
Mereka menikmati kelezatan shabu-shabu Samapi habis.
Tangan Keenan terulur mengusap ujung bibir Rebecca menggunakan Ibu jarinya. Lalu tanpa jijik ia jila* Ibu jari itu.
Mata Rebecca membulat sempurna mendapat perlakuan Keenan yang tak pernah ia duga.
Wajah Rebecca memerah hingga membuatnya menunduk seraya berperang dengan kata hatinya. Sedangkan Keenan terlihat biasa-biasa saja.
"Aku ingin ke toilet," ujar Keenan hingga membuat Rebecca mendongak.
"Baiklah, aku tunggu di sini," ucap Rebecca.
Keenan mengangguk, lalu beranjak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet.
Rebecca memandangi tubuh menjulang tinggi itu sampai sudah tak terlihat lagi olehnya, seraya mengusap dadanya karena masih memikirkan dengan apa yang dilakukan Keenan barusan.
Tiba-tiba ada yang memanggil namanya, hingga membuat Rebecca menoleh kearah suara bariton itu.
"Rebecca," panggil seseorang itu seraya mendekat.
"Dion," seru Rebecca.
Sosok pria tampan blasteran itu mengulurkan tangannya.
"Tidak menyangka bisa bertemu di sini," ujar Dion setelah keduanya berjabat tangan.
"Benar sekali. Hmm bukankah kamu berada di negara x?" ucap Rebecca.
"Sudah sebulan ini aku di sini," ujar Dion.
Rebecca mengangguk.
"By the way dengan siapa ke sini? suami?" tebak Dion.
Rebecca mengangguk, membenarkan tebakan Dion.
"Terus Tuan Keenan Hugo di mana?"
"Lagi di toilet," sahut Rebecca. " Kamu sendirian?" tanya Rebecca.
"Bersama asisten, dia juga lagi di toilet," ujarnya.
Ya Dion datang ketempat itu karena ada pameran lukisan di museum. Dion termasuk pria yang sangat menyukai lukisan.
Rebecca asik berbincang-bincang, mengenang masa kuliah mereka. Dion adalah mahasiswa terpopuler, bukan hanya sekedar tampan tetapi juga cerdas.
Karena ketampanan itu membuatnya banyak digilai oleh para wanita di kampus kecuali Rebecca.
Dion adalah putra tunggal dari pebisnis terkaya nomor 3 di negara itu.
"Kamu semakin cantik saja Rebecca," puji Dion dengan terang-terangan.
Mendengar pujian atau gombalan Dion membuat Rebecca kikuk. Tiba-tiba ingatan dimana Dion pernah mengungkapkan perasaannya dulu.
"Pantas saja dulu kamu menolakku karena Tuan Keenan lebih tampan," sambungnya tanpa melepaskan tatapannya kepada Rebecca.
Rebecca hanya tersenyum kecil seraya melipat kedua tangannya.
Hmm
Deheman seseorang membuat obrolan mereka terhenti. Hal itu membuat Rebecca kikuk karena Dion menempati kursi Keenan.
Melihat kedatangan Keenan membuat Dion segera beranjak dari kursi itu.
"Maaf Tuan Keenan atas kelancanganku duduk di tempat anda," ujar Dion.
Keenan tak bergeming, ia mengenali siapa pria yang tengah asik mengobrol dengan Rebecca.
"Ini Dion, mungkin kamu juga sudah mengenalinya. Dion adalah sekampus denganku dulu," ucap Rebecca dengan nafas tak beraturan.
Keenan masih tak bergeming.
"Maaf waktu pesta pernikahan kalian tidak bisa hadir karena kebetulan berada di negara x," ujar Dion seraya memandangi Keenan.
"Tidak masalah!" Ujar Keenan dengan raut wajah datar.
"Baiklah sepertinya kehadiranku tak diinginkan," sindir Dion seakan memahami tatapan Keenan.
Dion mendekat lalu berbisik pelan.
"Jagalah dia karena dia wanita spesial dan sulit ditaklukan!" Bisik Dion.
Setelah mengatakan itu, Dion langsung berjalan meninggalkan mereka. Keenan mengepalkan tangan atas bisikan Dion tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Rebecca tak tahu apa yang telah dibisikan Dion. Tetapi melihat garis wajah serta tatapan Keenan, ia sudah paham jika itu tidaklah baik.
"Kamu sudah selesai?" ucap Rebecca hingga membuat Keenan tersadar.
Keenan mengangguk.
"Tunggu sebentar, aku juga ingin ke toilet," timpalnya.
"Biar aku antar."
Seketika Rebecca terdiam karena mendengar perkataan Keenan.
"Aku akan menunggu diluar. Toilet cukup ramai," ujarnya. Padahal untuk menghindari Rebecca dari Dion dan teman lain-lainnya.
Rebecca hanya bisa mengangguk.
**
Kini mereka berada di area ice skating. Keenan kembali ingin mengingatkan masa kecil mereka. Wahana ini sangat disukai Keenan semasa kecil.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Keenan.
Rebecca mengangguk seraya memberi kode dengan kedua jempolnya.
Mereka menikmati ice skating, seakan lupa dengan masalah biduk rumah tangga yang sedang mereka hadapi.
Tiba-tiba Keenan memeluk Rebecca dari arah belakang. Tubuh Rebecca membeku mendapat sentuhan itu di hadapan orang banyak.
Keenan tak peduli karena bukan hanya mereka berdua saja yang begituan tetapi banyak. Tidak salah bukan memeluk istri sendiri, sedangkan di sekitar mereka belum tentu pasangan suami-istri.
"Apa kamu masih ingat ketika kamu terjungkal karena baru pertama mencoba?" bisik Keenan masih setia memeluk Rebecca.
"Tidak terlalu ingat tetapi pada saat itu kamu langsung mengendongku," lirih Rebecca dengan wajah bersemu merah.
Keenan tersenyum karena Rebecca masih mengingatnya. Rebecca adalah tipe yang tak tertarik dengan wahana ini. Tujuan utama dia ke sini adalah museum dan mall.
Sedangkan Keenan maupun Leon sama-sama suka ice skating. Sedangkan Kiran suka bioskop dan mall. Jadi untuk memujudkan keinginan masing-masing, Mommy Isabella dan Daddy Alfred dengan sabar menuruti kemauan mereka satu-persatu.
Menjelang petang mereka sepakat pulang.
°°°°°°
Di apartemen
Entah apa yang dimasak oleh Rebecca hingga aroma masakan itu tercium.
"Dia masak apa?" gumam Keenan seraya menghirup aroma itu.
Ingin sekali ia ikut ke dapur tetapi tubuhnya terasa sakit semua. Kepalanya juga tiba-tiba pusing. Tanpa menunggu lama Keenan terlelap untuk mengusir rasa sakit itu.
Di dapur
Rebecca menata masakan yang sudah dimasak di atas meja makan. Menu yang simpel karena cukup buru-buru.
Rebecca duduk sejenak, menatapi hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja makan.
Pikirannya menjadi kacau balau. Perlakuan Keenan beberapa hari ini sangat jauh berubah, seakan itu bukanlah seorang Keenan yang dia kenal.
Tetapi ketika ia mengingat Sunny menghubungi Keenan membuat dadanya sesak, pikiran negatif pun menyelimuti hatinya.
Tidak ingin terlalu berpikir negatif ia pun segera bangkit. Saatnya mereka akan makan malam.
Rebecca berjalan menuju ruang televisi. Langkahnya terhenti sejenak karena melihat sosok Keenan yang tertidur di atas sofa.
Dahi Rebecca mengerut karena Keenan begitu cepat tertidur, bahkan belum makan.
"Apa aku harus membangunkannya?" gumam Rebecca dengan bingung.
"Ken ayo bangun," seru Rebecca dengan nada halus. Tetapi tidak membuat Keenan terbangun.
Rebecca pun memberanikan diri untuk menguncang tubuh Keenan.
"Ken bangun kita harus segera makan," ucap Rebecca kesekian kalinya.
Goncangan itu membuat tidur Keenan terusik.
"Ayo bangun," ucap Rebecca seraya mengusap wajah Keenan.
Deg
Ia kaget mendapati suhu tubuh Keenan terlalu panas dari batas normal.
"Kok suhu tubuhmu panas sekali?" tanya Rebecca dengan wajah panik.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Keenan dengan suara parau.
"Kamu sakit?"
Keenan menggeleng seakan tidak membenarkan pertanyaan Rebecca.
"Tunggu sebentar," ucap Rebecca. Ia beralih ke lemari lalu mengeluarkan kotak.
Kedua alis Keenan terangkat melihat benda yang dikeluarkan Rebecca, itu adalah pengukur suhu tubuh.
"Aku akan memeriksa suhu tubuhmu," ucap Rebecca.
Keenan terdiam, membiarkan Rebecca melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Benarkan suhu tubuhmu sangat tinggi. Apa sebaiknya panggilkan dokter?" usul Rebecca.
Keenan menggeleng.
"Kamu sakit," lirih Rebecca dengan wajah khawatir.
"Apa kamu mengkhawatirkan diriku?"
"Tentu saja," sahut Rebecca tanpa sadar, bahkan wajah itu sangat terlihat khawatir.
Keenan tersenyum senang dan Rebecca pun menyadarinya. Dengan segera ia merubah raut wajahnya.
"Asalkan kamu bersamaku maka sakit ini hilang begitu saja," ujar Keenan.
Ssst
Pekik Keenan seraya memijit ujung keningnya. Rasa pusing itu membuatnya sedikit tersiksa.
"Sebaiknya kamu makan dulu, baru minum obat penurun panas," ucap Rebecca dan segera beranjak menuju meja makan.
Rebecca ambil makanan untuk Keenan. Kebetulan ia masak sup dan itu sangat cocok.
"Kamu mau makan sendiri atau aku yang suapin?" tawar Rebecca memberi pilihan.
"Suapin saja," ujar Keenan, tentu saja ia memilih tawaran itu.
Rebecca duduk di sisi kiri Keenan agar memudahkannya untuk menyuapi.
"Masakanmu sangat enak," puji Keenan begitu lahap. "Hmm kamu belum makan?" tanyanya.
"Nanti saja setelah kamu," sahut Rebecca.
"Bagaimana semangkok berdua?"
Rebecca menggeleng seraya menyuapi Keenan.
"Ayolah biar momen ini bisa dikenang sepanjang masa," ujar Keenan. Mendengar perkataan Keenan membuat hatinya seperti dicubit.
"Sayang....." Panggil Keenan berhasil membuat lamunan Rebecca membuyar.
"Apa aku salah mendengar?" batin Rebecca.
"Ayo makan," imbuhnya.
Rebecca menjadi kikuk sendiri, ia anggap jika barusan salah mendengar.
Akhirnya mereka makan bersama-sama dengan Rebecca yang menyuapi. Tiba-tiba kedua mata itu berkaca-kaca.
"Ada apa?"
Tes tes
Air mata itu sudah tak dapat dibendung lagi hingga lolos begitu saja mengalir dari kedua pipinya.
Keenan kaget melihat apa yang terjadi. Kenapa Rebecca tiba-tiba menangis, padahal ia tak melakukan apapun.
Dengan segera Keenan menarik mangkok di tangan Rebecca, lalu meletakkannya di atas meja sofa.
Ia renguh tubuh itu, membawa kedalam pelukannya.
"Kenapa? kenapa baru sekarang?" lirih Rebecca seraya memukul punggung Keenan dari arah belakang. "Kenapa ketika hati ini ingin mengubur dalam-dalam, kamu datang dan menggagalkannya," sambungnya dengan terisak.
Hati Keenan sakit mendengar kalimat itu. Hingga ia semakin memeluk erat tubuh itu seraya memejamkan mata.
"Aku minta maaf karena memberi luka untukmu," bisik Keenan dengan suara tertahan.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪
__ADS_1