MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 183~MDS2


__ADS_3

Pagi itu seusai bersiap-siap Rebecca langsung meluncur ke Mansion. Ia berpikiran bahwa Keenan pasti ada di Mansion.


Tanpa berpikir panjang ia melajukan kendaraan roda empatnya.


Hanya butuh waktu 15 menit ia menempuh jarak apartemen ke Mansion. Tiba di Mansion ia langsung turun dari mobil dengan tidak sabarnya.


"Selamat pagi Nona," para pelayan.


"Bibi, Daddy sama Mommy apakah sudah bangun?" tanya Rebecca kepada Bibi yang pernah mengasuhnya.


"Ada Non. Tuan maupun Nyonya berada di ruang keluarga," ucap wanita paruh baya itu.


"Baiklah Bi, Eca akan menemui Daddy, Mommy," ucap Rebecca dengan senyuman.


Wanita paruh baya itu mengangguk seraya membalas senyuman Rebecca.


Tiba di ruang keluarga. Senyuman mengembang di bibirnya mendapati kedua orang tua sekaligus mertuanya itu sedang bermesraan. Dimana Daddy Alfred sedang berbaring dengan kepala bertumpu dipangkuan Mommy Isabella.


Keduanya berbincang-bincang seraya menyaksikan siaran di layar televisi.


Hmm


Rebecca sengaja berdehem dengan jarak cukup jauh. Mendengar deheman Rebecca membuat dua paruh baya itu saling menoleh ke arah samping.


"Sayang...." Seru Mommy Isabella sedikit kaget.


"Nak," gumam Daddy Alfred juga merasa tak percaya.


Rebecca membawa langkahnya semakin dekat dan ia langsung memeluk mereka silih berganti.


"Bagaimana keadaan Daddy?" tanya Rebecca dengan raut wajah was-was. Ada rasa khawatir mendalam di raut wajah itu.


"Daddy baik-baik saja Nak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Daddy Alfred seraya mengembangkan bibirnya.


Rebecca terdiam sejenak, menatap wajah mulai menua itu dengan seksama. Walaupun sudah berumur tetapi garis ketampanan itu tidak luntur.


"Seharusnya memang begitu Dad. Eca tidak ingin Daddy maupun Mommy kenapa-kenapa," ucap Rebecca dengan perasaan lega.


"Sayang tumben sekali pagi-pagi sudah nyamperin? apa kamu sudah sarapan?" tanya Mommy.


"Sudah Mom sebelum ke sini Eca sudah sarapan. Hmm apa tidak boleh?" goda Rebecca seraya mengedipkan mata.


"Tentu saja boleh sayang, kapanpun kamu menginginkannya karena ini juga rumah kalian. Hmm Keenan tidak ikut?" tanya Mommy Isabella ingin tau apa alasan Keenan tidak ikut. Ada rasa sesak di dada mengingat hubungan Keenan dan Rebecca yang masih menjadi tanda tanya.


Rebecca menggeleng, ia tidak dapat menjawab karena ia juga tidak tahu bahwa Keenan pergi ke mana. Sebelum ke Mansion ia berpikir Keenan berada di sini ternyata kedua orang tuanya bertanya.


"Untung saja aku belum menanyakan itu," batin Rebecca seakan bersyukur.


"Sepertinya hubungan mereka belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa saling membuka hati. Ya Tuhan aku tidak ingin mereka berpisah," batin Mommy Isabella penuh harap memohon kepada yang maha kuasa.


"Sayang hari ini adalah ulang tahun mendiang Mama Dea, apa kamu tidak ingin berkunjung?" tanya Mommy Isabella seakan sangat mengingat momen itu.


"Eca ingat Mom dan akan mengunjungi setelah pulang dari rumah Daddy, karena Daddy dan Kak Lucky sore ini akan berangkat ke luar negeri," ucap Rebecca.

__ADS_1


"Maaf Mommy sama Daddy tidak bisa, mungkin besok kamu akan mengunjungi makam mendiang Mama Dea," pungkas Mommy Isabella.


"Tidak masalah Mom," sambung Rebecca seraya mengusap bahu wanita paruh baya itu, wanita yang telah merawatnya sampai bisa seperti saat ini.


Mereka kembali berbincang-bincang. Dua paruh baya itu tidak ingin membicarakan hubungan Keenan dan Rebecca. Mereka tidak ingin ikut campur kembali, walaupun mereka tau bahwa hari ini adalah batas waktu yang dimintai oleh Keenan.


Rebecca melirik arloji di pergelangan tangannya. Seakan waktunya sudah mepet hingga akhirnya ia berpamitan untuk segera berangkat ke kediaman keluarga Sun.


°°°°°°


Tiba di kediaman Daddy Sun. Rebecca disambut dengan tangan terbuka oleh kedua pria beda usia itu.


"Daddy baik-baik saja? maaf akhir-akhir ini Eca jarang berkunjung karena cukup sibuk," ungkap Rebecca.


"Tidak apa-apa Nak, yang penting kamu sehat," ujar Daddy Sun dengan bibir melengkung. Melihat perhatian Rebecca saja sudah membuatnya cukup bahagia.


"Kak apa nanti sore jadi berangkat?" tanya Rebecca kepada Lucky.


"Iya Dek, di sana ada pekerjaan," terang Lucky.


"Kenapa harus membawa Daddy?"


Lucky menghela nafas sejenak, lalu melipat kedua tangannya.


"Kakak tidak akan bisa tenang jika meninggalkan Daddy dengan waktu cukup lama," ujar Lucky.


"Kan ada Eca Kak."


Lucky tersenyum.


Rebecca menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan.


"Eca sangat mencintainya Kak, bahkan luka yang pernah ia torehkan tak mampu untuk menghilangkan perasaan itu. Rasa cinta itu melebihi segalanya," ungkap Rebecca dengan mata berkaca-kaca.


"Jika itu yang kamu rasakan, beri kesempatan dan terima dia Nak. Kesempatan atau keberuntungan tidak akan pernah datang terus-menerus, dan yang akan terjadi hanya penyesalan. Maka sebelum itu terjadi pikirkan kembali lagi. Daddy hanya berharap yang terbaik buat kalian," pungkas Daddy Sun panjang lebar, pria paruh baya itu ingin Rebecca membuka mata lebar-lebar untuk langkah yang akan ia ambil.


Rebecca mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh Daddy Sun.


"Apa yang dikatakan Daddy, Kakak sependapat Dek. Kakak juga berharap yang terbaik untuk kalian," timpal Lucky. Dengan tidak langsung mengatakan bahwa ia menentang langkah yang diambil oleh Rebecca.


"Eca sudah menolaknya tepat tadi malam Dad, Kak. Dimana Keenan menyatakan perasaannya kembali," cerita Rebecca seraya menahan tangis.


Daddy Sun maupun Lucky hanya bisa menunduk mendengar pernyataan Rebecca yang tak mereka duga.


"Eca harus bagaimana Dad?"


"Turuti apa kata hatimu saat ini!" Tutur Daddy Sun, hanya berserah kepada Rebecca.


"Iya turuti apa kata hatimu sekarang," timpal Lucky.


Hati Rebecca terketuk mendengar kalimat itu. Tidak ingin menghabiskan waktu ia segera pamit setelah mengatakan jika hari ini adalah ulang tahun mendiang Mama Dea.


°°°°°°

__ADS_1


Rebecca turun dari mobil setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Dengan tangan memegang buket bunga ia berjalan memasuki pemakaman elit.


Ia terus berjalan sampai tiba di pemakaman paling elit. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika sayup-sayup mendengar curahan hati seseorang. Sosok yang menghilang begitu saja dan ingin ia cari.


Karena penasaran Rebecca segera bersembunyi di rimbun bunga tepat di belakang sesosok itu.


Rebecca mendengar setiap kalimat atau curahan hati sesosok itu. Jantungnya berdegup kencang mendengar kalimat itu, bahkan suara itu seperti menahan tangis.


Karena sudah tidak tahan lagi Rebecca langsung berlari kecil, tanpa berpikir panjang ia langsung memeluk tubuh jangkung itu.


Deg


Keenan terbelalak kaget mendapati kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Aku minta maaf," nada lirihan itu membuat tubuh Keenan kembali membeku.


"Rebecca," gumam Keenan.


"Aku percaya sekarang. Ya aku percaya betapa besarnya cintamu kepadaku," lirih Rebecca masih dalam pelukannya.


Keenan kembali membeku. Ia merasa jika saat ini hanya sebuah mimpi.


"Aku, aku....."


Dengan segera Keenan meraih kedua tangan itu, lalu membalikan tubuhnya hingga kini berhadapan tanpa jarak dengan Rebecca.


"Aku mencintaimu....." Ungkap Rebecca dengan derai air mata.


Jantung Keenan kembali berdegup kencang. Seakan lepas dari tempatnya. Pernyataan Rebecca itu membuatnya benar-benar kaget dan tak menyangka.


"Aku akan memberi kesempatan dan akan mempertahankan hubungan kita."


"Dalam arti tidak berpisah?"


Rebecca mengangguk.


Keenan menganga sesaat. Lalu kedua tangannya memegang wajah Rebecca, menghapus air mata.


"Terima kasih sayang......"


Keenan langsung memeluk Rebecca, bahkan saking bahagianya tubuh kecil itu ia angkat dengan kedua tangan Rebecca melingkar di lehernya.


"I love you....."


"I love you too....."


Kedua pasangan itu saling mencurahkan perasaan mereka. Rebecca mengikuti alur isi hatinya, seperti yang dikatakan oleh Daddy nya dan Kakaknya.




Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2