MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 39. Masa Lalu 2,5 Tahun


__ADS_3

Di bandara internasional Incheon-Seoul. Seorang pria tampan dengan poster tubuh sempurna sedang menunggu seseorang. Tidak butuh lama sosok yang ditunggu menghampiri. Dua pria tampan itu adalah putra dari Bintang Hugo dan Vivian Hugo. Alfred Hugo sebagai penerus HUGO GROUP sedangkan sang Adik Bernat Hugo baru saja menyelesaikan S2 jurusan Hukum di Universitas terkenal di negara Italia.


"Hai Kak....Hmm tumben sekali Kakak mau menjemput,"


"Kau tau sendiri, Daddy yang memaksa,"


Hahaha....


"Ayo Kak ada yang ingin aku ceritakan kepada Kakak dan Daddy," ujar Bernat tak sabaran, bahkan dia menarik lengan Alfred agar segera memasuki mobil.


"Lepaskan tanganmu," Alfred menepis tangan Bernat karena merasa geli.


Hahaha...


"Tenang Kak aku masih normal. Hmm seharusnya aku yang curiga karena sampai sekarang Kakak masih sendiri bahkan kata Daddy satupun wanita tak pernah dikenalkan kepada Daddy," sindir Bernat.


"Kau," tentu saja Alfred tersinggung dengan ucapan Bernat.


"Itu urusanku. Buat apa memiliki pasangan hidup jika pada akhirnya meninggalkan kita juga,"


Alfred langsung menjalankan mobil.


"Semuanya tidak sama Kak, cobalah mulai membuka hati,"


Alfred dikenal anti wanita. Pria tampan ini belum pernah memiliki kekasih. Bahkan dia tak mengenali cinta ata jatuh cinta itu apa. Bukan berarti tidak laku, bahkan Alfred adalah idola sekolah maupun di kampus pada masanya. Banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya tetapi sama sekali tak berhasil. Ditambah lagi dia adalah seorang CEO terkenal, sehingga dikelilingi oleh wanita cantik tetapi tidak mematahkan hatinya yang tertutup oleh suatu masa lalu kedua orang tuanya.


"Apa kau tak melihat bagaimana sedih dan terlukanya Daddy ketika ditinggal Mommy? sedangkan kita masih kecil. Aku hanya tidak ingin merasakan apa yang dirasakan Daddy, aku masih sangat ingat bagaimana rapuhnya Daddy bertahan untuk kita. Daddy sangat mencintai Mommy, tetapi Tuhan berkehendak lain, itulah hal yang membuatku trauma," lirih Alfred dengan wajah serta tatapan sendu ke depan.


"Kak, itu sudah jalannya yang diberikan Tuhan untuk Daddy sama Mommy. Nasib atau takdir orang beda-beda Kak, usia Mommy sudah ditakdirkan di usia kita masih kecil," Bernat berusaha memberi pengertian kepada Alfred.


"Aku hanya fokus kepada Daddy dan dirimu, jangan banyak omong lagi," Alfred memang sejak dulu tidak ingin dibantah.


"Kakak hanya belum dipertemukan dengan wanita yang spesial saja. Aku yakin Kakak akan terpesona bila suatu saat kukenalkan kekasihku," ujar Bernat dengan bangga untuk memamerkan kekasihnya bahkan calon tunangannya yang sebentar lagi akan dia kenalkan kepada Daddy dan Kakaknya Alfred.


Alfred tak menanggapi obrolan Bernat lagi.


°°°°°°


Setelah makan malam mereka berbincang di ruang keluarga. Mansion ini sangat megah serta luas tetapi penghuni hanya Alfred, Daddy dan beberapa pelayan. Sedangkan Bernat tinggal di luar negeri.


"Kamu ingin berbicara apa Nak?" tanya Daddy kepada Bernat.


"Begini Dad, bulan depan aku akan memperkenalkan calon kekasihku. Bulan depan kita akan ke Italia untuk menemui calon menantu Daddy," cerita Bernat.


"Apa kamu sudah yakin Nak?"

__ADS_1


"Tentu Dad, dia wanita yang berbeda. Pokoknya menantu idaman," Bernat menyakinkan.


"Jangan gegabah, kalian baru menjalani hubungan selama satu tahun, itu waktu yang sangat singkat," sela Alfred tak sepenuhnya percaya.


"Masalah lama dan tidaknya itu tak pengaruh Kak. Selama tiga tahun aku sudah mengenalinya,"


"Kau adalah pria gonta ganti wanita mana mungkin kau serius," ujar Alfred karena Bernat adalah di cap playboy.


"Dulu memang iya tetapi wanita yang ingin ku nikahi ini yang berhasil mengubah sisi burukku. Dia berhasil membuatku menjadi seseorang yang lebih baik dan berguna," cerita Bernat tentang kekasihnya yang memang sengaja ia sembunyikan jati dirinya karena dia tidak ingin Daddy dan Alfret tau. Menurut Bernat keluarganya dapat menerima wanita pilihannya tidak memandang kasta dan martabat.


Daddy memandangi Bernat dengan lekat-lekat. Memang selama satu tahun ini putra bungsunya sudah banyak perubahan. Dulunya hanya suka bermain-main kini serius dengan bidang studi yang digeluti.


"Berarti dia wanita yang luar biasa. Daddy jadi tidak sabar i gin berkenalan dengan calon menantu Daddy," ujar Daddy langsung menyetujui hubungan Bernat. "Jika boleh tau calon menantu Daddy berasal dari negara mana? putri dari keluarga mana? namanya siapa?" pertanyaan Daddy bertubi.


Bernat tersenyum mendengar pertanyaan bertubi Daddy, sedangkan Alfred hanya menyimak saja karena tak percaya dengan Adik satu-satunya.


"Dari Indonesia Dad. Untuk yang lainnya aku rahasiakan, nanti juga Daddy mengetahuinya," Bernat tidak ingin membuka hati diri kekasihnya.


"Indonesia? waw kamu pintar memilih calon istri Nak," ujar Daddy dengan bangga karena pilihan Bernat jatuh pada wanita keturunan Indonesia, yang tak lain dia juga keturunan Indonesia, kecuali mendiang istrinya keturunan Korea.


Mendengar kekaguman Daddy membuat Bernat lega, bahkan dia ingin sekali menghubungi kekasihnya sekarang juga mengabari jika Daddynya setuju.


"Boleh Daddy lihat fotonya Nak?"


"Tidak Dad, biar menjadi surprise," Bernat juga tidak mau menunjukan foto kekasihnya.


"Biar menjadi waw Kak hehehe," Bernat terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


°°°°°°


Sesuai rencana, Bernat memboyong Daddy dan Kakaknya Alfred ke Italia hanya ingin bertemu kekasihnya. Mau tidak mau Alfred juga ikut hanya ingin memastikan keseriusan Bernat serta calon Adik iparnya itu yang berhasil membuat sang playboy bertekuk lutut.


Mereka tiba di apartemen milik Bernat selama menempuh pendidikan di sana. Sesuai kesepakatan Bernat dengan kekasihnya mereka akan bertemu di sebuah restoran berbintang di negara itu malam ini.


Malam menjelang ketiga pria tampan beda usia ini sudah tampil memukau untuk segera berangkat di tempat yang sudah ditentukan yaitu restoran xx.


"Kau sangat bersemangat?" ujar Alfred melihat kebahagiaan di wajah Bernat.


"Tentu saja Kak karena hari ini adalah momen yang pertama bagiku," jujur Bernat membenarkan perkataan Alfred.


Hmm


Tidak ingin membuang waktu Bernat mengemudi mobil dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan dia berdentum bernyanyi saking senangnya. Dia juga tidak putus mengirim pesan dengan kekasihnya.


Kini mereka sudah menduduki ruangan VIP. Tentunya menunggu wanita yang sangat dicintai Bernat.

__ADS_1


30 menit belum juga tiba. Sebelumnya kekasihnya memberitahu masih dalam perjalanan, kebetulan kekasihnya menempuh jarak cukup jauh karena dia sedang berada di luar kota untuk penelitian yang ditugaskan kampus. Itulah yang Bernat ketahui karena tugas itu tiba-tiba.


1 jam


2 jam


3 jam


Lelah, cemas, bosan, kecewa dan lain sebagainya itulah yang dirasakan Bernat serta Alfred dan Daddy.


"Nak sebenarnya kekasihmu akan datang atau tidak? ini sudah 3 jam berlalu," tanya Daddy dengan wajah kecewa.


Bernat menghubungi kekasihnya berkali-kali tetapi tidak tersambung, bahkan pesan yang terakhir Bernat kirim tak terbaca oleh kekasihnya.


"Apa dikatakannya?" akhirnya Alfred ikut berbicara karena jujur saja dia sangat bosan dan membuang waktu cuma-cuma.


"Tidak tersambung Kak. Ada apa sebenarnya?" Bernat sangat cemas sehingga membuatnya mondar mandir tak jelas.


5 jam sudah lamanya mereka sabar menunggu dan pada akhirnya pulang dengan perasaan kecewa.


1 hari 2 hari sampai 1 minggu kabar tentang kekasihnya tidak bisa Bernat ketahui keberadaannya seperti hilang begitu saja.


Sudah mencari kemana-mana tetapi hasilnya nihil. Ponselnya juga tak bisa dilacak, semua teman campus tidak ada yang tau. Seakan kekasihnya hilang ditelan bumi.


Bernat mulai terpuruk akan kehilangan kekasihnya. Bernat yang dulu seakan sudah mati. Bernat hanya bisa menyendiri dengan pandangan kosong memikirkan kekasihnya yang tak ada kabar sama sekali.


1 bulan lamanya Bernat mengurungkan diri di apartemen. Sehingga Daddy terbang ke Italia untuk menjemput Bernat membawanya pulang ke Korea.


°°°°°°


Alfred memasuki kamar, dia ingin menasehati Bernat dan memberi semangat.


"Kau sangat bodoh menyiksa dirimu sendiri. Coba berpikir dengan jernih, untuk apa kau menyiksa dirimu seperti ini?" ujar Alfred dengan perasaan sedih melihat keterpurukan Bernat.


Bernat menadah kepalanya ke atas menatap Alfred.


"Kak aku sangat mencintainya dan aku juga tau dia mencintaiku. Ini pasti ada sesuatu, aku tidak percaya bahwa dia pergi membatalkan pertemuan ini. Ini pasti terjadi sesuatu kepadanya Kak. Aku juga selalu memimpikannya, didalam mimpiku dia kedinginan Kak," lirih Bernat yang tidak masuk akal bagi Alfred.


"Jika dia memang mencintaimu, kenapa dia pergi tanpa kabar? sadar Ber!" Bentak Alfred karena dia tidak ingin melihat Adik satu-satunya seperti mayat hidup.


"Tidak Kak kami saling mencintai. Lebih baik Kakak pergi?" usir Bernat karena ucapan Alfred menghancurkan hatinya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


2 bab menyusul hari ini


__ADS_2