertekun tak percaya melihat hal itu. Tidak ingin seperti orang bodoh dan disadari Keenan ia segera beranjak bangkit.
Kini ia sedang duduk di sofa ruang televisi. Sedangkan Keenan berkutat masih di dapur.
Setelah beres, ia menyeduh dua cangkir teh hijau. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Rebecca.
Dengan santai Keenan membawa nafas menuju ruang televisi. Rupanya Rebecca sedang menonton drama para wanita pada umumnya.
Keenan segera meletakan napan itu di atas meja sofa. Lalu mendaratkan bokongnya tepat dihadapan Rebecca. Mereka duduk saling berhadapan hanya dibatasi oleh meja sofa.
Tatapan Rebecca masih betah di layar televisi, bahkan ia tidak menyadari bahwa Keenan membawa dua gelas teh hijau.
Keenan ikut menyimak apa yang ada di layar televisi hingga membuat Rebecca engan mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba dalam adegan itu menampilkan adegan berciuman hingga membuat dua sosok itu membuang muka dari layar televisi.
Keduanya menjadi canggung untuk beberapa saat.
Hmm
"Apa kamu suka teh? ini aku buat teh hijau, selagi masih hangat sangat cocok untuk cuaca saat ini," ujar Keenan menawarkan teh buatannya.
Karena masih canggung serta perasaan malu tanpa berpikir panjang Rebecca langsung meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan.
"Apa besok kamu ada waktu?" tanya Keenan.
Rebecca meletakan kembali cangkir itu di atas meja sofa ketika mendengar pertanyaan Keenan.
"Pekerjaan masih banyak yang belum terselesaikan, jadi hari libur besok kesempatan untuk melanjutkan pengerjaannya," ucap Rebecca.
"Sepertinya sangat sibuk," sambung Keenan sedikit kecewa.
"Memangnya ada apa?" tanya Rebecca dengan polosnya. Ia memang wanita cerdas tetapi untuk hal seperti ini ia agak awam.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat tetapi sepertinya kamu sangat sibuk," papar Keenan.
Mendengar pernyataan Keenan sedikit membuatnya kaget karena ini pertama kalinya selama puluhan tahun.
"Lain kali saja, itupun jika masih ada kesempatan," sambung Keenan penuh harap. Ia kembali menyesap teh itu sampai tandas.
Sekali lagi hati Rebecca tercubit mendengar penuturan Keenan tentang kesempatan atau waktu.
"Apa seharian ini Daddy maupun Mommy ada menghubungimu?" tanya Rebecca seakan mengingat kepada kedua orang tua mereka.
"Tidak ada," sahut Keenan.
__ADS_1
"Sangat tumben. Apa mereka baik-baik saja? terutama Daddy?" ucap Rebecca sedikit khawatir.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Daddy maupun Mommy akan baik-baik saja" pungkas Keenan seakan paham dengan raut kekhawatiran yang ditunjukan oleh Rebecca.
Rebecca terdiam untuk sesaat. Ingatan perkataan kedua orang tuanya tempo hari terlintas dalam benaknya.
"Benar saja, Daddy maupun Mommy membuktikan ucapan mereka," keluh Rebecca dalam hati. Ada perasaan tidak rela yang ia rasakan.
Hoam.....
Keenan tiba-tiba menguap.
"Jika sudah mengantuk...."
"Aku belum mengantuk," Keenan segera memotong ucapan Rebecca.
Rebecca mengigit pipi dalamnya seraya manggut-manggut.
Mereka kembali memfokuskan pandangan ke layar televisi, tetapi dengan siaran sudah ganti. Bagaimana mungkin Rebecca tetap menonton drama kesayangannya bersama Keenan.
Mereka rupanya menonton dunia bisnis, termasuk sorotan perusahaan yang tengah mereka pimpinan yaitu HUGO GROUP.
Di sana masih tercatat keunggulan perusahaan milik keluarga Hugo. Yang sedang di pegang oleh Keenan dan juga Rebecca.
Ada rasa bangga yang mereka rasakan masing-masing. Ternyata usaha atau kinerja mereka tidak mengecewakan pria yang sudah bersusah payah untuk membangun perusahaan itu hingga pesat dan terkenal sampai saat ini. Siapa lagi jika bukan Alfred Hugo dan di belakangnya ada sosok Arabelle Hugo.
°°°°°°
Dan pada akhirnya mereka sepakat untuk tidur. Mata keduanya terasa berat, pertanda sudah mengantuk. Beberapa kali keduanya saling menguap.
Keenan duduk di sofa menunggu gilirannya masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan kegiatan lainnya.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka. Tanpa berucap Keenan segera masuk kedalam tanpa menutup pintu kembali, hal itu membuat Rebecca sedikit memperhatikannya.
Tidak ingin membuang waktu Rebecca segera membaringkan dirinya di atas ranjang dengan posisi miring memeluk guling serta berselimut.
Ia memang sengaja tidak mengantikan pencahayaan lampu terlebih dahulu karena Keenan masih berada di kamar mandi.
Tanpa menunggu lama ia langsung memejamkan mata. Rasa lelah serta mengantuk menyerang dirinya.
Keenan baru saja keluar dari kamar mandi. Lalu melangkah menuju sakelar lampu, dan menggantikan pencahayaan lampu.
Rebecca benar-benar tak menyadari hal itu karena ia langsung terlelap.
Keenan beranjak naik ke ranjang yang sama. Ia segera membaringkan tubuhnya di samping Rebecca, bahkan dengan beraninya ia memeluk tubuh itu dari belakang.
Seketika Rebecca langsung terjaga akibat kaget luar biasa.
"Kenapa bangun? lanjutkan tidurmu," gumam Keenan menyadari reaksi tubuh Rebecca.
"Ke-kenapa kamu tidur di sini?" ucap Rebecca dengan gugup.
"Tentu saja karena kita sepasang suami istri."
Glek
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪