MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 103. Minta Restu


__ADS_3

Sesuai rencana kini Andre bersama Gabriella sudah berada didalam pesawat. Seperti yang sudah direncanakan mereka tidak mengabari siapa-siapapun atas kedatangan mereka ke Indonesia.


Andre juga belum mendatangi Alfred bahwa dia tidak jadi ke luar negeri. Itu semua atas keinginan Gabriella.


"Sayang jika lelah tidur saja," ucap lembut Andre kepada Gabriella yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Andre.


Gabriella lalu meraih lengan Andre, lalu memeluknya. "Aku tidur ya? sedikit ngantuk," ucap Gabriella dengan mata sayu.


Andre tersenyum, lalu mengusap kepala Gabriella. Hal itu membuat Gabriella langsung terlelap. Andre menurun wajahnya ke bawah menatap Gabriella lekat-lekat. Senyuman kebahagiaan terukir indah di bibirnya, bagaimana tidak orang yang dia cintai bahkan ingin dihindari kini berada di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu serta memeluk lengannya.


"Selama hidup baru kali ini aku sangat bahagia, setelah melihat keberhasilan Adikku. Sayang semoga apa yang kita rencanakan sesuai harapan, jujur aku tidak percaya diri untuk meminta izin kepada kedua orang tuamu. Takut...tentu saja bagiku, apa lagi latar belakang kita sangat jauh berbeda. Aku terlalu berani mencintai putri dari keluarga terpandang sedangkan statusku...." gumam Andre tidak sanggup untuk melanjutkan keluh resahnya dengan mata berkaca-kaca. "Bahkan hatimu masih untuk orang lain," tandasnya.


"Yang pantas disalahkan itu cinta karena cinta yang tidak tahu posisinya," gumam Gabriella. Hal itu lantas membuat Andre membeku, ternyata Gabriella mendengar keluh resahnya.


Gabriella mengangkat kepalanya dari bahu Andre, lalu menatap Andre dengan seksama.


"Apa kamu ingin mundur sebelum mencoba? mengulangi kembali? ingatlah karena kesempatan tidak akan datang berulang kali." ucap Gabriella sedikit kesal melihat perjuangan Andre. "Tinggal pilih saja mau berhenti atau lanjut? aku tidak memaksa, dan aku anggap cinta maupun kesetiaan kamu sangatlah kecil untukku," imbuh Gabriella dengan tatapan sendu. Gabriella lalu menolehkan kepalanya ke jendela pesawat dengan perasaan campur aduk. Dia mengerti dengan apa yang dirasakan Andre tetapi itu bukan halangan jika seseorang memang benar-benar serius dan memperjuangkan cintanya.


"Sayang...." lirih Andre berusaha membujuk Gabriella.


"Aku tidak memaksa Andre, mungkin aku saja yang sangat naif dan memaksa dirimu," sambung Gabriella sembari menyeka air mata yang sudah tidak bisa dia bendung lagi. Semalaman ini dia berjuang membuka hati hanya untuk Andre dan tidak ingin mengingat masa lalu terus-menerus tetapi kini masalah yang ingin dihindarinya kembali mengingatkannya.


Melihat kesedihan Gabriella membuat Andre merengkuh tubuh itu yang sedang gemetar menahan tangis.


"Maaf bukan itu maksudku. Tolong jangan nangis," bisik Andre. Gabriella membenamkan wajahnya di dada Andre Karena dia tidak ingin Andre melihat wajahnya yang sedang menangis.


"Aku sudah berusaha membuka hati untukmu Andre dan berusaha menutup nama seseorang dimasa lalu di hatiku ini, tetapi kini kamu kembali mengingatkanku kepada masa lalu," lirih Gabriella disertai isakan.


Andre tidak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa memberi Gabriella ketenangan dengan mengusap punggungnya sembari memejamkan mata.


Cukup lama mereka dengan posisi seperti itu. Mereka tidak memperdulikan keadaan karena mereka menempati kursi first class.


"Sayang apapun yang akan terjadi kita hadapi bersama-sama, aku tidak akan mundur dan akan memperjuangan cintaku kepadamu," pungkas Andre sembari membenamkan wajahnya di pucuk kepala Gabriella. Gabriella mengangguk tanpa mengeluarkan kata. "Hentikan tangismu? nanti aku dikira menyakiti anak gadis orang," gurau Andre sehingga berhasil membuat Gabriella terkekeh dalam dekapannya.


Gabriella mengurai pelukan mereka, lalu menadah wajahnya ke atas dan kini tatapan mereka bertemu. Gabriella melemparkan senyuman, walaupun masih ada sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. Andre mengusap wajah itu menggunakan punggung jempolnya.


"Lihat matamu jadi sembap. Aku tidak ingin calon mertuaku berpikir aku menyakitimu," ucap Andre dengan beraninya menyebutkan kedua orang tua Gabriella calon mertua.


"Biar saja. Hati-hati loh calon mertuamu garang," sahut Gabriella bermaksud menakuti Andre.

__ADS_1


"Tidak percaya. Buktinya ketika mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi kepada Tuan, kedua calon mertuaku sungguh sabar dan tidak menyalahkan Tuan sepenuhnya, kecuali....."


"Kecuali siapa?"


"Calon Adik ipar," papar Andre seakan mengingat bagaimana Moses menghajar Alfred waktu itu.


"Kamu sendiri sudah tahu bukan jika Papa sama Mama orangnya baik dan tak pendendam," ucap Gabriella seakan membenarkan perkataan Andre.


Hmmm


"Kalau Moses ya mungkin kamu berusaha menyakinkan dia karena untuk selanjutnya dia lebih waspada lagi, tidak ingin kejadian terulang lagi," pungkas Gabriella.


"Aku tidak akan takut."


"Bersiap-siaplah karena saat ini moodnya lagi bermasalah, biasalah masalah hubungan yang rumit."


"Dia pria tampan serta kaya raya, pasti banyak dikelilingi wanita," ujar Andre.


"Hmmm kenapa kita lalu membahas dia?" sahut Gabriella sehingga membuat keduanya terkekeh.


Andre kembali merengkuh tubuh Gabriella, meletakan kepalanya ke dada kekar itu. "Lanjutkan tidurmu, jangan menguping kembali, perjalanan masih panjang," ucap Andre.


°°°°°°


Di tempat lain


Dokter Frans bersama Vini dalam perjalanan menuju kediaman orang tua dokter Frans. Sepanjang jalan Vini tidak tenang, ada rasa khawatir yang menghantuinya. Dia hanya bisa memainkan jari-jemarinya sembari memandangi keluar jendela.


"Sayang ada apa? sejak tadi aku memperhatikan kamu seperti tidak tenang?" tanya dokter Frans sembari menepikan mobilnya sesaat.


"Kenapa berhenti?" tanya Vini sedikit kaget.


"Bagaimana aku lanjutkan sedangkan kamu seperti panik gitu," ujar dokter Frans.


"Sayang aku belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tuamu saat ini. Bagaimana jika kita batalkan saja dulu?" lirih Vini dengan wajah memelas.


Dokter Frans menggeleng. "Tidak kita harus memberitahu Daddy sama Mommy tentang rencana kita, aku tidak ingin menjadi pria brengsek atau tak bertanggungjawab. Sebelum semuanya berantakan ke depannya," papar dokter Frans dengan serius.


Vini menghela nafas panjang. Jujur dia sangat bahagia melihat kesungguhan dokter Frans, sehingga benih-benih cinta mulai berterbangan. Menatap wajah dokter Frans menggetarkan hati serta jantung Vini.

__ADS_1


Dokter Frans menarik tangan Vini, lalu menghujani kecupan di dahinya. Dia juga merasakan nyaman ketika bersama Vini seperti ini.


"Lanjut?"


Vini mengangguk pasrah.


Kendara roda empat yang dikendarai dokter Frans telah memasuki pekarangan rumah. Hal ini membuat Vini dag-dig-dug.


Dokter Frans turun dari lalu memutari dirinya untuk membuka pintu untuk Vini.


"Sayang ayo turun," ucap dokter Frans sembari mengulurkan tangannya. Vini menyambut uluran tangan itu sehingga kini mereka berjalan saling beriringan.


"Sayang," lirihan Vini membuat langkah dokter Frans terhenti tepat di ambang pintu yang memang terbuka, itu menandakan kedua orang tuanya berada di rumah. Dokter Frans memang sengaja tidak mengabari terlebih dahulu kedatangannya.


Dengan erat dokter Frans menggenggam telapak tangan Vini, membawanya segera masuk sembari tersenyum.


Di ruang keluarga


"Mom sepertinya kamu sangat senang?" tiba-tiba Om Julio mengagetkan Tante Meysi.


"Duduk Dad, Mommy ingin cerita," ucapnya.


Om Julio duduk sesuai permintaan Tante Meysi. Kini kedua pasangan suami istri itu duduk saling berdampingan.


"Malam ini Daddy harus cepat pulang, kita atur pertemuan dengan Gaby. Gaby sudah kembali dari Indonesia, dan nanti Mommy menemuinya di kantor," ungkap Tante Meysi.


"Hmmm apa Mommy ingin kembali membicarakan hubungan mereka?"


"Iya dong Dad, mereka sangat cocok. Gaby calon menantu idaman," ucap Tante Meysi dengan semangat.


Deg


Langkah Vini terhenti sehingga membuat langkah dokter Frans ikut terhenti. Seketika mata Vini berkaca-kaca. Dengan sekuat tenaga dia melepaskan genggaman itu lalu berlari begitu saja, bukan berlari mendekati kedua orang tua dokter Frans tetapi berlari keluar rumah.


"Vin, Vini....." Panggil dokter Frans seperti teriakan sehingga suara itu menimbulkan kekagetan kedua orang tuanya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2